
"Kita sepakat tidak saling mengganggu, ya!" Terdengar aneh. Namun, justru itu yang diinginkan oleh James. Semenjak pertemuan pertama kali dengan Rebecca, dirinya terus saja saling terhubung dengan wanita ngeyelan itu.
"Gimana-gimana? Aku tidak pernah mengganggu Anda, ya? Malah Anda sendiri yang mengganggu waktuku. Seperti saat ini, harusnya aku sudah sampai di rumah tapi masih terjebak di sini." Rebecca merasa tak terima jika James menganggapnya sebagai pengganggu selama ini.
"Ya sudah, iya! aku minta maaf. Silakan kamu pulang,"
**
Anggapan James serta Rebecca untuk saling tak bersungguh nyata salah. Tuhan memang telah menggariskan keduanya dalam satu ikatan pada kehidupan ini.
Selain itu, karena kedekatan Rebecca dengan keluarga pemilik rumah sakit tempat ia bekerja, membuat kesenjangan sosial di sekitar lingkungan kerjanya. Banyak dari teman kerja Becca yang menaruh kebusukannya hati dengan dokter baru tersebut. Selain merasa tersaingi dalam hal medis, mereka juga iri dengan kedekatan Rebecca dan keluarga Nyonya Melati. Terlebih lagi pesona putra bungsu Melati yang notabenenya merupakan playbook yang mulai menjerat cinta Becca membuat pegawai lain merasa iri.
Rekan kerja yang tak menyukai Rebecca berniat merencanakan hal buruk pada gadis itu.
"Kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya dokter muda yang semenjak kedatangan Becca merasa terabaikan baik itu masalah pekerjaan ataupun penampilan.
"Udah dong, dok!" Asisten serta rekan lainnya yang kurang menyukai Rebecca juga mengikuti ajakan dokter muda yang diketahui bernama Weni tersebut.
Weni dan kawan-kawannya, memang telah merencanakan sesuatu yang bisa membuat kehormatannya Becca tercoreng dalam semalam. Bertepatan dengan hari ulang tahun kepala divisi bedah yang jatuh hari ini, semua pegawai di bedah sentral diundang ke sebuah lounge hotel mewah.
Semua pegawai diundang untuk turut serta menghasilkan ulang tahun atasan mereka. Termasuk Rebecca yang akan menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bulan-bulanan Wina dan kawan-kawan.
Wina sengaja menjadikan Rebecca sebagai tamu kami atas bantuannya terhadap keluarga pemilik rumah sakit.
"Selamat untuk, dokter Rebecca!" serunya mulai memainkan peranannya sebagi pengecoh rencana.
Selain berpura-pura baik, Wina dan temannya juga telah memberikan obat penenang dosis tinggi yang mudah sekali mereka dapatkan di tempat kerja.
Pada acara minum bersama, anggur Rebecca telah dicampur dengan obat penenang yang bisa membuat wanita itu tak sadarkan diri.
"Setelah malam ini, dia pasti akan enyah dari rumah sakit. Paling untuk mengangkat mukanya aja gak berani," bisik teman Wina.
__ADS_1
Wina memberikan segelas anggur pada Rebecca, dokter yang merasa tersaingi itu mengulas senyum licik di wajah culasnya. "Rasakan!" batin Wina mendoakan hal buruk pada Rebecca.
Sedangkan Rebecca sendiri, dokter muda itu tak pernah menaruh curiga terhadap orang lain di dekatnya. Dengan hati yang begitu tulus dan bersih itulah, Rebecca mudah sekali dipermainkan.
"Tubuhku lemah sekali, padahal aku baru mencicipi sedikit wine," Becca merasa sangat loyo dan tak bertenaga sama sekali.
Dan bahkan, Rebecca mulai kesulitan mengontrol keduanya matanya agar tak terpejam begitu saja.
"Maaf, aku ke kamar kecil dulu!" Rebecca berniat membasuh wajahnya agar sedikit lebih segar dan menghalau kantuk.
Sedangkan Wina dan teman-temannya bersorak kegirangan di dalam hati karen rencana mereka berhasil dengan baik.
Tinggal menunggu step selanjutnya yakni berharap ada pria hidung belang yang akan memungut Rebecca dalam keadaan demikian.
Rebecca sendiri mulai tak mampu menahan kantukku. Berkali-kali kedua maniknya terpejam dengan tanpa aba-aba, tetapi Rebecca masih bisa mendengar sekeliling lorong hotel.
Langkah kakinya yang tak menentu membuat dokter wanita itu salah melewati jalan yang seharusnya.
Untung saja urusannya telah usai, sehingga ia bisa bebas mau melakukan apa saja. Namun, pandangan mata James dikejutkan oleh sosok wanita yang tengah sempoyongan dan hampir saja terjatuh.
"Hei, kau minum terlalu banyak!" ucapnya seusai menangkap tubuh rambing yang dibalut stelan formal berwarna broken white tersebut.
Namun, James tidak mencium aroma minuman keras di tubuh Rebecca. Yang menandakan jika wanita itu tidak mabuk atau terlalu banyak minum. Terlebih lagi, pakaian yang dikenakan oleh Becca cukup sopan sehingga tak mungkin wanita itu minum terlalu banyak dalam acara formal.
Niat hati untuk pulang lebih cepat dari yang James kira harus pupus sudah. Ia tak sampai hati melepaskan Rebecca begitu saja. Apalagi Becca perempuan. Bagaimanapun, ia tidak aman jika dalam keadaan seperti ini di tempat umum.
Sehingga dengan berat hati, James lebih memilih memesankan kamar melalui sambungan telepon ke resepsionis karena ia tak bisa berjalan membawa Rebecca ke lobby hotel.
Seorang room boy mendatangi James dengan membawakan sebuah kamar yang telah ia pesan untuk Rebecca. Tentu saja untuk Rebecca, ia tak berniat tinggal bersama Becca. Lagipula James yakin jika Becca mengendur mobil, untuk itu James tidak mau mengantar Rebecca karena bisa membuang waktunya.
"Pak ini kamar Anda, jika ada yang perlu dibantu, jangan segan untuk menghubungi saya."
__ADS_1
Rupanya si room boy salah sangka, pria muda itu menduga jika James memesan kamar untuk dirinya bersama wanita yang kini berada di dekapannya.
"Oh, bu-bukan! ini kamar untuknya. Tolong Bawakaraeng aku minuman hangat untuknya,"
Dan James sendiri membawa Rebecca untuk ia baringkan di tempat tidur setelah kepergian petugas kamar tadi.
Rebecca benar-benar tak sadar saat ini, ia telah berada di bawah obat penenang pemberian Wina. Bahkan sepatutnya saja terjatuh sendiri tanpa ia lepas.
Dan butut dari sepatu itu telah membuat James tersandera, sehingga keduanya rubuh bersamaan di atas tempat tidur. James melirik wanita itu masih tetap diam, sehingga rasa Kekhawatiran James kembali'muncul.
"Kau ini kenapa? Apa ada orang jahat yang membuatmu seperti ini?" Pikiran James ke mana-mana. Untung saja Rebecca bertemu dengannya, jika tidak? James sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi dengan wanita itu.
Papa Alicia mulai merangsek dan bergeser dari posisinya saat ini. Akibat terjatuh tadi, dirinya kini berada di bawah tubuh Rebecca yang telah menimpanya.
Usaha James sedikit demi sedikit hampir berhasil, dan suara ketukan dari luar akan ia terima. "Room servis?" tanya James dengan suara kencang.
"Iya, saya masuk ya, Pak?" Pelayan hotel segera masuk sebelum dipersilakan oleh James.
Pria muda itu langsung menutup kedua matanya seketika karena masuk di waktu yang tidak tepat. Jarak dari ruang tamu kamar dan tempat tidur yang tak terlalu jauh, membuat pria itu bisa menangkap sebuah kegiatan yang tidak layak dikonsumsi publik.
"Ma-maaf, saya mengganggu waktu Anda. Dan main masuk saja," Suara pelayan itu bergetar menandakan ia sangat takut jika James akan murka padanya.
Refleks karena kedatangan pelayan itu, membuat James bergerak seketika dan malah membuat tubuh Becca semakin kuat menindihnya.
"Kau ini abis makan apaan, sih? Berat amat!" keluh James pada Rebcca.
...****...
__ADS_1
James jangan macam-macam, ya?