Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
Selamat


__ADS_3

Lampu ruang operasi dinyalakan pertanda akan segera dimulai proses operasi. Selain beberaa dokter terkait telah berkumpul, pasien juga tampak sangat menikmati saat-saat kritis seperti ini. Semua itu bisa dilihat dari rona wajah beliau yang tak tampak tertekan sama sekali.


"Tenang saja, Bu! semua akan berjalan sesuai rencana." ucap ketua tim dokter yang akan menangani operasi pengangkatan tumor yang berada di jantung wanita pemilik rumah sakit ini.


Selain dokter Jantung dan pembuluh darah, ada pula dokter anestesi serta dokter bedah yang diwakili oleh Rebecca. Kenapa Rebecca? Bukankah wanita itu kekeuh menolak mengobati Melati?


Lalu mengapa wanita yang kini tampak anggun dengan baju khasnya yang berwarna hijau tua serta aura yang begitu memabukkan itu bersedia?


Alicia lah alasan mengapa Rebecca menurunkan egonya hingga mengiyakan keinginan wanita yang merupakan bos besar itu. Karena Alicia lah satu-satunya sebab sehingga Rebecca bersedia meruntuhkan kerasnya hati demi malaikat kecil itu.


"Dokter, tolong selamatkan omaku! Apapun akan kuberikan padamu," kata-kata dari gadis kecil itu terus saja menghantui pikiran Rebecca.


Operasi pengangkatan tumor segera dilakukan setelah posisi serta tingkat keparahan tumor telah terdeteksi. Semua anggota tim berjibaku dengan tanggung jawab serta tugas yang mereka emban.


Dari luar ruangan, Thomas menampakkan wajah kusut penuh kepanikan. Bagaimanapun juga ia sangat mengkhawatirkan sang mama. Selain itu, Thomas juga optimis jika tim dokter akan bekerja dengan maksimal seperti janji Rebecca untuknya.


"Aku akan bekerja semampuku, jangan sampai mamamu mengalami hal yang sama seperti papaku." Begitulah sumpah yang diucapkan Rebecca sebelum dokter wanita itu memasuki ruangan duelnya. Duel di sini dalam artian Rebecca serta tim akan melawan penyakit tersebut.


Pertumbuhan tumor pada organ yang memompa darah ini bisa bersifat jinak atau ganas. Tumor jinak cenderung tumbuh lambat, hanya pada satu area, dan sering kali tidak menimbulkan bahaya. Sebaliknya, jika tumor ganas atau kanker cenderung tumbuh dengan cepat dan bisa menyebar ke bagian tubuh lain.


Pengangkatan tumor memerlukan bedah jantung terbuka. Namun, pada kasus Bu Melati, dokter sepakat untuk melakukan pembedahan yang berlangsung secara robotik atau menggunakan teknik yang paling tidak invasif (tidak melalui pembedahan terbuka) mengingat usia Nyonya Melati yang sudah lanjut.


Selama operasi, ahli bedah mengangkat tumor dan jaringan sekitar untuk mengurangi risiko kembalinya tumor. Ini tergolong operasi rumit dan memerlukan jantung yang diam, Anda akan membutuhkan mesin jantung-paru yang akan bertindak sebagai jantung dan paru-paru Anda selama operasi berlangsung.


Tim dokter melakukan persiapan pukul 08.00 pagi dengan pasien yang berusia lanjut seperti Bu Melati. Mulai alat, perlengkapan bedah, hingga obat-obatan. ’Barulah sekitar pukul 09.00 dimulai proses penyayatan. Tim dokter yang dikepalai oleh dokter ahli jantung dan pembuluh darah yang merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.


Sembari mengarahkan anggotanya, perlahan-lahan Ketua tim mengarahkan kepada ahli bedah yakni Rebecca untuk menjangkau bagian inti jantung.

__ADS_1


’’Dibelah perlahan untuk menjangkau posisi tumor,” pinta dokter tersebut kepada Rebecca.


"Baik, dok!" jawab Becca dengan penuh keyakinan.


Tumor jinak tersebut terlihat di serambi kiri jantung (atrium kiri). Posisinya sudah menutup hampir semua katup jantung kiri. Yang membuatnya berbahaya, jika serpihan tumor pecah, lalu masuk ke organ tubuh lain, bisa fatal akibatnya. Stroke atau mati mendadak. Rebecca paham betul seperti apa prosesi pembedahan seperti ini. Ia teringat sang papa yang kesakitan sebelum akhir hayatnya, dan yang lebih menyayat hati, sang papa berpulang tak lama setelah kakak Rebecca meninggal.


Karena itu, pembedahan dilakukan dengan kehati-hatian tinggi. Terutama saat menghentikan sementara waktu fungsi jantung dan paru-paru dengan menggunakan HLM (heart lung machine). Dan ini berlangsung selama operasi dilaksanakan.


Kemudian darah dipompa melewati oksigenator untuk membuang CO2, lalu membuat O2. Setelah itu, darah tersebut dialirkan ke paru-paru. Lalu dari paru-paru, oksigen dibawa ke seluruh tubuh.


Pada pukul 11.05, tumor bisa diangkat. Beratnya 100 gram dengan ukuran 30 cm. "Ukuran semacam ini sudah cukup besar,” tukas ahli jantung dan pembuluh darah tersebut. Ia juga menambahkan bahwa kasus semacam itu langka. Hanya diderita 0,02 persen dari total keseluruhan pasien di Indonesia.


Sekitar pukul 11.24 siang, dada pasien dijahit kembali seusai menjalani pengangkatan tumor tersebut. Selama itu pula, anggota tim saling bekerjasama demi kesembuhan pemilik rumah sakit.


Tepat pukul dua belas kurang lima menit, lampu operasi dimatikan yang menandakan proses operasi telah selesai. Semua tim bersyukur diberikan kelancaran dalam sesi operasi kali ini.


Senyum mengembang dilukiskan oleh beberapa dokter ahli yang menangani Nyonya Melati, termasuk Rebecca. Sedangkan Nyonya Melati sendiri telah dibawa ke ruangan lain untuk dikontrol kondisinya.


Rebecca keluar dari ruang operasi untuk membersihkan dirinya dari noda darah selama menjalani operasi. Sesekali ia menatap nanar dirinya di cermin wastafel. "Pa, andai penyakitmu terdeteksi lebih awal. Mungkin papa bisa diselamatkan." rutuk Rebecca menghujat dirinya sendiri.


Sesuai melakukan hal yang semestinya ia lakukan, Rebecca keluar dari ruang ganti dengan langkah-langkah lunglai seperti kehilangan semangat hidup.


"Hai, terimakasih!" seru Thomas melambaikan tangannya ketika melihat Rebecca keluar.


"Aku hanya melakukan tugasku saja," sahut Rebecca.


"Temani mamamu!" perintah Rebecca pada Thomas. Yah hanya itulah hal kecil yang diinginkan oleh orang tua dari anaknya.

__ADS_1


"Iya, tapi Alicia bagaimana?"


Thomas mondar-mandir menemani Alicia serta mamanya. Sedangkan James pergi entah ke mana.


"Aku bisa sesekali melihatnya. Jangan khawatir." Sembari bekerja, Rebecca bisa mengontrol keadaan putri dari James.


Dan Thomas bisa bernapas lega ketika ada Rebecca di samping Alicia.


**


Rebecca menemani Alicia secara intens setelah jam kerjanya selesai. Dan hingga larut malam seperti ini, keluarga Alicia tak kunjung menemui anak itu. Hal tersebut membuat Rebecca mengurungkan niatnya untuk pulang.


Tepat sekitar pukul sebelas malam, James terlihat membuka kamar rawat inap sang putri dan melihat dua orang tengah tertidur. Dan yang membedakan dari biasanya adalah dengan adanya Rebecca di samping Alicia. Wanita yang masih mengenakan jas putihnya tengah meringkuk dengan memeluk Alicia.


James berjalan mendekat, niatnya hanya ingin membangunkan wanita itu dan menyuruhnya pulang. Namun, tangan James ditepis oleh Alicia yang kebetulan terbangun.


"Biarkan dia di sini, Pa! Bu dokter menemani Cia seharian ini."


Hati James masih belum tergerak. Bagaimanapun juga Rebecca tak ada hubungan apa-apa dengannya.


"Papa akan menyuruhnya istirahat. Lihatlah!" tunjuk James ke arah Rebecca yang tak bergerak sedikitpun meski ada dirinya di sini.


"Cia ingin tidur dengannya, Pa!"


...****...


__ADS_1



__ADS_2