Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
Kuyang? Peyang?


__ADS_3

Pria bertopi yang sempat dikejar oleh Rebecca bisa bernapas lega karena mampu meloloskan diri dari kejaran dokter wanita itu. Fabian mengatur napasnya yang sejak tadi memburu. Berolah raga sore di usia yang tak muda lagi ternyata mampu mengurus banyak tenaga.


Dan Fabian tidak menyangka jika Rebecca bisa merasakan kehadirannya. Padahal jika dilihat dari sisi manapun, Fabian telah banyak merubah gaya berpakaiannya selama ini.


Semenjak dinyatakan meninggal, pria yang kini berprofesi sebagai fotografer tersebut sengaja menjauh dari kehidupan lamanya. Kakak dari Rebecca itu juga memilih menetap di kota kembang demi menemani Raisa selama menjalani masa pengobatannya.


Untuk hari ini, bukan niat Fabian untuk menampakkan diri di depan Raisa. Fabian memiliki janji temu dengan klien yang menggunakan jasanya. Mereka baru saja membahas rencana kerja di pusat perbelanjaan ini.


"Maafkan aku, Re! sungguh aku tidak bermaksud untuk mempermainkan kamu dan mama. Kakak hanya tak ingin kalian berdua banyak berpikir yang tidak-tidak terhadap kakak." Sebenarnya Fabian menyesali jalan yang ia pilih karena telah membuat jarak dari keluarganya. Dan bahkan Fabian juga cukup menyalahkan dirinya, karena adanya kasus yang menimpa harus membuat ia kehilangan papa untuk selamanya.


Fabian sungguh bodoh karena memilih hidup jauh dari keluarga yang sangat ia cintai. Bahkan ia masih saja setia menemani Raisa yang masih belum bisa dipastikan kapan ia akan bangun.


**


Selain Fabian, Rebecca juga sama ngos-ngosan seusai berlarian ke sana ke mari mencari keberadaan pria yang sangat ia duga kakak lelakinya.


Untung saja panggilan dari Alicia mampu menyadarkan keresahannya. "Mama ..." Becca menoleh ke arah gadis yang bergandengan tangan dengan pria klasik yang ia kenal.


"Maafkan aku," ucap Rebecca sembari mengusap peluh di area pelipisnya akibat jogging di area perbelanjaan.


"Mama kenapa? Apa ada masalah?" Alicia dengan penuh perhatian mendekat sang mama yang masih terengah-engah mengatur napasnya.


James menduga jika Becca baru saja melihat orang yang telah lama tak ia temui. Semua itu terlihat dari sorot mata Becca yang masih belum puas dengan masih saja menyapu di sekeliling.


"Ketemu mantan pacar?" tebak James seketika. Niat pria itu tak lain hanya ingin menyadarkan bahwa tugas Rebecca di sini hanya sebagai pengasuh Alicia.


"Mantan pacar itu apa, Pa?" Alicia tak mau kalah dari sang papa. Gadis itu menduga jika mantan pacar adalah teman mamanya.


"Bukan, Cia! Oya mama harus ke rumah sakit. Sebentar lagi jam jaga mama."


James mengusulkan agar Rebecca pergi ke rumah sakit seorang diri saja. Ia akan pulang bersama Alicia tanpa Rebecca.


"Tidak masalah," jawab Rebecca. Wanita itu tidak keberatan jika James tak mengantarkan dirinya.


Lagipula, Rebecca tidak ingin memiliki hutang budi terhadap James sekarang ataupun di kemudian hari. Jika Rebecca bersedia, tetapi tidak dengan Cia. Gadis kecil itu tidak terima jika papanya akan membiarkan Rebecca pergi seorang diri.


"Mamamu sudah besar, sudah tahu jalan pulang." bujuk James. Keduanya sepakat berpisah di area parkir mobil.


Meski tidak terima, tetapi Alicia harus menerima keputusan mama serta papanya.

__ADS_1


Rebecca berjalan menjauhi dua keluarga barunya. Meski raganya berada di sini. Namun, pikiran Becca tak jadi satu dengan tubuhnya. Tidak bisa dipungkiri lagi, Rebecca masih memikirkan pria yang ia anggap kakaknya tadi.


Karena ketidakwaspadaannnya Rebecca hampir saja tertabrak sebuah mobil yang melaju tak kencang. Tubuh Becca terhuyung ke samping setelah sebuah tangan menariknya.


"Hei!" seru suara pria yang sudah menolong Rebecca dari bahaya.


"dokter?" Rebecca kembali memiliki kesadarannya setelah diselamatkannya oleh pria berkacamata yang telah ia kenali seusai menangani kasus Anemia Sel Sabit Alicia tempo hari.


Sedangkan Alicia sendiri berteriak dan berlari tanpa diminta ke arah Rebecca. Melihat sikap Alicia yang begitu peduli dengan Rebecca, James mau tak mau juga mengikuti Alicia dari belakang.


"Mama," isak Alicia tanpa peduli dan langsung memeluk Rebecca.


Gadis kecil itu amat takut jika terjadi sesuatu pada sang mama. Sedangkan dokter Satrio yang telah dikenal oleh Alicia sebelumnya, juga mampu mengingat cucu dari pemilik rumah sakit.


"Tapi kenapa dia memanggil dokter Rebecca dengan sebutan mama?" Satrio yang telah akrab dengan Rebecca juga tak mau kalah dari Alicia. Satrio bertanya kepada Rebecca, "Anda tidak apa-apa, dok?" Dan Satrio juga memastikan tak ada bagian tubuh Rebecca yang terluka dengan menyeka baju Becca.


"Sudah kukatakan hati-hati bukan? Kamu sih ngeyel, Yang! dianterin gak mau." James juga tak mau kalah melakukan pertukaran drama di depan rekan kerja istrinya.


"Yang? Kuyang? Peyang?" benak Rebecca menatap tajam ke arah James seperti meminta penjelasan atas sebutan untuknya tadi.


"Ma?"


Ketiganya masuk ke dalam SUV milik James setelah pria itu memastikan Rebecca bersedia mengikuti drama kepura-puraan yang ia buat. James memberikan kode agar Becca bisa andil bagian dalam drama ini.


"Kita anter mama ya, Pa?" Cia begitu girang setelah papanya berbalik hati dengan bersedia mengantarkan mamanya.


"Sepertinya mamamu, tidak bersedia. Dia lebih suka berduaan dengan dokter ganjen tadi."


Rebecca menoleh ke samping kanannya melihat James dengan tatapan dingin. "Berduaan? Dokter ganjen?"


"Aku salah apa, sih?" Tak terima dengan penindasan kata-kata dari James, membuat Rebecca ingin mendapatkan sebuah jawaban yang pasti.


"Kau harus ingat, kau ini wanita yang sudah menikah! tidak seharusnya dekat dengan rekan kerja hingga seperti itu."


**


Meskipun masih kesal dengan James, Becca masih bisa menahannya di depan Alicia. Karena Becca tidak ingin Cia melihat papa dan mamanya yang terus saja ribut. Hal seperti itu, tidak baik untuk pertumbuhannya psikologi Alicia.


"Terimakasih!" ucap Becca sebelum keluar dari mobil karena James telah mengantarkannya ke rumah sakit tempat Becca bekerja.

__ADS_1


"Dah, mama!" Cia melambaikan tangannya setelah mencium tangan Becca.


"Nanti mama akan menelpon kamu sebelum tidur, tetapi jika tidak ada pasien," janji Rebecca pada putri sambungan.


Selama Becca tinggal di rumah papanya, Alicia memang telah terbiasa tidur ditemani oleh ibu sambungnya itu. Tak pernah semalam pun Becca melewatkan mengantar Cia hingga ke alam mimpi. Dan bahkan jika Becca masuk malam seperti ini, Rebecca akan melakukan panggilan video hanya untuk menemani Cia tidur.


"Ma, cium dulu!" pinta Cia sembari menyodorkan pipi kirinya lebih dekat dengan ibu sambungnya.


Rebecca sendiri tidak keberatan untuk mencium gadis pintar itu. Cia sangat bahagia memiliki mama yang lemah lembut seperti Rebecca ini. Tetapi bagaimana dengan nasib papanya.


Hingga membuat Cia protes, "Kenapa Cia saja? Papa mana? Cia sering lihat mama dari teman Cia yang mencium papa mereka."


"Oh, no!"


...****...


Kemarin engkau nyatakan hati


Tapi terlambat


Katamu tak bisa


Cinta ini takkan berbalas


Sayang kupastikan melayang


Pedih ku saat merasa indah


Semua hilang dan usai


Bila cinta ini tak nyata


Jangan engkau beri harapan


Sudah cukup kini kusadari


Terlalu cepat jatuhkan hati


__ADS_1


__ADS_2