Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
Salah Pondasi


__ADS_3

Ada rasa sakit dari luka yang tidak berwujud. Rasanya sakitnya membuat sesak di dada. Namun, di depan anak sambungnya, Rebecca tetap harus bersikap biasa seperti tidak terjadi sesuatu.


Tidak bisa dipungkiri lagi, hati Rebecca sungguh terluka. Bukan luka akibat sebuah pengkhianatan, tetapi luka karena rasa yang tidak percaya. Ia kira selama ini hidupnya baik-baik saja. Namun, barulah Becca sadari jika ada rahasia besar di balik itu semua.


Selain kecewanya terhadap sang suami, Rebecca juga menaruh rasa kecewa kepada saudara satu-satunya, Fabian. "Apa yang membuat kakak tega membohongi aku dan mama?"


Seusai mengantar Alicia, tak lantas membuat Becca kembali lagi ke rumah James. Wanita yang berduka itu kini memacu kendaraannya ke sebuah rumah peristirahatan terakhir. Tempat yang selama ini menjadi muara duka Rebecca dalam berkeluh kesah.


Becca tidak menyangka jika Fabian akan menyembunyikan semua ini darinya, dalam keadaan penuh rasa kecewa seperti ini, Rebecca berjalan gontai menuju pusara papa serta pusara yang ditulis nama Fabian Hermanto. Dan tanpa memedulikan ponsel yang tertinggal di mobil, Rebecca duduk bersimpuh di depan makam Papanya.


**


Di tempat lain, James yang belum jua menemui sang istri, merasa risau. Dari keterangan bibi pelayan yang mengatakan jika Rebecca sempat pulang kemudian mengantar Alicia, James menduga jika sang istri mampir ke suatu tempat tanpa sepengetahuan darinya.


Namun, lama James menunggu dan Rebecca tak kunjung kembali ke rumah mereka. Kini, pria dewasa itu mulai memikirkan Rebecca yang tak kunjung pulang.


Tak ingin mengambil risiko lebih, membuat James merogoh ponsel di saku celananya. Pria yang kini telah jujur terhadap hatinya itu mulai mencari nama Rebecca di urutan list kontrak teratasnya. Nama Rebecca kini menjadi prioritas utama bagi James.


Satu bunyi tut, hingga menuju tut ke terakhir tak jua mendapatkan sambutan dari Rebecca. Pria itu kini semakin panik lagi karena Becca tidak mengangkat teleponnya.


"Jika tahu gini, kemarin aku akan menyetujui untuk memasang alat pelacak di ponselnya." James meremas benda pipih itu dan terus menghubungi sang istri.


Beberapa orang mulai dihubungi oleh James, termasuk mama Becca serta rekan Rebecca di rumah sakit,


Tetapi, Nila mengatakan jika setelah pulang tadi, Rebecca tidak kembali ke rumah. Dan hal tersebut semakin membuat James kelimpungan.


"Kau ini ke mana? Kenapa tidak mengatakan apa-apa padaku?" keluh James dalam hati dengan menyugar rambutnya dengan kasar karena Becca membuatnya frustasi seperti ini.


Kini, matahari mulai berada di atas kepala. Dan Rebecca tidak menunjukkan batang hidungnya. Hampir seharian ini Rebecca keluar tanpa memberitahu James sama sekali. Baru kali ini Rebecca mengabaikannya tugasnya sebagai seorang istri dan juga ibu.

__ADS_1


James tidak hanya diam begitu saja, pria dewasa itu mencari sang istri ke seluruh tempat yang sering dikunjungi oleh Rebecca. Termasuk juga kuburan papa dan Fabian. Tetapi, James tidak menemukan Rebecca di sana.


Jejak Rebecca seperti hilang bak ditelan bumi. James tidak ingin kejadian seperti lima tahun yang lalu terulang kembali. Baru saja ia hatinya bermuara, ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Rebecca.


"Kau ini di mana? Apa kau tahu aku begitu menghawatirkanmu?"


Bahkan seusai menjemput Cia pulang sekolah, James kembali mencari Rebecca ke sudut kota. Tak ada tempat yang dilewati James demi mencari Rebecca.


**


Hingga malam, barulah Rebecca tampak mamparkir mobilnya. Wanita itu sudah siap menghadapi tuduhan serta pertanyaan menyakitkan dari James nantinya.


Itu lebih baik bagi keduanya, karena Becca merasa dirinya dan James tidak lah setara. Dan kini, ia menemukan bahwa James juga turut serta membohongi dirinya.


Setelah pertemuan Rebecca dengan kakaknya Fabian, Rebecca kini sadar bahwa jika selama ini ia berada. di antara dua hati yang tersulut api dendam. Terlebih lagi, Raisa istri James masih bernyawa. Becca tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam rumahtangga James dan Raisa nantinya.


Tidak seperti biasanya, kini James menemani Cia. Becca pun kembali tanpa membangunkan kedua orang yang berbaring di ranjang Alicia.


"Mau ke mana? Kau masih tahu arah pulang?" James yang tahu kedatangan Rebecca menghentikan wanita itu.


Tetapi Rebecca sama sekali tidak menanggapi sindiran dari James. Ia terus saja keluar dari kamar Cia dan James mengikutinya dari belakang.


"Kau ini ke mana saja? Apa kau tahu, setengah mati aku mencarimu?" James mengikuti Rebecca masuk ke dalam kamarnya meski sempat Becca menahannya dengan menutup pintu. Tetapi James bisa menghalau itu semua.


"Kalau begitu, kamu tak perlu repot mencariku."


James tersulut emosi karena jawaban ketus dari Rebecca. Pasalnya sejak tadi, ia sudah cukup bersabar menghadapi tingkah istrinya.


"Ingat ya, kau ini istriku!" Dan James juga mengingatkan posisi Rebecca. Tidak hanya itu saja, James juga menahan tangan sang istri yang berniat menepisnya.

__ADS_1


"Okay, kalau gitu kita akhiri saja. Karena aku merasa kita tidak cocok! lagipula tujuan dari pernikahan ini adalah menepis isu yang merebak bukan? Dan isu itu sudah mereda."


Bak seperti dilempar dari gedung 50 lantai ke dasar bumi, James tercengang mendengar sang istri yang meminta perpisahan darinya.


"Kau ini dirasuki setan apa sih?"


Tetapi James masih bisa sedikit lunak, ia paham jika membalas Rebecca bisa berakibat fatal. James sangatlah takut jika Rebecca serius akan ucapannya.


"Pernikahan yang tidak dilandasi oleh cinta dan kepercayaan, pasti tidak akan bertahan lama." Wajah cantik itu kini berubah murung. Dan James mampu menangkap akan hal itu.


Ia juga menerka-nerka kiranya adakah masalah yang ia buat? Ataukah Rebecca merajuk karena malam itu?


"Kau marah padaku karena malam itu? Jika kamu tidak suka, aku tidak akan lagi memaksa egoku. Tetapi ... jangan bahas hal seperti ini lagi." James terlihat sangat ketakutan jika Rebecca tidak menerima kesungguhannya.


"Dengarkan aku, James! dari awal hubungan ini sudah salah. Jadi mari kita selesaikan saja!" Ajakan ini belum berakhir. Rebecca terus saja meminta pisah dari James. Dan James sendiri belum tahu di mana letak kesalahannya.


"Oke, aku yang salah, Dear! tapi jangan seperti ini!'


Ingin rasanya Rebecca berteriak karena hati dan pikiran tidak sejalan. Ia termenung dan meratapi semua kesalahannya. Sambil menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.


Dan melihat hal menyakitkan itu, James tak kuasa menahan haru. Dipeluknya Rebecca sang istri dan tak ingin ia lepaskan lagi. "Tak akan ada hal yang bisa memisahkan kita,"


"Jangan seperti ini! hubungan ini salah pondasi,"


"Baiklah, kalau begitu kita mulai membangunkannya dari awal, Dear!"


...****...


__ADS_1


__ADS_2