Tuhan Aku Merindukanmu

Tuhan Aku Merindukanmu
Kondisi Wahyu


__ADS_3

Hampir satu jam mereka terus menunggu, menanti kabar tentang kondisi Wahyu namun dokter tak kunjung keluar juga. Jalan satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah berdoa,doa, dan terus berdoa


Setelah cukup lama mereka menunggu, dokter akhirnya keluar dari ruang operasi juga. Semua sontak berdiri ketika melihat pintu ruangan yang terbuka


“bagaimana kondisi anak saya dok?” Tanya tante yang semakin gemetar takut kalau dokter memberikan kabar buruk tentang Wahyu


“operasinya sudah selesai, tapi kondisi pasien sedang sangat lemah. Penyakit yang dideritanya adalah kendala besar untuk kesehatannya, infeksi di jantungnya semakin memburuk ditambah lagi peluru yang menembus jantungnya. Pasien sedang koma sekarang, kita berdoa yang terbaik saja untuk pasien, biarkan tuhan menunjukan mukzijatnya” Dokter awalnya tidak tega mengatakan kondisi Wahyu saat ini tapi bagaimanapun mereka adalah keluarga Wahyu dan berhak tau kondisi yang sebenarnya


“apa dia akan baik-baik saja Dok? Dia bisa sembuh kan?” papa Wahyu menyanyakan dengan bibir yang bergetar sedangkan Tante sudah pecah tangisnya mendengar pernyataan dokter dan terus-menerus memeluk Raya yang juga tidak hentinya menagis


“saya tidak tau pasti pak, kemungkinannya sangat kecil. Dia akan sangat sulit bertahan untuk kondisinya sekarang. Sebaiknya kita jangan berharap terlalu besar. Teruslah berdoa, kami akan melakukan sebaik mungkin”


Mereka masuk kedalam ruangan Wahyu, yang kini sudah di pindahkan keruangan lain. Tubuh Wahyu tidak kalah pucatnya seperti tubuh Angga, selang oksigen terpasang di hidungnya begitupun jarum infus yang bersemayam di tangan kanannya


Cukup lama Raya berada dalam ruangan Wahyu, kakak Wahyu sudah pamit sedari tadi untuk mengurus adiknya di rumah. Raya juga akan pamit karena teringat akan Angga dan ibu


Sampai diruangan Angga hanya ada Angga yang masih terbaring lemah dan ibu yang tertidur di kursi sebelah ranjang Angga. Raya hanya berdiri di depan pintu saja lalu seketika menutup pintunya kembali dengan perlahan, dia mengurungkan niatnya untuk masuk.


Di ceknya layar Hp nya, terlalu banyak pesan masuk entah itu pesan grupnya atau pesan temannya yang sedang menanyakan kabarnya, tapi dia tidak menemukan pesan Rezky di sana. Dia mengabaikan semua pesan masuk dan memelihi menelepon Aini untuk memberitau keadaan


Setelah memberitau Aini, dia teringat akan Ayahnya. Awalnya dia tidak menghiraukan pikirannya tapi dia sangat penasaran seperti apa reaksi lelaki itu saat mengetahui kondisi anaknya sendiri. Untuk pertama kalinya dia memberanikan diri untuk menelepon Ayahnya itu


Saat dia menelepon pria itu sayangnya bukan Ayahnya yang mengangkat teleponnya melainkan seketaris ayahnya yang selalu mengabdi pada sang Tuan yang tidak lain adalah Ayah Raya


“halo..” suara telepon yang berasal dari seberang sana. Hanya dari suara saja Raya sudah mengetahui kalau seketaris pengabdi itu yang mengangkat teleponnya


“Ayah mana?” ucap Raya dengan suara sedikit kesal


“maaf nona… tuan sedang ada rapat tidak bisa diganggu. Jika ada suatu hal yang ingin disampaikan pada Tuan, katakana saja pada saya nanti saya akan menyampaikannya pada Tuan”

__ADS_1


“Huh!” Raya berdecak kesal, apakah tidak ada pemikiran lain di kepala Ayahnya itu selain uang dan pekerjaan “bang Angga tertembak, dia kehabisan banyak darah, tapi jangan khawatir katakana pada Tuanmu kalau aku sudah mendonorkan darahku untuk Abang, jadi dia tidak perlu susah-susah mencari alasan untuk tidak mau mendonorkan darahnya. Katakana juga padanya, kalau dia masih punya hati datanglah kerumah sakit untuk menjenguk Abangku! Aku tidak mengharapkan uangnya jangan cemas uangnya tidak berkurang sedikitpun untuk menjenguk anaknya!” ketus Raya dengaan nada suara yang sangat kesal, sebenarnya dia malas melihat wajah pria itu lagi, tapi bagaimanapun dia tidak boleh egois dalam keadaan seperti ini


Raya tidak mendengar jawaban apapun pada seketaris pengabdi itu, namun seketika suara seketaris itu kembali terdengar “maafkan saya nona” ucapnya lalu langsung mengakhiri sambungan telepon


Ingin Rasanya Raya menghancurkan barang yang berada disekitarnya jika saja dia tidak ingat dimana dia sekarang “aku sangat membencimu! Aku bersumpah akan mengabaikanmu seumur hidupku!” desis Raya kesal


Dimalam harinya Aini datang kerumah sakit dengan ibunya juga adik-adik Raya, mereka datang menggunakan taksi online


Raya sangat merindukan kedua adiknya tersebut, langsug dia memeluk mereka dengan erat saat adik-adiknya berlari menghapirinya dengan semangat


“kakak, kenapa lama sekali pulangnya? Kenapa kakak dirumah sakit, siapa yang sakit? Apa kakak baik-baik saja?” ucap Rani adik terkecil Raya umurnya 8 tahun dan masih duduk di bangku Sekolah Dasar


Wajah dan perilaku Raya berubah seketika saat melihat adik-adiknya, dari yang aslinya dingin menjadi seperti gadis normal yang ceria pada umumnya “tidak, kakak tidak sakit, abang kalian yang sedang sakit” Raya menjawab dengan penuh senyuman, dia mengelus pundak kedua adiknya itu


“tapi kan bang Rian di sini, dia tidak sakit” Tanya Rani bingung sambil mempererat pelukan pada boneka kesayangannya


“Ayah…” teriak Rani dan segera berlari menuju pria ber-jas itu. Pria itu menggendong Rani dan memeluk bocah itu sambil terus berjalan kearah Raya


“kak Ayah kenapa disini? diakan selalu disibukkan dengan pekerjaan. Emang yang sakit adalah orang penting ya, sehingga dia menyempatkan waktu untuk datang kesini” bocah lelaki yang duduk di bangku SMP itu menatap Raya dengan bingung, berharap kakaknya menjawab pertanyaannya itu


“Huh” Raya berdesis kesal saat Ayahnya dan seketaris pengabdi itu sudah berdiri di depannya. Dia segera mengambil Rani dari gendongan pria itu lalu menyerahkan Rani pada Rian “masuklah kedalam dan tetap bersama kak Aini” ucap Raya pada Rian


Setelah memastikan kedua adiknya sudah masuk kedalam sontak Raya meninju wajah Ayahnya sendiri jika saja tangannya tidak dihalangi oleh seketaris itu


“Apa yang kau lakukan disini?! apa kau masih peduli pada kami?!” Raya melepas tangannya kasar dari seketaris pengabdi itu


“Raya… Ayah sangat—“


“kau bukan Ayahku!” tegas Raya “kau juga bukan Ayah dari adik-adikku! Kau tidak pantas disebut sebagai seorang Ayah!” suara Raya semakin meninggi kala dia mengingat betapa bencinya dia dengan pria di hadapannya ini

__ADS_1


“nona pelankan suaramu kita sedang berada di rumah sakit sekarang” seketaris itu mencoba menenangkan Raya


“Diam kau! Aku tidak memintamu untuk bicara, kau urusi saja Tuan mu ini, jangan urusi kehidupanku!”


“Raya tenanglah, Ayah tau bagaimana perasaanmu saat ini” ucap Ayah sembari mengelus pundak Raya dengan secepat kilat Raya menjauhkan tangan pria itu dari tubuhnya


Tiba-tiba mereka di kagetkan dengan suara Ibu Angga yang berteriak memanggil suster. Lalu susterpun menghampiri mereka dan segera masuk kedalam ruangan yang diikuti oleh Raya dan juga Ayah, seketeris pengabdi itu memilih berdiri di depan pintu sembari mengawasi Tuan nya


Angga sudah tersadar, matanya yang sipit terbuka lesu pandangannya masih buram terasa jelas sakit di bagian dada kirinya, lalu perlahan pandangannya sudah membaik, alangkah terkejutnya dia saat melihat banyak sekali orang yang sedang mengelilinginya di tambah dengan kemunculan Ayahnya


“Ayah..” panggilnya lirih saat suster telah selesai mengatur infusnya dan keluar dari ruangan


“Angga.. apa kau baik-baik saja” Ayah melangkah mendekati Angga dan mengelus Rambut Anak pertamanya itu dengan lembut


“kenapa kau disini?” Tanya Angga bingung


“Ayah sedang menjengukmu, terima kasih karena telah melindungi adikmu dengan baik. Kau benar-benar membuktikannya pada Ayah. Ayah bangga padamu” pria itu terus mengelus rambut putra pertamanya dengan lembut, terlihat sorotan matanya menggambarkan setitik kesedihan. Itu yang dilihat Angga pada mata pria yang tidak lain adalah Ayahnya


Seketika dia teringat pada Raya “Raya.. dimana Raya? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Angga khawatir


“Aku disini Abang..” jawab Raya. Tentu awalnya Raya bingung saat mendengar ucapan terima kasih sang Ayah pada Angga karena sudah menjaga dirinya dengan baik, dia bahkan sedikit kaget saat kata-kata itu keluar dari bibir pria yang selama ini sangat di bencinya


Sedangkan ibu hanya berdiri kaku di samping Angga juga berhadapan dengan suaminya, dia sangat kaget kenapa lelaki itu bisa berada disini? namun kaget itu tidak berarti apa-apa ketika kehawatiran yang muncul akibat gerakan tangan juga suara gumaman Angga yang terdengar tadi


“Raya apa kau baik-baik saja?” apa ada yang terluka? Kemarilah biar kuperiksa tubuhmu” Angga mencoba untuk bangkit dari ranjangnya namun segera di cegah ibu


Raya berjalan menghampiri Angga dan berdiri tepat di samping Ayahnya “Aku baik-baik saja, tidak ada yang terluka” jawab Raya dengan senyuman tipis di bibirnya


Tapi tetap saja Angga tidak percaya dia terus membalik-balikan tubuh Raya dan memeriksa setiap inci tubuh gadis itu memestikan kalau tidak ada yang terluka atau tergores sedikitpun “Aku tidak apa-apa bang.. berhenti membolak-balikan tubuhku, aku bisa pusing” Angga lantas menghentikan pencarian goresan di tubuh adiknya itu Memang terlihat normal dia juga tidak menemukan luka sekecil apapunpada tubuh Raya.

__ADS_1


__ADS_2