
Dipagi itu juga Raya memberi tau kabar kepulangan Angga pada teman-temannya, Rezky mengatakan bahwa besok dia akan membantu mereka untuk menjemput Angga dan mengantarkannya pulang.
Ibu bahkan sudah sibuk mengemasi barang yang akan dibawa pulang, ibu sepertinya sangat antusias sekali, bahkan bersih keras untuk membawa sebagian barang kerumah di hari ini agar besok tidak terlalu repot.
“ibu kan Abang pulangnya besok, besok saja ya kita bawa semua barang-barangnya” pujuk Raya pada ibu yang masih berusaha membawa sebagian barang kerumah hari ini.
“barangnya banyak Raya besok kita akan kerepotan, ibu bawa sekarang saja biar besok kita bisa lebih fokus pada Angga ketimbang barang-barang” ibu masih berusaha meyakinkan
Raya terlihat berpikir sejenak “baiklah tapi Raya ikut sama ibu, biar Raya bantu ibu” ucap Raya sembari ingin mengambil beberapa tas dan ikut ibu pulang
“kalau kamu ikut terus yang jaga Angga siapa sayang?” ibu mengelus rambut Raya
Terlihat Raya mengambil Hp nya dan menelepon seseorang “Rezky akan kesini bu, dia akan menjaga Abang nanti, biar Raya yang bantu ibu” ucap Raya setelah selesai dengan teleponnya
Ibu menghela napas panjang dan mengangguk tersenyum menyetujui permintaan Raya. Angga masih tertidur dan sebelum mereka pergi juga sebelum Rezky datang, Raya meminta suster untuk mengawasi Angga.
Raya dan ibu berdiri di depan rumah sakit dengan beberapa barang bawaan, menunggu taksi online yang dipesan Raya tadi. Raya begitu antusias karena baru kali ini dia bisa datang langsung kerumah Angga dan ibu.
Sampai ditempat tujuan, Raya berdiri terbengong melihat kondisi rumah yang ditinggali ibu dan Angga, rumah itu sangat jauh berbeda dari rumah yang ditempati Raya dan adik-adiknya sekarang “ini rumahnya bu?” Tanya Raya berusaha membuat wajah biasa saja agar tidak menyinggung perasaan ibu.
Bagaimana tidak rumah gubuk dari tepas bahkan sebagian sisi rumah terlihat sudah reot “iya sanyang, ayo kita masuk” ucap ibu sambil melangkah masuk. Rumah itu berbanding terbalik dengan rumah Raya, memang rumah yang ditinggalinya sekarang tidak semewah dan semegah rumah Ayahnya, hanya terdiri dari dua lantai dengan halaman kecil yang dikelilingi pagar.
Mereka masuk kedalam rumah itu, alangkah terkejutnya Raya saat melihat lantai rumah itu, bukan keramik ataupun semen, lantainya masih tanah yang dilapisi karpet plastik, terdapat dua kamar di dalam rumah itu, kamar yang sangat kecil dan sempit, beberapa atap memiliki lubang, bisa dipastikan saat hujan turun ibu dan Abang pasti akan sangat kerepotan karena harus menyediakan bayak ember untuk menampung air hujan yang lepas dari atap yang bocor.
Ibu sedang sibuk merapikan barang-barang yang mereka bawa tadi, sedangkan Raya masih menyelusuri rumah gubuk itu, langkah Raya seketika terhenti saat dia memasuki dapur ‘apa-apaan ini? Dijaman yang sudah
modern begini ibu masih masak menggunakan kayu bakar?’ gumam Raya dalam
hati ‘apa Ayah tidak mengetahui kondisi mereka sekarang?’ “ibu sudah berapa lama kalian tinggal dirumah ini?” Tanya Raya “sejak Angga berada dalam kandungan” jawab ibu.
‘tukan… sejak Abang dalam kandungan ibu, tidak mungkin Ayah tidak mengetahui kondisi rumah mereka sedangkan Abang bilang kalau Ayah setiap tahunnya datang untuk memeperingati hari ulang tahun Abang’
Raya melompat kaget saat merasakan sesuatu sedang mengerogoti kakinya “astaga!” pekik Raya, tikus didalam dapur? Dan sedang bermain dengan kakinya “ini tidak bisa dibiarin!” ketus Raya kesal. Dia masih melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada diluar rumah “tukan tidak bisa diarkan, ini sudah tidak layak untuk ditinggali!” ketusan Raya semakin bertambah saat melihat kondisi kamar mandi masih menggunakan sumur yang bahkan tidak ada penghalangnya, bagaiman jika ada yang terpeleset terus jatuh kedalam sumur?.
Raya bergegas menjumpai ibu yang sedang merapikan barang-barang “ibu” panggil Raya lirih
“iya sayang?” ibu melihat kearah Raya sekilas lalu kembali sibuk dengan barang-barang
“bagaimana kalian mendapatkan uang untuk biaya sehari-hari? Apa Ayah selalu mengirimkan uang pada kalian?”
“tidak, Ayah hanya memberi uang saat dia datang kemari dan itu saat ulang tahun Angga” ucap ibu, sepertinya wanita ini merasa terbiasa dengan itu semua
__ADS_1
“apa yang Ayah kasi cukup untuk kalian?”
“tidak, tapi ibu bersyukur Ayah masih ingat pada Angga”
“jadi kebutuhan kalian sehari-hari?”
“Angga bekerja disalah satu bengkel dan ibu bekerja sebagai tukang cuci” wajah ibu masih memasang raut biasa saja
“ibu berhenti membereskan barang! Kemasi kembali barang-barang yang perlu dibawa!” ketus Raya seketika setelah mendengar jawaban ibu
Ibu bahkan kaget saat Raya berbicara dengan nada sedikit marah “ada apa sayang? Kamu tidak apa-apa?” ibu menghampiri Raya dan mengelus pundak Raya lembut
“maaf bu” ucap Raya sedikit tertunduk “bereskan barang-barang ibu dan Abang yang perlu-perlu saja, kalian akan tinggal bersama Raya dirumah Raya”
“sayang, rumah ini sangat nyaman untuk kami” ibu mulai mengerti arah pembicaraan Raya
“tidak bu, tidak! Ibu dan Abang akan tinggal sama Raya dirumah Raya, bagaimana kalau seketika ada hujan badai? Rumah ini tidak akan bertahan bu…”
“sayang—“
“ibu Raya mohon, dirumah Raya juga hanya tingal dengan adik-adik tidak ada orang lain, adik-adik terkadang juga kesepian saat Raya sibuk kerja, mungkin dengan adanya ibu dan Abang adik-adik tidak perlu Raya titipkan lagi pada teman Raya mereka juga pasti senang jika ibu tinggal disana” Raya berusaha membujuk ibu
“sayang kami tidak apa-apa, rumah ini sangat nyaman untuk kami” suara ibu mulai terisak “kami sangat bersyukur karena Tuhan masih memberi kami tempat tinggal walaupun seperti ini”
Ibu tidak kunjung melepaskan pelukan tersebut bahkan derai air matanya sudah membasahi baju Raya, Raya hanya memeluk ibu dengan erat dan mengelus lembut pundak ibu, mencoba menenangkan wanita dalam pelukannya ini “ibu.. Raya juga ingin seperti bang Angga punya seorang ibu yang selalu mendukungnya yang selalu
memperhatikannya, yang selalu berada di sampingnya, yang selalu melindunginya” Raya tidak bisa membendung air matanya lagi, walaupun keadaan financial Raya lebih beruntung dari Angga tapi kasih sayang seorang ibu tidak pernah dia rasakan.
“Raya anak ibu, ibu sayang sama Raya, sama seperti ibu menyayangi Angga, waktu Raya kecil ibu yang rawat kamu, jaga kamu agar kamu selalu merasa nyaman, bahkan dulu ibu lebih mengutamakan Raya dari pada diri ibu ataupun Angga” tangis ibu semakin terdengar jelas, mengingat bagaimana dulu dia mengasuh Raya sampai Ayah
mengambilnya dari mereka.
Raya melepaskan pelukannya “ibu tinggal dirumah Raya… Raya tidak akan membiarkan ibu bekerja lagi, ibu jangan khawatir Raya sudah mempunyai pekerjaan walaupun tidak dengan gaji besar tapi Raya yakin uang itu cukup untuk kebutuhan kita bersama, Raya janji akan bekerja lebih giat lagi bu, tinggallah bersama Raya” Raya memegang erat pundak ibu, dirinya yang lebih tinnggi dari ibu harus sedikit membungkuk agar mensejajarkan wajah mereka.
Ibu akhirnya pasrah mengangguk pelan menyetujui permintaan Raya. Dengan segera Raya mengemasi kembali barang ibu dan Angga lalu memesan kembali taksi online. Ibu sedikit bersedih harus meninggalkan tempat tinggal yang menjadi saksi bisu perjuangannya mengurus kedua anak dulunya dan membesarkan Angga sampai bisa tamat sekolah
Diperjalanan ibu tidak henti-hentinya menjatuhkan air mata walaupun hanya ada suara isakan kecil dibibirnya, Raya selalu mendekap ibu sepanjang perjalanan. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah kediaman Raya. Raya membuka gerbangnya dan mengajak ibu duduk diteras sedangkan dia dan supir taksi harus mengangkat beberapa barang dari mobil ke teras rumah.
Tidak banyak yang mereka bawa, hanya pakaian juga beberapa barang berharga milik Angga, selesai membawa semua barang masuk, Raya menghampiri ibu dan membawanya masuk kedalam Rumah “mungkin rumah ini tidak semewah dan semegah rumah Ayah, tapi setidaknya rumah ini bisa menjadi peneduh aman untuk diri kita”
Ibu melihat sekeliling, dari awal ibu hanya diam memperhatikan rumah didepannya sampai Raya membawanya masuk. Rumah ini sangat berbeda dengan tempat tinggal ibu, lantainya tidak dari karpet plastik lagi tapi sudah kramik, dindingnya bukan tepas tapi batu yang kokoh, bahkan rumahnya terdiri dari dua lantai “ini rumah kamu? Raya tinggal disini?” Tanya ibu lirih tanpa mengalihkan perhatian dari sekekliling rumah.
__ADS_1
“iya bu, ayo Raya antarkan kekamar ibu” Raya ingin mengajak ibu kelantai atas dan menempatkan ibu diruangan sebelah kamarnya “Raya” panggil ibu yang berhasil menghentikan langkah Raya “Ada apa bu?” Tanya Raya sambil membalikan badan mengarah ibu “apa tidak ada kamar dilantai bawah? Ibu tidak akan sanggup harus turun dan naik tangga” ucap ibu polos.
Raya tersenyum lalu menggenggam tangan ibu “ada, tapi tidak seluas yang diatas, tidak apa?”
“tidak, ini sudah lebih dari cukup” ibu merasa sedikit canggung dengan Raya
Raya memeluk ibu “Raya anak ibu, bersikaplah seperti biasanya pada Raya, dan rumah ini sekarang adalah rumah ibu juga”
Mereka mengarah kamar bawah yang berada dekat di ruang keluarga. Sampai dikamar ibu langsung membereskan barang yang tadi dibawanya yang dibantu dengan Raya
Kamar yang kira-kira berukuran 4x5meter, terdapat tempat tidur berukuran sedang juga satu lemari pakaian dan satu meja berukuran sedang “Raya apa ibu boleh Tanya sesuatu?” ibu mengalihkan fokusnya pada Raya
“Tanya apa bu?”
“apa Ayahmu memberikan rumah ini untuk kalian?”
“hemm, Ayah juga terkadang pulang kemari walaupun tidak menginap, tapi sangat jarang dia menjenguk kami kira-kira 6 bulan dua kali”
“dan ibu Raya?”
“wanita itu lebih sangat jarang walaupun hanya sekedar melihat kami, terakhir dia menginjakan rumah ini satu setengah tahun lalu” ucap Raya dengan bibir sedikit mengkerut sinis “bu.. tidak apa jika bang Angga harus tidur dengan Rian?”
“Angga tidur dengan ibu saja, nanti Rian akan terganggu” ucap ibu sedikit Ragu
“tidak bu, kamar Rian juga lebih besar dan memiliki dua kasur, Rian juga akan senang jika ada yang menemaninya tidur”
“Rani tidur dimana?” Tanya ibu
“dia tidur dikamar sebelah Raya tapi terkadang dia juga tidur dengan Raya terkadang juga dia tidur dengan Rian, kalau Rani mah… dimana dia senangnya bu”
“mereka belum pulang dari rumah Aini?”
“besok saat bang Angga sudah disini, Raya akan menjemput mereka pulang”
***
“kenapa ibu dan Raya lama sekali?” Tanya Angga setelah mendapatkan ibu melangkah masuk kedalam ruangan
“ibu ingin mengatakan sesuatu tentang rumah kita Angga” ibu berjalan mendekati Angga
“maaf bu” Rezky berdiri dan menyalim ibu “Raya ada dimana bu?”
__ADS_1
“Raya ada dikantin dia sedang memesan makanan” ucap ibu seraya mengelus pundak Rezky
“kalau gitu Rezky pamit nyusul Raya ya bu?” setelah mendapat anggukan ibu, Rezky keluar ruangan menyusul Raya membiarkan ibu dan Angga berbicara berdua di ruangan.