
Rebecca mengikuti langkah James, dokter wanita itu tak menolak ataupun keberatan ketika James menggandengnya. Karena pikirannya yang masih kacau, Becca tidak bisa menjernihkan apa yang ada di benaknya.
"Kau ini kenapa?"
"A-aku hanya ... " Entah darimana Becca bisa memulai menjelaskan perasaan yang dialami pada pria yang kini membawanya ke salah satu stateroom atau disebut juga kamar kabin dari super yacht yang mereka naiki tadi.
"Kita?" Pandangan mata Rebecca menuntut sebuah jawaban dari James yang membawanya ke sebuah luxury stateroom. Hal ini mengingatkan kejadian sebulan yang lalu hingga menyebabkan dirinya sampai terdampar hidup bersama James pula.
"Paman meminta kita bermalam di sini, itung-itung sebagai hadiah bulan madu katanya." Pria dengan tinggi lebih dari 180 cm itu mengajak Rebecca yang telah disambut oleh seorang awak kabin.
"Hei, aku tidak mau hal seperti dulu terulang,"
"Sstt diam! kita harus terus berpura-pura, Becca!"
Kedua masuk ke ruangan yang telah disiapkan untuk James serta Rebecca. Meski masih malu-malu dengan duduk berjauhan satu sama lain. Namun, James menekankan tidak akan melakukan hal di luar kesepakatan.
Rebecca sedikit mengendurkan pertahanannya atas janji James yang tidak akan melakukan tindakan pelecehan padanya.
James melemparkan salah satu handuk yang disediakan untuk mereka berdua. Handuk itu rencananya akan James gunakan untuk mengeringkan rambut serta bajunya.
"Gunakan itu! kita berada di tengah laut, jadi aku tidak bisa memberimu baju ganti."
"Iya," jawab Rebecca.
Gown basah itu cukup membuat Rebecca risih. Untung saja, James berbaik hati dengan menutupi bagian yang terlihat mencolok karena basah. Bahan tile memang tidak setipis sifon ataupun linen. Tetapi tetap saja, busana basah semakin membuat tubuh Becca menampakkan lekuknya.
"Terimakasih," imbuh Rebecca lagi sambil mengelap gown hingga rambutnya yang basah.
Hal sensual seperti itu, mana bisa ditahan oleh lelaki normal seperti James. Naluri kelelakiannya semakin membara dengan apa yang tak mampu ditutupi oleh penghalang lagi.
Jantungnya semakin berdegup mana kala Rebecca berjalan menghampiri diri James tanpa alas kaki.
__ADS_1
Kaki mulusnya sedikit terlihat dari gown yang tersingkap ke atas. "Apa wanita ini sengaja menggodaku?"
Tanpa diminta, Rebecca membantu bapak satu anak itu untuk mengering rambutnya. Usaha itu dilakukan oleh Rebecca bukan tanpa alasan. Becca merasa harus berterimakasih dengan bantuan James. Dengan pertolongan James itulah, ia terbebas dari rasa malu yang luar biasa.
Seperti membantu Alicia dalam mengerjakan sesuatu, Rebecca begitu lemah lembut serta penuh perhatian mengelap helai demi helai rambut James.
Dokter wanita itu tak mengetahui jika apa yang ia lakukan semakin membangkitkan semangat penyerangan serigala lapar.
"Apa kamu percaya takdir? Adakah orang yang melawan takdir?" Pikiran Rebecca kembali pada momen di mana ia sempat melihat bayangan seorang yang ia yakini Fabian kakaknya.
"Ya, aku percaya pada takdir." balas James. "Takdir juga lah yang membawa kita bertemu meski kau berharap tak lagi bertemu denganku,"
Pikiran keduanya tidak sinkron, jika Rebecca sedang membahas takdir pertemuannya dengan Fabian. Maka lain dengan James, pria itu sedang membicarakan takdir mereka.
Selesai mengelap rambut James, Rebecca duduk di samping pria itu tanpa sedikitpun melihat ataukah hanya melirik ke arah James.
Pandangan mata Rebecca seperti menembus ke arah jendela kaca yang tertutup rapi. Sepertinya James bisa menangkap kegundahan hati Rebecca.
Sehingga, James menggerakkan tangannya lalu menghapal jari jemari lembut mama sambung Alicia itu. Hal mengejutkan itu telah membuyarkan lamunan Becca. Perlakuan manis dari pria dingin itu semakin romantis ketika tanpa diduga James mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri hingga berjarak tak lebih dari tiga sentimeter.
"Sepertinya kau minum terlalu banyak, mungkin air hangat bisa menyadarkanmu." Rebecca menyarankan agar James segera mengguyur badannya dengan mandi air hangat.
"Iya, sepertinya toleransi alkoholku telah di ambang batas." Nyatanya James hanya sedikit mengkonsumsi minuman beralkohol tadi. James telah lama mengurangi ketergantungan alkohol seusai memperpanjang ijin terbangnya.
Sedikit kecewa, itu yang dirasakan oleh James. Sepertinya ia merasa gagal karena ditolak oleh Rebecca. Hingga untuk menutupi rasa malunya, James hendak mandi.
Namun, baru saja James bangun hendak berdiri, Rebecca sontak juga berdiri. Hingga keduanya bertabrakan dan menyenangkan tubuh Rebecca terhuyung karena James menginjak ekor gown-nya.
Sontak saja, James menarik Rebecca hingga dokter wanita itu terjatuh di atas pangkuan James. Pantat Rebecca mendarat tepat di atas tombak pusaka yang telah siap untuk digunakan bertempur.
Kedua pipi Becca merona seketika karena tersipu. "Aib apa ini?" monolog Becca di dalam hatinya.
__ADS_1
Selain Rebecca, James sendiri si empunya senjata juga tak kuasa menahan malu yang luar biasa. Karena ia tak menyangka bisa berminat dengan wanita aneh seperti Rebecca.
Rebecca berpura-pura tidak tahu menahu, dirinya hendak bangun. Namun, James belum mengangkat kakinya yang menginjak ekor gown Becca.
Kegagalan kissue tadi, diganti Tuhan dengan keadaan tak terduga dengan terantuknya kedua jidat suami istri itu. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh James. Entah karena dipengaruhi oleh kadar alkohol atau bukan, yang jelas kini James bisa mendapatkan kisseu itu dari Rebecca.
Hendak melarikan diri, tetapi sadar jika ia tidak bisa berbuat apa-apa dari pria yang memiliki tenaga lebih besar darinya. Alhasil, Becca hanya bisa legowo menerima serangan duda satu anak itu.
James benar-benar telah mengubah kendali hidupku dari autopilot menjadi mode manual setalah bertemu dengan dokter aneh itu.
Perasan yang selalu ia tekan, kini tak bisa ia halangi lagi. Pada akhirnya hal seperti ini memang harus diungkapkan bukan?
Adegan kisseu manis itu, kini berangsur menjadi adegan penuh hasrat. Tak ingin ditahan lagi, apalagi hubungan mereka memang telah halal di mata agama serta negara.
Pergulatan panas itu, hampir mencapai puncaknya jika tak ada suara ketukan dari luar yang telah mengganggu aktivitas malam itu.
James mengeram ingin menghantam kepala orang itu dengan kepalan tangannya. Atau menjedotkan kepala pengganggu itu ke tembok karena telah menghentikan keinginannya.
"Aku akan keluar dulu, tunggu lah!"
Kepergian James, dimanfaatkan oleh Rebecca untuk melarikan diri dengan bersembunyi di kamar mandi. Tanpa sepengetahuan James tentunya.
Untung saja si pengganggu adalah Thomas, sehingga tak ada keributan seperti baku hantam dari dua kakak beradik itu.
"Jika kau tak membawa kabar penting, jangan ganggu aku. Enyahlah, Thom!" Emosi James berada di ubun-ubun. Bagaimana tidak, Thomas telah menghentikan puncak kenikmatannya.
"Aku bawa kabar baik, tenanglah!" Thomas dilarang masuk ke kamar kakaknya. Hingga pemuda tampan itu sedikit curiga jika Kakaknya dan Rebecca sedang bertengkar.
"Aku menemukannya, Kak!" Thomas menyebut jika ia berhasil menemukan Fabian.
"Jaga dia jangan sampai lolos! dan sembunyikan ini dari Rebecca." James tidak ingin berita ini menjadi pukulan bagi istrinya.
__ADS_1
Barulah Thomas ketahui setelah James masuk mengambil ponselnya dan pintu kamar itu sempat terbuka, Thomas melihat sprei kamar porak-poranda yang menandakan jika penghuninya baru saja melakukannya aktivitas berat. Tak hanya sprei saja, kemeja James yang sempat dilepas tampak tergeletak begitu saja di atas lantai.
"Pantas saja, dia begitu marah padaku! Karena aku sudah mengganggu mereka, hahaha lucu sekali."