
Besok paginya setelah semua sudah berada di lapangan dan sudah memulai latihan. Raya merasa sedikit berbeda.
Bagaimana tidak diantara 6 pesilat yang akan tanding 4 diantarannya adalah orang yang menyangkut tentang dirinya Angga, Wahyu, Rezky juga Rini bertanding dihari yang bersamaan
Wahyu yang biasanya diandalkan Raya untuk memimpin latihan ketika dirinya sedang fokus pada yang akan bertanding, malah hari ini adalah hari pertandingannya. Pelatih yang menggantikan Master tidak selalu ada pada mereka dia bahkan tidak tinggal dengan mereka, dia hanya datang saat pertandingan akan dimulai dan ketika ada
rapat para pelatih.
Raya bersikap sama tegasnya saat melatih bahkan tidak mengenal bulu. Angga sempat bertanya dalam hati ‘dimana bocah yang tadi malam memelukku dengan erat dan mengadukan keluhannya dengan manja, kenapa
bocah itu bisa berubah sedingin dan setegas ini hanya dalam waktu satu malam’
Di benak Raya yang paling dalam dia merindukan sosok Master pada hari ini, jika aja ada Master pasti dia tidak akan kerepotan seperti ini. Raya hanya berharap Master segera datang kembali karena besok adalah hari pertandingannya jika saja Master belum kembali sampai besok,i bisa dipastikan dia tidak akan fokus pada
dirinya sendiri karena sibuk mengurusi tanggung jawab-nya
Waktu pertandingan tiba. Selang beberapa acara pertandingan dari perguruan lain sekarang giliran perguruan mereka, Rini orang pertama yang akan bertanding dari mereka. Raya berharap jika ada yang kalah nantinya orang itu adalah Rini karena jika Rini menang peluang untuk Raya bertanding dengan Rini semakin membesar
Bukannya dia takut terhadap Rini bahkan percaya dirinya jauh lebih baik dari Rini dia hanya tidak ingin mendengar ucapan sombong dari Rini karena berhasil berhadapan dengannya di pertandingan nanti.
Kehawatiran Raya terjadi, Rini menang dalam pertandingan. Raya sudah menduganya karena Rini juga bukan lawan yang mudah untuk ditaklukan
Setelah pertandingan Rini, sekarang pertandingan Angga dan pesilat seperguruan mereka, ya.. lawan Angga sendiri adalah orang dari perguruan yang sama. Hal ini sangat wajar terjadi ketika pertandingan. Tentu Raya berada mendampingi Angga sedangkan pesilat satunya di dampingi oleh pelatih pengganti Master.
Perkataan Angga terbukti dia berhasil memenagkan pertandingan dan melaju kebabak selanjutnya. Begitupun dengan Rezky dan Wahyu mereka berhasil lolos. Dari 6 pesilat 4 yang lolos dan 2 orang harus gugur. Tentu saja 4 orang itu adalah Rini, Wahyu, Angga juga Rezky
Setelah pertandingan selesai, hari juga mulai gelap. Rasa khawatir Raya bertambah pasalnya belum ada tanda-tanda kepulangan Master, itu tandanya dia harus lebih ekstra lagi melatih yang lain dan juga tidak lalai atas dirinya.
Saat mereka sudah kembali ke mess dan sudah makan malam. Angga menuju kamar Raya bersama dengan Rezky, untuk mengajak adiknya menghilangkan penat di hari ini, juga ingin membanggakan diri pada Raya bahwa dia berhasil menang sesuai dengan perkataannya kemarin
Sesampai di depan pintu kamar hanya terdapat Raya yang tengah duduk di kasur dan sedang sangat asik dengan Hp nya, bahkan Raya tidak menyadari kedatanggan Angga juga Rezky yang sudah sedari tadi memperhatikannya
Kepo dengan apa yang di lakukan adiknya dengan Hp itu, Angga masuk mengendap-endap dan merampas Hp yang sedari tadi menjadi pusat perhatian adiknya itu. Sedangkan Rezky masih di depan pintu kamar dan melangkah masuk menghampiri mereka
Hp Raya yang diambil tapi yang terkejut bukan main adalah Angga sedangkan Raya hanya memasang wajah datarnya ketika melihat aksi abangnya itu. Bagaimana tidak, Angga melihat Raya sedang asik chatan dengan Wahyu yang jelas-jelas sudah bersikap tidak pantas pada dirinya
“kamu sudah baikan sama Wahyu?” Tanya Angga dengan nada sedikit kesal
“hmmm”
“kamu uda maafin dia? Kenapa?”
“sebaiknya Abang juga maafin dia, jangan jauhin dia seperti itu. kan aku uda bilang dari awal, bahwa itu bukan sepenuhnya salah Wahyu” jawab Raya dengan Wajah datar seraya mengambil Hp nya dari tanggan Angga. Rezky hanya mendengar percakapan Abang-Adik itu sambil menatap lurus kearah Raya
Tidak lama Rami masuk kekamar dengan sekotak susu putih dingin ditangannya lalu dia menghampiri Raya dan memberikan susu itu pada Raya. Raya langsung meminum susu itu tanpa mempedulikan orang disekitarnya. Seketika dia teringat akan satu hal “Apa Master sudah kembali” tanyanya dengan penuh harap. Tapi harapan itu
__ADS_1
seketika patah ketika melihan gelengan kepala Rami
“Raya kami mau keluar katanya ada pesta kembang api di lapangan upacara kemarin. Kamu gak mau ikut?” Tanya Angga
“apa untungnya jika aku ikut?” Tanya Raya dengan Wajah datarnya karena sudah tidak mendapatkan kabar baik kalau Master akan kembali malam ini
Angga terdiam sejenak dia sudah memahami sifat adiknya itu, jadi dia tidak asing dengan pertanyaan tersebut. Dia memilah-milah jawaban yang bisa di terima gadis cerdas itu
“keuntungan buat mu, kamu bisa melihat indahnya bulan juga kita bisa berfoto bersama di bawah kembang api sebagai kenangan bahwa kamu pernah berada disini bersama kami” entah apa yang di ucapkan Angga sebagai jawaban atas pertanyaan Raya, dia memilih alasan bulan adalah karena Raya sangat suka memandangi bulan dan untuk alasan berfoto itu hanya terlontar saja dari mulutnya, dia tidak tau apakah Raya menerima alasan itu dengan baik atau tidak
Raya mendengus kesal ketika mendengar perkataan Angga “Abang kau tau sebenarnya alasan itu tidak ku terima. Alasan sesungguhnya adalah karena aku hanya ingin menghemat energimu kau pasti tidak akan berhenti memintaku untuk ikut bersamamu kecuali kau yang mengijinkanku untuk tidak ikut, dan keuntungan buatku, aku tidak terus-terusan mendengar ajakanmu yang membosankan itu” ucap Raya datar sembari melangkah keluar yang diikuti oleh Angga, Rezky, juga Rami. Entah mengapa malam ini sifat aslinya keluar, bocah kecil yang kemarin malam melekat di dirinya tidak terlihat
Di lapangan yang begitu luas di padati oleh orang-orang bahkan beberapa dari mereka adalah teman-teman dari mess, suara kembang api tiada henti terus terdengar cahaya warna-warni terlihat jelas di langit gelap
“Raya tunggu sini sebentar, inget jangan kemana-mana!” ucap Rami
“emang lo mau kemana?”
“aku mau beli kembang api di situ” ucap Rami seraya menunjuk warung yang menjual sangat banyak kembang api. Rami pergi sambil diikuti Angga sedangkan Raya dan Rezky masih berdiri ditempat mereka
Tidak lama terdengar suara Rami memanggi mereka “Raya! Rezky! Sini…..” teriak Rami sambil menarik tangan mengisyaratkan mereka agar datang
“kamu aja deh Ky kesana aku lagi males” ucap Raya sembari menoleh kearah Rezky
“lo kamu?”
“beneran?”
“hmmm” Rezky melangkah menuju Rami dan Angga sedangkan Raya masih berdiri dengan memasang wajah malas. Tidak betah berada di kerumunan orang, Raya berjalan mencari keadaan yang sedikit sunyi. Dia duduk di lapangan hijau agak berjauhan dengan keramaian
Sesekali Raya berdecak kagum atas indahnya warna-warni yang dihasilkan oleh kembang api yang tiada henti menghiasi langit gelap. Lagi asyiknya melihat kembang api Raya di kagetkan dengan kedatangan Rezky
“Raya kamu kok disini?” ucap Rezky sembari menyerahkan se-cup ice blend dan duduk di samping Raya
“menghindari keramaian” jawab Raya sambil meminum ice blend yang diberikan Rezky “Abang sama Rami mana?”
Tanya Raya
“Rami borong banyak banget kembang api, mungkin mereka masih disana paling bentar lagi datang” jawab Rezky yang kemudian di balas senyum oleh Raya
“Raya” panggil Rezky sambil menoleh kearah Raya
“hmmm”
“aku tau kamu siapa” Raya yang mendengar itu langsung melihat kearah Rezky
__ADS_1
“aku Raya mahkluk ciptaan tuhan sama seperti kamu” jawab Raya acuh yang mulai malas untuk mengeluarkan energy suaranya
“Raya Uti Alamsyah gadis penghafal 20 juz Al-qur’an” ucap Rezky tanpa berhenti menatap wajah Raya
Raya yang mendengar itu sangat kaget dia langsung menoleh dan menatap Rezky dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, mulutnya terbuka, mata sipitnya seketika berubah membulat, kulit putih di wajahnya memerah menandakan betapa terkejutnya dia
“gadis penghafal 20 juz Al-qur’an, gadis yang dulu sangat patuh pada agama bahkan pernah mengenakan hijab, pernah di kelilingi oleh orang-orang yang patuh agama juga, pernah menjuarai lomba karena suara merdunya saat melantunkan ayat suci Al-qur’an. Gadis pekerja keras dirinya sudah menggeluti dunia kerja sejak SMP untuk mengidupi adik-adiknya, ayah dan ibunya pernah bercerai namun memutuskan untuk bersama lagi dan kejadian itu terjadi berulang-ulang hingga membuat gadis itu merasa hancur tapi karena kehancuran itu dia tumbuh menjadi gadis yang kuat, cuek, dingin bahkan dia sempat berencana untuk menghabisi hidupnya sendiri” lanjut Rezky yang hanya di balas wajah super kaget dari Raya
Tidak butuh waktu lama Raya sudah paham apa yang terjadi dan siapa dalang dari semua ini. Dia membuang tatapannya dari Rezky mengambil Hp yang berada di sakunya dan hendak bangkit dari duduknya jika saja Hp itu tidak di rebut oleh Rezky
“jangan salahkan orang lain, kamu tidak pantas memendam kepedihan itu sendirian. Kamu terlalu cuek hingga tidak percaya pada siapapun ya” ucap Rezky sambil terus menyembunyikan Hp Raya di balik badannya
“kembalikan Hp ku!” tegas Raya
“kamu hebat ya seperti detektif bahkan aku belum memberitaukanmu siapa yang menceritakannya tapi kamu sudah tau semuanya” jawab Rezky dengan menghembuskan napas panjang
“aku hanya ingin menelpon adikku, sekarang kembalikan Hp ku!”
“menelpon adikmu lalu memintanya menyerahkan Hp ke temanmu agar kau bisa meminta penjelasan, adik mu untuk sekarang tinggal bersama temanmu itu kan, Raya aku bukan anak kecil”
“kambalikan Hp ku!”tegas Raya dengan nada tingginya
“gak!” jawab Rezky
Raya menghela napas berat, wajahnya tertunduk, air matanya sudah tidak bisa di bendung lagi, tapi dia tetap berusaha sekuat tenaga untuk menahan air itu agar tidak jatuh sampai terdengar isakan kecil dari bibirnya, hatinya serasa seperti di tusuk ketika mengingat kejadian masa lalu itu
Rezky menyimpan Hp Raya di sakunya, mengangkat wajah Raya untuk menatapnya
“Raya aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih, kau terlalu suci untuk menghinakan dirimu sendiri, kenapa kau lakukan itu, kenapa kamu berubah?”
“aku harap kalian bisa menjaga aib ku dengan benar” ucap Raya enggan untuk menjawab pertanyaan Rezky
Seketika terdengar suara teriakan Rami. Buru-buru Raya menghapus air matanya yang sempat tumpah, mengambil napas panjang untuk merileks kan tubuh dan pikirannya
“Raya kami beli banyak kembang api, kita nyalain yuk!” ajak Rami sambil menarik tangan Raya
Raya menuruti kemauan Rami, Angga datang dengan membawa satu bungkusan besar berisi beberapa kembang api dan satu bungkusan lagi berisi jagung bakar dan roti bakar
Mereka menyalakan kembang api yang di beli Rami tadi. Raya sedikit gugup ketika harus memegang dan mengarahkan batang kembang api keatas, bahkan tangannya yang memegang batang kembang api tersebut harus di genggam Angga agar tetap kokoh
Saat kembang api yang Raya pegang meledak di langit dengan suara begitu meriah juga warna-warni yang sangat indah seketika pemikiran, beban bahkan kejadian yang barusan dialaminya seakan ikut meledak bersamaan kembang api itu, terlihat senyum gembira dari bibirnya
Mereka bermain dengan sangat meriah. Terlihat beberapa kali tawa kegembiraan terpancar dari wajah mereka. Setelah puas bermain mereka memutuskan untuk kembali ke mess karena sudah larut malam
Betapa terkejutnya Raya saat masuk ke mess dan melihat Master sudah berada di sana sambil melihat dokumen laporan berisikan hasil pertandingan beberapa hari ini
__ADS_1
“M-Master” panggil Raya tidak percaya