Tuhan Aku Merindukanmu

Tuhan Aku Merindukanmu
Kondisi Angga


__ADS_3

Disepanjang jalan Raya terus menangis, tangannya tidak terlepas dari genggaman Rezky. Rezky fokus mengemudi  seketika suara dering Hp nya terdengar, buru-buru dia mengangkat telepon itu yang ternyata adalah panggilan dari Rami


“halo ky… Raya lagi sama kau gak? Kami udah di rumah sakit. Angga kehabisan banyak darah. Golongan darahnya langka, pihak Rumah sakit sedang tidak punya persediaan golongan darah itu, golongan darah kami juga gak ada yang cocok buat Angga. Mungkin Raya bisa bantu” suara Rami terdengar begitu khawatir di telepon


“iya, Raya lagi samaku, kami sedikit terjebak macet makanya agak telat. Kami akan segera kesana”


“Raya gimana? Dia baik-baik aja?”


“dia baik-baik aja, sebentar lagi kami akan sampai” ucap Rezky yang langsung mematikan sambungan teleponnya dan melaju dengan kecepatan tinggi, tidak peduli seberapa deras hujan yang mereka terjang


“abang… abang gimana? Dia baik-baik aja? Dia masih hidupkan? Hikss.. hiksss” tangis Raya yang tiada henti mengeluarkan air matanya


“Angga sedikit mengalami masalah, dia mengeluarkan banyak darah, tidak ada darah yang cocok untuknya pihak rumah sakit tidak memiliki persedian darah itu, mungkin darahmu bisa membantu Angga” ucap Rezky yang kembali menggenggam tangan Raya


Raya terdiam hanya suara tangisannya yang terdengar semakin kuat, Rezky yang melihat kondisi Raya langsung menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya. Raya tidak kunjung berhenti dari tangisnya Rezky merasa sedikit khawatir dengan Raya, kondisi gadis itu terlihat lemah, lantas ia menepikan mobilnya, di angkatnya wajah Raya yang tertunduk


Air mata sudah membasahi wajah cantiknya, mata dan hidungnya memerah. Rezky meminta Raya untuk duduk dipangkuannya, awalnya Raya terdiam namun akhirnya dia mengikuti perkataan Rezky


Raya duduk dipangkuan Rezky di peluknya erat tubuh pria itu, membenamkan wajahnya di bahu tegap Rezky, Rezky membalas pelukan Raya dengan hangat


Memang ini tujuannya agar dia bisa merangkul Raya di sepanjang perjalanan. Seketika dia teringat dengan Angga, segera dia menghidupkan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan penuh. Hujan sudah mulai redah itu akan lebih memudahkan jarak pandangnya


Tidak ada rasa kesulitan saat dia mengemudi dengan Raya di pangkuannya bahkan dia merasa lebih nyaman saat Raya berada dalam dekapannya. Tubuhnya yang tinggi juga tegap membuatnya sama sekali tidak kehilangan pandangan walaupun Raya berada dipangkuannya


“Raya..” panggilnya lirih “kau mendengarkanku?”


Hanya ada gumaman singkat dari bibir gadis itu


“jangan beri tau siapapun tentang kejadian Rini”


Raya terdiam dia hanya mengeratkan pelukannya pada tubuh Rezky


“kau mendengarkanku kan? Jangan katakana apapun tentang Rini, jika ada yang bertanya katakana saja kalau kau tidak tau, jangan katakan apapun pada mereka. Kau mendengarku kan?” Rezky mengelus punggung Raya lembut


“aku mendengarmu” jawab Raya yang diiringi dengan isakan kecil. tangisnya kini sudah semakin mereda


Sampai diRumah sakit, Raya dan Rezky segera menuju ruang gawat darurat yang kini sedang menagani Angga. Terlihat beberapa orang yang sedang menunggu di luar ruangan itu

__ADS_1


“Raya..” panggil Rami sembari memeluk Raya erat “kau gakpapa kan? Ada yang luka gak? Aku khawatir hikkss..hikss” tangis Rami seraya memeriksa keadaan tubuh Raya memastikan kalau tidak ada luka di tubuh temannya itu


“gua gapapa mik”


“Raya..” panggil wanita separuh baya, wanita itu adalah ibunya Angga “kamu Raya kan?” ucap ibu sembari memeluk Raya erat, Raya membalas pelukan itu “iya aku Raya bu” ucap Raya sambil terus memeluk ibu dengan erat


“Abang kamu sedang tidak baik, dia kehabisan banyak darah” ucap ibu penuh dengan tangis, tangannya bergetar hebat, matanya sudah membengkak karena terus menerus mengeluarkan air mata


Tiba-tiba mereka dihampiri oleh suster “apa orangnya sudah datang? Pasien tidak bisa menunggu terlalu lama”


“ini Raya dia adik dari Angga” ucap Rami kepada suster itu


“Raya abangmu sedang membutuhkan banyak darah, kami sedang tidak menyediakan darah yang cocok dengan abangmu, mungkin kamu bisa bantu” jelas suster tersebut pada Raya


“Ambil darahku sebanyak yang kalian butuhkan”


“baik, kita akan periksa terlebih dahulu apakah darahmu cocok atau tidak” Suster tersebut segera membawa Raya masuk kedalam, terlihat Angga sedang tergeletak lemah di Ranjang, tubuhnya sangat pucat


Saat tes darah dilakukan, benar saja darah Raya sangat cocok dengan darah Angga mungkin karena mereka berasal dari Ayah yang sama


Kondisi Raya saat ini memeng sedikit lemah, tapi pihak Rumah sakit tidak punya pilihan lain, karena hanya darah Raya lah yang  cocok dengan Angga


Raya menghampiri Angga, tubuh Angga sedang tidak memakai baju terlihat perban di dada kiri pria itu, itu pasti akibat tembakan tadi


Raya menggenggam tangan Angga, wajah abangnya sangat pucat, tubuhnya juga sangat dingin, untuk kesekian kalinya dia menjatuhkan air matanya, menangis di samping Angga, memohon agar pria itu bisa kembali merangkulnya seperti kamarin.


Raya keluar dari Ruangan itu dan langsung disambut bertubi-tubi pertanyaan


‘gimana darah kamu cocok gak?’


‘keadaan Angga bagaimana? Apa dia baik-baik saja?’


‘kenapa kalian lama sekali di dalam? Tidak terjadi apa-apa kan?’


Wajah Raya sangat sembab air matanya memang sudah berhenti mengalir tapi tetap saja menyisakan sedikit bengkak dan merah di area mata sipit nya itu


“darah kami cocok, abang baik-baik saja” Raya tertunduk kebawah berusaha menahan dirinya agar tetap terlihat tegar

__ADS_1


“sayang baju kamu basah, lebih baik kamu ganti baju dulu, nanti malahan kamu juga sakit” ucap ibu sambil mengelus pipi Raya dengan lembut


“biar saya yang mengantar Raya pulang” ucap Rezky


Sebelum pulang mereka menyempatkan untuk melihat kondisi Wahyu, belum ada kabar yang mereka terima saat ini tentang keadaan Wahyu


Tiga orang sedang menunggu di ruang operasi, mereka adalah keluarga dari Wahyu “tante” panggil Raya sambil melangkah mendekati mereka


“Raya” ucap ibu Wahyu seraya memeluk Raya sambil terus menangis


Keluarga Wahyu memang tidak asing bagi Raya begitupun sebaliknya, beberapa kali Raya pernah di ajak Wahyu untuk bermain kerumahnya, dari situ mereka sudah menganggap Raya sebagai bagian dari keluarga mereka


“apa kamu baik-baik saja sayang?” ucap tente sambil melepaskan pelukannya dan memeriksa keadaan Raya


“Raya baik-baik aja tante. Wahyu gimana keadaannya?”


Tante memeluk Raya kembali dengan erat “kami belum tau sayang, dia masih di dalam, operasinya belum selesai, tante takut terjadi apa-apa dengannya, soalnya tadi suster bilang kalau pelurunya mengarah tepat di jantungnya. Ada satu hal yang perlu kamu tau Raya” tante melepaskan pelukannya “apa tante? Hal apa?” Tanya Raya bingung “Wahyu menderita penyakit Perikarditis penyakit langka pada jantung” tante mengatakan dengan bibir yang bergetar. Raya sangat terkejut mendengarnya begitupun dengan Rezky pasalnya Wahyu terlihat baik-baik saja


selama ini “dia merahasiakannya dari teman-temannya termasuk kamu, dia gak mau kalau orang lain menganggapnya lemah dan memperlakukannya sedikit berbeda karena penyakit yang dideritanya” lanjut tante


Raya masih terbengong tidak percaya, air matanya kembali mengalir “ky aku gak mau pulang sebelum tau kondisi Wahyu” Raya membalikkan badan menghadap Rezky


“tapi kan Ray--”


“aku gak mau pulang ky hikss..hikss.. aku gak mau pulang sebelum tau keadaan Wahyu” tangis Raya


Rezky menghembuskan napas kasar “aku akan nyari pakaian buat kamu” ucap Rezky. Raya hanya menunduk dengan tangisnya, tidak peduli apa yang dikatakan Rezky “om.. tante.. Rezky pamit dulu” ucap Rezky lalu pergi meninggalkan mereka


Raya ikut duduk bersama keluarga Wahyu, tante menggenggam tangan Raya erat, tanagan wanita itu sangat dingin dan bergetar, Raya sesekali mengelus tangan wanita itu untuk menenangkannya


Tidak lama Rezky kembali dengan bungkusan di tangannya menyerahkan bungkusan itu pada Raya “Raya kamu ganti baju dulu, nanti malahan sakit kalau pakai baju basah terus” ucap Rezky


“iya sayang kamu ganti baju dulu, nanti kamu malahan sakit” tente mengelus rambut Raya, yang diangguki oleh Raya


Selesai berganti pakaian Raya segera kembali ke ruang operasi tapi dia tidak melihat Rezky disana, dia kembali duduk di samping tante


“sayang kamu sudah selesai” tante kambali mengenggam tangan Raya

__ADS_1


“sudah tan.. oh.. iya, Rezky mana ya tan?”


“tante gak tau, tadi waktu dia selesai terima telfon dia langsung pamit pulang” jawab tante masih dengan isakan kecil dibibirnya


__ADS_2