Tuhan Aku Merindukanmu

Tuhan Aku Merindukanmu
Kepulangan Angga


__ADS_3

Tidak ada pembahasan antara Raya dan Rezky sejak kejadian siang tadi, bahkan sampai Rezky pamit pulang mereka tidak saling menyapa.


Raya merasa bersalah setelah menyatakan perasaan yang sama pada Rezky tapi dia malah selalu welcome akan Wahyu.


Akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Rezky terlebih dahulu. Dia beranjak dari kasur secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Angga, mengambil ponselnya dan keluar ruangan berjalan menuju taman rumah sakit.


Jam menunjukan pukul 23.30, cuaca diluar sangat dingin, Langit tampak cerah tidak seperti biasanya yang selalu dihiasi Awan mendung, Bulan Sabit dan kelipan cahaya Bintang-bintang melengkapi keheningan malam.


Raya yang hanya memakai celana tidur pendek juga kaos polos bewarna putih merasa angin malam begitu dingin menyerpa kulitnya, akhirnya dia membuka ikatan rambutnya, mengurai rambut panjang indahnya agar sedikit menutupi lengan yang terbuka.


Dia duduk di bangku taman, menghidupkan ponselnya mencari kontak Rezky dan menghubungi pria itu, tiga kali panggilan tidak terjawab dari Raya untuk Rezky “mungkin dia sudah tidur.” gumam Raya.


Raya duduk termenung melihat cerahnya cahaya Bulan walaupun tidak tampil sempurna, saat dia ingin beranjak dan kembali keruangan, Hp nya berdering dan itu adalah panggilan dari Rezky, dengan segera di angkatnya telepon itu.


“Hallo” ucap Raya.


“Kenapa nelepon malam-malam begini? Kamu belum tidur?” suara Rezky dari telepon.


“Aku gak bisa tidur” Raya menghela napas kasar “Ky maaf ....” ucapnya.


“Wahyu?”


“Hemmm, aku gak tau kalau kamu ada di sana.”


“Sudalah, jangan ingatkan aku tentang itu lagi”


“Maaf …” ucap Raya dengan suara lemah “aku mau ketemu kamu sekarang.”


“Raya ini udah malam”


“Aku mau jumpa sekarang Ky”


“Angga sama ibu?”


“Mereka udah tidur, aku mau jumpa sekarang Ky!”


Rezky mengambil napas panjang dan menghembuskannya kasar “baiklah tunggu aku di situ, aku akan segera kesana.”


Tidak butuh waktu lama Rezky sudah sampai di rumah sakit, karena jalan yang sepi membuatnya bisa berleluasa mengemudi. Raya yang sedari tadi sudah menunggu didepan rumah sakit saat melihat mobil Rezky berhenti, dia segera masuk kedalam mobil “kamu baik-baik aja?” Tanya Rezky.


“Hmmm, aku baik-baik aja. Aku mau kesitu.” tunjuk Raya pada hotel yang hanya beberapa meter dari rumah sakit.


Rezky tampak bingung dengan Raya namun dia tetap menuju hotel yang di inginkan Raya. Mereka masuk kedalam dan memesan satu kamar, tiba dikamar pesanan mereka, Raya malah berdiri didepan jendela kaca yang ditutupi tirai, pemandangan dari jendela mengarah tepat kerumah sakit.


“Raya” panggil Rezky lirih.


“Hmmm”


“Kau tidak apa-apa?”


“Aku baik-baik saja”


“Kenapa kau ingin ke sini?”


“Aku hanya ingin tidur denganmu, apa boleh?” Raya menoleh menatap Rezky.


Rezky menghampiri Raya, memeluk gadis itu dari belakang “Tentu saja” ucapnya lembut. Rezky menuntun Raya naik ketempat tidur lalu membuka bajunya dan dipeluknya Raya dengan lembut, dia emang lebih nyaman tidur tanpa pakaian melekat ditubuhnya.


Sangat berbeda dinginnya udara malam dengan hangatnya tubuh Rezky, Raya malah lebih merasa nyaman dengan hangatnya tubuh Rezky, aroma parfum pria itu masih melekat sempurna di tubuhnya.


“Maafkan aku.” ucap Raya lirih.


“Kau tidak salah, jadi tidak perlu meminta maaf padaku.” Rezky mengecup kening Raya, sedangkan Raya sangat betah memainkan jarinya pada tubuh atletis Rezky sampai mereka larut tertidur dalam pelukan satu sama lain.


***


Raya terbangun dari tidurnya, dia melihat kearah jam yang menunjukan pukul 06.30, sudah pasti dia kesiangan.


“Ky bangun ....” Raya mengguncang-guncang tubuh Rezky.


“Ada apa Raya?” Tanya Rezky sambil mengucek-ngucek kedua matanya.


“Kita kesiangan”


Rezky menghela nafas kasar “tadi subuh kamu uda aku bangunin, tapi kamunya gak bangun-bangun jadi aku biarin kamu tetap tidur.” ucap Rezky dengan suara lesunya.

__ADS_1


“Apa!” pekik Raya “biasanya kalau ada yang ngusik tidur aku, aku selalu bangun ini kenapa aku gak bangun-bangun coba?” Raya bangkit dari kasur beranjak kekamar mandi, namun sebelum sampai kekamar mandi langkahnya terhenti seketika saat berada di depan cermin.


“REZKY!” ketus Raya kesal saat mendapati dua tanda ****** dilehernya.


Rezky  tertunduk di iringi dengan tawa kecilnya “habisnya kamu dibangunin gak bangun-bangun, bahkan udah ada dua tanda lo di situ kamu tetap gak bangun juga.”


“Tanda yang kamu buat kemarin di dada aku aja belum hilang sempurna, kamu malah buat tanda yang baru lagi!”


“belum hilang ya? Coba sini aku lihat, biar aku ilangin.”


POKKKKK!!!


Bantal mengarah tepat dipunggung Rezky “nyebelin banget sih!" ketus Raya "aku mandi dulu.” namun seketika Raya terdiam kaku “Astaga! pakaian aku di ruangan bang Angga” Raya menghela nafas kasar “terus gimana ini caranya aku nutupin tanda ****** kamu!” ketus Raya kesal.


Rezky tertawa kecil beranjak mendekati Raya “tutup pakai rambut aja dulu sementara” Rezky menutupi sebagian leher Raya dengan Rambut panjang gadis itu.


CUP


Kecupan singkat dibibir Raya “makanya punya wajah tu jangan kebangetan begini cantiknya, aku kan jadi susah nahan diri. Udah buruan aku antar kerumah sakit nanti di cariin Angga sama ibu lagi.” ucap Rezky seraya memakai  bajunya yang tergeletak di atas meja.


Di rumah sakit, Raya berhenti sejenak di depan pintu ruangan Angga merapikan pakaian juga Rambutnya agar tanda merah itu tidak terlihat, dia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Tanpa rasa gugup dia membuka pintu dan masuk kedalam, tentu mendapat tatapan intimidasi dari Angga juga ibu, Raya berjalan santai mengarah kamar mandi “jangan liatin aku begitu, aku tidur di ruangan Wahyu tadi malam, karena keluarga Wahyu gak ada yang bisa jagain dia.” ucap Raya santai disela langkahnya.


Angga dan ibu yang mendengar pernyataan dari Raya mengubah tatapan mereka pada Raya, bahkan ibu sudah kembali megurusi Angga dan beberapa barang yang belum dibawa pulang, sedangkan Raya sudah berada di kamar mandi untuk membersihkan diri.


Raya sengaja memilih switer lengan panjang bewarna kuning muda dengan beberapa lipatan kain dilehernya agar bisa menutupi tanda ****** hasil mahakarya Rezky.


Rezky yang hanya mengantar Raya sampai di depan rumah sakit langsung melaju pulang untuk membersihkan diri lalu kembali lagi kerumah sakit karena dia sudah berjanji akan mengantarkan Angga pulang kerumah.


Sampai di rumah sakit Rezky langsung bergegas menuju ruangan Angga, sudah ada dokter yang sedang memeriksa kondisi Angga untuk terakhir kalinya, ibu menemani Angga yang sedang diperiksa dan Raya memeratikan dari sofa.


Rezky masuk kedalam lalu duduk disamping Raya, Raya hanya sekilas melihat kedatangan Rezky lalu kembali memperhatikan dokter yang sedang memeriksa kondisi Angga.


Setelah selesai dengan pemeriksaan, Angga duduk di kursi roda, awalnya dia menolak karena menurutnya dia bisa jalan sendiri tanpa bantuan kursi roda, namun dokter menganjurkan untuk tidak banyak bergerak dulu, akhirnya dia menuruti anjuran tersebut.


Mebelum mereka pulang, Angga ingin menjenguk dan melihat kondisi Wahyu dan disetujui oleh ibu. Suster mendorong kursi roda Angga menuju ke ruangan Wahyu yang diikuti oleh ibu, Rezky dan Raya. Di ruangan Wahyu terdapat Tante yang sedang menemani Wahyu di dalam.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh Tante. Raya Rezky juga Angga masuk kmenghampiri Wahyu sedangkan ibu dan Tante memilih berbincang-bincang di luar.


Wahyu yang terbaring lemah mengubah posisinya, duduk menyandar di ranjang yang dibantu oleh Raya.


“Aku merasa lebih baik” ucap Wahyu “kau sudah diperbolehkan pulang?”


“Ya, sebelum pulang aku ingin menjengukmu.”


Terjadi beberapa perbincangan diantara mereka berempat sampai mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Raya mendorong kursi roda Angga sedangkan Rezky masih berada didalam.


“Kau masih ingat janji itu kan?” Tanya Wahyu menoleh ke arah Rezky


“Ya, kau tidak perlu khawatir, teruslah bertahan jangan putus asa, aku akan selalu mendoakan kesembuhanmu.” Rezky menepuk pundak Wahyu.


“Terima kasih.”


Raya kembali masuk menghampiri Wahyu, Rezky yang melihat kedatangan Raya memilih untuk keluar, membiarkan Wahyu dan Raya berdua. Raya tersenyum manis pada Wahyu namun matanya sedikit berkaca-kaca.


Dia memeluk Wahyu dengan hati-hati, merasakan hangat tubuh pria yang sedang dipeluknya “aku akan kemari nanti malam” ucap Raya masih dalam pelukan, dikecupnya singkat pipi Wahyu.


“Aku ingin lebih dari sekedar kecupan.” ucap Wahyu sembari merangkup wajah Raya.


“Ibu dan tante ada di luar, nanti kalau tiba-tiba mereka masuk gimana?” bantah Raya.


“Memang mereka akan melakukan apa saat melihat kita ciuman?”


“Aku malu, apalagi ada ibu.”


Wahyu tersenyum kecil pada Raya lalu menundukan pandangannya “Yasudah tidak apa, hati-hati dijalan.” ucap Wahyu.


Raya yang melihat ekspresi wajah kecewa Wahyu hanya menghembuskan nafas panjang lalu diraupnya bibir Wahyu perlahan, dengan senang hati Wahyu pun membalasnya.


Raya melepaskan ciuman saat mendengar suara tante dari balik pintu, diusapnya bibirnya dengan telapak tangannya.


Tante melangkah masuk keruangan, Raya menoleh sekilas kearah Wahyu lalu dia menghampiri Tante untuk pamit pulang “tante Raya permisi pulang dulu, nanti malam Raya akan kemari lagi.”


“Iya sayang, hati-hati di jalan ya.” Tante mengelus lembut kepala Raya.

__ADS_1


“Wahyu aku pulang dulu.”


“Hmmm … aku akan menunggumu nanti malam.”


***


Di perjalanan, kondisi di dalam mobil sedikit hening, mereka berempat sama-sama fokus kejalanan dengan Rezky yang mengemudi.


Sampai dirumah Raya, ibu membantu Angga memasuki rumah, sedangkan Raya dan Rezky mengambil beberapa barang yang dibawa lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Angga memperhatikan sekeliling rumah yang kini menjadi tempat tinggal bagi dirinya “sangat berbeda dengan rumah kita ya bu” ucap Angga masih memperhatikan sekeliling rumah.


“Kita bersyukur bisa tinggal dirumah yang nyaman sekarang” jawab ibu.


Angga duduk menyandarkan tubuhnya disofa, Rezky sedang membantu ibu memasak, ibu yang biasanya menggunakan kayu bakar sedikit bingung harus masak menggunakan kompor gas jadilah Rezky membantu ibu, sedangkan Raya sudah pergi kerumah Aini untuk menjemput Rian dan Rani.


Tidak begitu jauh jarak anatara rumah Raya dan Aini, setelah menjemput adik-adiknya Raya langsung bergegas pulang.


Dirumah Rian dan Rani terlihat sedikit bingung saat mendapati Angga yang sedang duduk disofa, Angga hanya tersenyum saat melihat mereka sudah pulang “itu Angga, Abang kalian dia akan tinggal dirumah kita mulai sekarang” Raya yang sadar akan tatapan aneh adik-adiknya langsung memberi penjelasan.


“Jadi Rani punya dua Abang?” Tanya bocah kecil itu.


“Iya” jawab Raya.


“Hore! Rani punya dua Abang.”


“Pergi temani Abang kalian, kakak ke dapur dulu”


Rian dan Rani segera menghampiri Angga, Angga terlihat senang saat Rian dan Rani menyambutnya dengan hangat..


Terlihat Rezky yang sangat mahir membantu ibu memasak, Rezky yang sedang berada di penggorengan dan ibu yang sedang meracik bumbu.


Raya menyapa ibu lalu berjalan menghampiri Rezky, Raya tersenyum saat melihat pria disampingnya kini sangat lihai dengan ikan yang digorengnya. Rezky melihat sekilas Raya lalu kembali fokus dengan ikan yang sedang di gorengnya.


“Ada yang bisa saya bantu chef?” Tanya Raya tanpa mengahlikan pandangannya dari Rezky.


Rezky hanya menatap Raya dengan tatapan yang sulit diartikan “kau benar-benar ingin membantuku sekarang?”


“Ya, kenapa tidak” Raya tersenyum sedikit menggoda.


“Baiklah, cium aku disini” Rezky menunjuk bibirnya.


Raya tertawa kecil “tidak.”


Rezky tersenyum kecil seraya menganggukan kepalanya “ibu, Rezky sedikit kerepotan di sini, tapi Raya tidak ingin membantuku” ucap Rezky pada ibu.


“Kalau begitu biar ibu saja” ibuhendak melangkah ke arah kompor.


“Tidak bu, ibu kan sedang sibuk dengan bumbu-bumbu, biarkan Raya yang membantuku. Suruh dia membantuku bu, dia tidak akan dengar jika aku yang meminta.”


“Raya … kau bisa bantu Rezky kan, bantulah dia.” ucap ibu.


Raya mengkerutkan dahinya menatap Rezky dengan tajam, andai saja ibu tau kata ‘bantu’ dimaksud Rezky sepertti apa.


“Kau licik” ucap Raya.


“Ibu menyuruhmu membantuku, sekarang bantu aku”


Raya menepuk lengan Rezky “ada ibu Ky!”


Rezky tertawa kecil “suruh siapa kau menggodaku”


“Dasar! Baperan”


***


Makanan sudah siap tersaji di meja makan, mereka juga sudah kumpul untuk makan siang. Raya duduk ditengah-tengah Rezky dan Rani.  Hal pertama yang dilakukan Raya adalah mengambil makanan untuk Rani lalu dia mengambil selembar roti dan hendak menaburkannya dengan keju parut.


Namun dengan segera Rezky mengambil roti dari tangan Raya “makan nasi saja.” Rezky menyerahkan piring dan sendok pada Raya.


Raya menatap Rezky kesal, dia pernah makan nasi tapi menurutnya dia lebih suka dengan roti tawar yang ditaburi keju parut. Rezky yang melihat tatapan kesal dari Raya, menghembuskan napas kasarnya “kau ingin aku yang mengambil makananmu?”


Tatapan kesal Raya semakin jelas, dia membuang muka dari Rezky dan mulai menata nasi juga lauk dalam piringnya. Baru sesuap nasi yang masuk dalam mulutnya, namun dia sudah merindukan nikmatnya roti juga susu putih.


Namun apa boleh buat, ibu dan Angga ada di sini di tambah juga Rian dan Rani, apa yang dipikirkan adik-adiknya jika Raya berperilaku acuh.

__ADS_1


Selesai makan Raya mengantar Angga kekamar Rian yang kini juga menjadi kamar Angga, Rian sangat antusias saat tau Angga tidur dengannya. Mereka menaiki tangga kelantai dua, lantai dua hanya berisikan dengan 3 kamar tidur dan 1 kamar mandi.


Langkah Angga terhenti di depan kamar yang terletak di tengah, pintu kamar itu separuh terbuka dan terlihat samar foto Ayah terpajang di dinding, Angga melangkah mendekati kamar tersebut lalu memperhatikan keadaan kamar.


__ADS_2