Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
Apakah Bahagia?


__ADS_3

"Kau tidak makan siang dengan kalori berlebihan 'kan? Kalau tidak, kau harus tahan napas agar bajumu nanti muat!" sindir James sebelum mengajak Rebecca di salah satu butik yang sering dikunjungi oleh Nyonya Melati.


"Emak lu ngidam apa sih? Punya anak mulut kek petasan," Rebecca melirik


Tidak di rumah, dan tidak juga di butik, James terus saja menghina Rebecca. Mungkin seperti itulah cara bapak satu anak itu mampu memuji kebaikan Becca pada James dan juga Alicia selama ini.


Meski bukan salah satu member VVIP. Namun, James meminta pegawai butik untuk melayani mereka. Butik dari seorang designer lokal ini memang paling banyak dicari bahakan digemari oleh pecinta produk lokal yang tak kalah dengan brad luar negeri.


Rebecca diminta mencoba satu persatu signature gown hasil rancangan designer tersebut. Beberapa busana rancangan terbaru dibawakan oleh pegawai untuk dicoba Rebecca.


Namun, sudah ketiga kalinya ini James merasa tak puas dengan baju yang akan digunakan oleh pengasuh anaknya itu.


"Apa kalian tidak memiliki baju yang bisa digunakan untuk manusia?" Dengan emosi James memarahi pegawai yang telah memberikan Becca baju yang tak layak digunakan olehnya. Pada percobaan look pertama, Becca mencoba gown dengan potongan dada rendah hingga mampu mempertontonkan bagian sensitif itu sebagian besar.


Sedang look yang ke dua, Becca mencoba gown dengan punggung terbuka lebar. Kedua alis James bertaut dengan menahan emosi yang kian membuncah mana kala Becca mencoba look yang ke tiga.


Baju berbahan satin dengan belahan kaki panjang mampu mengaduk emosi bapak satu anak tersebut.


"Jadi yang mana yang pas? Aku capek harus gonta-ganti model!" Rebecca juga tak kalah emosi karena merasa dipermainkan oleh papa Alicia.


"Kau tahu? Vanue event kita adalah yacht yang artinya kita akan berada di atas deck."


"Lalu?"


"Kau ini praktisi kesehatan kenapa tingkat kebodohanmu melebihi emak-emak tukang sayur? Jika kau memakai pakaian yang kurang bahan bisa masuk angin, Markonah!"


Wanita yang James sebut Markonah tadi, mengepalkan kedua tangannya kemudian menyambar sebuah baju yang entah seperti apa modelnya dan Becca tidak tahu itu.


"Mbak, aku mau yang ini! tolong bungkus!"


"Kok marah, sih? Hei kau belum mencoba, kalau tak muat bagaimana?"


"Aku bisa nahan napas seperti yang kau katakan."

__ADS_1


Pegawai butik yang melayani keduanya hanya bisa bengong melihat sepasang yang kayanya suami istri namun tidak seperti suami istri seperti selayaknya.


**


Jika pada pemilihan baju untuk Rebecca, pria usil itu ribet dan banyak maunya. Maka pada pemilihan baju untuk James sendiri, Rebecca tak ikut serta. Bapak satu anak itu hanya ditemani oleh seorang personal stylist yang ia pekerjakan.



Meski begitu, baik James dan Rebecca kompak melakukan gencatan senjata selama acara nantinya. Tepat selepas magrib, kedua bertolak menuju dermaga untuk menaiki yacht seperti yang dikatakan oleh James tadi.


Pria yang datang bersama Rebecca mampu bernapas lega karena dokter wanita itu memilih gaun panjang dengan lengan tertutup dan dihiasi dengan motif tile yang menambah sisi elegan. Dengan balutan busana warna putih yang dipilih Rebecca tanpa sengaja itu pula, pengasuh Alicia itu menjadi primadona malam ini.


Hal itu bukan tanpa sebab, wajah imut dari Rebecca tanpa polesan makeup medok semakin menambah kesan mahal, ditambah lagi Rebecca sengaja mengerai mahkotanya. Pokoknya malam ini semua mata tertuju pada mama baru itu.


"Dari tadi gini kek, kan aman!" keluh Rebecca menaiki anak tangga yang akan membawanya ke tempat acara. Dengan dress panjangnya, Rebecca harus mengangkat baju itu lebih tinggi agar bisa berjalan dengan leluasa.


Sontak hal tersebut mampu membelalak mata James seketika. Pria empat puluh satu tahun itu segera menarik baju Rebecca agar tidak naik lebih tinggi lagi. Bagaimana jika betis seksinya banyak dilihat oleh mata pria lain?


"Oh sial! harusnya kutinggalkan saja dia di rumah!'


"Bisa tidak jangan tebar pesona?"



"Siapa? Aku? Hah tanpa kutebar juga orang melihat pesonaku." Namun sayang, Niat James untuk mengarahkan Rebecca ternyata sia-sia. Wanita itu justru tak sadar telah menjadi pusat perhatian.


Acara malam ini adalah grand launching resort mengapung dari paman James. Dan kapal yang mereka naiki ini merupakan salah satu unit yang disewakan.


James membawa Rebecca untuk berkenalan dengan keluarga Mochtar yang lain. Termasuk di antaranya ada juga Thomas. Pria itu mengaku menjadi wakil mamanya yang masih memerlukan perawatan kesehatan.


Sebagai salah satu kerabat dadakan, membuat Becca banyak disapa oleh anggota keluarga yang lain. Tentu saja ini bukan lah circle pertemanan Rebecca. Hanya Thomas lah yang bisa diajaknya mengobrol.


"Jadi aku harus memanggilmu kakak ipar?"

__ADS_1


"Seperti itu kurang pas, lagipula umurku tak lebih banyak darimu." Benar seperti yang dikatakan oleh Rebecca. Jarak umur yang hanya terpaut dua tahun dari Thomas membuat mereka berdua cepat akrab satu sama lain. Bahkan sebelum Becca menikah secara terpaksa dengan kakak Thomas.


"Kudengar, kakakku menjadi investor resort ini. Apa itu benar?"


"Aku tidak tahu, Thomas. Lagipula James tidak pernah membahas masalah denganku."


Thomas menduga jika pernikahan kakaknya ini tak berjalan dengan lancar. Tetapi jika James menikahi Becca dengan sebuah alasan, Thomas merasa kita hal itu bisa menyajikan hati Rebecca.


"Apa kamu bahagia?" Mata Thomas menelisik mendesak sebuah jawaban yang harusnya terdengar menggembirakan. Tetapi ...


"Sayang, kau di sini rupanya? Maaf aku meninggalkanmu tadi." Pria klasik itu datang pada waktu yang tepat.


Dan James segera melingakarkan tangan kokohnya pada pinggang ramping Becca untuk membuat kesan jika pernikahan ini nyata adanya. Lagipula siapa yang peduli jika James dan Rebecca bermesraan. Toh orang juga sudah tahu jika mereka telah menikah.


"Jangan membuatku merinding dengan sandiwaramu!" bisik Rebecca dengan kesal setengah mampus.


**


Pesta makan malam yang diselesaikan oleh keluarga Mochtar di atas deck kapal ini begitu intim. Karena hanya dihadiri oleh beberapa kalangan pesohor serta famili saja.


Mereka dengan riang gembira menikmati suasana di tengah laut. Karena kebahagiaan serta kegemukan itulah, tanpa sadar langit menjadi gelap. Bukan lantaran pekatnya malam, tetapi karena mendung.


Suasana makan malam romantis itu harus diakhiri lebih awal dari waktu yang telah ditentukan. Untuk untuk menghindari adanya gangguan yang disebabkan oleh gerimis air hujan.


Para tamu undangan saling berhamburan untuk mencari tempat berteduh tanpa sengaja Rebecca menjatuhkan gelasnya karena sebuah dorongan dari kamera SLR.


Wajah dokter wanita itu kembali pucat dan tak bisa bergerak dan hanya bisa mematung di tempat Rebecca benar-benar seperti manusia yang telah kehilangan akal dan pikirnya.


Bahkan air hujan yang jatuh pun tak dapat menyadarkan dokter wanita itu dari lamunannya. Tubuh Rebecca basah kuyup karena tak ada yang mampu menghalangi derasnya air hujan.


Hingga sebuah jas direntangkan tepat di atas kepala Rebecca. "Sudah puas main hujannya?"


Rebecca mendongak melihat apa yang terjadi di atas kepalanya tampak senyum pria yang selama ini berseteru dengannya. "Iya," jawab Rebecca lirih.

__ADS_1


"Apa orang mati bisa hadir kembali, James?" Meski masih linglung, Rebecca bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.


"Kau ini bicara apa? Ayo! tubuhmu basah kuyup."


__ADS_2