Tuhan Aku Merindukanmu

Tuhan Aku Merindukanmu
Nyaman


__ADS_3

Angga merasa sangat nyaman berada dikamar Rian, kamar yang bercat putih polos juga sedikit dihiasi dengan gambar Spiderman membuat kamar itu terlihat sangat keren, ukuran kamarnya cukup besar terdapat satu lemari dan satu meja belajar, dua tempat tidur dengan posisi yang berbeda.


“Kenapa ada dua tempat tidur disini?” tanya Angga bingung.


“Satu tempat tidur lagi biasa tempati Rani kalau dia ingin tidur di sini.” jawab Rian.


Ibu menyusun barang-barang Angga yang dibantu dengan Rian dan Rezky, Rani sudah tertidur pulas dikamar Ayah, sedangkan Raya berada di dalam kamarnya untuk mengganti baju dan berusaha menutupi noda merah keunguan di lehernya.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu, Raya kembali menggerai Rambutnya dan berjalan kearah pintu “ada apa?” Tanya Raya saat mendapati Rezky didepan pintu kamarnya.


“Aku ingin pamit pulang.” ucap Rezky.


“Barang-barang bang Angga sudah selesai?”


“Sudah, ibu tidak membawa begitu banyak barang.”


Rezky mengintip keadaan di dalam kamar Raya dari pintu yang sedikit terbuka “jangan melihat ke kamarku ” ucap Raya.


“Kau sedang apa didalam?”


“Mengcoba menghilangkan bercak merah yang kau buat.”


Rezky mendorong Raya masuk kedalam kamar “ada apa?” Tanya Raya bingung.


“Bagaimana cara menghilangkannya? biar kubantu.”


“Aku tidak tau, tapi biasanya aku menutupinya dengan cream juga bedak.”


Rezky mengahlikan pandangannya dari Raya dan mulai memperhatikan keadaan kamar, kamar yang didominasi dengan warna kuning dan hitam namun lebih mencolok ke warna kuning “apa kuning warna kesukaanmu?” tanya Rezky seakan lupa dengan tujuannya membawa Raya masuk kedalam kamar.


“Hmmm” gumam Raya.


Rezky mulai menelusuri kamar Raya melihat beberapa foto yang terpajang di dinding dan meja, foto gambar diri Raya yang terlihat begitu menawan “apa kau seorang model juga?” tanya Rezky saat melihat foto-foto Raya.


“Tidak.”


“Foto-foto ini sangat keren. Kenapa kau sangat cantik seperti ini.” Rezky mengambil salah satu foto di atas meja, menggambarkan Raya dengan rambut panjang terurainya sedang tersenyum indah, matanya terlihat lebih sipit di foto itu.


“Salah satu temanku suka dengan photographer dan aku sering dijadikan sebagai model latihan pemotretannya dulu.”


“Adikku juga suka bergumal dengan camera, tapi dia tidak pernah menjadikanku model-nya.” ucap Rezky sambil terus memperhatikan barang-barang disekitar.


“Jika aku jadi adikmu, aku juga tidak mau menjadikanmu model dalam foto ku.”


“Kenapa?” Rezky beralih memandang Raya.


“Kau jelek” Raya mengalihkan pandangannya dari Rezky.


Mendengar ucapan Raya, Rezky tersenyum lalu berjalan mendekati Raya. “kau bilang apa tadi?”


“Kau jelek” masih mengalihkan pandangan.


Rezky menolehkan pandangan Raya kearahnya “benar aku jelek?”


Raya hanya terdiam sembari terus menatap Rezky. Dengan perlahan Rezky meraup bibir Raya, ********** lembut. Raya mendorong tubuh Rezky agar terlepas dari ciuman itu “kau membawaku masuk bukan ingin membantuku menghilangkan bekas cupangmu kan? Kau pasti hanya ingin membuat tanda ****** yang baru lagi!” ucap Raya kesal.


“Kau meragukanku ya? Tapi kalau diperbolehkan aku akan membuat mahakarya yang jauh lebih indah lagi di tubuhmu.”


“Kau ingin membuat tubuhku penuh dengan ****** mu?!”


“Jadi kau ingin aku mencupang seluruh tubuhmu ya? Baiklah.”


“Ky!”


Rezky hanya tertawa kecil. Dia menyibakkan rambut Raya yang menutup sebagian leher gadis itu, masih terlihat jelas tanda merah keunguan yang tadi pagi diciptakannya. tangannya perlahan mulai masuk kedalam baju Raya dan menelusuri tubuh indah itu dengan sangat lembut.


“Ky kita sekarang ada dirumahku!” ucap Raya kesal namun Rezky tidak menghiraukannya dan terus melajukan tangannya pada tubuh Raya sampai dia bersemayam pada area favorite-nya.


“Dan kita sedang berdua dikamarmu.” ucap Rezky.


Rezky mulai ******* kembali bibir mungil itu dan terus menerus mengelus lembut dua gundukan yang sedang menjadi pelabuhan tangannya bersemayam, Raya akhirnya mengikuti kemauan Rezky dan mulai mengambil bagian dari permainan mengairahkan itu.


“Kenapa bang Rezky menggigit bibir kakakku?” seketika ucapan Rani berhasil membuat mereka berdua kaget dan berhenti dari aksi yang sudah mulai panas tersebut.


Raya menoleh kearah Rani, adiknya yang kini memasang wajah ketakutan dan bingung membuat Raya diam terpaku tidak tau harus mengatakan apa. Rezky berjalan kearah Rani berjongkok untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan bocah itu “tadi ada sesuatu yang menempel pada bibir kakakmu dan itu hanya hilang kalau dibersihkan dengan cara digigit.”


Raya membulatkan matanya, pernyataan seperti apa ini? Sangat tidak masuk akal sekali.


“Jadi bang Rezky membantu kakakku untuk membersihkan sesuatu dibibirnya ya?” ucap Rani yang langsung diangguki oleh Rezky.


“Terima kasih.” ucap Rani sekilas lalu beranjak naik kekasur Raya.


Raya hanya menatap Rezky tidak percaya, bagaimana mungkin dia bisa mengelabuhi adiknya begitu cepat. Rezky yang melihat tatapan bingung dari Raya hanya senyum-senyum sendiri “Kau tidak ingin mengantarku kedepan?” ucap Rezky masih dengan senyumnya.


Raya menghela napas panjang lalu berjalan keluar kamar untuk mengantar seperti permintaan Rezky. Saat Rezky hendak memasuki mobilnya, dia mengurungkan niatnya sejenak lalu kembali mengarah Raya.


“Ada apa? Apa ada yang tertinggal?” ucap Raya bingung.


“Kau punya rencana hari ini?”


“Aku akan menemui Wahyu nanti malam.”


Rezky mengangguk kecil “aku akan mengantarmu kerumah sakit, hubungi aku saat kau ingin pergi.” ucap Rezky yang dibalas anggukan setuju dari Raya.


***


Diruangan rumah sakit, terlihat tante dan om sedang berbincang-bincang di sofa, Rezky mengetuk pintu lalu berjalan kearah mereka yang di ikuti Raya untuk memberi salam, Wahyu tersenyum bahagia saat melihat kedatangan orang yang sedari tadi ditunggunya.


“Apa dokter sudah memeriksamu? Bagaimana kondisimu, apa sudah ada peningkatan?” tanya Raya pada Wahyu

__ADS_1


“Ya. kondisiku seperti apa yang kau lihat, aku tampak baik-baik saja kan?”


“Aku permisi keluar dulu” izin Rezky agar memberikan waktu berdua bagi Raya dan Wahyu. Om dan tante masih berada di sofa, melanjutkan perbincangan yang tadi sempat terhenti.


Saat Rezky hendak melangkah keluar, Wahyu mencegahnya “kau ingin kemana? Tetaplah disini” pinta Wahyu.


“Tidak. Aku sebaiknya menunggu di luar saja.”


Raya terdiam membisu dia tidak tau harus mengatakan apa. “aku ingin kau juga menemaniku di sini” cegah Wahyu.


Rezky pun akhirnya menuruti permintaan Wahyu walaupun hatinya begitu sakit saat melihat orang yang dia cintai sedang berpihak pada pria lain.


Seketika Raya menggenggam tangan Rezky yang berada di bawah ranjang Wahyu, namun wajahnya terus menoleh kearah Wahyu, dia menggenggam tangan itu cukup erat tanpa sepengetahuan Wahyu.


Raya tau apa yang dirasakan Rezky sekarang, namun dia tidak bisa bertindak apa-apa karena dua hati yang selalu menghantui dirinya sedang berada dikeadaan yang sama.


Rezky terlihat sedikit gugup namun dia tetap membalas genggaman tangan Raya. Sampai keadaan yang awalnya sedikit canggung berubah cair saat Wahyu dan Rezky mulai menyindir perilaku dingin dan cuek Raya juga beberapa kejadiaan tidak terduga yang pernah dialami Raya.


Raya sedikit manyun dan memasang wajah kesal juga malu, saat kedua pria yang sedang bersamanya sedang menertawakan kejadian yang menurut Raya sangat-sangat menyebalkan dalam hidupnya.


“Iya ... Aku baru nemuin orang yang cool seperti Raya takut sama Cicak” ucap Rezky dengan tawa kecilnya.


“padahal Cicaknya cuma mau kenalan doang haha ….” tawa Wahyu “makanya punya wajah tu jangan


kebangetan cantinya, Cicak juga punya selera Ray ....”


“Yayaya … Tertawalah sepuasnya tuan-tuan.” ucap Raya dengan raut wajah kesal.


Bagaimana bisa, kedua dari mereka yang sedang bertarung dingin untuk merebutkan cinta yang sama kini sedang bercanda lepas, sungguh cinta segitiga yang membingungkan.


***


Pulang dari rumah sakit, Rezky membawa Raya kembali pulang, namun bukan pulang kerumah Raya melainkan pulang kerumah Rezky.


Raya sangat yakin bahwa ini bukan arah jalan pulang menuju rumahnya “kita mau kemana Ky?” tanya Raya.


“Pulang.”


“Aku rasa kau salah jalan.”


“Kita menuju ke jalan yang benar.”


“Ini bukan arah jalan ke rumahku.”


“Ya, aku tau.”


“Ky!”


“Kita pulang kerumahku Raya.”


Raya menatap kesal Rezky “kamu gila ya! Ibu dan bang Angga sedang di rumah.”


“Hmmm, kalau gitu biar aku minta izin pada mereka.” Rezky mengambil ponselnya hendak menelepon Angga untuk meminta izin atas Raya.


“Minta izin pada mereka.”


Raya langsung merampas ponsel Rezky. “kamu cari mati ya?!” Rezky menghela napas panjang lalu fokus pada jalanan, tidak berniat meladeni Raya.


Sampai di rumah Rezky, mereka turun dari mobil dengan Raya yang masih memasang raut wajah kesal. Raya mengikuti Rezky masuk kedalam rumah, ini kedua kalinya dia menginjakan kaki dirumah megah ini.


Namun keadaan sedikit berbeda dari kemarin, terlihat seorang ART wanita separuh baya sedang membukakan pintu dan menyambut Rezky masuk, Wanita itu tampak sedikit heran dengan Raya namun dia tetap juga bersikap sopan dan menyambut gadis itu.


Rezky berjalan ke arah dapur dan terdapat seorang ART wanita separuh baya lagi sedang menghidangkan makanan di meja makan. “kita makan dulu” ucap Rezky sembari menarik kursi dan mempersilahkan Raya duduk, lalu dia juga duduk bersebelahan dengan Raya.


Makanannya terlihat sangat lezat namun bukan Raya namanya kalau tidak lebih memilih roti keju dan susu putih “Ky aku makan roti aja.” ucap Raya saat melihat Rezky sudah menaruh nasi ke piring dihadapannya.


“Makan nasi saja, kau akan lebih kenyang.”


Mendengar bantahan Rezky, Raya langsung mengambil ahli makanan yang akan diletakan


d ipiringnya, dia mengurangi setengah piring nasi lalu hanya mengambil sepotong ayam.


‘Ayam? Sejak kapan aku makan Ayam?’ batin Raya/


Rezky melihat nasi dipiring Raya dengan tatapan lesu “kau tidak akan kenyang dengan


makan segitu.”


“Aku akan makan banyak hanya pada roti saja, HANYA PADA ROTI, makanya izinkan aku untuk makan roti, aku tidak terlalu suka dengan nasi.” pinta Raya


“Tidak.” Rezky menaruh sayur di piring Raya “habiskan makananmu” Dengan terpaksa Raya memakan makanan yang berada dipiringnya sedikit demi sedikit.


***


“Ky …” panggil Raya yang sedang bersandar pada tubuh Rezky.


Setelah selesai makan tadi, Raya langsung membersihkan diri lalu memakai baju kaos putih polos milik Rezky.


“Hmmm” sahut pria yang kini sedang menjadi pelabuhan dasar tubuhnya.


“Kenapa ada asisten rumah tangga di sini? kemarin waktu aku kemari mereka tidak ada.” tanya Raya.


“Ya. Abi baru mempekerjakan mereka untuk ku.” jawab Rezky.


“Kenapa?”


“Entahlah. Aku juga sebenarnya tidak suka ada ART disini, tapi itu adalah keputusan abi.”


“Mereka pasti akan menceritakan tentangku pada abi-mu.” ucap Raya sedikit panik saat mengetahui ART itu adalah pekerja dari abi Rezky.


“Jangan khawatir mereka tidak akan mengatakan apapun. Akan kucari cara untuk memberhentikan mereka dari sini.”

__ADS_1


“Memberhentikan? Kenapa?” Raya mendongak menatap Rezky.


“Agar kita bisa berleluasa dirumah ini, tanpa adanya pengganggu.”


Rezky mencium bibir Raya lembut, tangannya juga sudah mulai liar kemana-mana, Raya membiarkan perlakuan Rezky bahkan dia juga meladeni permainan hangat tersebut “aku suka hangat tubuhmu” ucap Raya sembari mengelus pipi Rezky.


Dengan mudahnya Rezky berhasil melepaskan baju yang melekat pada tubuh Raya hanya dengan sekali robekan saja “kau bisa merasakan hangat yang lebih lagi saat keadaan kita sama” Rezky membuka pengait bra Raya, menyamakan tubuh Raya seperti dirinya yang bertelanjang dada.


Hal terbodoh dalam diri Raya adalah bahwa dia selalu welcome atas kelakuan Rezky padanya, bahwa dia selalu merindukan sentuhan Rezky pada tubuhnya, bahkan Wahyu hanya menyentuh bibir Raya saja, tidak lebih dari itu.


***


“Raya kenapa kamu semalam tidak pulang?” tanya ibu, wajahnya sedikit khawatir namun terdapat setitik amarah pada tatapannya.


“Maaf bu, Raya tadi malam nginap di rumah sakit, menemani Wahyu.” sungguh keji dirinya, dia yang semalam asik bergumal dengan Rezky dikamar malah Wahyu yang menjadi korban untuk alasannya.


“Kenapa tidak kabari ibu?”


“Raya lupa bawa ponsel.”


Ibu menghela nafas kasar mendengar jawaban Raya. “Kalau begitu kamu sarapan dulu, lain kali apapun keadaannya jangan lupa hubungi ibu” ibu mengelus lembut kepala Raya.


Untuk pertama kalinya Raya merasakan kasih sayang juga kepedulian seorang ibu “maafin Raya bu.”


Raya melangkah menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk, mengambil nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Mengingat kejadian tadi malam bersama Rezky, mengapa sekarang tubuhnya mudah sekali terbawa suasana akan sentuhan Rezky?.


Pintu kamar Raya seketika terbuka “ada apa?” Tanya Raya ketika mendapati Rani sedang berdiri dipintu dengan berlinang air mata.


“Bang Rian tidak mengizinkanku tidur dengannya lagi.” isak bocah itu.


Raya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu memasang raut wajah dengan senyuman manis dibibirnya “kemarilah” Raya membentangkan tangannya mengisyaratkan agar Rani memeluknya.


Bocah itu menghampiri Raya, duduk dipangkuan sang kakak sambil memeluknya dengan erat. Raya mengelus lembut punggung adiknya “Rani kan bisa tidur sama kakak di sini, Rani kan orangnya pemberani terkadang juga Rani tidur dikamar Ayah sendirikan.”


“Aku sedang tidak ingin tidur sendiri, semalam Kakak juga tidak ada.”


“Huh. maaf ya, semalam kakak tidur sama temen kakak. Jadi semalam kamu tidur dengan siapa?”


“Dengan ibu.” jawab Rani.


Raya mengangguk pelan, menyisir rambut sang adik dengan jarinya “ayah kenapa belum kemari kak?” pertanyaan yang paling malas untuk dijawab Raya “ayah masih sibuk kerja, kamu udah saparan belum?” Rani menggelengkan kepalanya “kalau gitu sarapan dulu, mau kakak ambilin?”


“Gak. Aku bisa sendiri kan udah gedek.” Rani berlari keluar kamar Raya.


Raya mengotak-atik ponselnya, mengatur jadwal untuk pekerjaannya. Sekarang sudah ada ibu dan Angga, dia harus lebih giat bekerja, untuk beberapa saat Angga pasti tidak bisa bekerja dalam keadaan seperti ini.


Namun aktifitas Raya terhenti karena ada pesan masuk untuknya “Nona, temui anak buah saya di depan rumah sekarang.” pesan dari nomor yang tidak dikenal, namun dari kata awalnya saja Raya sudah paham siapa yang mengirimkan pesan padanya, siapa lagi kalau bukan seketaris pengabdi itu.


Raya sama sekali tidak menghiraukan pesan tersebut dia kembali asik dengan jadwal kerjanya. Tidak lama kemudian pesan kembaki masuk di ponselnya. “ini tentang adik-adik nona dan Angga.” pesan dari nomor yang sama.


“Huh! Apa dia mengancamku sekarang, berani sekali dia!” ketus Raya, namun dia tetap melangkah keluar menemui orang yang dimaksud pesan tadi.


Terlihat dua orang sudah berdiri di depan pagar dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan kaca mata hitam. Raya berjalan menghampiri orang tersebut “Apa?!” tanya Raya sedikit kesal.


Kedua orang tersebut sedikit membungkukan kepala saat melihat Raya lalu mereka membuka kaca mata hitam itu dan menyerahkan sebuah amplop coklat pada Raya.


“Apa ini?!” taya Raya bingung.


“Kami di tugaskan untuk memberikan ini pada nona.” jawab salah satu orang tersebut.


Raya menatap tidak suka “isinya apa?!” ketus Raya.


“maafkan kami Nona, kami hanya mengantar saja.”


Raya membuka amplop tersebut ‘uang?’ gumam Raya ketika mendapati lembaran-lembaran uang didalam amplop dengan jumlah yang tidak sedikit.


“Untuk apa uang ini? Apa tuan kalian menyuruhku menyimpan uang ini di lemarinya?” tanya Raya masih dengan tatapan bingung


“Ini untuk nona. Nona disuruh untuk berhenti bekerja dan hanya menikmati uang yang akan


dikirim setiap minggu saja.”


Raya berdengus sinis “kiriman? Tiap minggu? Apa kalian sedang bercanda denganku?”


“Kami hanya diperintahkan untuk menyampaikan ini, kami permisi dulu nona.” kedua orang tersebut mulai melangkah jalan meninggalkan Raya.


“Hei! Tunggu!” tegas Raya yang berhasil membuat kedua orang itu berhenti dan kembali menghampirinya


“Ada apa nona?”


“Aku tidak butuh uang ini! Aku akan bekerja dengan usahaku sendiri!”


“Nona, jika kami gagal memberikan uang ini pada Nona maka kami akan kehilangan pekerjaan, anak istri kami mau makan apa nanti.” ucap salah satu orang tersebut dengan nada sendu.


“Huh!” Raya menghentakan kakinya ke bawah “kalian menyebalkan! Pergi sana!” usir Raya yang diangguki sopan oleh mereka.


Raya kembali masuk ke kamar, berniat hendak menaruh uang tersebut di lemari ayahnya dan berjanji tidak akan memakainya, namun seketika pemikiran itu sirna saat dia mendapat kabar bahwa dia dipecat dari pekerjaannya tanpa alasan.


“Sejahat inikah dia padaku?” isak Raya, dia mengetahui ini semua pasti ulah sang sekeretaris itu. Dengan segera dia menelepon nomor yang tadi memberikan pesan padanya, tidak pakai lama telepon pun langsung terhubung.


“Kembalikan pekerjaanku! Jangan ikut campur tentang kehidupanku!” bentak Raya.


“Maaf, saya hanya menjalankan perintah, semoga hidup anda jauh lebih baik nona” jawab seketaris dengan santai lalu mematikan sambungan telepon.


Raya menghempaskan tubuhnya berbaring di tempat tidur, sembari menatap langit-langit kamar. “sekarang apa yang harus kulakukan? Apa aku mencari pekerjaan baru saja? Tapi seketaris itu pasti akan menggagalkan rencanaku. Apa aku harus pasrah dan menerima kiriman uang dari pria itu? Tapi bagaimana kalau dia hanya ingin menyiksa kami saja, bagaimana kalau dia tidak mengirimkan pemasukan lagi? Huh! Aku harus cari pekerjaan baru! Aku tidak sudi berharap padanya!” pikiran Raya melayang-layang.


Bagaimana nasib mereka kedepan nanti? Ayahnya pasti tidak akan mengirimkan uang lagi, tapi akan sangat sia-sia jika seketaris pengabdi itu tau bahwa Raya membantah keinginan tuan-nya.


Namun sekarang mereka lagi memperlukan banyak uang apalagi sekarang Ibu dan Angga tinggal bersama dengannya.


Raya  mengotak-atik ponselnya mencari info tentang lowongan pekerjaan, namun tidak ada satu pun yang cocok dengannya. Pengahasilan kecil tapi menyita banyak waktu, penghasilan besar dengn waktu singkat tapi dengan cara instant dan harus mengorbankan diri sendiri.

__ADS_1


Tentu dia tidak ingin kejadian yang menimpa Rini beberapa waktu lalu terjadi padanya.


__ADS_2