Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
Channel Premium Egoiste


__ADS_3

Langkah James sempat terhenti sebelum pria dewasa itu masuk ke dalam rumahnya. Teras depan rumah yang biasanya rapi. Kini cukup membuatnya harus mengernyitkan dahi dengan adanya banyak barang-barang asing yang ia duga ulah Rebecca.


Terlebih lagi, salah satu pekerja di rumahnya mengatakan jika barang yang wanita pekerja itu sebagai mainan Alicia tidak boleh dipindahkan ke tempat lain.


Emosi James membuncah, darahnya naik hingga ke ubun-ubun. Kini, James tak bisa menahan lagi amarahnya hingga membuatnya segera masuk ke dalam rumah bergaya kasik-nya. Tujuan pertamanya adalah mencari wanita pembuat onar itu.


"Ke mana si pembuat masalah itu?" keluh James pelan sembari celingukan ke sana ke mari mencari Rebecca ke setiap sudut rumahnya.


Selain kamar tamu, James juga mencari wanita itu hingga ke kolam renang. Namun, tak ia dapatkan kehadiran Rebecca. Hanya satu ruangan saja yang belum ia datangi. Yakni kamar sang putri kesayangannya.


Rupanya benar, Rebecca berada di dalam kamar Alicia. Kekesalan James kembali membuncah, bukan karena Rebecca lancang masuk ke kamar Alicia, tetapi karena Becca mengubah design kamar Alicia dengan sentuhannya.


"Apa yang kau lakukan dengan kamar anakku?"


"Kamu nggak liat aku sedang merapikan kamarnya?"


James tak menyangka jika Becca bisa bertindak sejauh ini. "Di mana personal komputer Alicia?"


"Tuan, anak kecil itu tugasnya hanya bermain dan tumbuh besar. Jangan terlalu membebani cara pikirnya!"


Selama ini James memang menjadikan Alicia seperti yang ia inginkan. Bahkan tanpa sadar, James telah merebut kebahagiaan masa muda Alicia dengan sering melarang Cia melakukan hal yang unfaedah.


"Jangan mengguruiku!" bentak James terlalu tak terima Becca mendikte dirinya.


"Hei, kamu bisa membangunkan Cia," Rebecca tak tega jika anak kecil itu sampai terbangun karena mendengar perdebatan di antara dirinya.


Namun, kebisingan itu tak dapat terhindar lagi. Alicia bangun dari tidur siangnya karena mendengar suara sang papa sedang berseteru dengan mamanya.


"Papa sudah pulang?" tanya Cia seusai mengucek kedua matanya yang masih enggan untuk dibuka olehnya.


Menyadari kesalahannya telah mengganggu istirahat sang anak, membuat James bergerak duduk di sebelah Alicia seraya mengelus lembut kepala Cia.


"Kamu rindu papa, Nak?"


"Hmm ... " Cia terdiam menyusun kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang papa.


"Kamu pasti banyak melakukan hal bodoh dengan wanita itu selama papa tidak ada,"

__ADS_1


"Tidak, kami tidak melakukan apapun yang aneh-aneh. Cia dan mama hanya bermain, berbelanja bersama dan memasak bersama."


"Kamu dengar? Anak seusia Cia harus banyak bermain seperti yang diinginkan olehnya."


Rebecca kesal hingga membuat dokter wanita itu berniat keluar dari kamar Cia dengan alasan sudah ada James di samping gadis kecil itu.


Cia mendekatkan wajahnya ke telinga sang papa. Ia tidak ingin mama barunya marah dan bisa berakibat fatal. "Semua ini mama yang belikan untuk Cia," Cia menunjukkan semua mainan serta boneka beraneka macam yang kini menjadi teman saat tak bersama Rebecca.


"Tapi dia telah mencuci otakmu, Nak! hingga kamu malas seperti ini."


"Ah papa kuno ah," Cia bangun dari tempat tidur menyusul sang mama serta memanggil namanya. "Ma ... mama tunggu! mama sudah janji mau menemani Cia beli es krim bukan?"


**


James tak bisa menolak keinginan sang putri. Meski ia harus membuat sebuah kerajaan dalam semalam saja akan ia lakukan demi Cia.


Seperti sekarang ini, Cia ingin ditemani olehnya membeli es krim kesukaannya. Tak hanya James dan Alicia saja, Cia bersikukuh mengajak Becca yang sejak tadi menolak untuk ikut dengan alasan bukan keluarga.



"Em ... ah sudahlah!" Di depan Cia, Becca tak bisa berkutik lagi. segala macam dalih untuk ia gunakan sebagai penolakan nyatanya tak mempan untuk Cia. Hingga Becca terpaksa harus mengikuti keinginan gadis nakal itu.


"Ya udah, tapi bentar aja. Mama ada piket malam ini."



Ketiganya kompak keluar bersama tanpa seorang sopir yang mengantar. Ide itu muncul bertujuan agar Papanya bisa lebih dekat lagi dengan mamanya.


"Seumur kamu ini, mama tidak pernah berani membantah nenek dan kakek, Cia!"


Dalam hati, Cia berkata. "Gimana gak bantah, kalau Cia diam saja, mungkin papa tidak akan pernah peka."


Ketiganya sampai di salah satu pusat perbelanjaan di kota. Cia memesan dragon fruit fruity yogurt dengan toping rainbow cubes favoritnya. Sedangkan Becca sendiri tak mau kalah dengan memesan frozen yogurt.


Hanya saja, James minta keduanya harus cepat mengabiskan sebelum pulang ke rumah. Ibu dan akan itu patuh dengan permintaan papa mereka. Bahkan keduanya kompak menjilati es krim itu sepanjang jalan.


"Dasar kekanakan!" cerca James mengejek Becca yang sedang menikmati makan dinginnya. Tingkah dokter bedah toraks dan kardiovaskula itu tak ubahnya seperti bocah seusia Alicia.

__ADS_1


"Mending kekanakan, daripada cepat tua kaya kamu!"


Untung saja, eskalator yang membawa mereka naik sedikit padat sehingga James dan Rebecca mengurungkan niatnya untuk cekcok di tempat umum.


Ketiganya naik ke lantai atas menuju tempat parkir kendaraan James. Tetapi tiba-tiba Rebecca merasa ada yang menabraknya dengan pelan.


Refleks, Becca menoleh ke samping kanan. "Auh!" keluhnya.


Selain Cia, James juga menoleh mendengar Becca mengeluh barusan.


Ada rasa yang sulit untuk diucap, rasa itu masuk menusuk hingga ke relung hati Becca yang paling dalam. "Perasaan apa ini?"


"Egoiste!" Bukan hanya perasannya saja, Becca juga indra penciuman Becca menangkap harum dari bau yang cukup ia kenali. Bau itu menguar menyentuh hidung Becca hingga membuatnya terperanjat.


Rebecca tidak bisa diam saja, segera saja ia memberikan sisa yogurt yang ia nikmati tadi ke tangan James tanpa sepatah katapun.


James yang melihat istrinya menyerahkan jajannya lalu bergegas menurut ini eskalator cukup kaget. "Hei kau kira aku ini pembantumu?"


Namun, Rebecca sama sekali tidak menoleh ke arah James dan terus menuju eskalator turun dan bergerak menuruni tangga berjalan itu.


Rebecca berlari menerobos beberapa pengunjung yang berdesakan di eskalator, "Maaf, tolong minggir sebentar!"


"Mama kenapa, Pa?"


"Sepertinya mamamu melihat setan!"


"Ih papa sembarang, tidak ada setan yang lebih serem dari papa yang marah-marah."


Rebecca terus saja berlari tanpa tahu ke mana ia akan pergi. Wanita itu hanya ingin memastikan apa yang ia rasa dan yang ia cium tadi bukanlah mimpi.


"Ya Tuhan! ini bukan mimpi, 'kan?" Becca terengah-engah dan mulai mengatur napasnya begitu ia menyadari apa yang ia kejar hanya semu belaka.


"Kak, apa kau hadir karena Tuhan mengabulkannya doaku?"


...****...


"Kita berpisah untuk selama-lamanya. Hanya sebongkah nisan yang tertulis namamu. Dan hati’ku berkecamuk tak menentu, Dalam ruangan kosong dan hampa. Aku terduduk di bangku yang kau duduki itu. Hati Ku menahan isak dan tangis. Dan berderai air mata yang terjatuh bergelimpangan," Rebecca

__ADS_1


__ADS_2