Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
Bukan Kebahagian Semu


__ADS_3

"Tidak .... " Rebecca menjerit ketika sebuah serangan dari kakaknya diarahkan kepada keluarganya.


James tidak tinggal diam, pria itu segera menghadang tangan Fabian dengan menahan serangan tersebut. Atas perlawan itulah telapak tangan James terluka akibat menggenggam sebilah pisau milik Fabian.


Rebecca dan Alicia yang sempat dijauhkan olen James selamat. Buru-buru Rebecca menutup kedua mata Alicia dari tindakan brutal papa kandungnya.


"Kakak sudah gila ya?"


James yang telah bisa menahan serangan Fabian langsung melayangkan bogem dengan tangan kanannya yang tidak terluka. Fabian tersungkur hingga tidak bisa bangun lagi.


"Ya Tuhan, James!" air mata Rebecca tidak bisa dibendung. Wanita itu sadar jika James telah mengorbankan tangannya untuk melindungi dirinya dan Cia.


"Jangan takut, aku tidak apa-apa. Asal kalian berdua selamat itu sudah cukup bagiku." Jawaban dari James tadi semakin membuat Becca sadar jika selama ia salah menilai sang suami.


Keadaan mulai kondusif, Becca membantu menghentikan perdarahan di tangan James. Dan beberapa saat kemudian, terbesar suara riuh dari luar.


Rupanya Thomas datang bersama petugas yang berwajib. Bukan selalu datang belakangan, tetapi mereka perlu menyusun rencana serta membuat surat penangkapan untuk Fabian.


"Anda kami tahanan, dengan barang bukti tersebut. Selain itu, Anda juga kami tahan atas laporan tentang pemalsuan kematian." Fabian tidak bisa lari lagi dari kepungan polisi.


Selain sudah tidak bisa berbuat apa-apa, Fabian juga sangat lelah dengan pelariannya selama ini. "Mungkin ini adalah takdir dari Tuhan untukku," gumamnya sebelum digelandang ke kantor polisi.


Selain melaporkan Fabian, James juga telah memindahkan Raisa ke tempat yang memiliki fasilitas lebih memadai lagi. Sebagaimana permintaan Rebecca, James kini telah mempu berdamai dengan masa lalu.


"Ayo ke rumah sakit!" ajak Rebecca dengan mata tak sedikitpun lepas dari tangan James. Wanita itu tak ingin ada hal buruk terjadi pada James lagi.


"Cia, lihatlah! mamamu sangat mengkhawatirkan papa," James begitu puas melihat bahwa kini sikap cuek serta tak peduli Becca telah hilang dan mulai perhatian dengannya. Dan James sangat yakin jika Rebecca telah mencintainya seperti perasaan James pada Rebecca.


Lega rasanya. Namun, permasalahan itu belum lah usai. Sebuah panggilan masuk ke ponsel milik James. Pilot tampan itu segera mengangkat panggilan dari pihak rumah sakit tempat Raisa di rawat. Karena James sendiri menandatangani haknya sebagai wali Raisa.


"Baiklah, aku akan segera ke sana," sahut James menutup panggilan tersebut.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa raut wajahmu berubah?" Rebecca pun merasakan hal yang sama bahwa apa yang membuat suaminya demikian pasti telah terjadi sesuatu.


"Raisa kembali kritis."


James akan ke rumah sakit tersebut, dan meminta Becca dan Alicia pulang bersama Thomas untuk istirahat.


"Suamiku, tanganmu terluka! bagaimana bisa kamu mau mengemudi?" Tanpa sadar Rebecca telah menganggap James sebagai suaminya.


"Benar, Pa! Cia akan pulang bersama paman. Papa pergilah bersama mama." Anak kecil itu sungguh pintar membaca situasi. Cia ingin kesempatan bersama itu bisa semakin mendekatkan kedua orangtuanya.


Jika mereka semua memaksa, lalu James bisa apa? Dengan berat hati, pria dewasa itu menerima saran Becca untuk ikut dengannya.


"Apa kau takut aku akan kembali kepadanya, Dear?" ejekan dari James ini membuahkan hasil berupa sebuah cubitan seperti biasa dari Rebecca.


Meski James tahu jika Rebecca tidak mungkin cemburu padanya, tetapi James tetap harus menjaga perasaan sang istri. James tak ingin hal kecil ataupun sepele bisa menyakiti hati Rebecca.


Dengan demikian, Rebecca bisa memantau kondisi luka di tangan James. Meksi harus kembali berselisih pendapat dengan sang suami di dalam mobil tentang siapa yang akan mengemudi.


"Tapi aku yang tahu di mana rumah sakitnya, Sayang."


"Aku akan tahu jika kamu memberi tahukan alamatnya, Sayang." Emosi Rebecca kian membuncah karena James kekeuh tidak mau menuruti kemauannya.


"Rebecca, aku tidak apa-apa. Aku cukup kuat bahwa jika kau ingin ber cin ta sekarang juga bisa."


Berakhirnya masalah tak membuat mulut me sum James sembuh. Nyatanya dalam keadaan seperti ini, pikiran kotornya malah membahas hal seputar selang kang an.


Alhasil Rebecca mengalah dan membiarkan James tetap mengemudi meski hanya menggunakan satu tangan saja. Karena tangan yang satunya sedang Becca balut dengan potongan lengan dari kemeja James.


"Sekarang kepalkan tanganmu dengan pelan!" Dan James pun menurut perintah Rebecca.


"Terus? Cium aku!"

__ADS_1


Melihat James bisa menggerakkan tangannya dengan baik, Becca kini tidak perlu mengkhawatirkan lagi akan kerusakan otot atau Neuropati Perifer di telapak tangan James.


Neuropati perifer adalah penyakit akibat kerusakan pada sistem saraf perifer atau sistem saraf tepi. Kerusakan tersebut menyebabkan terganggunya fungsi saraf tepi dalam mengirimkan sinyal dari organ ke otak atau sebaliknya.


Sistem saraf tepi berfungsi untuk mengirimkan sensasi fisik dari seluruh organ tubuh ke otak. Saraf tepi juga menyalurkan perintah dari otak untuk menjalankan fungsi tertentu, seperti menggerakkan tubuh, mengeluarkan keringat, meningkatkan detak jantung, dan mengatur tekanan darah.


"Selain bawel, ternyata istriku sungguh mengkhawatirkan aku." puji James meski sedang menyetir dengan satu tangan saja. Sedangkan tangannya yang luka sejak tadi berada di atas paha sang istri karena Becca baru saja memeriksanya.


"Ah andai tangan itu tidak terluka, aku pasti sudah mendapatkan apa yang ada di atas paha itu." gumam James lagi.


"James ... berhenti bicara yang bukan-bukan, menyetirlah dengan benar!"


Mungkin perdebatan kecil dan menggemaskan seperti ini saja sudah mampu mengobati luka di dalam diri James. "Andai saja aku tidak bertemu denganku, mungkin aku masih menderita seperti dulu."


Rona itu semakin memerah begitu Becca mendengar pujian romantis dari James. Meski pria seperti James yang jarang mengungkapkan kata-kata indah ataupun sayang, Becca bisa paham dari sorot matanya yang dalam serta teduh.


**


Keduanya tiba di rumah sakit tempat Raisa dirawat. Dan James segera berlari menuju IGD diikuti oleh Rebecca.


Dokter telah mengatakan jika keadaan mati otak Raisa memang sudah parah. Hingga saat ini kembali kritis.


Mati otak merupakan kondisi ketika seluruh aktivitas otak terhenti secara permanen. Orang yang mengalami kondisi ini berada pada keadaan koma dan tidak akan sadar kembali.


Orang yang mengalami mati otak membutuhkan obat-obatan dan alat bantu, seperti mesin ventilator, agar bisa bernapas dan agar jantungnya tetap berdetak. Orang tersebut tidak akan bisa kembali sadar atau bernapas sendiri, karena otaknya sudah tidak berfungsi.


Seusai melihat kondisi Raisa yang masih kritis, Becca menyarankan agar James memeriksakan lukanya. Tangan James perlu mendapat pertolongan yakni jahitan agar tidak melebar ke mana-mana dan menyebabkan infeksi.


...****...


Maaf typo 🙈

__ADS_1


__ADS_2