
"Hm ... " Rebecca menggeliat seperti gaya tidur biasanya. Yang berbeda adalah tempat sekaligus partner ranjangnya saja.
Partner ranjang? Rebecca lupa jika dirinya bukan lah satu-satunya penghuni di stateroom mewah tersebut. Dokter cantik itu lengah hingga melonggarkan pertahannya.
Untung saja, James tak sampai hati menggempur lagi wanita yang tengah meringkuk dengan pulas itu. Becca tertidur seperti Alicia tanpa terbangun sedetikpun. Dan bahkan jika ada bencana ataupun boom, wanita itu juga tidak akan terusik sama sekali.
Sesekali bapak satu anak tersebut membelai anak rambut wanita yang tidur dengan hanya mengenakan handuk saja itu. Tak ada niat sama sekali untuk mengganggu masa istirahat Rebecca. Karena James tahu seperti apa padatnya jadwal kerja Rebecca di rumah sakit serta di rumahnya meladeni putri mereka.
Sehingga James tak sampai hati jika harus memaksakan egonya.
Barulah ketika yacht telah bersandar, bertepatan dengan berakhirnya kesunyian malam, Rebecca mulai membuka kedua matanya. Nyawanya yang baru saja terkumpul merasa aneh dengan pemandangan pagi yang ia alami hari ini.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Rebecca dengan jeritan khas yang keluar dari mulutnya.
Menyadari jika waktu tidurnya telah terusik oleh ulah sang istri, James segera membuka matanya juga. "Ada apa? Kenapa histeris seperti itu?"
"Apa yang kamu lalukan di sini?" cerca wanita yang baru saja sadar bahwa apa yang melekat pada tubuhnya telah berubah. Becca sangat ingat jika semalam hanya mengenakan handuk ketika tidur. Dan kini, pagi ini? Rebecca mendapati pakaian yang ia kenakan lengkap yakni berupa piyama tidur pada umumnya.
"Aku? Aku tidur! Bukankah kau lihat sendiri? Bahkan kau saja memeluk aku?"
"Jangan banyak alasan? Apa yang telah kau lakukan pada pakaianku?" Seperti sedang kesetanan, Rebecca tanpa henti mengkonfrontir James dengan alibi-alibinya.
Pria itu terdiam sejenak dan mulai mengingat step dari step semalam. Pria itu tak tega membiarkan istrinya tidur mengenakan pakaian seperti itu.
"Oooh," jawab James sekenanya.
"Oooh? Hanya oooh?"
"Lalu aku harus jawab apa?"
"Hei, kamu sudah memanfaatkan kesempatan!"
Menghadapi wanita super berisik seperti Rebecca ini gampang-gampang sulit. James harus bisa menjinakkannya dengan mudah sebelum Rebecca berubah pikiran kemudian meninggalkan dirinya.
"Jadi, kamu yang ... " Sengaja Rebecca tidak melanjutkan kalimatnya guna menunggu pengakuan jujur dari papa Alicia yang harus mengakui kesalahan yang telah ia perbuat.
"Tentu saja aku, kamu kira siapa lagi? Lagipula aku tidak mengizinkan siapapun masuk ke kamar ini."
Emosi Rebecca naik hingga ke ubun-ubun. Baru kali ini ia dihadapkan dengan pria yang semena-mena terhadapnya. Darahnya mendidih, ingin sekali wanita berumur kepala tiga itu menendang dengan keras James.
"Keluar!"
"Ini kamarku!"
"Aku bilang keluar!"
Selain marah, hal utama yang dirasakan oleh Rebecca adalah rasa malu yang begitu besar. Bagaimana tidak? Tubuh polosnya telah diketahui oleh pria klasik itu secara menyeluruh. Padahal semalam James mengatakan jika tidak bisa membantu dengan memberinya baju ganti, lalu kenapa pria itu repot-repot membawakan baju ganti untuknya?
Dengan alasan tak sampai hati jika Becca masuk angin, maka James rela menggelontorkan sebagian kecil uangnya untuk mengirim sebuah setelan baju tidur melalui jasa antar dari sebuah heli. Memang tak masuk akal jika dinalar menggunakan akal sehat.
Begitu yacht menepi ke dermaga, seluruh tamu turun secara bergantian. Termasuk juga pasangan suami istri tersebut. Sedangkan Thomas, adik James itu terus mengawasi setiap gerak-gerik Fabian atas tugas dari sang kakak.
Perjalanan pulang ke rumah James tak selesai begitu aja, orangtua itu harus menjemput anak kesayangan mereka di rumah nenek Alicia yakni mama Rebecca.
Untung saja, James tak banyak menunjukkan keanehan sikap meski semalam ia baru menangkap salah satu anggota keluarga tersebut.
"Ma, apa kalian menikmati jamuan semalam?" celoteh Alicia dengan nada manjanya.
"Tidak ... mama tidak menikmatinya, kurasa papamu yang menikmati acara itu," Rebecca berdalih tidak sama sekali menikmati acara itu, ia bahkan menuduh James sendiri yang menikmati dengan mengambil keuntungan darinya.
James yang kala itu sedang mengemudi menoleh seketika ke arah Rebecca yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Dear, kau juga tidak menolak aku! itu buktinya," Tangan kiri James yang bebas dari menyetir menunjuk sebuah tanda kemerahan di belakang leher mama sambung Alicia itu.
Rebecca segera menutupi bekas yang semalam diciptakan oleh James untuknya, agar Alicia tak sampai melihat hal yang seharusnya ia lihat. Papanya memang tidak tahu tempat serta kondisi sama sekali. "Kamu!" Rebecca menuduh seolah semua ini karena ulah papa Alicia.
Alicia mengulas senyum di bibir tipisnya, gadis kecil itu tak menyangka jika Tuhan benar-benar telah mengabulkan doa yang ia panjatkan selama ini. Alicia berdoa dengan sungguh-sungguh meminta kepada Tuhan untuk dikirimkan seorang yang bisa menghidupkan rumah papanya. Dan Tuhan telah mengirimkan seorang dokter wanita yang begituan tulus mencintai Alicia. Senyum itu juga dikuatkan dengan berbagai alasan, salah satunya adalah alasan kuat yakni papa dan mamanya telah selangkah lebih dekat seperti yang diharapkan oleh Alicia.
"Nenek minta agar Cia sering-sering menginap ke rumah nenek, karena nenek bilang agar Cia memiliki adik,"
Sontak saja, baik Rebecca dan juga James tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Bahkan James sempat menginjak rem secara mendadak lalu menoleh ke arah sang putri kesayangannya.
"Kurasa nenekmu benar!" sahut James begitu ia mampu menguasai suasana serta kembali melanjutkan perjalan mereka menuju pulang.
"Sinting!" gerutu Rebecca.
"Apa, Ma?"
"Hei, jangan mengumpat di depan putri kita dong!"
**
Ketiganya tiba di rumah James dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Wajah lelah James seusai berlayar semalam musnah seketika melihat canda tawa Alicia, begitupun dengan Rebecca. Tak bisa menampik jika ia juga begitu menginginkan kebahagiaan seperti ini.
"Pak, ada kiriman buket bunga," jelas pegawai di rumah James.
Pria itu menerima buket bunga mawar merah yang tampak rapi dan indah itu, tak ada nama pengirim kado itu. Yang ada hanya tulisan untuk wanita cantik. Rebecca menduga jika itu adalah bunga untuknya.
Namun, James bersikeras mengatakan jika bukan ia yang mengirimkan.
"Hei, aku ini wanita cantik. Jadi banyak memiliki secret admirer."
James tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia tidak bisa menerima jika Rebecca begitu menjadi idaman di kompleks perumahan elit ini.
Nama junior yang sempat dititipkan sebuah barang ke rumahnya menjadi menelepon di ponsel jam pria gagah itu langsung menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?"
"Maaf pagi-pagi sudah mengganggu Anda, Capt! aku hanya ingin mengatakan jika aku menitipkan bunga untuk pengasuh anak Anda. Karena tidak tahu namanya dan malu untuk mengakuinya maka aku tak mencantumkan namaku,"
"Sial!" umpat James seketika lalu menutup panggilan itu dan segera merebut bunga yang dibawa oleh Becca kemudian membuang buket bunga mawar itu ke luar rumah. Tak hanya itu saja, James bahkan sempat menginjak buket itu dengan perasaan dongkol.
"Loh, kok dibuang? Kan untuk aku!"
"Bukan! kalau kau mau, aku bisa membeli seluruh isi toko bunga dan mengirimkan semuanya ke sini." Pria emosian itu beranjak naik ke kamarnya daripada harus ribut dengan sang istri.
"Ssssttt, Papa cemburu padamu, Ma!"
"Cemburu? Pada mama? Apa otak papamu pindah ke pantat?" Kedua ibu dan anak itu saling tertawa lepas menggosipkan papa James mereka.
"Pada akhirnya, papa telah jatuh ke tangan mama kan?"
"Hei, itu tidak mungkin. Pria tak berhati seperti papamu tidak mungkin memahami perasaan seperti itu,"
"Tapi ... lihatlah, Ma! Papa diliputi api cemburu. Mama naik lah ke kamar papa dan bujuk papa, Ma."
"Nih anak kenapa bisa bicara seperti itu, seperti orang dewasa saja."
...****...
ipsure garyeojin
nunbichui soksagim
__ADS_1
I'll be yours
I'll be yours
musimhan gwansimmankeum
apeun ge isseulkka
heukbaek gateun sigan
han chi apdo moreun chae
neoreul hemaedeusi
gidaryeo on neukkim
chalna binteum eopsi
neoro ieojin kkumeseo
da eodume gathin geoscheoreom
du nuneul gamgoseo
bul kkeojin gamjeonge chwihae
naneun neoreul ilheoga
(Tertutup di bibir
Bisikan mata
Aku akan menjadi milikmu
Aku akan menjadi milikmu
Perhatian acuh tak acuh
Adakah yang sakit?
Hitam dan putih
Tanpa mengetahui satu inci di depan
Seperti berkeliaran di sekitar
saya telah menunggu
Tanpa kegagalan
Dalam mimpi yang menuntunmu
Seolah semua terjebak dalam kegelapan
Dengan kedua mata tertutup
Saya mabuk dengan emosi yang padam
aku Kehilanganmu.)
__ADS_1