
Dua hari sudah berlalu. Angga dari hari kedatangan sang Ayah sudah dipindahkan ruangan inapnya menjadi ruangan VIP dimana ranjangnya saja muat untuk ditiduri dua orang. Biaya rumah sakit dan segala administarasi sudah di bayar lunas oleh sang Ayah. Masih menjadi misteri bagi mereka kenapa Ayah yang selama ini tidak
mempedulikan mereka bisa bersikap sebegitu perhatiannya, walaupun hanya datang menjenguk sekali saja tapi bagi Angga itu sudah termasuk mukjizat besar dalam hidupnya
Walaupun keadaan Angga yang semakin membaik dia tetap belum diizinkan untuk pulang karena kondisinya yang masih lemah juga dia perlu beberapa perawatan lagi untuk benar-benar mempulihkan tubuhnya dan juga luka tembakan di dadanya
Keadaaan Wahyu tetap sama dia belum terbangun dari tidur panjangnya, setiap jam Raya selalu menjenguknya memastikan kondisinya, juga tidak luput terus berdoa pada Tuhan atas kesembuhan Wahyu
Rezky sampai saat ini masih tidak ada kabar. Entah apa yang terjadi padanya, Raya sangat marah padanya karena meninggalkan Raya tanpa kabar begitu saja
Raya juga mendapat informasi tentang Rini. Rini dinyatakan meninggal akibat bunuh diri. Dia melompat dari atas tebing lalu di waktu bersamaan truk lewat dan melindas tubuhnya yang menjadikan tubuh itu hancur sehancur-hancurnya. Pengemudi truk yang bilang bahwasanya dia melihat Rini menjatuhkan diri dari atas tebing, karena suasana hujan deras pandangan pengemudi tidak sejernih biasanya dan tidak bisa menghindari tubuh Rini. Begitulah yang dia tangkap dari informasi yang Rami ceritakan padanya
Dia bingung entah apa yang merasuki si pengemudi, mengatakan kalau Rini menjatuhkan diri dari tebing, sudah jelas Rini bersimpah banyak darah saat jatuh dari tebing karena tusukan serta sobekan yang Raya perbuat. Entah karena sipengemudi ingin cepat mengakhiri berita kematian Rini atau ingin menutup kesalahannya karena lalai dalam mengemudi kendaraan. Pasalnya di hujan yang begitu lebat kemarin, sang pengemudi mengendarai truknya cukup kencang sehingga tidak bisa mengelaki tubuh Rini
Hari sudah siang Raya memutuskan untuk keruangan Wahyu, karena dari tadi pagi dia belum menemui temannya itu, ibu sedang makan siang bersama Angga sedangkan Raya sama sekali tidak berselera makan dan lebih memilih menjenguk Wahyu
Diruangan Wahyu, Tante dan Om terlihat duduk di sofa, wajah Tante sangan pucat tubuhnya juga terlihat lemas, pasalnya dari kemarin Tante belum pulang hanya untuk beristirahat ataupun memakan sesuap nasi, dia hanya mengganti pakaiannya yang dibawakan oleh kakak Wahyu
Raya menghampiri Tante yang tengah duduk disofa dan bersandar di bahu Om dengan pandangan lurus menatap Wahyu
“Tante” panggil Raya yang sudah duduk di sebelah ibunya Wahyu itu
“Raya kamu sudah datang” Tante mengelus Rambut Raya lembut, mata Wanita itu terlihat sangat bengkak karena tiada hentinya menagis
“Tante sebaiknya pulang kerumah dulu bersama Om, biar Raya yang menjaga Wahyu disini” ucap Raya yang entah keberapa kalinya pasalnya saat dia meminta Tante untuk beristirahat Tante pasti akan menolaknya dan memilih tetap bersama putranya itu
“Tante di sini saja sayang, tante tidak apa-apa, tante hanya ingin bersama Wahyu” wanita itu kembali mengeluarkan butiran Kristal di matanya
“tante jangan begini, nanti malahan tante yang jatuh sakit. Kalau Wahyu sudah sadar nanti, lalu dia melihat tante dalam kondisi seperti ini Raya yakin Wahyu juga bakalan sedih. Tante butuh istirahat dan makanlah sesuatu dari kemarin tante belum makan apapun kan” pujuk Raya, dia mengelus tangan wanita separuh baya itu dengan lembut dan hangat
“Raya benar mah.. Wahyu juga tidak akan suka melihat mama seperti sekarang ini” sahut Om
“iya, tante biar Raya yang jaga Wahyu” ucap Raya lalu diangguki pelan oleh Tante. Wanita itu memeluk Raya erat yang juga dibalas pelukan Hangat dari Raya
Saat Tante dan Om sudah keluar kamar untuk pulang dan beristirahat di rumah. Raya menuju kearah Wahyu, dia duduk di kursi sebelah ranjang temannya itu. Matanya mulai berkaca-kaca ketika mengingat kembali perkataan dokter kemarin
Dia menggenggam erat tangan Wahyu meletakkan tangan pria itu kepipinya, airmatanya sudah tidak bisa di bendung lagi. Pandangannya menuju lurus ke wajah Wahyu, dia terus berdoa dan berdoa agar temannya kembali seperti dulu lagi
“Wahyu.. hikss..hikkss.. kumohon sadar lah, semua orang menanti kesembuhanmu, kumohon jangan tinggalakan aku, bagaimana aku bisa melewati hari-hari ini tanpamu. Kau selalu menghiburku saat aku sedang bersedih, sekarang aku sedang sedih sangat sedih, tapi kau tidak menghiburku seperti biasa kumohon bangunlah, aku perlu
senyumanmu aku rindu tawa candamu untuk menghiburku, aku rindu perhatianmu untuk membuatku merasa lebih dihargai. Kumohon bangunlah hikkss..hikss” tangis Raya yang tiada henti. Sehingga gadis itu tertidur menyandarkan kepalanya di ranjang Wahyu sambil tetap menggenggam tangan temannya itu
Seketika Raya terbangun saat dia merasa ada sesuatu yang bergerak ditangannya. Alangkah terkejutnya dia saat mendapatkan jari jemari Wahyu yang bergerak-gerak seakan berusaha membalas genggaman tangan Raya
“Wahyu” panggil Raya lirih. Wahyu membuka matanya, Raya adalah pandangan pertama yang dilihat Wahyu saat dia terbangun dari tidur panjangnya
“W-Wahyu..” Raya masih tidak percaya bahwa Wahyu sudah kembali sadar, segera dia melangkah keluar untuk memanggil suster namun seketika langkahnya dihentikan oleh Wahyu
“jangan tinggalkan aku, jangan panggil siapapun aku hanya ingin berdua bersamamu” ucap Wahyu dengan suara lemah
Raya kembali pada posisi awalnya, tangannya masih terus menggenggam erat tangan Wahyu
“Apa kau tidak apa-apa? Apa kau terluka?” Tanya Wahyu di sela tangis Raya
__ADS_1
“sialan! Kau bahkan menayakan keadaanku saat keadaanmu sendiri sedang tidak baik” ucap Raya di iringi dengan air mata yang bercucuran deras mengalir di pipinya
Wahyu menghapus airmata itu “sejak kapan kau jadi cengeng begini?” pria itu tampak tersenyum tipis saat melihat mata bengkak Raya juga wajah sembab gadis itu
“jangan menagis aku tak apa. Jangan khawatirkan apapun” ucap Wahyu sambil mengelus pipi Raya
***
Dilain sisi Rezky menjemput Rami untuk pergi kerumah sakit ingin menjenguk teman-temanya itu. Sampai dirumah sakit mereka menuju ruangan Angga, terlihat ibu sedang menggantikan baju Angga dengan sangat telaten
“kalian” panggil Angga saat mendapati temannya sudah berdiri didepan pintu
Mereka masuk keruangan lalu menyalim ibu Angga yang terlihat sangat lelah itu. “ibu apa kau belum istirahat? Dimana Raya? Seharusnyakan dia yang membantumu” Tanya Rami sambil terus memperhatikan ruangan disekelilingnya berharap menemukan Raya disana
“Raya sedang di ruangan Wahyu” ibu tersenyum saat melihat wajah kesal Rami
“ibu pergilah istirahat kami yang akan menjaga Angga disini” ucap Rezky saat melihat wajah lelah dari wanita itu
“tidak apa-apa, ibu baik-baik saja kok” jawab ibu sebisa mungkin membuat wajah terbaiknya untuk menghilangkan ukiran lelah di wajahnya
“pergilah istirahat bu, aku baik-baik saja, mereka juga ada disini menemaniku, dari kemarin ibu terlalu sibuk mengurusku dan Raya sekarang waktunya ibu istirahat” ucap Angga. Ibu terdiam sebentar lalu mengangguk menyetujui permintaan anaknya itu
“baiklah, ibu akan pulang, bajumu juga hampir habis, ibu juga akan memasakan sesuatu untuk Raya dari kemarin dia belum makan apapun” ucap ibu lalu membereskan barangnya dan keluar ruangan
“gimana keadaanmu Ngga?” Tanya Rezky berjalan mengarah Angga
Rezky menghela napas panjang yang diiringi dengan senyuman tipis dibibirnya saat mendengar perkataan Angga “kenapa dia menghawatirkanku?” Tanya Rezky basa-basi padal dia sendiri tau sebabnya karena di tidak memberikan kabar apapun pada Raya selama beberapa hari ini
“mana ku tau. Kau tanyakan saja padanya”
“aku kesini juga sekalian ingin bicara padanya” ucap Rezky lalu duduk di sofa
“Angga sepertinya ruanganmu VIP sekali ya” ketus Rami antusias yang hanya dibalas gumaman kecil oleh Angga
“oh iya kau udah tau belum tentang Rini” Tanya Rami sambil membulatkan kedua matanya
“dia bunuh diri kan, aku sudah tau dari Raya”
Seketika Rezky bangkit dari duduknya “aku keruangan Wahyu dulu” ucapnya sembari melangkah keluar ruangan
***
Raya menundukan wajahnya isakan kecil masih terdengar di bibirnya “Wahyu” panggilnya pelan
“hmm.. kau tidak apa-apa?” Wahyu mengangkat wajah Raya yang tertunduk, diusapnya kembali air mata yang mengalir itu
“kenapa kau tidak memberitauku” Raya menggenggam tangan Wanhyu yang sedang mengusap air matanya agar terus berada di pipinya
“beritau apa?” Wahyu mengengkat kedua alisnya sambil menatap Raya penuh tanda Tanya
__ADS_1
“penyakitmu”
Wahyu menghela napas kasar “kau sudah tau ya” matanya terlihat sedikit sayu
“kau bilang tidak menyembunyikan apapun dariku hikss.. Wahyu penyakitmu bukanlah masalah untukku, kau selalu cerita apapun tentang dirimu kan, tapi kenapa tidak memberi tauku tentang ini hikss..hikss” tangis Raya kembali pecah
“Raya aku hanya tidak ingin orang lain menganggapku lemah karena penyakit ini”
“Wahyu berjanjilah padaku, jangan pernah tinggalkan aku, kau harus selalu berada di sampingku. Dokter bilang kau akan sulit bertahan hikss.. kumohon jangan tinggalkan aku, berjanjilah padaku hikss..hikss..” Raya menangis tanpa henti sudah entah berapa banyak airmata yang dikeluarkannya, mungkin sedikit lagi persediaan airmatanya akan habis karena terus terusan menangis
Wahyu hanya diam menatap wajah sembab Raya dielusnya pipi Raya dengan lembut “Raya… bolehkah aku menciummu” ucapnya sedikit Ragu tapi pandangannya tidak lepas dari wajah Raya
tanpa pikir panjang Raya mendekatkan wajahnya ke Wahyu dikecupnya bibir pria itu tapi Wahyu ingin lebih dari sebuah kecupan di dekapnya tengkuk Raya dan akhirnya mereka terbuai dalam ciuman hangat
Tanpa mereka sadari Rezky sedang memperhatikan dari depan pintu, di tutupnya kembali pintu itu tanpa suara, membiarkan dua insan itu larut dalam kemesraan dan mengurungkan niatnya untuk menemui Raya. Dia bingung perasaannya terasa sesak ketika melihat Raya mencium Wahyu tadi
Raya melepaskan ciumannya saat napas mereka mulai tersenggal “Raya berbaringlah disebelahku” pinta Wahyu pada Raya yang kemudian dituruti gadis itu
Dengan sangat hati-hati didekapnya tubuh Wahyu yang dibalas pelukan hangat dari sang pemilik tubuh “tetaplah seperti ini” ucap Raya seraya mengelus dada bidang Wahyu
“jangan lupakan aku Raya” ucap Wahyu lirih
Raya mencium kembali bibir Wahyu sehingga mereka kembali larut dalam ciuman panjang, Raya melepas ciuman mereka tapi Wahyu masih menuntut ciuman itu kembali “aku masih ingin merasakan manis dan hangatnya bibirmu” ucap Wahyu lalu menuntut lidah Raya kembali untuk bermain dibibirnya sampai mereka kembali larut dalam ciuman panas
Wahyu melepas ikatan bibir mereka saat dia merasa Raya sudah sedikit lengah, di tatapnya mata gadis itu “kau harus bahagia Raya, sudah cukup bersedihnya. Teruslah berjuang tapi jangan lupakan kebahagianmu” Wahyu mengelus Rambut Raya sambil memperhatikan setiap lekuk wajah gadis itu
Raya hanya terdiam dan tetap terus menatap Wahyu “Raya kau sangat cantik” ucap Wahyu sambil mengecup kening Raya
“aku akan menikah denganmu” ucap Raya seraya membenamkan Wajahnya pada leher Wahyu
Terdengar tawa kecil dari Wahyu “aku serius! Aku akan menikah denganmu, aku akan punya anak darimu, kita akan tinggal di rumah yang sama, akan tidur di ranjang yang sama. Tidak ada yang bisa memisahan kita” ketus Raya tapi dengan mata yang berkaca-kaca
“aku yakin kau akan bahagia suatu saat nanti” Wahyu memejamkan matanya, dia tidak ingin memberikan harapan sekecil apapun pada Raya tentang dirinya, pikirnya apa yang dikatakan dokter benar dirinya akan sulit untuk bertahan
“aku akan bahagia bersamamu, cepatlah sembuh supaya kita bisa cepat menikah nanti”
“bagaimana dengan Rezky?” Tanya Wahyu pelan namun masih terdengar jelas ditelinga Raya
Raya hanya terdiam tidak ada jawaban dari bibirnya “Raya aku sangat menyayangimu” ucap Wahyu sambil kembali mengelus Rambut indah Raya
Raya mengakat wajahnya di tatapnya kembali pria yang sedang mendekapnya “aku juga menyayangimu” baru kali ini dalam hidupnya dia mengatakan hal itu pada seorang pria “jangan tinggalkan aku”
“aku akan berusaha untuk itu, tapi jika aku gagal aku mohon jangan pernah lupakan aku sampai kapanpun, karena jika aku pergi, aku pergi dengan membawa perasaan cinta ini. Berjanjilah padaku untuk membuat hidupmu lebih baik dari kemarin, berjanjilah padaku untuk tetap berjuang dan tidak melupakan kebahagiaanmu, aku
akan selalu ada di hatimu dan ingatanmu” Wahyu memegang jantungnya yang kini mulai terasa sakit
“kau pasti bisa kembali seperti dulu, aku percaya itu” Raya menggenggam tangan Wahyu yang sedang memegang dadanya “apa aku menyakitimu?” ucap Raya khawatir
“Aku akan baik-baik saja selama kau berada disampingku” jawab Wahyu penuh dengan senyum
Raya mengelus dada bidang Wahyu yang terasa sakit, dikecupnya dada Wahyu sehingga menimbulkan tawa kecil dari tubuh sang pemilik
Raya menceritakan semua kejadiaan saat Wahyu sedang koma terutama kejadian yang dialami Rini dia mengatakan seperti berita yang tersebar kalau Rini bunuh diri, tidak lupa dia menceritakan tentang keluarga Wahyu yang sangat menanti kesadaran Wahyu, juga Ayahnya yang menjenguk Angga kerumah sakit
__ADS_1
Sangat panjang kisah yang diceritakan Raya hingga mereka berdua larut dalam mimpi masing-masing. Raya tertidur dalam bekapan Wahyu terasa sangat nyaman baginya dan begitupun sebaliknya.