
Sepanjang koridor rumah sakit menuju ruang ICU, James dan Rebecca saling bergandengan tangan untuk menguatkan satu sama lain. Meksi seorang pria dewasa, nyatanya James masih memerlukan dukungan moril dari sang istri. Apapun yang akan terjadi nantinya, James berharap semua pihak bisa menerima dengan lapang serta tetap berharap hubungannya dengan Rebecca tidak terusik akan datangnya kenyataan ini.
Sesekali Rebecca menatap kedua manik kehitaman James, jauh di dalam bola mata itu Rebecca melihat sebuah duka yang begitu mendalam. "Kamu siap?"
James hanya mengangguk dan semakin erat menggenggam tangan Rebecca. Pria itu merasa hanya hidup mengandalkan perasaan Rebecca saja.
Begitu seorang perawat mempersilakan masuk, Rebecca meminta agar James saja yang lebih dulu mengunjunginya Raisa di dalam ruang insentif itu.
"Tidak bisakah kita bersama?" pinta James pada wanita yang begitu ia cintai kini.
"Peraturannya gitu, aku akan menunggu di depan sini. Kamu bicara saja dengannya. Dia pasti sudah lama menunggumu, James."
Menurut dokter yang menanganinya, Raisa dinyatakan mati otak akibat kecelakaan mobil yang membuatnya koma tak sadarkan diri hingga kini. Tak hanya itu, pihak rumah sakit juga menyatakan mama kandung Alicia itu diperkirakan tidak bisa berumur lama. Raisa menderita cedera otak anoksia yang parah dan masih koma, dalam kondisi kritis akibat benturan di kepalanya.
Anoksia merupakan kondisi ekstrem saat tubuh atau otak kehilangan simpanan oksigen. Anoksia biasanya merupakan hasil dari hipoksia, atau penurunan oksigen pada jaringan meski aliran darah terbilang cukup.
Kondisi anoksia berbahaya bagi otak. Hal ini karena dalam empat hingga lima menit usai oksigen habis, otak bisa mengalami kerusakan permanen berupa sel otak mati dan memengaruhi fungsi otak.
James merasa langkahnya begitu berat hingga sampai pada ujung ranjang tempat Raisa berbaring. Wajah itu masih sama, meskipun telah lama tidak bertemu, Raisa masih cantik seperti dulu. Hanya saja, kini tubuhnya tampak kurus dan pucat.
"Lama tidak bertemu, Ra?" sapa James sedikit canggung dengan keadaan di dalam ICU ini.
James kemudian melihat ke sekeliling ruangan tersebut, beberapa alat bantu kehidupan dipasang guna mendukung kehidupan Raisa. Jujur saja, James iba dan tak sampai hati melihat Raisa.
"Jika kau berharap aku ke sini, maka kini aku sudah menjengukmu. Dan aku tidak akan memperpanjang masalah di antara kita, Ra. Semua itu atas permintaan Rebecca, istriku dan mama Alicia."
__ADS_1
James berbicara panjang lebar meski Raisa tetap saja menutup matanya. Ia merasa jika Raisa mampu mendengarkan perkataannya. Jadi James akan terus menunggu Raisa meresponnya.
"Aku sudah berdamai, Ra. Dan kau tahu Cia putriku kini telah tumbuh menjadi gadis yang cukup pintar dan cantik seperti kamu." Namun, Raisa sama sekali tidak memberikan responsnya pada James.
Tetapi, James tidak patah semangat. Niat pria itu untuk berdamai dengan Raisa sudah bulat. Jika dipikir-pikir oleh James tidak ada salahnya menyudahi dendam ini dan mari menjalani hidup senormal mungkin bersama Rebecca dan Alicia.
"Dia datang ke sini juga, dan mungkin dia ingin menyapamu. Alicia memiliki mama yang begitu menyayanginya dan juga aku." James teringat telah membuat Becca menunggu lama demi pertemuannya dengan Raisa.
James lalu, pamit pada Raisa untuk bergantian dengan Rebecca. "Selamat tinggal, Ra! kuharap kamu akan bahagia!"
Pria itu membuka pintu ICU setalah berbicara panjang lebar dengan Raisa dan segera menemui istri yang James cintai.
Namun, keberadaan Rebecca yang tadi berjanji akan menunggunya di depan ICU tidak tampak terlihat.
"Ah, mungkin dia ke kamar mandi," James kini duduk di ruang tunggu depan ICU dan bersabarlah menunggu sang istri yang ia pikir ke toilet.
Tak lupa James juga mengubungi nomer ponsel Rebecca untuk menanyakan keberadaannya. Namun itu semua nihil. Becca sama sekali tidak mengangkat panggilan James.
**
Sehari sebelum Rebecca mengajak James pergi menemui Raisa. Rebecca sempat bertemu dengan Fabian. Entah kebetulan atau memang sudah direncanakan oleh Tuhan, keduanya secara bersamaan berada di makam sang papa.
Memang Rebecca lah yang lebih dulu datang lalu disusul oleh Fabian. Dua kakak beradik itu bertemu untuk pertama kali selama kurang lebih lima tahun.
Tak ada perselisihan ataupun perkelahian di antara keduanya. Hanya isak tangis lah yang menjadi pembuka pertemuan antara dua insan itu. Rebecca tidak mampu lagi membendung rasa harunya.
__ADS_1
Meski Fabian berkali-kali memintanya untuk meninggalkan James, tetapi Rebecca tetap bergeming dan berkata, "Aku punya cara sendiri. Kalian tidak bisa lagi menipuku!"
Fabian merasa sungguh menyesal telah menyakiti Rebecca serta sang mama. Dan bersumpah tidak akan lagi menyakiti mereka. Dengan satu syarat agar Rebecca mau meninggalkan James.
"Tidak perlu kakak ingatkan, aku sudah tahu posisiku." ucap dokter wanita itu sebelum pergi meninggalkan sang kakak.
Hati Rebecca sangat hancur saat itu. Ia tidak menyangka jika orang-orang yang dekat dengannya ternyata tega membohongi Rebecca. Termasuk juga James, sang suami.
Sebelum kembali ke rumahnya, Rebecca terlebih dahulu mencari informasi tentang pasien koma yang dirawat di kota kembang. Atas acuan itulah, Rebecca mampu menemukan Raisa.
Selain itu, Rebecca juga mempersiapkan masa depannya. Ia tidak ingin lagi terlihat di antara dendam orang-orang yang tega memobilisasi dirinya.
Rebecca telah menyusun rencana ke depan, hingga bisa memastikan jika dirinya tidak akan bersinggungan lagi dengan mereka.
**
"Sayang, kau ini di mana? Kenapa suka sekali membuat orang panik?" keluh James karena sampai saat ini ia tidak menemukan sang istri.
Tidak hanya itu saja, Nyonya Melati juga dikabarkan telah mengalami goncangan hingga dilarikan ke rumah sakit karena Thomas secara tidak sengaja membocorkan rahasia mereka.
James benar-benar berada di antara dua jurang saat ini. Mama serta sang istri yang begitu cintai kini tak tahu seperti apa kondisinya.
Pria itu dihadapan oleh dua pilihan, yakni kembali ke Jakarta atau tetap mencari Rebecca.
Pastinya, Nyonya Melati lah yang harus diprioritaskan karena kondisi kesehatannya. Untuk masalah Rebecca, James telah mengerahkan pada orang kepercayaannya untuk melaksanakan tugas dari James yakni menemukan Rebecca.
__ADS_1
Hal ini lah yang sangat ditakutkan oleh James. James pikir jika Rebecca telah menyerah dan merasa jika James akan kembali kepada Raisa. Namun, pada kenyataannya James tidak lah demikian. Ia telah memilih kepada siapa kapalnya akan berlabuh. James telah memilih ke mana masa depannya akan gantungkan.
"Harusnya dia tahu, aku tidak mungkin kembali kepada Raisa. Karena aku mencintainya. Aku mencintaimu, Rebecca."