
"Sepertinya Rebecca ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganku," Jika tadi James sempat berburuk sangka dan berpikir telah terjadi sesuatu pada Becca karena tanpa ada alasan apapun mengajaknya keluar kota.
Seusai mengantarkan Alicia ke sekolah, James menghidupkan kembali mesin mobilnya seperti yang dikehendaki oleh sang istri.
Untuk tujuan, hingga detik ini Becca belum memberitahukan James ke mana mereka akan menghabiskan waktu berdua.
"Kau ingin kita ke mana?" tanya James memecah belah kebisuan di dalam mobil.
Namun, tidak seperti jawaban yang James inginkan. Melainkan Rebecca hanya menoleh sembari mengulas senyum dengan kedua lesung pipinya.
"Kan, ini ... udah bisa ya bikin orang penasaran?" Setengah mati James memacu otaknya untuk berpikir keras. Pasalnya sikap seperti ini bukan seperti Rebecca yang ia kenal.
"Aku hanya ingin bersenang-senang saja, ayo ke Puncak!"
Tanpa diduga, Rebecca tiba-tiba mengatakan ingin pergi ke Puncak. James terkesiap hingga membuat kedua matanya berbinar serta membayangkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya di daerah dingin nanti.
"Bener, nih?"
"Iya," jawab Rebecca. Wanita itu tak berhenti tersenyum manis kepada James. Hingga tanpa James sadari selama ini bahwa istrinya cukup cantik jika tersenyum seperti ini.
"Kau tidak menyesal jika nanti aku khilaf?"
"Hahaha ... aku sudah tahu betul akal busukmu," Bukan merajuk atau memaki seperti biasanya, Rebecca malah menggoda pria yang kini tak berkonsentrasi mengemudi itu.
Jika sedari tadi Rebecca hanya diam saja, maka kini dokter wanita itu mulai berubah. Sepanjang perjalanan, Rebecca selalu bercerita tentang masa mudanya. Ia telah terbiasa hidup mandiri terlebih lagi, keluarganya sangat membandingkan Becca dengan kakaknya yang telah meninggal.
"Andai kau tahu, kakakmu tidak sebaik yang kau tahu. Mungkin kau akan lebih kecewa lagi. Dan tak kan aku biarkan hal itu terjadi." James bersumpah tidaka akan memberitahu Rebecca mengenai rahasia kakaknya. Karena James tidak ingin wanita yang kini menjadi miliknya itu bersedih lagi.
"James, jika aku menyakitimu apa kamu akan memaafkan aku?" tanya Rebecca tiba-tiba di sela perjalanan menuju tempat yang ia inginkan.
"Jangan katakan seperti itu!'
"Oya, James entah kenapa aku ingin sekali makan siomay. Tapi ... "
"Tapi apa?" Pria itu ingin sekali mendengar kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir yang pernah ia cicipi.
"Tapi, yang asli Bandung, ya? Jadi bolehkah kita ke Bandung, James?"
"Bandung?" James mengerutkan dahinya
Sekonyong-konyongnya, James tersentak dengan pertanyaan tak terduga Becca. Darimana wanita itu menemukan ide gila seperti ini. "Bukankah tadi kau ingin ke Puncak?"
"Itu terlalu dekat, gimana kalau lebih jauh lagi."
Permintaan dari Rebecca seolah titah dari kaisar yang harus dijalankan. Dan sudah menjadi tugas James lah untuk membahagiakan sang istri selama ia masih sanggup. Bukankah kebersamaan seperti ini sangat langka bagi keduanya? Dalam kesimpulan masing-masing, bertemu setiap hari saja sudah lebih dari cukup bagi James.
"Oke, untung saja kita belum masuk toll," Meski sedikit mengeluh toh nyatanya pria itu tidak bisa menolak permintaan sang istri.
__ADS_1
"Nah gitu dong," Rebecca memberanikan diri untuk menguji seperti apa perasaan pria itu padanya. Yak tanggung-tanggung, Becca bahkan sempat mencubit kecil pinggang James yang tengah mengemudi.
Bukan merasa kesal atau marah, James malah menggoda sang istri dan mengejek jika wanita itu sudah tidak tahan. "Kalau sudah tidak tahan, haruskah aku berhenti di hotel terdekat?"
Rebecca nyengir menanggapi ejekan James, mama sambung Alicia itu lalu mengambil sebuah boks plastik dalam sebuah tas di kursi tengah. Rupanya Becca sempat menyiapkan perbekalan berupa potongan buah segar.
Selain memakannya sendiri, Rebecca juga menyuapi sepotong semangka merah ke mulut pengemudi.
James menduga jika sikap perhatian dari sang istri itu memiliki niat terselubung, "Ini pasti ada maunya ya?"
"Hai aku ini tulus, pernahkah kamu melihatku jahat padamu?"
Lebih baik James mengalah daripada Rebecca mengurungkan niatnya untuk bersenang-senang berdua. Bisa gagal dong ya jika sampai wanita itu menolak dirinya nanti.
"Iya, deh! kau begitu menyayangi aku dan Alicia."
Kali ini Rebecca lah yang tampak keberatan, ia kembali mencubit lengan sang suami. "Garis bawahi, aku hanya menyayangi Alicia. Bukan papanya."
"Tapi cinta, 'kan?" Melihat gelagat gengsi dari Rebecca, James juga tak kuasa menggoda hingga membuat wanita itu nyaris memikulnya lagi.
"Kamu sendiri bagaimana?" Nah loh, serba salah bukan? Niatnya ingin menggoda malah James yang kini tergoda.
"Kami bilang, aku sudah tak pantas bertingkah seperti anak remaja. Jadi untuk apa bertanya seperti itu?"
"Kekasih yakini cintaku
Disinilah cintaku berlabuh
Berakhir karam di hatimu
Cerita cinta anak remaja
Menggauli kidung kasih
Punahkah takut dihati
Terkutuklah bila kita berpisah
Slamanya harus bersama
Buktikan kita bahagia
Tentang dia tak perlu kau risau
Lagu cinta hanya untuk kita
Dan kini tidur ku tersenyum
__ADS_1
Oh gadis aku cinta padamu,"
Lantunan lagu yang berjudul Tentang Cinta mengiringi perjalanan mereka menuju kota kembang. Agaknya lagu itu menjadi ungkapan hati James dan juga Rebecca.
Kini kebisuan kembali hadir, hanya sayup-sayup lagu ciptaan Melly Goeslaw itu yang menemani. Mereka berdua hanyut dalam pikiran masing-masing.
"James, aku ingin meminta sesuatu padamu."
"Apa itu? Semua yang kupunya telah kuberikan padamu."
"Rahasia, tunggu hingga kita sampai!"
Begitu lagu telah usai, tak ada lagi kesunyian di antara mereka. Baik James maupun Rebecca sama-sama bercerita kehidupan masing-masing sebelum saling kenal.
Dan barulah Rebecca ketahui jika selama ini, luka hati pria itu begitu dalam. Tanpa sadar, Rebecca sempat menitihkan air mata mendengar curahan hati James tentang kehidupan monoton yang ia alami sebagai duda satu anak.
Semenjak kepergian Raisa, James tidak tertarik sama sekali melanjutkan kisahnya. Hingga pada suatu penerbangan mempertemukannya dengan Rebecca. Mulai dari situlah kehidupan James terusik.
Rebecca juga sempat menduga jika pria itu masih sangat memikirkan sang istri, Raisa. Sebab selama hampir lima tahun itu, James tak terlihat mencari pengganti Raisa.
"Apa dia masih ada di hatimu, James?" Rebecca memberanikan diri mencari jawaban untuk semua pertanyaannya nanti. Perasaan James terhadap Raisa seperti apa, Becca ingin mendengarnya langsung dari mulur pilot ganteng itu.
James tidak menjawab, ia memilah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya ada Rebecca.
"Tidak bisa dipungkiri, dia adalah mama dari Alicia. Dia akan tetap menjadi sebuah kisah di dalam hatiku." jawabnya dengan kalimat dewasa.
Sadar jika posisi ini milik Raisa, membuat Rebecca puas akan jawaban dari James dan tidak akan lagi mengungkit nama Raisa kembali. Karena pada saatnya nanti, Becca akan menyerahkan semua itu posisi yang seharusnya.
"Takdir hidup setiap orang memang berbeda, aku hanya tokoh sampingan saja. Dan aku tak berhak meminta akhir yang bahagia." (Rebecca)
...****...
Cerita cinta anak remaja
Menggauli kidung kasih
Punahkah takut dihati
Terkutuklah bila kita berpisah
Slamanya harus bersama
Buktikan kita bahagia
Tentang dia jangan pernah terlupa
__ADS_1
Biar menjadi cerita
Di balik cerita kita