
Rezky menutup pintu rapat-rapat, melangkah mundur agar tetap menjaga jarak dengan Raya
“Raya sekarang dengar aku”
“aku udah gak tahan ky”
“aku tau.. aku tau, kita keluar dari situasi ini, nama kamu sebentar lagi akan di panggil untuk menerima mendali begitupun dengan nama aku”
“aku udah gak peduli tentang mendali, aku butuh seseorang. TIDAKKK!!! Aku hanya butuh sendiri”
“Raya.. kamu gak mau ngecewain Master kan, semua orang pasti sedang mencarimu. Aku tau apa yang sedang kamu rasakan sekarang”
“kyy..”
“sekarang dengerin aku baik-baik”
“aku gak bisa dengar apapun, kumohon”
“Raya! Aku perlu kamu fokus, kita akan keluar dari situasi ini, hanya perlu dengarkan aku dan ikuti apa kataku. Kamu ngerti kan”
Raya hanya menganggukan kepala
“sekarang dengarkan aku baik-baik, tutu kedua matamu, atur napas mu, jangan pikirkan apapun, apapun yang ada di pikiran kamu itu semua adalah tidak benar jadi kamu harus ilangin” ucap Rezky berusaha meyakinkan Raya. “Sekarang tutup telingamu jangan dengarkan suara apapun selain suaraku, kamu bisa melakukannya kan?”
“aku bisa, aku sedang berusaha mendengar suaramu”
“bagus, sekarang buang pikiran yang bisa membuatmu merasa tidak nyaman. Raya aku ingin kamu memikirkan satu hal ini, ingat kembali masa dulu-mu, masa dimana kamu pernah menjadi seorang hafidz qur’an, masa di mana kamu berusaha keras untuk menjaga mahkota mu, pikirkan masa lalu-mu yang sangat indah itu, hanya pikirkan
itu jangan yang lain. Jangan hiraukan tubuhmu, jangan dengar apapun selain suaraku”
“ky..”
“jangan dengarkan apapun selain suaraku, hanya perlu memikirkan usahamu untuk menjaga mahkota paling berharga di dirimu”
“hikss..hikkss..”
Terdengar suara rintihan Raya yang mulai menghilang, napasnya sudah tidak memburu lagi, tangannya yang terkepal hebat untuk menutup telinganya kini mulai merenggang
__ADS_1
“Astagfirullah… Astagfirullah”
Rezky yang mendengar ucapan Raya merasa sedikit lega, dia melangkah mendekati Raya tapi masih menjaga jarak aman
“Astagfirullah… ya Allah maafin aku, ku mohon bantu aku, hilangkan perasaan gila ini. Tuhan aku
merindukanmu. Jangan biarkan aku melakukan kesalahan hina ini” ucap Raya terlihat dia mengeluarkan air matanya walaupun matanya masih tertutup rapat
Rezky yang mendengar perkataan Raya terus menerus berdoa dalam hati agar Raya bisa sadar kembali
“Raya uti Alamsyah” terdengar nama Raya yang berasal dari lapangan
Raya yang mendengar namanya disebut, mulai sedikit sadar dan mencoba membuka matanya perlahan, menurunkan tangan yang berada di telinganya
“ky.. nama aku di panggil”
“kamu udah baikkan? Udah gak ngerasa yang aneh-aneh lagi”
“aku udah ngerasa lebih baik, tadi nama aku dipanggil”
Rezky yang mendengarnya merasa sedikit lega dia menghebuskan napas panjang “syukurlah”
“Raya tunggu” panggil Rezky. Raya yang sudah di depan pintu langsung berbalik menghadap Rezky
“Raya uti Alamsyah”
“sebelum keluar benahin dulu baju kamu” Raya langsung melihat keadaan bajunya, dia melihat kancingnya terlepas dan buru-buru dia membenahi kancing itu
“maaf” ucap Raya dengan pandangan tertunduk kebawah dan tangannya mengepal erat bajunya yang sempat terlepas tadi
Rezky hanya tersenyum “ini minum dulu biar rileks” ucapnya sambil menyerahkan sebotol minuman yang tadi di belinya
Raya kemudian mengambil minuman itu dengan tergesa-gesa dia meneguknya
“nama akuuda di panggil ky”
“yaudah sekarang kita ke lapangan”
__ADS_1
Mereka langsung berlari menuju lapangan, dengan napas yang tidak beraturan Raya menhampiri Master, yang kemudian Master menyuruhnya untuk mengambil medali juga piagamnya di depan
Rini yang melihat Raya berjalan kedepan untuk mengambil mendalinya, merasa heran ‘kenapa dia disini? tadikan dia udah mulai terpengaruh sama obatnya’ ucap Rini dalam hati. Setelah selesai dengan mendalinya, Raya langsung menghampiri Rami
“Raya.. kau dari mana aja? Nama kau tadi udah dipanggil berulang-ulang”
“Mik.. lo gkpapa?” Tanya Raya khawatir karena Rami juga meminum susu yang diberikan Rini. Dia khawatir kalau Rami merasakan hal yang sama padanya
“emang aku kenapa? Kau tu yang sakit, entah kemana aja, udah pergi gak bilang-bilang!” ketus Rami
“lo gak ngerasain hal aneh gitu?”
“Raya kayaknya kau deh yang aneh” ucap Rami dengan nada sedikit kesal
“Rini dimana?” Tanya Raya dengan wajah datarnya tapi tangannya sudah terkepal erat
“ituuuu” tunjuk Rami kearah Rini
Melihat Rini yang sedang duduk dibangku dengan wajah yang tidak bisa diartikan, membuat Raya mengepal semakin erat tangannya. Dia lalu menyerahkan penghargaannya itu pada Rami
“pegang dulu Mik.. gua mau ngomong sama Rini” ucap Raya seraya memberikan penghargaannya dan langsung diambil oleh Rami
“kau mau ngomongin apaan?”
Raya melangkah mendekati Rini tidak menghiraukan perkataan Rami, yang membuat Rami semakin kesal. Setelah sudah berdiri di sebelah Rini, Raya membisikan sesuatu padanya
“ikut gua, atau lo bakalan malu disini” ucap Raya sembari melangkah menjauhi lapangan yang diikuti oleh Rini
Rami yang melihat Raya bersama Rini jalan menuju keluar lapangan, langsung mengikuti mereka, Karena penasaran. Sangat tergesa-gesa Rami berjalan mengikuti mereka yang mulai semakin menjauh. Sampai-sampai dia tidak sadar ada orang di depannya
BRUKK!! Rami menabrak Wahyu yang berada di depannya sampai-samapai dia mundur beberapa langkah karena tabrakan itu
Wahyu yang melihat siapa yang menabrak dirinya langsung berdengus kesal “Mi.. kalau jalan liat-liat”
“maaf, aku buru-buru” ucap Rami sambil berlalu meninggalkan Wahyu
Wahyu yang melihat langkah Rami yang tergesa-gesa penasaran apa yang sedang di kejar gadis itu “mau kemana Mi..?” teriak Wahyu
__ADS_1
“Nyusul Raya sama Rini” jawab Rami yang semakin menjauh
Mendengar nama Raya dan Rini bersamaan lantas membuat Wahyu dihantui rasa penasaran diapun berbalik arah mengikuti langkah Rami dari belakang.