
Di siang hari, karena semua pekerjaan sudah beres dan mereka juga sudah makan siang, Raya menyuruh semua agar berkumpul di lapangan, sesampai di lapangan keadaan tidak seperti bisanya ada beberapa perguruan lain yang juga berlatih di sana namun masih ada tempat kosong yang cukup untuk menampung mereka latihan.
Mereka berlatih untuk persiapan pertandingan besok, Raya mengutamakan orang yang akan bertanding pada esok hari untuk yang lain Raya serahkan pada Wahyu untuk memimpin latihan.
Raya melupakan lindung body yang ditinggalkannya saat kelapangan tadi jadi dia kembali ke mess. karena semua orang sedang berlatih keadaan mess kosong, dia mengambil pengaman body lalu menyempatkan kekamar untuk mengambil Hp nya. Betapa terkejutnya dia saat mendapati Wahyu yang sudah memperhatikannya dari depan pintu kamar
“lo ngapain di sini? Trus yang lagi pimpin latihan disana siapa?”
“aku kemari Cuma mau ketoilet doang, tapi kamu ternyata juga ada disini”
“trus yang mimpin latihan disana siapa?”
“Rini sama Rezky” Raya yang mendengar nama Rini langsung berubah masam wajahnya, Wahyu melangkah masuk mendekati Raya “kamu kenapa? Kok kesel gitu denger nama Rini?” Tanya Wahyu dengan tatapan curiga
“gak, gakpapa minggir! Aku mau ke lapangan” namun langkah Raya langsung di cegah Wahyu
“aku mau ngomong”
“aku udah tau apa yang mau kamu omongin, tentang Rezky kan” jawab Raya acuh
Wahyu memandangi Raya Cukup lama, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Dia mulai mendekatkan bibirnya ketelinga Raya dan membisikan “aku mau lakuin apa yang kamu lakuin sama Rezky tadi pagi” Raya yang mendengar hal itu emosi tapi belum sempat dia meluapkan emosinya Wahyu menyentuh telinga Raya dengan bibirnya.
Hembusan napas Wahyu yang terdengar jelas di telinga Raya membuatnya merinding, Wahyu yang tidak melihat reaksi apa-apa dari Raya tetap meneruskan aksinya, beberapa kali dia menggigit telinga itu dengan bibirnya sampai berubah warna, lama-lama bibir itu turun ke leher Raya dan menghisapnya sesekali.
Raya yang semakin terbawa suasana refleks menyentuh dada bidang Wahyu, Wahyu terus melancarkan aksinya, tangannya mulai nakal menyentuh kancing baju Raya dan membuat beberapa kancing bajunya terbuka terlihat jelas pemandangan indah di sana, dari leher turun ke dada membuat Raya sesekali mendesah, Wahyu meninggalkan bercak merah di dada Raya dan beralih pada leher Raya kembali, dia menggigit leher itu “aahhh...” desahan Raya sambil diiringi hembusan napas kasar.
Wahyu kembali meninggalkan bercak merah di leher Raya tidak hanya satu, dia membuat dua bercak tanda kepemilikan di leher mulus itu, saat Wahyu ingin beralih ke bibir Raya dan sudah menyentuh ujung bibir mungil itu, Raya seketika tersadar. “Wahyu stop!” ucap Raya lalu mendorong tubuh kekar itu.
Raya mengambil pengaman body yang tadi di bawanya, mengancing bajunya yang terbuka karena ulah Wahyu lalu pergi tanpa melihat kearah Wahyu, Wahyu yang tersadar duduk di bibir ranjang mengacak-ngacak rambutnya sendiri merasa kesal karena tidak bisa menahan dirinya.
Di sepanjang jalan Raya memaki dirinya sendiri merasa kesal karena tidak bisa mencegah hasratnya, sesampai di lapangan Raya melihat keadaan lapangan yang masih sedang berlatih, dia menghampiri mereka lalu menyuruh untuk beristirahat sejenak, dia juga tidak ingin melatih dalam keadaan yang kesal begini.
__ADS_1
Saat Raya berada di lapangan tatapan aneh orang-orang tertuju padanya, Rezky bahkan terkejut ketika melihat Raya dan menyadari suasana orang-orang yang sedang memperhatikan Raya dengan tatapan bingung dan curiga.
Langsung Rezky mendekati Raya “buka ikatan rambut kamu” ucap Rezky dengan nada sedikit kesal “kenapa?” Tanya Raya bingung “buka ikatan rambut kamu atau aku yang buka sendiri” Raya mengikuti ucapan Rezky membuka ikatan rambutnya yang membuat rambut indah itu terurai menutupi leher gadis itu.
Rezky membisikan ke telinga Raya “kamu habis apa sampai leher kamu bercak merah gitu” Raya yang mendengar hal itu sontak kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang sambil memegang lehernya, Raya yang sadar akan tatapan orang-orang padanya langsung menghentikan tatapan itu “Waktunya istirahat, dan jangan ada yang berani lihatin gua walaupun hanya sekejap!” ucap Raya tegas dengan nada tingginya. yang membuat semua orang tertunduk dan tidak berani menatapnya.
Raya duduk di pinggir lapangan dengan tangan kanan memegang lehernya dan satu tangan lagi meremas bajunya yang tadi sempat di buka, Rami segera berlari menuju Raya namun langkahnya terhenti karena Angga memanggilnya dan membawanya pergi entah kemana. Rezky menghampiri Raya duduk di sebelahnya melihat tingkah Raya yang gelisah membuatnya semakin penasaran “Raya kamu kenapa?” Raya hanya menggelengkan kepala dan memalingkan wajah dari Rezky “Raya kamu kenapa!” Tanya Rezky dengan sedikit meninggikan suaranya karena khawatir, membuat Raya langsung menatapnya dengan tajam
“kamu bilang apa sama Wahyu?”
“emang aku bilang apa sama dia?” Tanya Rezky bingung
“waktu kamu di tonjok Wahyu kamu bilang apa sama dia? kenapa dia bisa nonjok kamu gitu?” ketus Raya
“tadi itu aku lagi lari, trus Wahyu datang dia salah sangka karena lihat kamu yang masuk pakai baju aku dan disusul aku yang masuk tanpa baju, dia langsung nonjok aku, bahkan aku belum sempat memberi panjelasan padanya, untung Angga datang dan mencegah Wahyu. Raya kamu kenapa? Jangan bikin aku khawatir gini”
“emang sejak kapan peduli sama aku?” ucap Raya sambil menundukan wajahnya.
Rezky melihat tangan Raya yang masih memegangi erat bajunya “yang ini juga?” Raya sekilas menatap Rezky lalu kembali menundukan pandangannya suara isakannya semakin terdengar, Dengan segera Raya menahan isakan itu dan segera menyeka ujung matanya, Rezky yang melihat itu semakin memperkuat kepalan tangannya, beranjak dari duduknya dan ingin segera menemui Wahyu.
“kamu mau kemana?”
“kamu pikir aku bakalan diem aja lihat kamu di giniin sama dia!”
“Rezky apapun yang kamu pikirkan, jangan, ini juga bukan seutuhnya salah Wahyu, jangan tinggalin aku sendirian sekarang” Rezky kembali duduk di tempatnya semula ketika mendengar ucapan Raya.
Raya menggenggam tangan Rezky, Rezky juga membalas genggaman tangan Raya dengan lembut. Seketika Wahyu datang dengan wajah yang sangat memar bahkan terlihat sedikit darah mengalir di ujung bibirnya, Raya yang melihat kedatangan Wahyu merasa kesal, tanpa dia sadari dia melampiaskannya pada genggaman tangan Rezky, Rezky yang sudah mengerti situasi langsung mengelus tangan Raya yang membuat gadis itu mengendurkan genggamannya
“kamu gakpapa? Tanya Rezky “aku gakpapa ky, maaf… sakit ya?” Rezky hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum “ky sebaiknya kita lanjut latihan aja” Rezky menuruti ucapan Raya.
Belum sempat mereka memulai latihan Rini datang menghampiri Raya
__ADS_1
“Raya!”
“hmmmm”
“Wahyu lagi terluka, aku izin bawa dia ke mess buat ngobati lukanya”
Raya tidak melirik Rini sama sekali dia sibuk memutar-mutar kepalanya seperti sedang mencari seseorang
“Raya kau gimana sih, Master mempercayaimu buat ngehandel semuanya, tapi kau diem aja saat liat Wahyu dengan kondisi seperti itu” Raya sama sekali tidak memperdulikan Rini dia tetap sibuk mencari seseorang yang belum dia temui, Rini yang melihat tingkah Raya langsung mengarahkan kepala Raya kearah Wahyu “itu Wahyu disitu” ucap Rini sambil memegang Wajah Raya, Raya lalu mengibaskan tangan Rini dari Wajahnya
“gua gak peduli sama dia, lo lakuin aja apa yang lo mau, gua gak peduli, gua lagi nyari Rami!” ketus Raya dengan tatapan kesal, Rini pergi meninggalkan Raya dia menarik tangan Wahyu lalu pergi entah kemana
Setelah tidak berhasil menemui Rami akhirnya Raya memutuskan memulai latihan, pikirnya Rami lagi di mess dan belum kembali entar juga kemari.
***
Selasai latihan Raya bergegas kearah mess karena belum juga menemukan Rami, setelah berada di kamar mess, Raya melihat Rami yang sedang terduduk di kasur terlihat wajahnya sembab seperti baru selesai nangis
“Rami lo kenapa?” Rami yang mendengar suara Raya langsung bangkit dan memeluk Raya “Raya kau gakpapa kan?” ucap Rami sambil melepas pelukan dan memegang leher Raya, Raya langsung menjauhkan tangan Rami dari lehernya “mikk lo kenapa?”
“aku benci Wahyu Ray.. aku benci Wahyu, hiks..hiks..” isak Rami
“maksudnya? Gua gak ngerti Mikk?”
“Raya kau bodoh kali sih.. kenapa mau aja di sentuh Wahyu kayak gitu”
Raya yang mendengar itu menghela napas kasar “jadi lo uda tau?, lo nangis gara-gara gua?”
“bodoh! Bodoh! Bodoh!” ucap Rami sambil memeluk Raya dan diiringi tangisan “Mikk, gua gakpapa”
Rami yang teringat sesuatu langsung menarik tangan Raya keluar dari mess menuju taman yang hanya beberapa meter jaraknya dari mess, Raya melihat Angga dan Rezky yang sedang terduduk di bangku taman, Rami menarik Raya untuk menghampiri mereka.
__ADS_1