
Ruang ICU itu terasa dingin. Bukan hanya dingin yang berasal dari pendingin ruangan. Tetapi juga berasal dari suasana penuh duka. Iya ... Raisa telah kembali ke pangkuan Tuhan yang Maha Esa. Tepat setelah keluarnya Rebecca dari ruang ICU tersebut, dokter telah memberi keterangan waktu serta sebab kematian pasien.
Tubuh Rebecca kembali terguncang, mendengar kabar kematian bukan hal yang pertama bagi dokter wanita itu. Tetapi, kematian Raisa hari ini sungguh menjadi kli maks dari setiap peristiwa yang ia alami selama beberapa hari terakhir ini.
Benar kata pepatah, "Manusia hanya bisa berusaha. Tetapi Tuhan lah yang menentukan." Sekuat ataupun sebesar apapun usaha mereka menyelamatkan Raisa, nyatanya Tuhan lebih sayang dengannya.
Kematian pada dasarnya adalah jembatan menuju kehidupan akhirat. Banyak yang beranggapan bahwa kematian merupakan akhir dari suatu perjalanan. Itulah mengapa banyak pula yang mengatakan bahwa kematian artinya istirahat dengan tenang.
Setiap orang pasti akan merasakan kematian, walaupun arti “merasakan” itu tidak sama dengan yang dipersepsi oleh orang yang hidup. Kematian adalah salah satu bagian dari kehidupan yang pasti dijalani, sama seperti kelahiran. Bedanya adalah yang pertama menandai akhir dari suatu kehidupan, sedangkan yang terakhir menandai awal dari suatu kehidupan. Kelahiran dan kematian bisa diandaikan seperti ujung dari seutas tali yang bernama kehidupan, berbeda titik tetapi terentang sepanjang usia. Di tengahnya itulah kehidupan yang ada dan berada.
Lalu, apa sebenarnya kematian? Mati adalah kesempurnaan. Jika manusia ingin sempurna, maka harus melewati pintu gerbang yang bernama kematian dan setiap manusia yang hidup pasti akan mati. Jadi mati ataupun wafat adalah jalan menuju kepada kesempurnaan. Entah bagaimana caranya atau seperti apa matinya.
**
Semuanya berkumpul di depan pusara basah yang menandakan jika makam itu baru saja dibuat. Tangis serta duka lara mengiringi kepergian Raisa ke pangkuan Sang Khalik. Selain orangtua Raisa yang juga shock karena baru saja tahu jika selama ini putrinya masih hidup dan baru saja dikebumikan. Keluarga Rebecca juga tidak kalah shock lagi.
Mama Rebecca masih ternganga tidak percaya jika selama ini Fabian telah memalsukan kematiannya dan berusaha jauh darinya. Seorang ibu mana yang tidak teriris hatinya mendengar kabar jika sang anak juga melakukan percobaan pembunuhan terhadap cucu, anak serta menantunya.
Selain itu, Rebecca harus memilah kata yang tepat untuk menjelaskan perihal yang yang dirasa sulit untuk dimengerti anak seusia Alicia.
Dengan mempertimbangkan psikologis Alicia lah, Rebecca tetap menahan untuk tidak atau belum saatnya mengatakan fakta mengenai kedua orangtua kandung Cia. Selain menilik kondisi psikologis Cia, Becca juga tidak ingin menambah rasa trauma gadis kecil itu seusai peristiwa penculikan yang dilakukan oleh papa kandungnya.
Tepat ketika kedatangan Fabian yang telah menjadi tersangka dari semua kejahatannya. Rebecca menutup pandangan sang putri semata wayangnya agar tidak melihat sisi jahat Fabian. "Semua perlu, waktu! biarlah Cia tumbuh seperti anak seusianya. Jangan paksakan ego kalian demi mendapatkan gelar orangtua." Begitulah keinginan Becca kepada James dan Fabian.
"Aku 'kan sudah mengatakan jangan dekati putriku!" James setuju dengan cara berpikir Becca. Ia bisa menahan egonya selama ini juga karena Alicia. Jika bukan melihat putri kecilnya, Becca pasti tidaka akan segan lagi untuk memecahkan kepala Fabian.
"Maafkan aku, tapi bisakah aku memeluk anakku sebelum aku kembali?" Keinginan Fabian ini sudah diinginkan sejak dulu, kini pria dewasa itu hanya ingin hadiah berupa pelukan dari sang anak kandung sebelum ia kembali ke penjara.
__ADS_1
Rebecca menurunkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Alicia sebelum ia membisiki Cia dengan lembut. "Peluk dia, Nak! Ada mama."
Sungguh, gadis kecil seperti Cia, pasti mengalami guncangan perasaan yang cukup hebat. Bagaimana tidak, anak seusianya harus menghadapi kenyataan dari peristiwa penculikan dengan dirinya dan mama sebagai korbannya.
Selain ketakutan, Alicia juga bersedih ketika melihat sang papa terluka demi menyelamatkan mama dan dirinya. "Tapi, Ma? Cia takut!"
"Tenang saja, dia kakak lelaki mama. Dan dia juga papamu, Nak!"
Rebecca meraih tangan anak kecil itu dan mengajaknya menuju ke arah Fabian. Haru dan tragis. Dua kata yang tepat untuk menggambarkan pertemuan papa dan anak itu. Rebecca juga larut dalam pelukan hangat yang entah kapan bisa berlangsung kembali lagi.
Begitu keinginannya terpenuhi, Fabian digelandang kembali ke kantor posisi untuk menjalani pemeriksaan sekaligus masa tahanan awalnya.
Alicia menangis dalam pelukan sang mama sambung, hati siapa yang tahan melihat keadaan seperti ini. Jangankan gadis kecil itu, anggota keluarga yang lain juga tampak menitihkan air mata.
"Ayo, pulang!" James berjalan dari arah belakang guna mengajak dua wanita yang ia sayangi untuk pulang ke rumah setalah semacam mengubah di hotel.
James dan Alicia sontak saling pandang karena mendengarkan jawaban nyeleneh lagi dari Rebecca.
"Berkemas?" tanya James meminta konfirmasi jawaban.
"Mama mau pindah?" Bukan hanya James saja yang begitu tercengang dengan kalimat ambigu Rebecca.
Barulah ketika ketiganya sampai di mobil Rebecca membuka suara, "Apa mama lupa mengatakan jika mama sudah mendaftar sebagai relawan."
"Apa?" tanya James sedikit berteriak hingga mengentikan aktivitas menyetirnya.
"Kita banyak kehilangan dokter toraks karena pandemi kemarin, jadi aku sempat mendaftar menjadi dokter bantu di rumah sakit cabang."
__ADS_1
"Ma ... mama?"
"Tidak! lalu bagaimana dengan aku?"
Keduanya kompak saling tidak menyetujui Rebecca. Bahkan Alicia juga mengancam tidak mau ke sekolah lagi jika mamanya pindah.
"Hei, apa anak mama mau jadi orang yang tidak pintar? Kamu bilang mau jadi dokter seperti mama?"
"Tapi, mama keterlaluan!"
"Katakan saja kau mengurungkan niat. Kalau perlu aku bisa mengatakan pada bagian yang mengurusi untuk menunda atau menggagalkan. Lihat saja putri kita juga tidak setuju."
Meski dua anggota keluarganya tidak setuju akan hal tersebut. Tetapi Rebecca tidak bisa membatalkan begitu saja. Pasalnya pekerjaan mulia seperti ini, tidak datang dua kali.
"Jangan seperti ini! kita sudah tidak muda lagi. Lagipula bukankah hal seperti ini bukan sekali dua kali kita lalui? Kamu sendiri juga jarang pulang ke rumah!" Rebecca mengingatkan jika LDR bukan hal baru di dalam rumah tangganya.
"Tapi itu lain, Becca. Aku masih bisa pulang? Lalu kapan pekerjaan itu akan berakhir?"
Dengan enteng Rebecca menjawab, "Aku tidak tahu, mungkin setahun ... atau bahkan dua tahun."
"Jangan bercanda, aku tidak setuju!"
...****...
__ADS_1
Lalu apakah kisah mereka happy ending? Happy ending atau tidak kita bisa melihatnya dari sisi setiap tokoh. Karena happy ending versi saya bukan melulu harus menikah, kaya atau memiliki seorang anak. Happy ending menurut saya adalah ketika saya bisa menggambarkan tokoh utama menggapai harapan sehingga resolusinya tepat seperti tujuan cerita. Bukankah demikian?