
Keberadaan Rebecca di rumahnya sedikit mengurangi rasa kekhawatiran James terhadap Alicia. Gadis kecil itu kini memiliki teman bermain di rumah papanya. Selain itu, James yang menilai Becca sebagai biang onar, harus berbesar hati jika suatu saat Rebecca membuat masalah untuknya.
Seperti pada hari ini, James bisa bernapas lega meninggalkan Alicia di rumah karena ada Rebecca. Hari ini juga James memiliki flight ke luar negeri. Sebagai pilot senior, James harus bisa menempatkan diri di segala medan. Sebelum pergi bekerja pagi tadi, James telah berpamitan dengan Alicia dan mengatakan akan pulang 5 hari lagi.
Perancis adalah negara tujuan penerbangan James dan Nusantara Air. Tak terhitung lagi berapa kali kaki James menginjak di Bandar Udara Charles de Gaulle Paris. Bandar Udara Charles de Gaulle juga dikenal sebagai Bandar Udara Roissy (atau hanya Roissy dalam bahasa Prancis) adalah bandar udara internasional terbesar di Prancis. Terletak di komune Roissy-en-France, 25 km di timur laut Paris.
Di tempat paling romantis di dunia inilah banyak wisatawan baik itu lokal maupun mancanegara menjadikannya Paris sebagai tujuan destinasi mereka. Bahkan beberapa di antara mereka memiliki mengabiskan bulan madu mereka ke negeri menara Eiffel tersebut. Lalu mengapa James tidak mengakak Rebecca ke Paris?
"Untuk apa aku susah-susah bawa wanita bawel iyu ke sini? Yang ada bikin pusing," keluh James seusai melihat lalu-lalang pasangan yang ia duga sebagai pengantin baru.
Meski raganya menolak Rebecca, nyatanya James masih memikirkan wanita itu begitu ia menginjakkan kakinya di Paris.
Pada pertengahan tahun seperti ini, Paris semakin menggeliat guna mendapatkan banyak wisatawan. Dan di seluruh Prancis, pada bulan Agustus seperti ini kita akan menemukan banyak festival dan acara.
Tak lengkap rasanya jika berpergian tanpa membeli oleh-oleh, maka warga Prancis serta Paris pada khususnya akan menyelenggarakan beberapa festival serta pameran aneka cinderamata.
Pagi seperti ini, James keluar dari hotelnya untuk memuaskan rasa laparnya dengan mencari kudapan khas Paris di sepanjang jalan Allée des Marronniers, dekat dari lokasi hotelnya. Route De Plailly, La Chapelle-en-Serval tak jauh dari Bandara Charles de Gaulle. Letaknya yang strategis itu dipilih oleh pihak maskapai karena dinilai lebih efisien.
Pandangan mata James tak teralihkan dari seorang pelukis jalanan. Karyanya yang memukau dipajang di sisi dekat tempatnya duduk. Tertarik, membuat James mendekati pria bertopi itu.
"Bonjour tu veux être peint toi aussi?" (Hallo, apakah Anda ingin dilukis juga) tanya pelukis itu dengan aksen Parisnya. Rupanya pelukis tersebut tidak fasih menggunakan bahasa Inggris. Hingga membuat James harus mengikuti bahasanya.
James pun tersenyum, "Pouvez-vous m'aider?" James mengeluarkan ponsel yang telah disetel mengikuti provider setempat dari sakunya.
Pelukis itu tersenyum melihat James dan memuji jika anak serta istrinya begitu cantik hingga pelukis jalanan itu menduga bahwa James begitu menyayangi keluarganya.
James salah menunjukkan foto yang diambil dari kamera ponsel mahalnya. Foto yang tanpa sengaja ia ambil ketika Alicia keluar dari rumah yang diantar oleh Rebecca tak sengaja ia perlihatkan pada pelukis itu.
"S'il vous plaît peignez ma fille!" (Tolong lukis anakku!)
"How about your wife?" Pelukis yang hanya sedikit bisa berbahasa Inggris tersebut mencoba bertanya pada James yang ia nilai warga asing dengan berbahasa Inggris.
Pilot senior itu kesulitan menjawab pertanyaan si pelukis, sehingga James hanya bisa mengubah arah pembicaraan di antara mereka seperti memuji cuaca indah di Paris.
__ADS_1
**
Rebecca menjemput putri sambungnya sebelum ia mulai kembali bekerja. "Mama masuk kerja lagi?" tanya Alicia di dalam mobil yang dikendarai oleh Rebecca sendiri.
"Iya, tetapi mama tidak akan pulang pagi seperti dulu. Paling tengah malam mama sudah sampai rumah." jawab Rebecca tanpa menoleh ke arah sang putri karena dokter wanita itu tengah sibuk berjibaku melawan kemacetan ibukota.
"Yah, Cia sendirian deh! papa masih lama pulangnya."
Rebecca berpikir sejenak, hatinya juga masih tak rela meninggalkan anak yang kini menjadi tanggung jawabnya. Alicia kini memiliki kedekatan tersendiri dengannya. "Bagaimana kalau Cia tinggal di rumah nenek selama mama bekerja?" tawar Rebecca pada sang putri.
Nenek yang Becca maksud adalah mamanya sendiri. Sejak kabar pernikahan di antara ia dan duda beranak satu itu, Rebecca hanya sekali menemui mamanya tanpa James bersamanya. Kini ia akan menitipkan Alicia pada mamanya selama Becca bekerja.
"Apa nenek akan menyukai Cia, Ma?"
"Tentu saja, anak mama yang paling cantik ini pasti disukai oleh nenek. Meski nenek lebih bawel dari mama nanti, tapi ingatlah! nenek adalah orang yang bisa diandalkan,"
Rebecca segera memacu kendaraannya menuju ke rumah sang mama. Pertemuan Cia dan mamanya ini adalah kali pertama bagi mereka. Becca ingin sang mama bisa menerima Cia sekarang, nanti ataupun jika ia dan James bercerai nantinya.
**
Mama Rebecca seperti tersihir melihat gadis kecil dengan rambut digerai yang ada di depannya.
"Namanya Cia, Cia beri salam ke nenek!" pinta Rebecca mengenalkan putri sambutan kepada sang mama.
"Namaku, Alicia Sabrina Mochtar, Nek! kuharap nenek menyukai Cia." cicit gadis kecil itu malu-malu di belakang tubuh Rebecca.
Gaya menggemaskan Cia yang jinak-jinak merpati bersembunyi di balik tubuh mamanya membuat Mama Rebecca tak kuasa menahan tawanya.
"Masuklah! mamamu kejam sekali tak membawamu masuk, Nak,"
Di luar perkiraan Rebecca, mamanya begitu menyukai Cia. Sempat terbesit jika sang mama akan menolak anak sambungnya. Namun, kekhawatiran Becca tak terbukti. Begitupun angannya, Mama Becca bahkan menyayangkan jika di umur sekecil ini Cia sudah kehilangan ibunya.
Dengan kebaikan hati sang mama yang bersedia mengasuh Cia, membuat Becca tak khawatir lagi meninggalkan Cia sendirian. Sebelum pergi, tak lupa Rebecca melaporkan daily activity Cia kepada James. Termasuk keberadaan Cia di rumah mamanya.
__ADS_1
Tak ada balasan dari James. Akan tetapi pria itu sempat membaca pesan Becca. Setidaknya tanggungjawab Rebecca tak ia lewatkan. Lalu kenapa Rebecca hingga bersedia melaporkan kegiatan sehari-hari Cia pada papanya? Semua itu karena status Rebecca yang hanya sebatas pengasuh Cia sebagaimana yang telah mereka sepakati.
...****...
Tak sadarkah selama ini
Ku juga selalu menginginkanmu
Mengapa sulit untuk ku bisa miliki hatimu
Bahkan selama ini hadirku tak berharga untukmu
Yang terjadi kini ku hanya rumah persinggahanmu
Di saat kau terluka
Dan di saat semuanya reda
Kau menghilang begitu saja
Jika memang ini tak ada harapan
Mengapa aku yang harus jadi tujuan
Saat hatimu terluka
Aku yang jadi obatnya
Tanpa pernah kau hargai
Cinta dan kasih yang setulus ini
__ADS_1