
Kondisi Nyonya Melati berangsur membaik, meski masih terbaring lemah di kamar VVIP. Pemilik rumah sakit tempat Rebecca itu bersikeras ingin dipulangkan agar bisa beristirahat di rumah. Tetapi, James tidak setuju dengan permintaan mamanya. Pria dewasa itu tidak ingin lagi mendengar kabar yang tidak sedap untuk akhir-akhir ini. Karena kehilangan jejak Rebecca saja sudah membuatnya cukup terguncang hebat.
Tidak bisa dipungkiri lagi, James sangat terpukul. Bahkan ia sampai menyewa jasa detektif serta meminta bantuan pihak kepolisian. Dalamnya perasaan itulah yang membuat James tidak bisa lagi berkompromi dengan kepergian Rebecca.
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Berkali-kali ia mencoba menenangkan pikirannya. Namun, James benar-benar tidak bisa bersikap tenang sebelum Rebecca berada di sisinya.
Merasa sang mama sudah lebih mendingan, James segera bergegas menjemput sang putri. Kini, tugas sebagai mama harus dirangkap James semenjak kepergian Rebecca.
"Kau ini di mana? Tidakkah kau kasihan pada putri kita?" keluh James sebelum ia keluar dari mobil sembari memandangi foto Rebecca pada ponselnya.
Keluarlah James sesaat kemudian, ia tidak ingin Alicia terlalu lama menunggu sang papa. Kini, James bisa merasakan seperti apa rasanya menjadi Rebecca. Dan James juga kini sadar bahwa hidupnya telah bergantung pada wanita yang ia nikahi sebulan lebih ini.
Meski hatinya masih belum terbiasa sendiri, James mencoba kuat demi Alicia. Dengan langkah gontai James berjalan menuju sekolah Alicia serta menunggu putri kesayangannya.
Tetapi, sial bagi James. "Loh, bukannya Alicia sudah pulang?" tegur Arum, guru sekolah Taman kanak-kanak Alicia.
"Apa maksudmu, Rum?" James tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Arum.
"James, setengah jam yang lalu. Istri serta keluargamu menjemput Alicia."
Lutut James lemas seketika. Papa Alicia itu tidak menyangka jika sang putri kesayangannya dibawa oleh Rebecca. "Ini tidak benar, aku tahu seperti apa dia."
Tak ingin hanya menunggu serta menunggu. James segera memacu kendaraannya mencari keberadaan Alicia serta Rebecca. Jika perlu hingga ke ujung dunia pun akan ia datangi. Karena ia yakin, Rebecca tidak akan melakukan tindakan sedemikian. "Jika ia mau menculik Cia, kenapa tidak dari dulu." James percaya jika Rebecca bukan irang yang seperti ia tuduhkan dulu.
__ADS_1
Selain mengubungi pihak yang berwajib, James juga mengerahkan seluruh kuasanya untuk menemukan keberadaan keluarga kecilnya. Tak tanggung-tanggung, sebuah perusahaan keamanan ia kerahkan untuk itu.
Dari kamera yang tersebar di titik-titik jalan. Ditemukan sebuah mobil yang membawa wajah yang begitu James kenal. Anggapannya benar, Rebecca tidak melakukan semua ini atas inisiatifnya.
"Fabian, ke pa rat itu belum juga kapok melakukan ini semua padaku." Ingin sekali James memecahkan kepala pria itu. Selama ini James tak ambil langkah keras karena melihatnya sebagai kakak kandung Rebecca. Tetapi, kini pria itu berani menculik anak serta istrinya.
**
"Sadarlah, Kak! aku tahu kakak bukan orang yang seperti ini." jerit Rebecca begitu ia serta Alicia dimasukkan ke dalam sebuah ruangan pengap yang tidak ia ketahui keberadaannya.
Sejak tadi, Cia menggigil ketakutan. Ia sangat takut jika pria yang sejak tadi mengancam mamanya akan melakukan hal keji. Sehingga Cia terus saja menangis di pelukan sang mama.
"Diam ... kalian juga harus sadar! dia bukan pria yang pantas kalian sebut keluarga. Karena akulah keluarga kalian."
Tak ingin mengambil risiko Rebecca melakukan perlawanan membuat Fabian mengikat kedua tangan Rebecca dan juga Cia. Setelah semuanya aman. Pria yang diketahui keberadaannya oleh James itu berniat membawa anak serta adiknya pergi keluar negeri.
"Mama ... " Cia terus saja menangis' melihat penderitaan sang mama.
Tetapi, Rebecca selalu menguatkan gadis kecil itu bahwa keduanya akan baik-baik saja.
"Apa papa akan menyelamatkan kita dari sini, Ma?'
"Ada atau tidak papamu, kita akan selamat. Karena mama tidak akan diam saja."
Rebecca meminta Cia untuk menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengannya. Dengan perasaan hancur, diciumi kepala Cia agar gadis itu tidak merasa takut lagi karena ada dirinya. Keduanya saling menguatkan.
Rebecca tak kehilangan akal, ia bergerak seperti layaknya seorang ulat demi menggapai tangan sang anak sambung. Dengan sisa tenaga dari mulutnya, ia berusaha melepas ikatan sang anak. Sekuat tenaga Becca melakukan hal tersebut. "Jangan takut, ada mama di sini!"
Gadis kecil itu kini lebih tenang dari sebelumnya. Bahkan Cia bertanya pada sang mama, ",Apa yang bisa Cia lakukan untuk mama?'
"Tetaplah berbahagia demi mama,"
**
Begitu keberatan penculik anak serta istrinya telah diketahui, James segera mengumpulkan perlengkapan untuk pergi menyelamatkan kedua jantung hatinya.
__ADS_1
Berkali-kali wajah kedua wanita itu terus membayangi James. Bahkan Rebecca berjanji akan menunggunya di depan kamar Raisa kemarin. Ternyata semua itu adalah ulah sang kakak.
Tidak hanya sendiri, James juga dibantu sang adik yang begitu perhatian terhadap nasib sang keponakan dan juga kakak ipar. Perhatian pada Rebecca itu tak lebih sekadar saudara saja, karena Thomas telah mengikhlaskan Rebecca berbahagia dengan Kakaknya.
Tepat sebelum magrib, James telah tiba di depan rumah bergaya kuno. Tempat yang diduga digunakan untuk menyekap Rebecca serta Alicia.
Mendengar suara ribut di luar, membuat Fabian berjaga-jaga. Tak lupa ia menyelipkan sebuah pisau selain pistol yang selalu ia bawa. Dan pistol itulah yang Fabian gunakan untuk menakut-nakuti Rebecca dan Alicia.
Sadar akan adanya ancaman dari luar, membuat Fabian semakin menunjukan sikap bertahan. Ia tidak akan kalah begitu saja. Jika dilihat, semua ini telah ia susun sejak awal sehingga Fabian begitu terampil dan bergerak rapi
Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah
Anug'rah cinta yang pernah kupunya
Kau buatku percaya ketulusan cinta
Seakan kisah sempurna 'kan tiba
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama
"Di mana anak istriku?" James langsung spontan tanpa menggunakan sikap ramah-tamahnya di depan Fabian lagi. Emosinya telah membuncah mana kala memikirkan apa yang sudah dilakukan oleh pria tak waras itu.
"Anak? Dia darah dagingku. Apa kau lupa?"
"Cih ... secara hukum dia anakku, anak yang lahie dari pernikahanku dan Raisa."
Mendengar nama Raisa disebut oleh James, semakin membuat Fabian diliputi api amarah. Pasalnya kalimat itu menekankan jika ia telah kalah mendapatkan Raisa. Padahal kenyataannya iya.
"Kau tidak pantas bahagia, aku tidak akan menyerahkan mereka padamu."
__ADS_1
Bukan sekali ini saja Fabian merasa kesal. Sejak ia tahu jika Rebecca telah dinikahi oleh James. Fabian merasa iri. Iri karena James benar-benar bisa melupakan masa lalunya. Apalagi ia memiliki keluarga utuh dan tampak lengkap.
Menurut Fabian, tidak lah pantas bagi James untuk menikmati hari-harinya. Ia harus terus menderita karena rasa penyesalan kepada mereka. James tidak boleh bahagia. Ia pantas menerima apa yang telah ia lakukan pada Raisa dan Fabian. Itu menurut Fabian.