
Di sebuah rumah yang tidak begitu megah namun terlihat sangat nyaman, rumah yang terdiri dari dua lantai itu terdapat ruangan pribadinya dia sering menghabiskan waktu di ruangan itu, karena kemampuannya yang lihai dalam segala hal dan tidak takut untuk mencoba hal yang baru, Raya selalu betah di dalam kamarnya. Seketika terdengar suara pesan masuk dari hp nya
Aini
“Raya kau dimana? Dirumah kan? Aku jemput ya, kita keluar bosen nih di rumah mulu”
Raya
“terserah”
Aini
“oke, aku OTW”
Aini adalah salah satu teman yang Raya percayai, mereka terkadang suka menghabiskan waktu bersama walaupun terkadang Raya sering menganggap cuek Aini, namun Aini orang yang sangat memahami temannya itu, dia orang yang paling handal untuk menghibur Raya di saat Raya sedang mengalami hari buruknya.
Tidak berapa lama terdengar suara ketukan pintu, namun Raya tidak beranjak dari kamarnya dia tau kalau itu adalah Aini, sebagai teman yang sudah akrab tentu Aini sangat berleluasa di rumah Raya, menyadari ucapan salamnya tidak di respon, Aini langsung melangkah masuk kedalam rumah.
“Raya! Kau sengaja pastikan gak bukain pintu buat aku” ucap Aini kesal sembari melangkah masuk ke kamar Raya.
“gak gua bukain pintu juga pasti lo bakalan nyelonong aja kayak biasa” jawab Raya dengan wajah datar dan pandangannya masih fokus pada leptopnya sendiri.
“ayok buruan! Aku lagi pingin beli ice blend, bakso bakar, roti goreng aaaaaaa ... banyak lagi, ayo buruan!” ucap Aini dengan semangatnya.
“traktir gua dulu! baru gua mau ikut” masih dengan wajah datar.
“kau selalu gak pernah absen minta traktir kalau lihat aku” jawab Aini sebel.
“mau gak?”
“ya udah iya, tapi jangan banyak-banyak ya.”
“nah gitu dong, minggir! Gua mau ganti baju dulu.”
__ADS_1
Sudah sekitar 15 menit Raya mengganti pakaian namun sekarang masih belum keluar juga, sehingga Aini kesal dibuatnya.
“Raya lama banget sih!” teriak Aini yang sudah sedari tadi menunggu Raya mengganti baju.
“ini juga udah siap, gak sabaran banget” Jawab Raya acuh “udah buruan, tadi heboh nyuruh cepet”
“kenapa kau yang jadi sewot sih, kan yang nunggu lama aku bukan kau! yaudah buruan ni kuncinya” sambil menyerahkan kunci motor milik nya.
Sampai di halaman rumah Raya mengambil ahli kemudi motor lalu mengihupkan motor untuk siap di lajukan. Raya melajukan motor dengan kecepatan tinggi, dia memang seperti ini kalau bawa motor serasa jalanan itu miliknya sendiri.
Seperti biasa pula Aini memohon padanya untuk menurunkan kecepatan kendaraan tapi Raya tidak peduli apalagi jalanan cukup sepi.
“Raya aku mohon jangan ngebut-ngebut, kau kalau mau mati, mati sendiri aja jangan jadikan aku korban” teriak Aini dengan nada memohon.
“udah diem di tempat aja ya jangan banyak bicara” sahut Raya dengan suara datarnya.
Biasanya kalau Raya lagi mendadak jadi pembalap jalanan, satu hal yang bisa di lakuin Aini yaitu tutup mata dan Berdoa.
Sampai di suatu tempat dimana berjejer pedagang jalanan dengan berbagai macam makanan dan minuman yang menggugah selera, mereka memarkirkan motor lalu berjalan menyusuri tempat itu.
Aini dan Raya berjalan lurus melewati para pedagang, lalu berhenti ditempat pedagang penjual bakso bakar. Hanya Aini yang membeli bakso bakar, Raya tidak karena dia tidak begitu menyukai jajanan seperti itu apalagi bakso bakar di tempat itu sangat pedas sedangkan Raya sama sekali tidak suka makan makanan pedas. Setelah pesanan Aini selesai mereka pergi ketempat pedagang penjual aneka masakan roti.
“Raya kau pesan apa?” Tanya Aini sambil melihat menu padahal dia sendiri sudah hapal menu tersebut.
“seperti biasa” jawab Raya santai.
“bu, saya pesan roti goreng rasa coklat satu, sama teman saya pesan roti bakar rasa keju satu” kata Aini kepada pedagang tersebut.
“Raya duduk di situ aja” Aini menunjuk kursi dan meja kosong.
Mereka duduk mengambil posisi masing-masing. Aini meletakan bakso bakar miliknya di atas meja “Raya tunggu di sini sebentar, aku mau ambil ice blend nya dulu” kata Aini lalu berjalan pergi meninggalkan Raya.
Sembari menunggu Aini dan roti pesanan mereka, Raya mengeluarkan ponselnya membuka sosial medianya untuk mengusir penat, karena Raya suka dengan bau kekerasan tentu dia gabung dangan banyak grup chat tentang Psikopath dan video-video menegangkan lainnya.
__ADS_1
Banyak notif masuk di ponselnya, mulai pesan dari temannya atau pun pesan grup kegiatannya tapi dia lebih tertarik membuka beberapa pesan grup kekerasan, di grup itu terdapat banyak berbagai macam gambar maupun video kekerasan seperti video pemerkosaan yang keji sampai video pembunuhan penuh dengan banyak darah.
Raya paling suka sama video-video seperti itu, dia membuka salah satu video yang membuat matanya tertuju dan penasaran pada video tersebut, video dimana digambarkan awal pemerkosaan yang diakhiri dengan pembunuhan.
Raya menonton video itu tanpa suara karena kondisi nya yang berada di tempat umum. Belum selesai video itu diputar tiba-tiba Raya dikejutkan dengan orang yang duduk di depannya sambil terus memandanginya, spontan Raya langsung mematikan hp nya
“lo ngapain disini? terus duduk disini kenapa gak bilang-bilang?” Tanya Raya sambil berusaha menyembunyikan wajah paniknya, karana di takut orang didepannya ini melihat apa yang dia tonton barusan.
“aku lagi mesen roti bakar sama kakak aku, terus aku lihat kamu yaudah aku samperin aja, lagian kamu kelihatannya lagi asik banget sama ponselnya jadi aku gak tegur kamu, emang kamu liat apaan sampai gak sadar ada orang di sini” Tanya Wahyu dengan wajah penasaran.
Wahyu adalah teman satu perguruan Pencak Silat dari SMK dengan Raya. dia banyak dikagumi oleh kaum hawa karena tampan, humoris tetapi tegas, itu sebabnya orang sering mempercayainya.
“enggak lihat apa-apa” jawab Raya sambil tersenyum lega karena Wahyu tidak melihat apa yang dia tonton tadi. Seketika Aini datang dengan dua bungkusan di tanganya melihat Raya dengan orang lain dia kebingungan apa lagi orang itu laki-laki, siapa orang yang sedang duduk bersama Raya?
Wahyu yang menyadari kedatangan Aini langsung beranjak dari tempat duduknya “Raya aku pergi dulu, jangan lupa nanti malam latihan Silat jangan sampai tidak datang!” ketus Wahyu tegas.
“hmmm.” gumam Raya
Wahyu pergi meninggalkan Raya dan Aini. Aini yang sedari tadi penasaran langsung menayakan bertubi-tubi pertanyaan pada Raya.
“Ray tadi itu siapa? Temen? Atau jangan-jangan pacar? Astaga!!!! Seorang Raya Uti punya pacar, harus di viralkan ini” ucap Aini dengan antusias.
“lebay lu... dia temen Silat gua, tadi gak sengaja ketemu yaudah apa salahnya dia nyamperin gua. Mana? sini makanannya gua laper ni, lama banget si lo ngambil makanan doang” sahut Raya dengan wajah dinginnya sambil meraih bungkusan yang di bawa Aini.
“udah syukur aku mau ngambilin, kau tinggal tenang duduk manis di sini aja masih ngomel” Aini menyinyirkan bibirnya, sebel akan kelakuan Raya.
“ehh tapi udah lo bayarkan?” Tanya Raya sambil meminum susu dingin miliknya.
“udah! Bukannya bilang terima kasih ini malah protes.”
“Terima kasih banyak untuk semuanya Aini cantik” kata Raya sembari menunjukan senyum indah andalannya.
“nah gitu dong kan aku jadi senang, sama-sama atas pujiannya” jawab Aini sambil mengibaskan rambut panjang bergelombangnya.
__ADS_1
Mereka menghabiskan makanan dengan lahap sambil berbincang-bincang banyak hal. Tentu Aini yang paling banyak bercerita sedangkan Raya tetap setia menjadi pendengar yang baik.
Setelah kenyang makanan juga sudah habis, mereka beranjak pergi meninggalkan tempat itu lalu menuju motor yang mereka parkirkan tadi dan pergi menuju rumah Raya.