Tuhan Aku Merindukanmu

Tuhan Aku Merindukanmu
Tentang Rini


__ADS_3

“aku masuk silat waktu aku masih SMP kelas 2, dulu orangnya belum sebanyak ini, kakak-kakak senior juga masih belum sibuk dengan urusan masing-masing tidak seperti sekarang ini. Rini adalah temanku teman pertama yang kukenal waktu aku masuk silat, kami jadi teman baik kemana-mana selalu bareng, walaupun dia yang lebih banyak terbuka tentang kehidupannya beda denganku yang enggan menceritakan kisahku” butiran keristal mulai membasahi wajahnya “namun semua berubah saat Wahyu masuk dalam perguruan ini, Wahyu selalu mendekatiku, aku berusaha menjauh darinya karena aku tau Rini suka pada Wahyu. Namun seketika Rini menjauhiku, menganggapku sebagai musuh saat Wahyu membeberkan perasaan sukanya padaku pada pesilat lain dan berita itu sampai pada telinga Rini. Mulai dari situlah Rini menjauhiku dan akupun mulai terbiasa dengan sikap bedanya padaku” Raya beberapa kali menghapus airmatanya, wajahnya masih setia bersandar pada tubuh Rezky.


“jadi pertemanan hancur karena cinta?” Rezky baru mengetahui semuanya, cukup kaget pastinya karena awalnya Raya dan Rini adalah teman baik namun bisa saling berjauhan Cuma karena Wahyu.


“ya begitulah” ucap Raya “namun ada hal yang harus kamu tau tentang Rini, dia adalah wanita pekerja keras dia bahkan membayar sekolahnya dengan jerih payahnya sendiri dikarenakan keluarganya yang hidup dalam serba kecukupan. Ada satu hal buruk yang pernah dialaminya, saat dia bekerja menjadi seorang pelayan di Bar malam, seseorang menjebaknya dan mengambil kesuciannya dengan paksa, waktu itu aku sedang pulang menuju rumah dari tempat tanteku dengan mengendarai motor, dan tidak sengaja aku melihatnya sedang berjalan dengan penampilan yang berantakan dan tangisan yang cukup kencang, aku membawanya pulang dan dia menceritakan semuanya padaku. Waktu itu kami masih belum bertengkar seperti sekarang”.


“itu semua hanya masa lalu, kita harus jalani kehidupan kita sekarang” Rezky mengelus lembut bahu Raya mencoba menenangkan gadis itu tentang pemikiran masa lalunya “sekarang kita tidur, aku sangat ngantuk”.


Mereka berjalan menuju kamar, lalu berpelukan hangat di atas kasur empuk “jangan pergi dariku apapun itu alasannya, kumohon” Raya melingkarkan satu tangannya kepinggang Rezky sedangkan tangan satunya lagi terus mengelus dada bidang Rezky.


“aku menyayangimu” ucap Rezky sembari mengecup kepala Raya.


***


Pagi harinya Rezky mengantar Raya kembali kerumah sakit, dia hendak mengantar gadis itu sampai keruangan Angga namun Raya melarangnya karena takut Angga akan curiga pada mereka jadilah dia mengantar Raya cukup sampai depan rumah sakit.


“dari mana saja? Kenapa tidak ada kabar sama sekali?” Tanya Angga setelah melihat Raya berada di depan pintu dan melangkah masuk.


“maaf, tadi malam hujannya sangat deras jadi Rezky mengantarku pulang kerumah” jawab Raya sambil berjalan kearah Angga.


“rumah siapa?” pertanyaan Angga berhasil menghentikan langkah Raya dan membuat gadis itu terkejut ‘apa abang tau kalau aku semalam bersama Rezky, tapi dia tau dari mana’ ucap Raya dalam hati.


“ya… pulang ke-rumahku” jawab Raya sedikit terbata.


Namun bukan Angga namanya kalau percaya begitu saja “semalam Abang telpon Aini dia bil—“


“permisi saya ingin memeriksa keadaan pasien” ucapan Angga terputus saat suster datang keruangannya.


‘hah Tuhan terima kasih, aku tidak perlu mencari alasan lagi. Kau memang penyelamatku suster’ batin Raya “aku akan melihat kondisi Wahyu dulu” Raya berjalan keluar ruangan menuju ruangan Wahyu.


Di ruangan Wahyu Raya hanya menemukan Kakak Wahyu sedang duduk di kursi sebelah kasur sambil memainkan ponselnya “Kak Jihan? Tante mana?” Tanya Raya sambil melangkah masuk.


“ahh.. syukurlah ada kamu, Mamah sedang pulang kerumah pasalnya Raka (Adik Wahyu) sedang demam. Kakak titip Wahyu ya, soalnya Kakak ada kerjaan hari ini” Kak Jihan bangkit dari duduknya.


“iya kak, aku yang jagain Wahyu Kakak kerja aja”.

__ADS_1


Setelah beberapa langkah Kak Jihan meninggalkan ruangan, Raya duduk dikursi sebelah kasur yang tadi dipakai kak Jihan duduk. Dilihatnya wajah Wahyu yang sedang tertidur, bulu mata yang lentik, alis yang tebal, rahang yang kokoh, hidung mancung setiap sisi wajah Wahyu Raya perhatikan, tidak ada seincipun yang terlewat dari pandangannya.


“cepatlah sembuh dan kembali seperti dulu, kumohon” Raya menggenggam tangan kekar itu dan perlahan tangan Wahyu juga membalas genggaman tangan Raya “kau sudah disini” Wahyu membuka matanya perlahan dan menatap Raya dengan lekat.


“aku disini sayang, cepatlah sembuh” Raya meletakan tangan Wahyu pada pipinya memejamkan matanya mengingat kejadian tadi malam saat dia bersama Rezky, sakit rasanya saat dua perasaan berada di satu hati yang sama.


“berbaringlah disebelahku” pinta Wahyu dan disetujui oleh Raya.


Raya menatap mata Wahyu dalam, tangannya mengelus dada Wahyu lembut “apa masih sakit?” Tanya Raya sambil melihat kearah dada Wahyu yang sedang dielusnya.


“tidak, tidak sakit lagi jika kau menyentuhnya seperti itu”


Raya kembali menatap mata Wahyu sambil diiringi senyum di bibir mungilnya. Wahyu mencium bibir itu lembut, cukup lama bibirnya bersatu dengan bibir Raya, Raya hanya menutup matanya merasakan sentuhan juga hangat tubuh Wahyu


“Raya boleh kutanya sesuatu padamu?” Tanya Wahyu disela-sela ciumannya


“Tanya apa?”


Wahyu melepaskan ciuman itu memejamkan matanya “Tuhan akan menghukumku seperti apa nantinya? maksudku saat aku sudah tidak menghembuskan napas lagi”


“kau lebih tau apa yang akan terjadi padaku Raya, disaat aku sudah tidak lagi ada diantara kalian, disaat tubuhku sudah bersatu dengan tanah, apa yang akan terjadi padaku?” Wahyu masih memejamkan matanya menunggu jawaban dari Raya


“kau tidak akan kemana-mana kau selalu berada disisiku” mata Raya kini mulai berkaca-kaca


“aku tidak akan lama sayang, aku bisa merasakan itu. Setidaknya beritau apa yang akan kuhadapi nantinya” Wahyu membuka matanya perlahan dia melihat Raya sudah basah dengan air mata yang mengalir pada wajahnya “ceritakanlah aku ingin mendengarnya” Wahyu berucap dengan senyum kecil dibibirnya meyakinkan Raya bahwa dirinya akan baik-baik saja.


Raya mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan “kegelapan” ucap Raya, Wahyu kembali menutup matanya saat Raya memulai perkataannya “disana sangat gelap, sangat sempit kau hanya akan mencium bau lumpur” isakan kecil dibibir Raya mulai terdengar “tidak ada yang bisa menyelamatkanmu selain amal kebaikan, kau hanya mendapat cahaya penerang dari kitab suci yang kau baca, jika kau tidak pernah membaca atau menyentuhnya maka kau akan selamanya berada dalam kegelapan, akan ada malaikat yang akan menanyaimu nantinya dan itu seputar kehidupanmu, saat kau bisa menjawab dengan benar maka selamatlah siksa kuburmu, jika tidak maka palu besar akan meremukan tubuhmu seketika” isakan Raya kini terdengar sangat jelas.


“apa tidak ada yang bisa membantuku selain amalku disana?” Tanya Wahyu sambil terus memejamkan matanya mendengarkan kata demi kata dari bibir Raya


“ada, orang-orang yang mendoaimu, doa itu akan menjadi salah satu penyelamatmu kelak” Raya kembali teringat akan perkataan guru ngajinya dulu tentang keadaan di alam kubur “kau harus kuat Wahyu berdoalah terus pada Tuhan hanya dia yang bisa menyelamatkanmu saat ini bukan aku, ibumu, ataupun dokter, hanya Tuhan” Raya merangkul tubuh Wahyu dengan lembut air matanya masih setia membasahi wajahnya dan bantal


“jika hari itu akan terjadi, maukah kau mendoakanku?” Wahyu membuka matanya mendekap Raya lebih dalam pada pelukannya


“aku akan tetap mendoakanmu walau tanpa kau minta. Tetaplah berada disisiku Wahyu jangan pernah tinggalkan aku”

__ADS_1


“aku akan selalu berada dalam hati dan pikiranmu sayang”


“kau orang baik, aku yakin Tuhan akan memaafkanmu, jangan putuskan hubunganmu dengan Tuhan selalu minta pengampunan padanya, aku akan selalu berada di sisimu”


“aku tidak sesuci dirimu”


“aku orang yang hina Wahyu”


“kau terlalu suci untuk menghinakan dirimu”


“aku membuat kesalahan pada Tuhan, aku orang yang hina”


“jika orang sepertimu adalah orang yang hina, maka julukan apa yang tepat untukku”


Raya menghembuskan napas kasar “aku tidak mau membahasnya lagi” dihapusnya airmatanya mencoba untuk berhenti dari tangisnya “Wahyu boleh kutanya sesuatu”


“apa?”


“saat pelajaran Agama tiba apa yang kau lakukan? Kenapa hal begitu saja kau tidak mengetahuinya?”


“yang kulakukan?... memikirkanmu, berhayal tentang hari tua bersamamu” Wahyu tersenyum kecil saat mengatakannya


***


Raya kini sedang meminum susu putih sambil menonton televisi yang sedang menayangkan film action kesukaannya, dia duduk bersandar di sofa empuk sembari menyilakan kakinya, ibu duduk di sisi sofa yang lain sambil menyantap makan malamnya.


“Raya kemarilah Abang ingin tidur” ucap Angga yang mulai gelisah karena Raya tidak berada dalam dekapannya.


“aku masih ingin menonton, filmnya belum habis, Abang tidur duluan saja” bantah Raya tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi


“Abang tidak bisa tidur” Raya masih tidak bergeming dari posisinya “kemarilah aku sangat ngantuk Raya!” ketus Angga.


“Huh!” decak kesal Raya, lalu dia berjalan dan berbaring dalam pelukan sang Abang, ibu hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya, mereka sangat lekat sepeti perangko tidak bisa dipisahkan satu sama lain, seketika ibu teringat akan Ayah ‘andai saja kau bisa menyaksikan ini, aku yakin kau akan memilih keluargamu ketimbang pekerjaanmu itu’ batin ibu. Mereka berdua sudah saling terlelap dalam pelukan satu sama lain.


pagi harinya mereka mendapat kabar gembira dari dokter bahwa Angga besok hari sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya yang kian membaik.

__ADS_1


__ADS_2