Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
A Million Pieces


__ADS_3

Fabian terengah-engah dari kesulitannya mengatur napas. Bukan sekali saja ia dihadapkan dengan keadaan yang tidak menguntungkannya dirinya.


"Sial! jika aku pintar dengan melihat latar belakang klienku, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi." gumamnya pada dirinya sendiri yang merasa cukup bodoh dengan tidak mengecek siapa kliennya malam ini.


Bertindak sebagai fotografer, Fabian tidak menyadari jika jika Rebecca bisa menjadi salah satu tamu yang diundang. Untung saja, keresahan Rebecca tak berujung dengan terbongkarnya identitas Fabian. Terlebih lagi, acara yang malam ini dihadiri olen media tak sampai menangkap bayangan dirinya.


Tak sampai di situ saja, jantung Fabian semakin berdegup kencang dikarenakan adik kandung dari pasangan Rebecca menyadari kehadirannya. Fabian sangat hafal betul siapa dan seperti apa keluarga Mochtar. Mereka tidak akan melepaskan mangsa mereka begitu saja.


Mungkin jika James kurang begitu memedulikan hal lain, tetapi tidak dengan Thomas. Anak kedua dari Melati Mochtar itu menangkap bayangan kehadiran musuh sang kakak.


Sehingga, Thomas menugaskan pada penjaganya untuk menyisir lokasi serta menangkap pria mencurigakan yang diduga pria yang membawa kabur mendiang kakak iparnya.


"Cari hingga ketemu, bahkan jika perlu hingga masuk laut!"


Fabian salah telah mengambil job ini, ia tidak menyangka jika pekerjaan yang bisa digunakan untuk membayar biaya rumah sakit Raisa ternyata membawanya ke dalam kandang singa yang bisa setiap saat menerkam diri Fabian.


Kakak Rebecca itu bersembunyi untuk menghindari kejaran anak buah Thomas. Hingga Fabian harus melepas kemejanya dan hanya menyisakan T-shirt saja. Kaos tipis itu tidak bisa menghalau udara dingin dan juga tidak bisa menghindari derasnya hujan.


Fabian bersembunyi di belakang lambung kapal, ia duduk merapatkan dirinya dengan gulungan tambang untuk menutupi badannya. "Semoga aku tidak ketahuan!"


Thomas benar-benar bersumpah akan membawa orang itu ke hadapan kakaknya. Ia tidak akan melepaskan pria yang telah merusak rumah tangga kakaknya begitu saja. Bahkan jika perlu, dengan tangannya sendiri lah Thomas akan menyeret Fabian ke hadapan James.


**


Jika Thomas tengah sibuk menangkap' penipu identitas, maka sangat berbeda dengan James. si penipu perasaannya sendiri.


Meski dianggap sedang dikuasai oleh minuman beralkohol, James tidak peduli. Ia sudah terlalu nyaman dengan perhatian dari Rebecca.


Tidak hanya itu saja, James juga menggeliat karena hasratnya harus segera dituntaskan. Tidak seperti biasanya, bapak satu anak itu tak bisa menahan keinginannya untuk memiliki Rebecca secara utuh.


Mungkin bertahun-tahun menduda menjadi salah satu alasan kenapa James begitu berapi-api menekan hingga menyerang wanita yang tak berdaya dan kini berada di bawahnya.


Namun, sial! kesenangan James harus tertunda dengan adanya gangguan berupa kedatangan adiknya Thomas.


Jika bukan Thomas, mungkin James akan langsung memukul pria yang terus-menerus menggangu di depan stateroom nya dan berimbas bisa merusak malamnya bersama Rebecca.


James mendapat kabar jika Thomas berhasil menangkap musuh bebuyutannya. Dan Thomas begitu percaya diri telah mampu melumpuhkan pria itu.

__ADS_1


Ingin mengabaikan, tetapi James tidak bisa. Ini adalah kesempatan emas untuk menangkap pria yang telah membawa kabur mendiang Raisa. Tetapi menunda kegiatannya dengan Rebecca juga bukan hal yang benar.


Sehingga James dilema harus memilih mempertahankan hasratnya atau menangkap kakak Rebecca.


"Kau ke sana dulu! aku akan menyusul," jawab James mengambil keputusan.


Segera bapak satu anak itu menemui sang istri yang tadi ia tinggalkan. Sungguh sial! Rebecca tidak berada di tempatnya. "Apakah dia kabur dariku?"


James segera mencari Rebecca di seisi stateroomnya. Hingga bunyi gemericik di balik pintu kamar mandi membuatnya lega. Bahwa wanita yang baru saja ia terjang berada di dalam kamar mandi.


"Untung saja," James bisa bernapas lega.


Pria yang terlihat bingung itu, mengetuk pintu kamar mandi karena sungguh enggan untuk meninggalkan kamarnya.


"Rebecca apa kau masih lama? Aku keluar sebentar, ya? Jika ada apa-apa lekas hubungi aku!"


James menunggu jawaban dari Rebecca, hingga sedetik menuju semenit berlalu dan Becca tak kunjung menjawabnya.


"Sayang, apa kau mendengarkan aku? Apa terjadi sesuatu padamu, Becca?" Pikiran James kembali khawatir. Khawatir terjadi sesuatu pada Rebecca.


"Mungkinkah aku terlalu berlebihan padanya tadi?"


Untung saja sebelum James mendobrak pintunya, Rebecca keluar dengan memakai handuk bekas mengeringkan rambutnya tadi.


Rebecca menunjukkan raut wajah masam begitu ia keluar dari kamar mandi. Hingga membuat James si penjahat tak kuasa menahan tawanya.


"Kau ngambek karena aku meninggalkanmu, ya?"


Dugaan James salah, seketika Becca menengok ke arah James dengan tatapan sinis. "Kamu mengingkari janjimu!"


James tahu arah pembicaraan Rebecca, wanita itu protes karena James sudah melanggar janjinya untuk tidak menyentuh sang istri.


"Kita bahas itu nanti, aku buru-buru. Nanti kita ubah poin kesepakatan kita.'


Mulut Rebecca ngedumel tak karuan mengiringi kepergian James dari stateroomnya. "Kamu memanfaatkan kesempatan, James. Aku benci padamu,"


"Istriku, jarak antara benci dan cinta itu tipis sekali, loh!"

__ADS_1


**


James menemui Thomas di tempat yang telah adiknya itu katakan. Di gudang penyimpanan logistik awak kapal ini lah, Thomas berhasil meringkus serta menyandera Fabian.


Thomas mengajak sang kakak melihat seperti apa pria itu kini kehilangan harga dirinya. James masuk mengikuti sang adik dari belakang dan memuji hasil kerja Thomas dengan baik.


Bahkan James tidak menyangka akan bertemu kembali dengan musuhnya.


Tawa James begitu nyaring melihat Fabian dengan kedua tangan terikat di depannya.


"Tak kusangka kita bertemu lagi!" James membuka paksa mulut Fabian yang diplaster oleh anak buah adiknya.


"Ba jing an!" umpat Fabian meludah ke arah James.


"Sekarang kau lihat baik-baik! di mana letak ba jinh an nya aku, kakak ipar?" James masih sempat mengejek Fabian dengan memanggilnya kakak ipar.


Sepertinya Fabian telah paham maksud James. ia tak terkejut lagi begitu melihat kedatangan James bersama Rebecca. Terlebih lagi keduanya tampak cukup mesra meski hanya di depan kamera.


"Aku tak sudi memberikan adikku padamu!"


"Pada kenyataannya, aku adalah suami adikmu."


James memikirkan sebuah cara yang cukup ampuh. Meski hingga detik ini James masih belum tahu jika Raisa masih hidup dan Fabian juga sama sekali tidak membuka mulutnya mengenal Raisa. James memikirkan ide cemerlang.


"Lepaskan dia! aku ingin melihatnya menderita perlahan demi perlahan hingga nanti ia bersujud padaku untuk mencabut nyawanya."


Dengan dendam yang masih belum padam, James memikirkan sebuah cara untuk menghancurkan hidup Fabian dengan membuatnya melihat adiknya hidup bersama James tanpa bisa ia melakukan apapun.


James mampu melihat kedua mata Fabian yang memancarkan aura kekesalan ketika James membahas Rebecca. James tahu jika Fabian begitu mencintai adiknya.


"Aku bisa membuatmu menderita dengan nyakitin Rebecca!" ancam James di tengah api amarahnya.


"Jangan sentuh adikku!"


"Diam bodoh! karena di sini akulah yang memegang kendali,"


...****...

__ADS_1



__ADS_2