
Dimalam hari setelah selesai latihan tadi sore, Raya menyempatkan diri ke minimarket seberang untuk membeli Roti makan malamnya.
dia tidak mengajak Rami lantaran Rami sedang tertidur pulas, sore tadi Raya melatihnya sangat ekstra karena besok adalah hari pertandingan untuk Rami.
Disaat Raya hendak menyeberang dia sedikit gugup karena hari belum terlalu malam dan masih banyak orang yang berlalu-lalang di jalanan besar itu. tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara orang yang menghampirinya
“mau nyeberang?”
“Rezky, kamu kenapa tiba-tiba disini, ngagetin aja” ucap Raya kaget
“aku juga pingin keminimarket ternyata kamu juga disini” Rezky lalu menarik lengan baju Raya lembut menuntunya menyeberangi jalan untuk kedua kalinya.
Diminimarket Raya mengambil beberapa bungkus roti juga beberapa kotak susu, dia mampir ke aneka mie ingin memilih mie untuk makan malam Rami tapi dicegah oleh Rezky
“mie pedas buat siapa? Buat Rami? Dia tadi udah bangun terus makan makanan dapur, dia juga heboh nyariin kamu kemana-mana bahkan satu mess sempat kaget karena suara cemprengnya. adalagi gak yang mau dibeli?” ucap Rezky
Raya hanya menggelengkan kepala lalu Rezky mengambil keranjang belanjaan Raya “mau apa? Inikan belanjaan aku?!” ketus Raya. Rezky hanya menaikan alisnya lalu berlalu.
Di kasir “Raya aku lupa ambil susu coklatnya kamu bisa tolong ambilin gak?” ucap Rezky, Raya lalu mengangguk meninggalkan tempat kasir dan beralih ke pendingin minuman setelah Raya sudah kembali kekasir dengan susu coklatnya, Rezky sudah membawa semua barang belanjaan mereka dan menunggu di depan pintu keluar.
Raya meletakan susu coklat yang hendak di bayarnya, saat dia mengeluarkan lembaran uang dan ingin menyerahkan ke kasir “maaf kak sudah di bayar tadi sama Abang yang diluar, terima kasih sampai datang kembali” ucap kakak kasir pada Raya.
Setelah Raya keluar dari minimarket dia menyerahkan susu coklat kepada Rezky “kebiasaan!” ucapnya sambil merampas kantong plastik belanjaan miliknya.
Rezky hanya mengangkat bahunya, Raya yang melihat itu sangat kesal lalu dia berjalan dengan wajah datarnya ketika sudah di pinggir pasar dia lupa bahwa dia sangat gugup untuk menyebrang jalan, akhirnya dia memilih berdiri menunggu jalanan sepi baru dia akan menyebrang.
Rezky yang melihat tingkah Raya hanya senyum-senyum sendiri lalu dia menghampiri Raya menarik lengan baju Raya dan menuntun-nya untuk menyebrang jalan.
Setelah berada di mess Raya langsung menuju kamarnya meninggalkan Rezky yang berada di belakangnya “Raya!! kau dari mana aja sih, aku tu dari tadi nyariin” teriak Rami saat melihat kedatangan Raya.
Raya bahkan sampai menutup telinganya mendengar suara keras temannya itu “Mik.. ini udah malem, jangan teriak-teriak, gua mau tidur, minggir!” ketus Raya
“Raya kau kan belum makan malam, makan dulu baru tidur”
“gua udah kenyang karena denger teriakan lo! inget Mik... jangan begadang besok bangun lebih awal” ucap Raya lalu beralih kekamar mandi membersihkan diri dan menuju kasur untuk tidur.
***
Besok paginya setelah semua bersiap-siap menuju lapangan untuk pergi latihan, Raya belum juga bangun dari tidurnya.
“Raya bangun semua uadah pada nunggui kau untuk latihan” teriak Rami sambil menggoyang-goyangkan tubuh Raya, tetapi usaha Rami sia-sia Raya belum juga bangun.
__ADS_1
Tidak biasanya Raya bangun kesiangan biasanya dia orang pertama yang bagun lebih awal “Raya bangun!!!” teriak Rami dengan suara yang lebih kencang bahkan Angga sampai datang kekamar mereka karena khawatir terjadi apa-apa “kenapa teriak-teriak?” Tanya Angga bingung
“Raya belum bangun juga padahal semua orang udah nunggui dia buat latihan” jelas Rami. Angga menghela napas panjang, beranjak ketempat tidur Raya dia melihat wajah adiknya itu dengan tatapan khawatir “mungkin dia lelah, biarkan saja dia tidur” ucap Angga
“trus yang ngelatih kita siapa?” protes Rami
Tiba-tiba mereka kaget mendengar Raya memanggil nama seseorang “Wahyu!!.. Wahyu!!..” teriak Raya.
Rami langsung menggoyang-goyangkan tubuh Raya untuk menyadarkannya “Wahyu!!.. Wahyu!!..” panggil Raya lagi “Dia pasti lagi mimpi buruk” ucap Rami pada Angga “Raya bangun, kamu gakpapa? Raya bangun” panggil Angga
tapi Raya masih tetap memanggil nama Wahyu dan belum terbangun juga. “panggil Wahyu sekarang” ucap Angga pada Rami, tidak perlu waktu lama Rami sudah kembali dengan Wahyu
“ada apa?” Tanya Wahyu bingung
“Wahyu!!.. Wahyu!..” panggil Raya untuk kesekian kalinya. Melihat Raya dalam kondisi itu Wahyu langsung mendekati Raya dan memegang erat tangan Raya “Raya bangunn Raya...” Raya langsung tersentak bangun melihat Wahyu di hadapannya langsung dia memeluk pria itu dengan sangat erat.
“Raya kamu kenapa?” Tanya Angga khawatir “Aku tadi mimpi buruk” jawab Raya tanpa melepaskan pelukannya dari Wahyu “semua akan baik-baik saja” ucap Wahyu sambil mengelus punggung Raya.
Raya melepaskan pelukannya wajahnya tertunduk entah apa yang dipikirkannya “Wahyu lo enggak ada sembunyiin sesuatu dari gua kan?” Tanya Raya dengan nada khawatir “aku gak ada sembunyiin apa-apa, diriku seperti yang kamu tau” jawab Wahyu
“Raya uda deh... ini itu udah pagi, semua orang uda pada nunggui kau buat latihan” ketus Rami
“Raya, aku itu udah bangunin kau dari tadi, tapi kaunya gak bangun-bangun” ucap Rami kesal. Raya menghela napas kasar “Wahyu lo pimpin latihan dulu entar gua nyusul” ucap Raya yang langsung di angguki oleh Wahyu
Dilapangan saat Wahyu menggantikan Raya untuk memimpin latihan tidak lama Raya datang dan langsung mengambil ahli seperti biasa dia memfokuskan untuk melatih yang akan bertanding nantinya, saat melatih Raya tidak membeda-bedakan yang lainnya termasuk Rami.
***
Waktu pertandingan mulai, sangat kebetulan Rami orang pertama yang akan bertanding, Rami cukup gugup karena dia tidak terlalu sering mengikuti pertandingan beda halnya dengan Raya.
disepanjang waktu Raya selalu meyakinkan Rami, memberi semangat padanya “Mik.. jangan takut, tunjuki kemampuan lo, berusahalah sebisa mungkin, dan apapun hasil akhirnya itu yang terbaik buat kita” ucap Raya pada Rami.
Pertandingan Rami pun dimulai, Raya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk temannya itu. Terlihat raut wajah Rami yang sangat gugup tapi karena sorakan serta semangat dari teman-temannya yang lain, Rami berusaha semaksimal mungkin.
Benar saja dia memenangkan pertandingan ini dan menuju kebabak selanjutnya. 5 orang yang bertanding dari perguruan Raya dan lima-limanya berhasil memenagkan pertandingan.
Raya cukup ekstra tanpa mengenal lelah untuk melatih mereka, untuk menjaga amanah yang telah di percayakan Master kepadanya. Walaupun sifatnya yang dingin dan cuek tidak jarang dia lebih mengutamakan orang lain ketimbang dirinya, memang pribadi yang sulit ditebak.
***
Ditaman, udara malam yang sejuk bulan bersinar sangat terang terlihat beberapa kelipan bintang di langit gelap membuat suasana semakin nyaman untuk dinikmati.
__ADS_1
Raya dan Angga duduk di bangku taman, Angga tau adiknya itu sangat lelah walaupun dia tidak pernah mengatakannya. Dirangkulnya Raya dalam pelukan hangatnya untuk menjaga adiknya dari dinginnya malam.
“Abang” panggil Raya dalam pelukan Angga
“kamu baik-baik saja? Apa kamu merasa lelah?” tanya Angga seraya mengelus rambut panjang Raya yang terurai
“aku baik-baik saja, aku juga tidak merasa lelah. Aku hanya sedang memikirkan Ayah” Raya memeluk erat pinggang Angga
“jangan khawatirkan apapun, aku disini bersamamu, aku yang akan berperan menggantikan Ayah”
“tapi Ayah tidak berperan apa-apa dalam kehidupanku”
“jangan pikirkan hal yang membuatmu bersedih, aku berjanji hidupmu akan jauh lebih baik dari ini, aku akan berusaha semaksimal mungkin tanpa mengenal lelah untuk membuatmu merasa nyaman, jangan khawatirkan apapun” ucap Angga sembari mempererat pelukannya
“Abang”
“hmmm”
“kenapa aku tidak mirip dengan adik-adikku? Kenapa hanya kesipitan mata kami saja yang sama, aku sangat berbeda dengan mereka”
“kenapa kamu mengatakan itu?”
“karena orang lain mengatakan seperti itu padaku, aku juga menyadarinya. Rambut dan mataku bewarna coklat gelap sedangkan kedua adikku bewarna hitam pekat, hidungku juga berbeda dengan mereka aku punya hidung yang panjang sedangkan mereka kebalikan dariku, rambutku juga mengapa lurus sendiri? Rambut adik-adikku bergelombang seperti rambut ayah, postur badanku juga berbeda dengan mereka. Kenapa hanya kulit dan kesipitan mata kami saja yang sama?” ucap Raya seperti bocah yang sedang mengaduh tentang keluh kesahnya kepada orang tuanya.
Memang Raya terlihat berbeda dari adik-adiknya. Dia seperti keturunan Asia juga Eropa sedangkan adik-adiknya Wajah serta tubuh mereka seperti orang Asia pada umumnya
“hmmm entah lah... syukuri aja apa yang diberikan Tuhan"
Raya melepaskan pelukan mereka, ingin kembali ke mess karena hari yang sudah sangat malam. Namun Angga menarik adiknya kembali dalam pelukannya.
“siapa yang mengijinkanmu untuk melepaskan pelukanku?” Raya hanya berdengus kesal tapi dia juga memeluk Angga dengan erat
“jika kau memelukku dengan erat seperti ini aku malah tidak bisa bernapas” Raya mengendurkan sedikit pelukannya membenamkan wajahnya di dada Angga “Abang jangan tinggalkan aku lagi” terdengar suara lemah Raya dari balik dada bidang Angga
“aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu berada di sampingmu apapun yang terjadi dan selalu melindungimu apapun resikonya”
Entah mengapa malam ini Raya ingin sekali bermanja pada Abangnya itu. Pelukan hangat dan tulus yang diberikan Angga padanya mampu menghilangkan segala sifat dingin pada diri Raya dan mengembalikannya seperti bocah kecil lagi.
“Abang sebaiknya kita kembali ini sudah larut malam, kau juga harus beristirahat besok adalah pertandinganmu kan? bangunlah lebih awal, aku berjanji tidak akan telat bangun lagi” ucap Raya seraya melepaskan pelukannya tapi Angga tidak bergeming juga pada posisinya dia malah menarik Raya lagi dalam pelunkannya “Abang sekarang izinkan aku untuk melepaskan pelukannya, kau juga harus istirahat aku tidak mau melihatmu kalah di pertandingan besok”
“aku belum mengijinkamu melepaskannya. Lima menit lagi biarkan seperti ini dan akan kupastikan besok aku akan menang pertandingan”.
__ADS_1