
Saling terbuka satu sama lain, serta bersenda gurau membuat perjalanan mereka tanpa terasa sudah memasuki pintu kota kembang.
Ada desir yang tersirat di hati James, bukannya ingin berburuk sangka. Namun, semenjak kemarin sikap Becca sungguh aneh. Tidak seperti biasanya, Rebecca akan keluar rumah tanpa pamit. Dan kini? Wanita itu bersikeras ingin keluar kota dengannya.
"Udah sampai Bandung, nih! mau makan di mana?" Meskipun hati James diliputi rasa kekhawatiran, tetapi pria itu tidak melupakan perhatiannya pada sang istri.
"Aku ingin mengajakmu menemui seseorang, James!"
Rebecca mengajak James untuk mengunjungi salah satu rumah sakit di kawasan Jalan Cihampelas Bandung.
Hati James yang sudah tidak tenang sejak tadi, selalu bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh sang istri di kota ini.
Perasaan pria satu anak itu semakin tidak karuan tatkala mobil yang ia Kendari masuk di pelataran rumah sakit yang pernah ia lihat pada sebuah foto dari laporan pesuruhnya.
"Rebecca, apa yang kau inginkan?" Emosi itu semakin tidak terkendali saat melihat gelagat Rebecca yang hendak keluar dari mobil James Mochtar.
"Aku ingin membuat happy ending untuk kalian," Jawaban dengan arti tersirat ini semakin membuat James shock.
"Apa dia sudah tahu semuanya? Tidak, Becca! jangan seperti ini!" Setengah mati, James takut jika hal yang selama ini ia pertahankan akan lepas.
Oleh karena itu, James menahan Rebecca keluar dari mobil dengan menarik tangan sang istri serta memintanya untuk tidak melakukan tindakan bodoh.
"Tidak!"
Hahaha ... sikap James sungguh lucu, padahal selama ini Rebecca mengenal James adalah pria yang tidak pernah goyah sedikitpun. Tetapi kenapa hari ini ia lebih mirip seperti seorang pengecut?
"Ada bab yang rancau, dan kamu perlu merevisinya. Percayalah padaku, James!"
Dan James sendiri seperti buah simalakama, ia tidak mungkin menuruti permintaan nyeleneh sang istri. Tetapi jika tidak dituruti, Rebecca akan semakin marah padanya.
"Dear, kamu sudah tahu semuanya?"
__ADS_1
Rebecca mulai bercerita jika ia sudah mengetahui rahasia yang disembunyikan darinya. Ia juga sudah bertemu dengan Fabian.
Mendengar nama itu disebut oleh sang istri, tidak bisa dipungkiri lagi. Amarah James tidak bisa dibendung lagi.
"Aku bertemu dengannya di makam papa, dia sudah menceritakan semuanya padaku."
"Jadi sikapmu yang semalam itu semua karena itu? Ya ampun Rebecca, kau ini bodoh atau apa sih? Kenapa masih juga percaya orang yang sudah menipuku?" James merasa kesal karena Rebecca telah terpengaruh oleh bujuk rayunya Fabian.
"Dia tidak mencuci otakku seperti yang kamu tuduhkan padaku, James. Sudah sewajarnya aku memintamu melakukan ini," Rebecca mengendurnya emosinya, ia tidak bisa serta merta memarahi James karena Becca tahu cobaan hidup James sangat lah berat.
"Lalu kenapa kau bertindak seperti ini, Becca? Tidakkah kau lihat seperti apa mereka menyakiti aku dan Cia?"
Rebecca mencoba meraih tangan kokoh milik sang suami. Niatnya untuk membawa James ke tempat ini tak lain dan tak bukan ingin mempertemukan kedua orangtua Alicia. Agar tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka berdua.
"Temui lah dia, maafkan semua kesalahannya. Aku tahu kamu bukan orang jahat seperti yang disebutkan oleh mereka, James! aku percaya padamu." Sentuhan lembut di pundak James itu tak dibiarkan begitu saja oleh James.
Pria itu mendekap serta memeluk erat Rebecca seolah tidak ingin wanita itu pergi darinya. Entah mengapa perasan James tidak enak. Ia sangat takut jika Rebecca benar-benar pergi meninggalkan dirinya.
"Maafkan dia, James. Demi putri kalian."
Sontak kalimat Rebecca tadi membuat James terlonjak. Hingga membuat pria itu mengeram pelan,"Dia bukan mama Alicia, seorang mama tidak akan meninggalkan putrinya demi kekasih gelap. Hanya kau lah mama Alicia."
Mendengar sikap James yang masih keras kepala seperti itu, tak lantas membuat Rebecca ikut menilai James pria yang jahat.
"Berdamai lah dengan masa lalumu, aku ingin kamu bisa melepaskan beban yang menjadi duri di hatimu," Ucapan dari setiap kata yang keluar dari mulut Rebecca tak terasa membuat wanita itu menitihkan air matanya.
Melihat Rebecca menderita karenanya, tak perlu menunggu waktu lama lagi bagi James untuk semakin mengeratkan pelukannya.
"Hanya kau yang kumau, kita kembali saja. Anggap semua ini tidak pernah terjadi. Ayo kita susun masa depan bersama!" Rasa itu kini semakin dalam, bukan karena peristiwa ini saja. Pilihan James memang tepat dengan menjadikan Rebecca istri sekaligus mama Alicia.
"Temui dia, kumohon! sekali saja. Dan jelaskan jika kamu sudah melupakannya dan berbahagia, James!"
__ADS_1
Dua sisi hati Rebecca berseteru, salah satu sisi ia masih tidak rela melepaskan keluarga kecilnya ini. Namun, di satu sisi lain ia sadar. Bukan dirinya lah pemain utama cerita ini.
"Baiklah jika itu yang kau mau, temani aku menemuinya dia dan jelaskan jika kita sudah bahagia tanpa mereka." Dalam pelukan Rebecca dan pembicaraan dari hati ke hati dengan sang istri ini, agaknya membuat James semakin sadar bahwa ia tidak bisa menghapus masa lalu.
Karena masa lalu adalah bagian penting dari kehidupan ini. Setiap orang pasti memiliki masa lalu. Masa lalu yang penuh dengan kelamnya kehidupan. Masa lalu yang dimana setiap insan tak ada yang lepas dari jurang dosa.
Masa lalu itu adalah sebuah sekolah kehidupan nyata yang penuh masa lika-liku perjalanan hidup seseorang.
Dalam mengarungi masa kehidupan tak selamanya berjalan lurus-lurus saja. Ada yang terperosok ke dalam lembah hitam.
Sehingga suatu saat manusia menemukan sebuah titik jenuh dimana manusia mencapai titik puncak tertinggi untuk saatnya kembali berbenah untuk menjadi pribadi yang baik.
Dan Rebecca turut senang mendengar kesanggupan sang suami untuk menemui Raisa. Rebecca bersyukur kini, di antara keduanya tidak akan ada lagi dendam. Dan untuk perasaannya, Rebecca masih belum bisa mengambil keputusan.
"Aku bangga padamu, dan aku semakin ... " ucap Rebecca, tetapi ia tidak melanjutkan kalimatnya.
"Dan apa? Dan kau semakin mencintaiku?" tebak James sembari membuka pintu mobil untuk istri tercinta.
"Dan aku semakin bersyukur bisa mengenalmu,"
Meski jawaban itu tidak sesuai yang James harapkan. Itu semua tidak apa-apa, senyum serta lebah Rebecca sudah lebih dari cukup membuat bersemangat melanjutkan hidup.
"Ayo!" ajak James menggandeng sang istri tercinta masuk ke dalam salah satu rumah sakit swasta di kawasan Jalan Cihampelas ini.
Rumah sakit ini tidak berbeda dengan rumah sakit pada umumnya. Dari depan terlihat lalu lalang perawat dan juga tenaga kesehatan yang lainnya.
James dan Rebecca berjalan dengan bergandengan tangan menuju ruangan yang telah mereka ketahui dari bagian informasi. Tidak sulit bagi Rebecca menemukan pasien tersebut, dengan jaringan medisnya lah, Rebecca mampu menemukan Raisa yang kini masih terbaring lemas tak berdaya.
...****...
__ADS_1