
Rebecca penasaran dengan sikap aneh papa Alicia. Dinaikinya tangga menuju lantai dua rumah James dengan hati menerka-nerka. Jika Cia mengatakan papanya telah cemburu pada si pengirim bunga, maka Rebecca akan mencari tahu kenyataan yang sesungguhnya.
Sekali Rebecca mengetuk pintu kamar James dengan punggung tangannya. Namun, tak ada respon sama sekali.
Sedetik kemudian terdengar suara dari dalam, "Keluar,"
Tetapi, Rebecca tidak patah semangat. Kembali ia mengetuk ruang pribadi James tersebut seraya berkata, "Aku ingin bicara!"
Tak berselang lama, sebongkah kepala muncul dari balik pintu tersebut dan menatap tajam ke arah Rebecca, "Ada apa? Jangan ganggu aku!"
Pandangan Rebecca naik turun mencoba mencari sebuah jawaban seperti yang dikatakan oleh Alicia. "Di mana letak cemburu itu? Kurasa dia masih menyebalkan seperti biasanya,"
"Jika tidak ada hal penting, pergilah!" James mengusir Rebecca untuk segera meninggalkan kawasan kamarnya. Namun, justru Rebecca semakin ingin tahu hingga membuatnya tetap kekeuh di tempat itu.
"Kau ingin makan apa untuk sarapan?" tanya Rebecca dan ia mulai menyadari kesalahannya dengan memberi pertanyaan basa-basi yang mungkin akan membuat James semakin membentak dirinya.
"Kenapa?"
"Umh ... aku bisa menyiapkan," Canggung, percakapan konyol seperti itulah yang kini menjadi penghubung di antara mereka berdua. Meskipun Rebecca sangat paham jika apa yang ia ucapan tadi pasti memiliki risiko seperti ini.
James sedikit membuka pintunya dari yang tadi tanya terbuka sedikit. "Benarkah? Kau akan memberikan yang aku mau?"
"Benar, dan aku juga ingin bertanya padamu nanti!" Wanita itu masih memiliki semangat juang tinggi untuk mengorek isi hati James ketika bersamanya di ruang makan.
Pintu dibuka lebih lebar lagi, sedangkan James memerani diri untuk menarik tangan Becca masuk ke dalam kamarnya.
"Kita bisa membicarakannya di ruang makan, aku akan menyiapkan sarapan untuk kau dan Alicia," Rebecca keberatan jika harus membahas masalah tadi di kamar yang membuatnya pengap seperti ini
Karena ini merupakan kali pertamanya masuk ke dalam area terlarang tersebut. Kamar yang didesign dengan nuansa abu-abu itu terkesan sunyi untuk sebuah tempat peristirahatan. Ada sebuah ranjang besar tepat di samping jendela yang menghadap ke utara. Selain itu, jika Rebecca menyebut James pria klasik memang bukan tanpa alasan, James senang mengkoleksi barang-barang lama seperti lukisan serta lampu gantung antik.
"Sarapan Alicia telah disiapkan oleh bibi, tinggal kau saja yang perlu menyiapkan sarapan untukku,"
"Oke, kalau begitu aku ke bawah dulu!"
Rebecca berniat kembali ke lantai bawah, karena tugasnya mencari tahu jika James ngambek seperti yang dikatakan oleh anaknya telah terlaksana. Jawaban yang didapat Rebecca menyatakan jika pria klasik itu tak marah, semua itu terdengar dari tutur katanya yang manis tadi.
__ADS_1
"Mau ke mana? Kita sarapan di sini, Dear!"
"Hem?" Rebecca cengo dong, ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh suaminya.
Dengan senyum iblisnya, James menunjuk ke arah ranjang besar yang berada tepat di depannya, "Kita sarapan di sini, karena aku ingin memakanmu!"
"Bajing an ... nih orang masih dendam ya dari semalam," umpat Rebecca di dalam hatinya.
"Jika membunuh orang tidak melanggar hukum, aku pasti sudah membunuhmu," Rebecca berancang-ancang segera pergi dari tempat terkutuk itu. Wanita itu tak ingin kegiatan selama terulang kembali dan James menjadi lebih liar dari di dalam Stateroom.
"Mau ke mana? Kita lanjutkan yang kemarin malam, ya?"
"Jangan macam-macam, James ... aku bisa menuntutmu dengan pasal pelecehan,"
Bukan makin mengendurkan niatnya, pria itu malah terpingkal dengan ancaman Rebecca, bagaimana bisa ia akan menuntut suaminya sendiri sebagai pelaku pelecehan?
Tak perlu banyak bicara lagi, segera James melakukan reka adenan seperti kemarin malam. Bahkan penolakan dari Rebecca semakin membuat James bersemangat menaklukkan lahan kosong itu.
Senyumnya James semakin mengembang lagi, bukan karena berhasil merobek dress Rebecca saja, tetapi pria klasik itu juga telah mampu mendobrak pintu besi yang selama ini terjaga.
Tak dihiraukannya Rebecca yang terus menerus mengumpatinya, karena nanti pada kenyataannya Rebecca lah yang akan berterimakasih pada James karena telah memberikan pengalaman pertama yang begitu menggelora.
Peluh mereka mulai berjatuhan, menikmati setiap sentuhan dan eraman. Tak terasa, kegiatan panas itu berjalan melebihi waktu yang diperlukan. Iya tak menyangka meskipun tak semuda dulu, tetapi semangat James masih terus membara.
"Terimakasih sarapannya ya, Dear. kamu di sini saja! akan kubawakan sarapan ke sini untukmu," ucap Pria klasik itu dan kini James bergegas mengenal celana panjangnya yang terjerembab di lantai tadi.
"Pria psikopat!"
"Yes, i am."
Rebecca menjerit jengkel begitu James menutup pintu kamarnya. Bagaimana tidak, niat untuk mengorek informasi malah berimbas dirinyalah yang dikorek oleh James.
**
"Papa lama banget, sih? Mana mama?" gadis kecil yang tengah menikmati selembar roti gandum itu menanyakan di mana mamanya. Karena yang Cia tahu, mamanya lah yang ia dorong untuk memanggil papanya.
__ADS_1
"Mama masih capek, Cia. Ini aja papa bawain sarapan ke atas,"
"Pa?"
"Iya,"
"Apa papa dan mama berantem lagi?"
James tertawa mendengar pertanyaan Alicia pasalnya, ia bingung juga harus menjawab apa kepada anak berusia lima tahun itu. Karena tidak mungkin James menjelaskan kegiatannya pada Alicia.
"Tidak, papa dan mama baik-baik saja," James berdalih dirinya dan Rebecca baik-baik saja. Meski tak bisa dibohongi lagi. Apa yang dikatakan oleh Cia anak 5 tahun itu ada benarnya, bahwa James dan Rebecca memang baru saja berkelahi. Berkelahi di atas ranjang maksudnya.
Guna menghindari adanya pertanyaan susulan dari anaknya, James bergegas membawa sebuah baki berisi penuh dengan roti serta susu untuk ia bawa ke lantai atas menuju kamarnya. Segera saja James memberi asupan makanan sebagai ganti tenaga Rebecca yang terkuras.
**
Weekend seperti ini, jadwal James tetap padat. Ia tidak mengeluh sama sekali jika menyangkut masalah pekerjaan. Terlebih lagi, baterai tenaganya telah diisi penuh pagi tadi.
Untung saja, Rebecca tidak memperpanjang masalah yang ia timbulkan pagi tadi. Wanita itu hanya ingin merevisi kontrak hubungan di antara James saja.
Sebelum James kembali bekerja, Rebecca memintanya untuk mengubah kesepakatan itu dengan menghapus serta mengganti pasal yang tidak perlu.
Dan James telah menyiapkan sebuah alasan yang membuat Rebecca tidak bisa lari darinya.
Wanita itu membaca pasal tiap pasal yang tertulis di lembar kesepakatan tersebut. Sudut bibirnya sedikit terangkat membaca kesepakatan tersebut. Selain itu, Rebecca juga sedikit meremas selembar kertas tersebut.
"Kenapa jadi gini? Ini namanya kita menikah sungguhan."
"Bukanlah itu benar, kau baca saja pasal satu aku bertanggungjawab sepenuhnya dengan memberikan nafkah lahir batin."
"Selama ini kamu sudah membayar gajiku, kenapa diubah sembarangan?"
"Hei, asal kau tahu? Aku ini suami yang bertanggungjawab. Aku tak mau anak serta istriku menderita karena kurang nafkah lahir dan batin,"
"Cukup lahir saja, batin tidak perlu!" Rebecca menolak dengan penuh penekanan.
__ADS_1
"Jadi kau hanya mau One Night Stand saja?
...****...