
Fedrick sudah berada di rumah karena keadaannya sudah baik-baik saja. Kimberly pun berada di rumah hari itu, sebab kakeknya melarang dirinya pergi ke mana pun. Meski Kimberly menolak menjalani terapi karena dia tidak mau dianggap gila namun Fedrick masih tetap berusaha membujuk cucunya karena dia ingin Kimberly hidup dengan baik lalu menikah sehingga dia tidak mengejar Kendrick lagi sebab Kendrick sudah jelas tidak menginginkan Kimberly.
Kimberly berada di dalam kamarnya, begitu juga dengan kakeknya. Mereka tidak tahu jika Emma akan datang hari ini untuk membuat perhitungan pada Kimberly. Emma yang tidak sabar langsung melompat turun dari mobil saat Kendrick menghentikan laju mobilnya. Apa yang dia lakukan tentu saja membuat Kendrick terkejut sebab Emma bisa saja terjatuh namun Emma tidak mau berbasa-basi lagi.
Emma bahkan melangkah dengan cepat tanpa menunggu Kendrick. Apa yang telah Kimberly lakukan padanya selama ini harus Kimberly bayar dan dia ingin kakeknya tahu apa yang telah Kimberly lakukan meski dia curiga jika sang kakek memang sudah tahu sejak awal namun dia berusaha menyembunyikan kejahatan yang dilakukan oleh Kimberly.
“Kimberly, keluar Kau!” Emma berteriak seraya menendang pintu hingga terbuka. Kimberly yang ada di dalam kamar terkejut Begitu juga dengan kakeknya. Suara teriakan Emma kembali terdengar di mana dia meminta Kimberly untuk keluar karena urusannya hanya pada Kimberly.
Fedrick segera keluar dari kamarnya, entah apalagi yang diinginkan oleh Emma padahal dia telah mengusir Emma. Sekalipun cucunya itu memohon di bawah kakinya, dia tidak akan membantu sebab Emma sudah sangat mengecewakan tapi sayangnya Emma datang bukan untuk meminta bantuan darinya.
“Keluar kau, Kimberly!” Emma kembali berteriak dengan keras.
“Kurang ajar, siapa yang memberimu izin untuk pulang dan berteriak di rumah ini sesuka hatimu? Apa kau kira kau memiliki hak untuk melakukan hal itu?” tanya kakeknya yang tidak senang dengan apa yang Emma lakukan.
“ Aku hanya mencari Kimberly, kakek. Aku ingin membuat perhitungan dengannya dan kali ini kau tidak boleh membela dirinya!”
“ Apa maksud dari Perkataanmu itu?”
“Wah.. wah, sungguh tidak tahu malu. Begitu berani kau kembali ke rumah ini, Emma,” cibir KImberly yang baru saja keluar dari kamarnya.
Emma tak membuang waktu sebab dia sudah dikuasai oleh emosi. Kimberly sedang mendekati kakeknya namun Emma sudah berlari ke arahnya dan menerjang Kimberly hingga mereka berdua jatuh ke atas lantai. Kimberly berteriak sedangkan kakeknya terkejut melihat apa yang Emma lakukan apalagi saat itu emas sudah duduk di atas tubuh Kimberly.
“Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!” teriang Kimberly sambil memberontak
__ADS_1
"Kau sungguh kurang ajar, Kimberly. Kenapa kau begitu jahat padaku? kesalahan apa yang telah aku lakukan padamu sehingga kau begitu jahat padaku?” Emma menjambak rambut Kimberly bahkan mengangkatnya dan hal itu membuat Kimberly berteriak akibat rambutnya tertarik ke atas.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak melakukan apa pun!” Kimberly berusaha menahan tangan Emma yang sedang menjambak rambutnya saat ini.
"Lepaskan adikmu, Emma!” teriak kakeknya pula.
“Aku tidak akan melepaskan pembunuh seperti dirinya, kakek. Sekarang aku tahu jika dia ingin membunuh aku waktu itu. Dia yang telah membuat aku hilang ingatan, dia memukul kepalaku dan mendorong aku hingga jatuh ke dalam sungai padahal dia tahu aku tidak bisa berenang. Dia menyaksikan kematianku di sisi sungai dan jika tidak ada Daddy, aku rasa aku sudah mati saat itu!” teriak Emma.
“Apa?” Fedrick sangat terkejut mendengarnya karena yang dia tahu, Emma dan Kimberly bermain di sungai dan tanpa sengaja Kimberly mendorong Emma hingga terjatuh ke dalam sungai dan faktor itu dilakukan tanpa sengaja. Itu yang dia tahu dan insiden di mana Kimberly memukul kepala Emma, dia tidak tahu sama sekali.
“Bohong kakek, jangan percaya padanya!” teriak Kimberly yang masih berusaha memberontak dan melepaskan tangan Ema dari rambutnya.
“Jangan menipu lagi Kimberly, setidaknya aku sudah mendapatkan sedikit Ingatanku. Kau sungguh keji melakukan hal itu dan tidak saja ingin membunuh aku, tapi kau juga memberikan aku obat agar aku tidak bisa mendapatkan Ingatanku lagi dan agar aku menjadi gila. Terbuat dari apa sebenarnya hatimu, Kimberly?!” Emma berteriak lalu membenturkan kepala Kimberly ke atas lantai.
“Kenapa kau begitu membenci aku, Kimberly!” setelah membenturkan kepala Kimberly, Emma pun memukul wajah Kimberly menggunakan tinjunya.
"Yang gila adalah kau!" kepala Kimberly kembali dibenturkan lalu Emma memukul wajahnya lagi.
“Hentikan Emma, kau bisa membunuh adikmu!” kakeknya buru-buru mendekat untuk meraih Emma yang masih memukuli wajah Kimberly untuk melampiaskan amarahnya meskipun Kimberly adalah adiknya tapi dia tidak akan bermurah hati karena perbuatan Kimberly yang jahat padanya.
“Aku tidak peduli, dia bahkan ingin membunuh aku waktu itu. Kakek juga jahat membela dirinya dan tidak mempedulikan aku!” emosi yang memuncak itu dilampiaskan dengan memukul dan membenturkan kepala Kimberly ke atas lantai. Darah segar bahkan mengalir dari kepala Kimberly akibat benturan-benturan yang dia dapat. Kendrick yang sudah masuk ke dalam buru-buru berlari ke arah Emma dan menarik Emma menjauh dari Kimberly. Emma memberontak, dia pun berteriak agar Kendrick tidak mencegah dirinya sebab dia benar-benar ingin memberikan pelajaran pada Kimberly.
“Lepaskan aku, lepaskan!" teriak Emma sambil memberontak.
__ADS_1
“Cukup Emma, kau bisa membunuhnya. Redakan emosimu, bagaimanapun dia adalah saudaramu dan kalian tidak boleh saling membunuh!” Kendrick mencegah dan berusaha menahan Emma.
“Kau gila Emma, kau gila!” Teriak Kimberly marah saat melihat darah segar berada di tangan ketika dia menyentuh bagian belakang kepalanya.
“ Kau benar-benar sudah keterlaluan, Emma.” teriak kakeknya pula
“Yang keterlaluan adalah kalian. Dia ingin membunuh aku bahkan dia ingin membuat aku gila tapi kakek menutupi semua kejahatannya dan membela dirinya. Kenapa, kakek? Apa aku bukan cucumu? Kenapa kau membela dirinya dan menutupi kejahatan yang dia lakukan padaku!”
“Itu hanya kecelakaan saja yang terjadi saat kalian masih kecil. Bagaimana bisa kau hukum adikmu sampai seperti ini hanya untuk ketidaksengajaan yang dia lakukan padamu dulu? kau sungguh tidak punya hati Emma!” kakeknya justru menyalahkan Emma karena dia masih menganggap itu sebuah kecelakaan yang disebabkan oleh anak-anak.
“Kecelakaan? kecelakaan seperti apa yang kakek maksudkan? Apakah perbuatan yang dilakukan di saat dia memukul kepalaku lalu mendorong aku jatuh ke dalam sungai itu dilakukan dengan sengaja? Apa ada kesengajaan seperti itu, kakek?”
“Jelaskan ucapan kakakmu, Kimberly!” kini Fedrick melihat cucu keduanya karena dia merasa Emma tidak sedang berbohong sebab dia bisa melihat emosi Emma yang meledak-ledak.
“Aku tidak sengaja, kakek. Aku hanya bermain saja dengan batang kayu itu lalu memukul udara sana sini tapi tanpa sengaja aku memukul Emma hingga dia terjatuh!” Kimberly mulai bersilat lidah dan mengumpat dalam hati karena Emma mengingat kejadian itu. Harusnya dia memberikan dosis obat semakin banyak sehingga Emma tidak dapat mengingat apa pun lagi.
“Jangan membual, Kimberly. Meski aku belum mendapatkan semua ingatanku, tapi aku ingat kau menjatuhkan bonekamu ke dalam sungai lalu kau meminta aku mengambilkannya. kau bahkan menangis dengan keras sehingga aku iba padamu dan aku mengambilkan boneka itu tapi apa yang kau lakukan, kau memukul kepalaku dengan keras lalu kau mendorong aku hingga aku jatuh ke dalam sungai padahal kau tahu aku tidak bisa berenang. Aku meminta pertolongan darimu namun kau berdiri di sisi sungai untuk melihat aku mati. Jika tidak ada Daddy, bukankah aku sudah mati waktu itu? Dan itulah yang kau harapkan, bukan?” Emma kembali mengulangi perkataannya. Jika kakeknya insiden itu adalah ketidaksengajaan yang dilakukan oleh anak-anak, itu berarti kakeknya benar-benar memihak pada Kimberly.
"Apa itu benar, Kimberly?" tanya kakek mereka.
"Tidak, Kakek. Jangan mempercayai perkataannya!"
"Jangan menipu kakek, Kimberly!" teriak kakeknya dengan keras. Kimberly menatap Emma dengan tatapan tajamnya. Dia benci, benar-benar benci dengan Emma.
__ADS_1
"Kimberly!" kakeknya kembali berteriak.
“Ya, Aku memang ingin membunuh Emma sebab semua orang menyukai dirinya. Itulah kenapa aku benci dengannya dan ingin membunuhnya. Aku pikir dia akan mati pada saat itu tapi sayangnya tidak. Aku memang memberikan obat padanya agar dia tidak mendapatkan ingatannya lagi dan agar dia menjadi gila. Jika aku tahu dia akan mendapatkan ingatannya lagi, aku pasti sudah memberikan dosis yang banyak agar dia benar-benar menjadi gila saat ini!” teriak Kimberly yang tidak menutupi apa pun lagi sebab Emma sudah mengingat apa yang dia lakukan dulu namun setelah dia selesai mengatakan hal itu, sebuah tamparan Kimberly dapatkan dan hal itu membuatnya terkejut karena yang menampar dirinya adalah kakeknya. Tidak saja satu kali, Fedrick kembali menampar wajah cucunya yang selama ini selalu dia bela itu.