Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
Happy Ending


__ADS_3

Hampir sebulan sudah telah dilalui oleh Rebecca di kota kecil ini. Di tempat ini lah, wanita dewasa itu mulai bisa menata hati serta pikirannya kembali.


Menjadi salah satu tenaga tambahan di salah satu rumah sakit cabang tempat ia bekerja bukan hal mengerikan baginya. Karena dengan membantu sesama, jiwa Rebecca kini terasa tenang dan cukup damai. Meski dengan risiko berdebat dulu dengan James di awal ia pindah menjadi seorang relawan.


Dengan alasan kesehatan mental Alicia lah, James menghalangi Rebecca dengan sekuat tenaga agar menggugurkan niatnya. Namun, apa yang diinginkannya oleh James berbanding terbalik dengan yang diinginkan oleh Becca.


Rebecca memiliki alasan lain juga untuk sejenak menyingkir dari hiruk pikuk keramaian ibu kota. Selain percaya dan bisa menitipkan Alicia ke mamanya, Becca juga memiliki alasan untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi pada masa kariernya.


Selama seminggu sekali atau juga dua hari, keduanya yakni James dan Rebecca masih menyempatkan untuk bersua satu sama lain. Jika Becca tidak ada kesibukan, pada akhir pekan dokter wanita itu bisa kembali ke rumah dan menemui anak serta suaminya.


Begitu pula dengan James, jika pria itu memiliki flight ke kota Becca dipindahkan, James tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya itu, bahkan sempat ia bertukar jadwal dengan teman pilotnya hanya demi mengambil penerbangan ke kota Rebecca.


**


Selama tiga hari lebih ini, rumah sakit paru-paru tempat Becca bekerja dipenuhi oleh pasien baru. Hal tersebut membuat Becca kesulitan mengatur waktu istirahatnya. Jangankan untuk menghubungi James ataupun Alicia, untuk sekadar makan saja ia harus diingatkan oleh sesama tenaga medis lainnya.



Pada sore menjelang senja ini, Becca disibukkan oleh pekerjaan yang tak kunjung selesai. Bahkan hingga dokter cantik itu membawa serta bahan observasi ke rumah dinasnya.


Rebecca mendapatkan kebaikan berupa unit tempat tinggal selama berada di kota ini. Dan menurut Becca tinggal di rumah dinas seperti ini, cukup untuk menghemat anggaran yang harus ia kenakan.

__ADS_1


Kruk ... bunyi perut wanita itu tak bisa membongkar rasa lapar Becca. Tidak bisa ditutupi lagi, sejak siang tadi, perut Becca belum sempat kemasukan makanan sama sekali.


Sehingga mama sambung Alicia itu sedikit mengalihkan perhatiannya dari pekerjaan dan segera menatap layar ponselnya untuk memesan sebuah menu untuk makan malam awalnya.


Rebecca tampak menggeser gambar demi gambar di layar. Entah mengapa menu di aplikasi pesan antarnya sama sekali tidak menggugah seleranya.


Tak ingin terlalu lama meninggalkan pekerjaannya, membuat Becca segera memilih salah satu menu makanan cepat saji. Makanan berupa tumpukan dua roti dengan daging asap berada ditengahnya dipilih oleh Rebecca untuk mengusir rasa laparnya.


**


Tak berselang lama, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Becca yang mengabarkan bahwa pesanan Rebecca telah berada di jalan untuk diantarkan ke rumah dinasnya.


Hanya sekitar tiga puluh menit, terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah dinas Rebecca. Sadar jika pesanannya telah tiba, membuat wanita itu berhambur menuju depan rumah dengan kaos over size dan dipadukan dengan celana di atas lutut.



"James, ngapain di sini?"


"Hah? Pertanyaan macam apa ini? Begitukah caramu menyambut suamimu, Dokter?"


"Bukan begitu, kenapa tidak mengatakan jika ke sini?"

__ADS_1


Rebecca menarik tangan suaminya yang sedang cemberut agar tidak semakin merajuk lagi.


"Kamu tidak merindukan aku?"


Jujur saja, tidak ada waktu untuk bermain cinta-cintaan dengan James. Selain sudah tidak muda lagi, Rebecca juga sangat profesional dalam bekerja. Namun, bukan berarti ia tidak cinta pada sang suami ya.


"Tentu saja aku merindukan kamu.'


.


Belum puas bermesraan dengan sang istri. Kembali kesenangan James terusik dengan datangnya layanan pesan antar yang dipesan oleh Becca.


"Maaf, ya! aku hanya pesan satu porsi saja." ucap Becca menyayangkan atas pesannya karena ia tidak menyangka jika James akan mengunjungi dirinya.


"Tidak masalah, Dear. Aku tidak berminat makan burger kok. Aku lebih ingin memakan kamu."


"Jaaaaammeeeeessss ... " Rebecca menyumpal mulut James dengan potongan besar smoke beef burger yang ia pesan tadi.


...****...


Tamat ya gengs. Ini udah happy ending ya.

__ADS_1


Wes pokoknya happy



__ADS_2