
"Kita bicarakan nanti, kau tenangkan diri dulu. Aku tidak akan mengganggumu, Sayang!" James meninggalkan Rebecca yang sudah terlihat lebih tenang. Sebagai orang yang lebih dewasa dari sang istri, James memberi Rebecca sedikit ruang untuk berpikir serta menenangkan dirinya.
Tak mau kehilangan wanita yang penting untuknya, membuat James menurunkan serendah-rendahnya ego di dalam hatinya.
Takut jika Rebecca benar-benar meninggalkannya, membuat James menyingkirkan semua gengsi yang ia miliki.
Tetapi, tak ada jawaban dari Rebecca. Meski sudah lebih tenang. Namun, bibir tipis itu tak mau membuka sebuah kalimat sedikitpun.
"Tetaplah di sini, jika kau mau pergi beristirahat. Pergi lah ke tempat yang mudah kudatangi." Sebelum pergi, James tidak lupa mengecup kening sang istri sebagai rasa sayang.
Harapan terbesar James adalah tetap bisa menjaga hubungan suami istri ini hingga kapanpun. Rasa cinta kasih yang telat ia tahu ini, membuat James sangat takut kehilangan Rebecca.
"James ... " panggil Rebecca sebelum pria itu keluar dari kamarnya.
"Apa? Ada yang ingin kau katakan padaku?" Pria itu benar-benar mengubah cara bicara serta pemikiran. Semua itu demi Rebecca.
"Jika suatu saat nanti, kamu melihat takdir lain, apa kamu masih seperti ini?" Pertanyaan bodoh itu diajukan oleh Rebecca mengingat jika Raisa yang notabenenya Istri James masih hidup. Rebecca sangat tidaklah ingin dicap sebagai orang ke tiga.
"Aku tidak akan berubah, kita akan tetap bersama," jawab Pria itu dengan mantap sebelum menutup pintu kamar yang dihuni oleh sang istri.
Pilot terampil itu kini mengalah, ia tidak akan lagi memaksa Rebecca untuk masuk dan tinggal di kamarnya. James akan menunggu hingga Rebecca bersedia dengan kesadaran penuh mencarinya. Ia yakin jika suatu saat nanti, Rebecca akan bisa menerima James dengan tulus seperti menerima Alicia sebagai putrinya.
"Aku akan memberimu waktu, datanglah kepadaku jika kau sudah siap sepenuhnya!" tulis James dalam pesan singkatnya pada Rebecca.
Meski tak ada balasan dari Rebecca, hati James sedikit lega karena Becca sudah sudi membacanya. Kini, hubungan mereka telah berubah, jika dulu James lah yang mendominasi dan membuat Rebecca takut padanya. Kini lain, James harap-harap cemas menanti kesiapan hati wanita yang kini menjadi istrinya.
**
Meski badai telah berlalu, tetapi suasana di rumah klasik itu masih tak berubah. Rebecca belum menampakkan sama sekali batang hidungnya.
"Ibu belum keluar?" tanya James pada bibi pelayan ketika belum melihat sama sekali istrinya.
Tidak seperti biasanya, jika penghuni rumah sering melihat Rebecca wira-wiri ketika pagi dengan segala sikap bawelnya. Maka beda dengan pagi ini.
"Jangan-jangan dia .... " Hati James tidak tenang. Selain belum mengunjungi kamar Alicia, bibi berkata, "Ibu belum keluar dari kamar,"
Hal itu membuat James semaki panik dan bergegas menuju kamar Rebecca di sebelah kamar Alicia.
Untung saja, dokter wanita itu tidak mengunci pintunya. Mungkin ia sempat keluar tanpa diketahui oleh bibi. Ataukah ia memang sudah keluar dari rumah ini.
Degup jantung James semakin berirama kencang. Karena ini adalah ketakutan terbesarnya selama ini. Untung saja anggapan itu salah, Rebecca keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya serta.
"Syukurlah," Meski tampak bodoh, jujur saja James sempat mengelus dada serta membuang napasnya dengan lega.
"Ada apa?" tanya wanita itu tanpa peduli jika James sudah setengah mati mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
"Jangan begini lagi, ya! bikin aku cepet kena stroke," James langsung duduk di depan meja rias Rebecca untuk mengistirahatkan pikiran serta staminanya yang terkuras karena panik.
Pria itu sadar, ia tidak muda lagi. Jadi sedikit saja ia mendapatkan kabar tidak mengenakan, James akan cepat panik.
"Apa kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat," Rebecca mendekati James yang masih terengah-engah duduk di dekat jendela.
"Aku hampir kena serangan jantung karena kamu!" goda James dengan sedikit lelucon agar suasana kembali hidup.
Rebecca penasaran apa yang disebutkan oleh James, hingga dokter wanita itu mendekati James dan meletakkan tangan kanannya pada pergelangan tangan sang suami.
"Dia tidak berbohong," Rebecca percaya dengan kata-kata James. Jantung pria itu berdetak dengan kencang.
"Aku takut sekali, kau meninggalkanku!" ujar James dengan jujur di depan Rebecca.
"Benarkah?"
"Iya, dan mungkin ber cin ta bisa menenangkan aku," godaan serta pancingan emosi itu tidak ada salahnya, jika Rebecca mau, James akan senang hati.
"Jangan ngaco, deh!"
"Yah gagal, deh."
"Ehem ... apa kamu masih mau di sini terus? Aku mau ganti baju," sindir Rebecca pada pria yang masih betah berada di dalam kamarnya.
"Kenapa? Aku sudah pernah melihatnya, bahkan bisa hapal dengan kedua mata tertutup,"
**
"Kamu tidak bekerja?" cecar Rebecca karena heran, James terus saja mengikuti. Seperti saat ini, ketika Becca menemani sarapan Alicia.
"Bentar lagi, aku akan mengantar kalian berdua." Jawabnya singkat namun pasti.
"Bagaimana jika kita keluar kota, James?" usul Rebecca ini disambut dengan penuh rasa girang dari James.
Pasalnya ia tidak menyangka jika Becca akan berinisiatif mengajaknya berkencan seperti pasangan muda pada umumnya.
"Cia ikut ya, Ma?"
Tetapi, Rebecca memberi pemahaman kepada sang putri bahwa perjalanan ini khusus untuk mama dan papanya.
"Cia bisa ikut Oma atau nenek, karena mama dan papa mau membuatkan kamu adik,"
Jawaban dari James itu membuat Rebecca tersedak ketika minum susu. Entah mengapa akhir-akhir ia gemar meminum susu seperti Cia kecil.
"Bukan begitu, Nak! mama dan papa ada urusan sebentar. Tidak lama, hanya sebentar saja. Setelah urusan selesai, kita akan pulang."
__ADS_1
James menangkap sesuatu yang mencurigakan dari perkataan Rebecca. "Sepertinya, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padaku,"
"Ada apa, Dear?"
"Aku ingin izin kerja hari ini, ayo kita keluar kota, James. Aku bosan di kota ini."
Sepertinya James juga tidak keberatan dengan ide Rebecca. Apapun akan ia lakukan agar wanita itu tersenyum lagi.
"Jangankan keluar kota, Dear! keluar negeri juga ayo." Kemudian James menambahkan, "Perlu aku reservasi penerbangan kita?"
"Tidak, kita naik mobil saja. Banyak yang harus kita bicarakan di sepanjang jalan."
James menyetujui ide Rebecca. Sebelum pergi, keduanya akan mengantarkan Cia ke sekolah dan meminta nenek Cia untuk menjemput cucu kesayangannya.
**
"Apa saja yang akan kita bawa?" Sebagai pria yang selalu memikirkan semua risiko, James harus mempersiapkan segala perbekalan.
"Kamu mau berapa lama? Hahaha ... emangnya kita mau liburan?" Rebecca tak kuasa menahan tawanya karena James telah salah mengira jika Becca akan membawanya bersenang-senang.
"Kita mau honeymoon, 'kan?"
"Kagak!"
...****...
Aku ingin bersamamu
Akhir dari hari yang melelahkan
Tanpa suara
Orang yang memelukku
Tunggu aku di ujung jalan ini
Perasaan yang tak terhentikan terhadapmu
Aku ingin bersamamu
Orang yang merembes
Lebih dekat denganku sebelum mengetahuinya
aku berdoa bahwa kamu adalah takdir
__ADS_1
Dan itu mencapai langit malam
.