Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
Dendam Membakar Rasa Cinta


__ADS_3

Perkelahian antara James dan Fabian tidak bisa tertahankan lagi. Terlebih lagi, James terus saja menyisir setiap sudut rumah kuno itu. Dan Fabian pun juga tidak mau kalah. Dengan tegas ia menahan agar James tidak terus membuka setiap pintu di rumah itu


"Ba jing an! kau sembunyikan di mana istri dan anakku?" James menarik kerah Fabian dan memukulinya hingga babak belur.


Tak ingin mengalah, tentu saja Fabian pun melawan. Kini ia mulai bisa menangkis setiap pukulan James. "Tidak bisa seperti ini, aku harus membunuhnya!"


Dua pria yang membawa luka serta amarah itu saling memukul serta menendang. Bahkan Fabian dihajar oleh James hingga kepala terbentur di pojokan meja ruang tamu. Darah segar mengalir membasahi pelipis Fabian. Keduanya saling baku hantam. Meski tidak muda lagi, jangan ditanya seperti apa tenaga mereka. Jika sudah menyangkut harkat serta keselamatan anak istri, James rela melakukan apapun.


**


Perkelahian di ruang tamu, terdengar di kamar tempat Becca dan Alicia disekap. Sedikit demi sedikit Becca mulai bisa melepas ikatan di pergelangan tangan anak sambungnya.


Alicia hendak berteriak kencang karena melihat kesungguhan mama Becca dengan menyelamatkan dirinya.


"Jangan takut, mama ada di sini."


Kalimat penuh harap dari Becca itu membuat Cia kecil lebih mengerti. Kini sebisa mungkin dengan nalurinya, Cia hendak melepas ikatan Rebecca begitu ia bisa terbebas.


"Pelan-pelan, Sayang."


"Iya, Ma. Cia mendengar suara papa, Ma! papa datang menyelamatkan kita," Gadis kecil itu berseru dengan girang karena merasa sebentar lagi papanya akan segera menyematkan mereka berdua dan segera membawanya pergi dari rumah ini.


Tidak bisa dipungkiri, wajah Rebecca juga kini memancarkan aura binar-binar ia tahu jika James tidak akan membiarkan Cia terluka. Sebab Becca percaya jika James begitu menyayangi Cia.


"Syukurlah kamu selamat, Nak! biarlah mama saja yang menderita untuk menggantikan kalian semua." gumam Rebecca pelan sambil menatap kokohnya pintu kamar yang digunakan untuk menculik mereka.


Meski dengan susah payah, Cia berhasil membuka simpul ikatan di pergelangan tangan mamanya. Dengan bangga, si kecil Alicia memamerkan hasil kerjanya pada Becca. Tali yang digunakan untuk mengikat itu, Becca lemparkan begitu saja dan segera berlari menuju pintu kamar untuk segera mengeluarkan Alicia dan memberitahu James jika anaknya baik-baik saja.


"Ayo, Sayang ... kamu harus keluar! Rebecca menggandeng tangan sang putri untuk berusaha keluar dari kamar ini.


Namun, keberhasilan itu tak datang begitu saja. Tentu saja Fabian tidak ingin mendapatkan risiko dengan Becca lari dari cengkeramannya.

__ADS_1


"Kenapa, Ma? Tidak bisa dibuka?" tanya Cia dengan wajah hampir menangis.


Melihat hal tersebut, sungguh sakit sekali hati Rebecca. Dirinya tak kuasa melihat gadis yang begitu ia cintai menderita. "Mama akan melakukan apapun demi keselamatan kamu, Sayang!"


Rebecca memutar ide, jika ia berteriak dan menyebut James, ia mungkin tidak bisa mendapatkan hasil apa-apa. Karena keselamatan James juga dalam bahaya. Becca mendengar James dan Fabian masih bergelut di atas lantai.


"Ya Tuhan, tolong kami!"


Rebecca melihat ke sekelilingnya, ia bermaksud membuka paksa pintu kamar. Namun, tak ada benda yang bisa digunakan untuk membongkar pintu tersebut.


Di sudut kamar hanya ada sebuah helm proyek tua. Rebecca memutar otaknya apa yang seharusnya ia lakukan dengan barang itu. "Waktuku tidak banyak, aku harus mengeluarkan Cia dari sini."


Naluri seorang ibu yang ingin melindungi anaknya membuat Rebecca cukup berani. Ia membawa helm berwarna orange itu mendekati kaca di samping pintu. Becca ingin membuat lubang agar Cia bisa keluar dari kamar ini.


Becca mulai menghitung di dalam hatinya, "Satu ... dua ... tiga .... " Pada hitungan ke tiga, Rebecca dengan niat yang benar memukul kaca tua itu hingga pecah.


Lubang pecahan sebesar kepalan tangan itu Becca gunakan untuk memeriksa kunci kunci pintu dari luar.


Wajah Alicia kembali berbinar. Gadis itu sangat girang dan segera membawa mamanya keluar dari kamar tersebut.


"Ayo, Ma!"


Rebecca masih bergeming di tempat ia berdiri. "Akankah James percaya padaku? Bagaimana jika ia mengira aku bergabung dengan kakak untuk menculik Alicia?"


Tidak salah jika Rebecca berpikiran demikian. Pasalnya selama ini James selalu over thinking terhadapnya.


"Ma ... " panggil Alicia lagi kepada mamanya yang masih diam termangu dengan wajah lebih pucat dari sebelumnya.


"Maafkan mama, Cia. Mama tidak bisa mengikuti kamu." Rebecca memundurkan langkahnya kebelakang lagi. Pasalnya tugasnya untuk melindungi Alicia sudah berakhir jika Cia dan James telah berjumpa.


"Mama, Cia ingin selalu bersama mama. Kini, dan seterusnya," Gadis kecil itu mendekap sang mama. Kini, giliran Cia menguatkan Becca untuk terus bertahan dalam situasi apapun.

__ADS_1


Karena hanya mamanya lah, pelengkap keluarga kecil Alicia. Jika tidak ada Mama Rebecca, entah seperti apa hidup Cia dan James nanti.


Alicia berhasil menyakinkan Rebecca untuk keluar bersama guna menemui papa yang selalu ada untuk mereka.


"Papa ... " panggil Alicia dengan sedikit menjerit.


Keselamatan anak dan istri menjadi semangat tersendiri bagi James untuk terus bertahan menghajar Fabian. Tangis haru anak serta istri menjadikan James tetap kuat dalam situasi mencekam ini.


Begitu senyum dan Cia dan Rebecca terlihat olehnya, James seperti menerima sebuah tenaga ekstra untuk menghantam tubuh Fabian hingga terhuyung ke lantai.


Mungkin lamanya perkelahian, membuat napas keduanya hampir habis. Baik James dan Fabian yang sudah tak muda lagi, hal itu cukup menguras tenaga.


"Syukurlah kalian tidak apa-apa," Begitulah kalimat pertama yang mampu terucap dari mulut James.


Cia tersenyum di pelukan sang papa, "Mama melindungi Cia, Pa!"


Selain memeluk sang putri, James juga tak kuasa menahan kebagian dengan menarik Rebecca agar bergabung dengan mereka berdua. "Aku begitu mengkhawatirkan kalian," Pria itu mengecup satu persatu anggota keluarga kecilnya.


"Aku minta maaf, sudah membuatmu panik dan khawatir. Rasanya aku tidak berhak menerima semua ini darimu, James!"


James menutup mulut sang istri dengan satu jari tangannya sebagai isyarat agar Rebecca tidak berbicara seperti itu lagi, "Kau istriku, dan aku tidak bisa membiarkan kalian berdua menderita dan terancam."


"Terimakasih, terimakasih telah percaya padaku!" ucap Rebecca dan berakhir dengan sebuah ciuman yang diberikan oleh James untuk sang istri.


Pemandangan keluarga utuh ini tampak sangat manis. Jika hati orang yang melihat bersih, maka pasti orang akan memuja kebersamaan ini. Tetapi jika dalam pandangan orang yang diliputi rasa dengki seperti Fabian, hal yang indah ini tampak begitu menyakitkan baginya. Terlepas dari apakah Rebecca dan Cia bahagia atau tidak, Fabian tidak ingin mereka bersama dengan James. Kakak Rebecca itu tidak akan tinggal diam.


Dalam keadaan terkalahkan oleh James, ia mulai bangkit dan mengambil sebilah pisau dari balik bajunya.


Fabian mulai berjalan ke arah keluarga yang tampak harmonis itu. Pria yang diliputi dendam itu ingin memisahkan mereka bertiga. Hingga tidak akan ada lagi kebahagiaan yang tersisa.


Fabian mengacungkan pisau itu ke arah keluarga adiknya.

__ADS_1


"Tidak ... "


__ADS_2