Tuhan Aku Merindukanmu

Tuhan Aku Merindukanmu
Jangan lewat batas


__ADS_3

Rezky kembali keruangan Angga dengan wajah masam “kau kenapa ky kok kusut gitu wajahnya? Raya mana?” Rami meletakan majalah keatas meja dan beralih menatap Rezky.


“mereka sedang sibuk sebaiknya jangan diganggu” Rezky berjalan kearah sofa dan menghempaskan tubuhnya disofa empuk itu.


“sibuk? Emang Wahyu udah sadar?” Tanya Angga penasaran.


“udah” Rezky menjawab dengan singkat lalu dia kembali berdiri dari duduknya.


“aku mau kekantin ada yang mau pesan sesuatu?” Tanya Rezky sambil berjalan kearah pintu.


“aku pesan mie cup yang pedas sama sebotol teh dingin” ucap Rami semangat.


“kau pesen apa Ngga?” Tanya Rezky pada Angga.


“sekotak susu putih buat Raya” jawab Angga. Rezky lalu keluar Ruangan menuju kantin.


***


 Tante sudah kembali kerumah sakit dengan kakak Wahyu, rumah mereka memang tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Dia melihat Raya sedang tidur sambil memeluk anaknya itu.


Dia melangkah mendekati kedua Remaja yang sedang larut dalam mimpi dan pelukan hangat yang mereka berikan satu sama lain. Dielusnya rambut panjang Raya dengan lembut.


Raya terbangun saat merasa ada sesuatu yang mengusik kenyamanan tidurnya, dilihatnya sekeliling alangkah terkejutnya dia saat sudah mendapatkan Ibu Wahyu sedang berdiri di samping mereka.


Dengan perlahan Raya turun dari ranjang dan membenarkan selimut pada tubuh Wahyu “Tante udah kembali, kenapa cepat sekali?” Tanya Raya sambil mengusap-usap kedua matanya.


“maaf Tante mangganggu tidurmu ya?” Tante kembali mengelus rambut panjang Raya.


“tidak, Tante tidak menggangguku. Kenapa cepat sekali, tante sudah istirahat?”.


“tante sudah merasa lebih baik” jawab Tante penuh dengan senyum di bibirnya.


“Wahyu sudah sadar tante” ucap Raya sedikit semangat.


“benarkah?” Mata perempuan separuh baya itu mulai berkaca-kaca.


“ehemm.. kami berdua ketiduran” ucap Raya malu-malu.


Tante hanya tersenyum gembira dan merasa sangat bersyukur “tante Raya pamit dulu ya, nanti Raya sekalian beritau suster tentang kondisi Wahyu soalnya dari dia sadar tadi suster belum memeriksanya”.


Ucap Raya yang langsung diangguki oleh Tante. Raya melangkah keluar kamar memanggil suster untuk memberitau kondisi Wahyu dan berjalan menuju ruangan Angga sepertinya dia masih merasa sangat ngatuk.


Di Ruangan Angga, Raya dikagetkan dengan suara cempreng dari dalam ruangan “Raya” panggil Rami sedikit berteriak.


“hmm” gumam Raya lalu menuju ke ranjang Angga “kondisi Wahyu gimana? Dia baik-baik aja?” Tanya Rami penasaran.


“dia uda sadar” jawab Raya datar “lo sama siapa kemari?” Raya naik ke ranjang Angga dan membaringkan tubuhnya.


“sama Rezky” ucap Rami. Raya kembali bangun terduduk saat mendengar nama Rezky.


“mana? Rezkynya mana?” Tanya Raya.


“dia kekantin, entah tuh lama banget Cuma kekantin doang dari tadi belum balik-balik” oceh Rami lalu kembali fokus pada Hp nya.


Raya yang mendengar ucapan Rami kembali membaringkan tubuhnya dan memeluk Angga yang dibalas pelukan hangat juga oleh Abangnya itu. Setiap hari memang seperti ini kegiatannya, menjenguk Wahyu dan tidur dalam pelukan Angga.


“aku mau tidur” ucap Raya sembari membenamkan wajahnya di dada Angga.


“Rezky bilang dia ingin bicara sama kamu” ucap Angga yang mempererat pelukan pada Raya.


“kalau begitu bangunkan aku saat dia kembali”.


“tadi dia keruangan Wahyu, lalu dia kembali dengan wajah kusut dia mengurungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu kesibukan kamu dengan Wahyu” Angga mengusap-usap punggung Raya.


“Huh!..” desis Raya “bangunkan aku saat dia kembali” dengan pikiran yang berantakan karena perkataan Angga dia mulai terbuai kembali dalam tidurnya.

__ADS_1


Tidak lama Rezky kembali dengan bungkusan di tangannya, diserahkan bungkusan itu pada Rami, lalu Rami mengambil bungkusan dengan antusias dan mulai memakan mie cup pesanananya, tentu dengan omelan Karena Rezky lama sekali.


Rezky melangkah kearah Angga dan Raya, tidak ada suara yang keluar dari bibirnya dia hanya menatap Raya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


“dia menyuruh membangunkannya saat kau kembali” ucap Angga seraya mengusap pipi adiknya itu.


“biarkan dia tidur aku akan menunggunya sampai bangun”.


Rezky terus memperhatikan Raya yang sedang tertidur pulas “jangan menatapnya seperti itu!” ketus Angga yang merasa risih dengan tatapan yang diberikan Rezky pada adiknya.


“huh!.. aku bahkan hanya menatap punggung dan rambutnya” posisi Raya saat ini memang sedang di dekap Angga, wajah adiknya bersembunyi di dada bidangnya.


“hummm..” gumam Raya yang mulai terusik dari tidurnya “Abang..” panggilnya pelan dengan mata yang masih terpejam.


“kau sudah bangun?” Tanya Angga sambil menatap wajah Adiknya itu.


“hmmm” gumam Raya.


“Rezky sudah disini, bangunlah” Raya bangkit dari posisi tidurnya, mengucek-ngucek kedua matanya, dia melihat Rezky sudah duduk dikursi sebelahnya. Raya hanya menatap Rezky dengan mata sendu.


Dia bingung pada perasaannya kenapa jantungnya berdegub tiga kali lebih cepat saat melihat Rezky “aku mau mandi, minggir! Lebih baik kau antar Rami pulang” ucap Raya sembari turun dari kasur.


‘apa yang kulakukan? Kenapa aku bersikap seperti ini padanya?’ gumam Raya dalam hati. Angga merasa sedikit bingung dengan adiknya, selama ini Raya menanti Rezky tapi saat Rezky disini dia malah bersikap acuh.


“Raya” panggil Rezky.


“aku sedang tidak ingin bicara denganmu, sekarang pulanglah” Raya berjalan seakan mengacuhkan Rezky di hadapannya.


“nanti malam aku akan menjemputmu kita perlu bicara” Rezky menghalangi langkah Raya, sedangkan gadis itu hanya mengangkat satu alisnya.


“Rami kita pulang!” ketus Rezky seraya melangkah keluar yang diikuti oleh Rami.


“Angga, Raya kami pamit pulang dulu” ucap Rami di sela-sela langkahnya.


***


Ibu memberi mereka izin keluar tapi dengan syarat tidak boleh pulang terlalu malam. Rezky membawa Raya menuju mobil pribadinya lalu melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Sangat hening keadaan didalam mobil hanya terdengar hembusan napas mereka saja, sampai akhirnya Raya memulai percakapan.


“kita mau kemana?” Tanya Raya dengan pandangan lurus kedepan jalan.


Tidak ada jawaban dari Rezky dia hanya diam dan fokus mengemudi itu membuat Raya semakin kesal padanya “kita mau kemana!” tegas Raya sambil menatap Rezky tajam namun orang yang ditatap tidak merespon perkataannya malah dia semakin menambah kecepatan mobilnya.


Tidak lama mereka sudah tiba di rumah yang sangat megah dan mewah bahkan gerbangnya saja sudah otomatis terbuka saat mobil Rezky akan masuk kedalam.


Mereka turun dari mobil, Raya sangat kaget saat tau tujuan mereka ke rumah megah ini “ini rumah siapa Ky?” tanyanya bingung.


“Rumahku, ayo masuk” ucap Rezky seraya menggenggam tangan Raya untuk membawanya masuk tapi Raya hanya terpaku diam tidak ada pergerakan sambil memperhatikan rumah yang ada didepannya itu “ayo masuk” ulang Rezky yang berhasil menarik perhatian Raya dan menatapnya dengan tatapan bingung “keluargamu?” Tanya Raya ragu.


Rezky menghembuskan napas panjang “kan sudah ku bilang ini rumahku itu artinya keluargaku tidak tinggal disini, ayok masuk” Rezky menarik tangan Raya masuk kedalam.


Raya sedikit memperhatikan rumah itu, rumah ini sama megahnya seperti rumah Ayahnya bahkan sama-sama terdiri dari tiga lantai “seperti rumah Ayah” ucapnya refleks yang didengar jelas oleh Rezky.


Rezky menatap Raya dengan tatapan bingung “ikuti aku” ucapnya sembari melangkah kearah dapur.


“ambillah yang kau inginkan” Rezky meneguk segelas air putih. Terlihat banyak sekali makanan dan minuman lezat di dapurnya namun seperti biasa Raya hanya mengambil sekotak susu putih yang berada di lemari pendingin dapur.


Rezky melangkah naik kelantai dua yang diikuti oleh Raya mereka menuju sebuah kamar yang sangat lebar dan megah, sial! Bahkan dilantai luar kamarnya terdapat taman kecil yang sangat indah dan begitu nyaman.


Raya masih diam terpaku didepan pintu, dia tentu tidak berani sembarang masuk kekamar oarng lain “tidak apa jika aku masuk?” ucapnya sedikit ragu “hmm masuklah, aku memang ingin mengajakmu kemari untuk bicara”.


Raya melangkah masuk kekamar itu dan menyusul Rezky yang mulai melangkah ketaman mini di kamarnya tersebut, Raya berdiri tepat disampingnya melihat langit yang mulai mendung “sepertinya akan turun hujan” ucap Raya sambil meminum susu yang diambilnya dari lemari pendingin tadi.


“Raya maafkan aku” Rezky menatap Raya yang sedang fokus memandang langit sambil meminum susu kotaknya.


“maaf untuk apa” Raya tetap tidak berpalin dari pandangannya.

__ADS_1


“aku menyukaimu Raya” Raya kaget mendengar ucapan Rezky dan beralih fokus menatap pria di sampingnya “Wahyu benar, aku sangat mencintaimu aku saja yang terlalu mengabaikan perasaan ini karena aku tau hubungan kalian berdua”.


“kau mengajakku kemari untuk membicarakan ini?” Tanya Raya kembali meminum susunya seakan dia sudah mengetahui benar perasaan Rezky padanya.


Rezky hanya menatap bingung gadis yang sekarang sedang berhadapan dengannya walaupun sigadis memilih fokus ke tempat lain “kenapa kau tidak mengabariku selam beberapa hari ini?” akhirnya pertanyaan yang selama ini dipendamnya terutarakan.


“aku menjadi saksi pada kasus kematian Rini”.


“Apa?” kali ini bisa dipastikan Raya tidak akan mengubah tatapannya dari Rezky “polisi memeriksa kasus kematian Rini dan meminta keterangan dari salah satu orang yang berada di kejadian atas tebing, aku takut jika orang yang memberi keterangan nantinya akan mengatakan sembarang hal tentangmu, jadi aku memberanikan diri untuk memberi keterangan pada polisi, sudah ada jawaban yang ku siapkan di kepalaku jika polisi menanyakan sesuatu, tapi sangat dikagetkan jalan ini menjadi terlalu mudah, pengemudi truk bilang bahwa dia melihat dan meyakini bahwa Rini bunuh diri dengan melompat dari atas tebing, tentu itu sangat membantuku untuk melindungimu dan aku menyetujui dan mendukung pernyataan sang pengemudi sampai akhirnya polisi menetapkan bahwa Rini bunuh diri dan tersebarlah berita seperti apa yang kau dengar” jelas Rezky.


“bodoh! Kalau kau ketahuan berbohong gimana? Bisa-bisa kamu yang dihukum nanti karena melindungi orang yang salah” Raya menatap tajam Rezky.


“aku menyayangimu Raya, kau bukan orang yang salah untukku, kenapa aku harus takut” tatapan Rezky berbeda terbalik dengan Raya dia menatap gadis itu dengan sangat lembut bahkan Raya bisa melihat kejujuran juga ketulusan dari tatapan yang diberikan Rezky.


Raya tertunduk, matanya mulai berkaca-kaca entah mengapa saat kematian Rini dia jadi sering sekali menagis.


Rezky mendekap Raya dalam pelukannya dia sangat merindukan gadis ini, suara rintihan Raya mulai terdengar. Rezky yang tidak ingin melihat Raya menagis untuk kesekian kalinya segara melepaskan pelukan itu mengangkat wajah Raya yang tertunduk lalu dikecupnya bibir mungil Raya “jangan nagis kumohon, aku tidak akan kuat melihat airmatamu jatuh lagi” bisik Rezky ditelinga Raya.


Raya merasakan hembusan napas Rezky di telinganya. Rezky kembali mengecup bibir Raya namun kali ini Raya yang menjadi sedikit nakal dilumatnya bibir Rezky dengan lembut tentu dibalas dengan senang hati oleh Rezky.


Gila! Bibir dan lidah Raya terasa manis dari susu yang diminumnya itu, membuat Rezky semakin ketagihan oleh bibir mungil yang sedang di ciumnya kini.


Mereka larut dalam ciuman yang awalnya dimulai dengan lembut kini beralih menjadi ciuman panas penuh dengan… nafsu? Beberapa kali Raya melepas ikatan bibir mereka karena mulai kehabisa napas, Rezky membiarkan Raya untuk mengambil napas dan kembali ******* bibir gadis itu.


Seketika hujan turun di sela-sela ciuman mereka “ky hujan” ucap Raya setelah berhasil menyelamatkan bibirnya dari aksi liar Rezky. Biarkan saja aku masih nyaman dengan ini, Rezky kembali meraup bibir itu memainkan lidahnya pada Raya, Raya bahkan mulai kewalahan menandingi permainan Rezky.


Raya mendorong tubuh atletis Rezky dan berhasil membuat Rezky melepaskan ciumannya. Napas gadis itu terlihat berburu “kamu gila Ky” ucap Raya yang hanya dibalas tawa kecil dari Rezky.


Rezky membawa Raya masuk, dia mengambil pakaiannya lalu menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya yang basah karena berhujan-hujanan tadi “pilihlah pakaian yang cocok untukmu” ucapnya pada Raya lalu masuk kedalam kamar mandi.


Raya berdecak kesal pasalnya semua yang berada di lemari adalah pakaian cowok, dia mengambil kemeja berwarna putih lalu memakainya, pakaian itu kebesaran untuk tubuhnya tapi apa yang mau diperbuat tidak ada pakaian lain selain kemeja dan kaos Rezky disana.


Dia memilih beberapa celana panjang milik Rezky, namun seketika gadis itu berdecak kesal, celana itu terlalu besar untuk pingganganya dia meletakan kembali celana yang diambilnya dan hanya mengenakan kemeja lengan pendek berwarna putih.


Rezky keluar dari kamar mandi melihat Raya berdiri di depan lemari dengan wajah kesal “kenapa?” Tanya Rezky penasaran “tidak ada satu celapun yang cocok padaku” ucap Raya sambil memajukan beberapa centi bibirnya menandakan betapa kesal dirinya.


Rezky melihat Raya dari bawah keatas lalu tersenyum tipis pada gadis itu “kalau begitu tidak usah pakai celana” ucapnya datar lalu menuju kasur dan menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk itu.


Raya hanya diam berdiri menatap Rezky dengan kesal, Rezky menyadari tatapan dari Raya namun dia malah tergelak tawa melihat wajah Raya “hahaha.. kau tau betapa seksinya dirimu sekarang? Maka jangan menyiksaku lagi dengan wajah cantik mu itu”.


“aku sedang kesal padamu!” ketus Raya, namun seketika bibirnya menunjukan senyuman sinis “aku rasa melihatmu sedikit tersiksa mungkin bisa menghilangkan sedikit rasa kesalku” Raya naik keatas kasur dan duduk di atas pangkuan Rezky, seperti yang dilakukannya kemarin dalam mobil Rezky “jangan menyentuhku!” tegas Raya


sebelum melaksanakan penyiksaan pada Rezky.


Namun dirinya sendiri malah melepaskan baju yang melekat pada tubuh kekar Rezky “kau mau memancingku sekarang" tatapan Rezky  kini mulai sedikit berbeda pada Raya.


“tidak!” ketus Raya “aku hanya ingin menyiksamu” Raya menggigit bibir bawahnya seraya memainkan jemarinya pada tubuh sispac Rezky.


“baik, aku sudah merasa tersiksa sekarang” Rezky mulai ******* bibir Raya, Raya membiarkan dia melakukannya, bahkan Raya membalas lumatan tersebut namun lumatan itu tidak berlangsung lama Raya mendorong tubuh kekar Rezky dan melepaskan ciuman mereka.


“aku sudah bilang jangan menyentuhku” ucap Raya sambil menyusuri leher Rezky dengan tangannya.


“tapi kau menyentuhku” gerakan protes dari Rezky.


“aku bilang kau yang tidak boleh menyentuhku, kalau aku bebas mau menyentuh apapun” Raya kembali menyusuri tubuh Rezky, bibirnya tersenyum kala melihat Rezky sedang berusaha mengabaikan sentuhannya.


Raya mencengkram celana Rezky, dia kembali menggigit bibir bawahnya kali ini wajahnya sangat menggoda, namun seketika dia melepas cengkramannya saat merasakan bagian bawah tubuh Rezky sudah mengeras “Raya jangan salahkan aku jika aku melakukan lebih jauh dari ini” ucap Rezky dengan napas sedikit memburu.


Raya turun dari pangkuan Rezky, sudah cukup membuat Rezky merasa menderita. Namun Rezky sudah terlanjur memakan umpan dari Raya.


Ditidihnya tubuh gadis itu lalu mulai ******* kembali bibir yang seakan sudah menjadi candu baginya. Raya tidak menolak ciuman Rezky dia paham bagaimana perasaan Rezky saat ini pasalnya dia pernah berada pada posisi ini, bagaimana sulitnya menahan nafsu, ini juga salahnya karena sudah membangunkan harimau yang sedang tertidur, ehh.. tidak… membangunkan burung yang sedang tertidur.


Rezky ******* habis-habisan bibir Raya, lalu mulai menyusuri leher jenjang gadis itu dengan bibirnya, sesekali di meninggalkan tanda pada tubuh Raya.


Tangan Rezky sudah liar menyentuh tubuh Raya bahkan sesekali dia mencengkram lembut area sensitif Raya yang membuat gadis itu refleks mengeluarkan suara desahan.

__ADS_1


“ky.. ughhhh…. kumohon jang-an melewati batas…” rintih Raya mencoba  memperingati Rezky.


Saat ini Rezky tidak peduli pada apapun, dalam pikirannya sekarang hanyalah dirinya dan Raya, begitupun dengan Raya jika Rezky nekat melakukannya dia juga tidak bisa menolak karena dia juga mendambakan sentuhan yang lebih jauh lagi.


__ADS_2