
Dengan perasaan antara enggan dan takut Cia akan semakin marah padanya, Rebecca menahan untuk tidak melakukan perlawanan terhadap gadis kecil itu. Ia dekatkan pipinya yang merona di dekat jendela James demi menyenangkan hati Alicia.
Sesekali Becca menarik napas untuk menenangkan jantungnya yang berdetak lebih kencang dari semestinya. Jika tak ada alasan, mungkin dokter spesialis jantung akan mendiagnosis dirinya dengan penyakit Aritmia.
Dan, pipi kiri itu berhasil mendarat meski hanya sepersekian detik lamanya. Rebecca buru-buru menarik kembali pipinya agar bocah nakal itu tak semakin mempermainkan dirinya lagi.
Kemudian, Rebecca berpamitan dengan Alicia dengan dalih ingin segera mengambil presensi/ kehadiran kerjanya.
"Nah gitu dong, 'kan enak dilihatnya!" Gadis kecil itu amat girang melihat kedekatan di antara papa dan mama sambungnya.
"Lain kali jangan seperti itu lagi! kasihan dia." Bagaimanapun juga James merasa kasian melihat wajah Becca yang begitu tertekan tadi. Ia tidak mungkin mengharapkan kebaikan hati wanita itu untuknya.
"Kasihan kenapa, Pa? Papa juga tidak keberatan ', kan tadi? Buktinya papa tidak protes padaku!"
Jika semenit yang lalu wajah Becca yang tersipu, maka kini wajah James pula lah yang tak dapat menahan rasa malu. Hingga membuat pria itu mengajak putri semata wayangnya segera pulang.
**
Seperti janjinya pada Alicia, Rebecca segera menghubungi putri kecilnya untuk menemani menjelang ia tidur. Hal kecil seperti bercanda, bernyanyi ataupun membacakan sebuah dongeng kini menjadi rutinitas Rebecca setiap malamnya.
Ketika Becca sedang melakukan panggilan video, tiba-tiba Alicia menjeda dan berkata, "Maaf, Ma! Cia matikan dulu!"
Rebecca menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jas yang ia kenakan. Selanjutnya Rebecca akan menemani perawat melakukan kunjungan pada malam hari.
Bukan tanpa alasan Cia mematikan sambungan telepon dari sang mama sambungnya. Alicia menapaki tangga ke lantai dua menuju kamar papanya. Gadis kecil itu ingat ada barang yang tertinggal di kamar James.
"Papa ... apa Cia mengganggu?" Cia mengetuk pintu kamar James dan memastikan jika papanya tidak sedang dalam keadaan sibuk.
"Kenapa bertanya seperti itu? Biasanya kamu langsung masuk saja ke kamar papa?"
__ADS_1
Alicia berjalan memasuki kamar James dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling seraya berkata, "Mama sering melakukan hal seperti itu sebelum masuk ke kamar Cia."
Anak kecil memang suka menduplikasi apapun yang dilakukan oleh orang dewasa. Mereka hanya menangkap semua memori yang mereka lihat dan mempraktekkan hal tersebut.
James cukup kaget dengan perubahan Cia. "Karena dia orang luar saja, kalau kamu dan papa kan keluarga, Nak!"
"Lalu apa bedanya, Pa? Mama bukan keluarga kita?"
Pertanyaan dari Cia sontak membuat James kesulitan menjawab sehingga pria dewasa itu hanya mampu menatap kedua manik bocah itu dan mengelus lembut kepala Cia.
"Kamu mau tidur di sini?" tanya James seolah menangkap maksud kedatangan sang putri ke kamar pribadinya.
"Tidak, Pa! Cia lupa mengambil buku dongeng yang tertinggi di kamar papa. Cia ingat papa meletakan buku itu di rak buku papa." Gadis itu memiliki ingatan yang cukup bagus karena meninggalkan buku miliknya ketika tidur bersama papanya beberapa hari yang lalu.
Dengan alasan tak memiliki tubuh yang cukup tinggi, Cia meminta James mengambilkan buku miliknya. Namun, James penasaran kenapa Cia tidak menyuruh Becca yang notabenenya pengasuh untuk mengambilnya.
"Kenapa tidak meminta mamamu mengambilkan?"
Pria dengan setelan baju tidur berwana hitam bergaris itu teringat telah memberi peraturan jika Rebecca dilarang memasuki daerah yang bukan urusannya.
"Jika begitu, Cia ke kamar dulu, Pa! Mama menungguku,"
"Menunggu?" tanya James menebak jika semua yang dilakukan oleh Cia atas perintah dari Becca.
"Mama akan membacakan sebuah dongeng sebelum Cia pergi tidur, pasti mama menunggu untuk melakukan panggilan video."
Gadis kecil itu belajar cukup banyak dari yang James kira. Dengan umur yang baru menginjak lima tahun, Cia telah banyak melewati masa sulit. Dan kini, Alicia telah belajar menjadi dewasa melebihi usianya.
**
__ADS_1
Sebenarnya sebelum kedatangan Alicia ke kamarnya, James telah memeriksa hasil rekaman kamera pengawas di area pusat perbelanjaan.
Tidaklah sulit bagi James bisa mendapatkan hal yang ia inginkan seperti rekaman kamera pengawas di pusat perbelanjaan. Sebagai salah satu orang kaya di kota ini, mudah bagi James untuk mendapatkan hal kecil seperti itu.
Dengan keanehan sikap Becca tadi, membuat James sedikit curiga jika wanita itu telah bertemu dengan mantan kekasihnya seperti yang telah James pikirkan.
Rupanya pikiran James salah, bukan hal kecil yang berhasil ia dapatkan. Malah sebuah misteri dari rahasia telah ia kantongi.
"Sepertinya dia belum mengetahui jika saudaranya masih hidup," gumam James menduga dari gelagat Rebecca yang begitu penasaran.
Rahasia ini cukup bisa membuat James mengembangkan senyumnya. Bukan lantaran musuh bebuyutannya masih hidup. Tetapi James kini memiliki bukti jika Fabian melakukan pelanggan hukum dengan memalsukan kematiannya.
Selain itu, dengan adanya bukti ini James bisa terus mengikat Becca sebagai tawanan untuk membalas dendamnya. "Setidaknya wanita itu masih berguna untukku, tak ada salahnya menampungnya di sini."
**
Jika James begitu riang karena berhasil mendapatkan bukti yang bisa memenangkan dendamnya. Maka berbeda dengan Fabian. Pria berkumis itu kini merasa risau dengan semua kebohongannya pada Rebecca dan juga mamanya.
Ingin sekali pria dewasa itu menemui Becca dan menjelaskan semua hal yang telah terjadi. Tak peduli baik Becca ataupun mamanya akan menerima kesalahannya. Fabian harus melakukan hal itu untuk melegakan hatinya dan juga demi keselamatan Raisa. Karena ia dan Raisa tak mungkin harus terus bersembunyi seperti pengecut.
Aku pikir aku mencintaimu, mungkin seperti itu. Karena aku merindukanmu, jika tak ada dirimu. Aku tak dapat melakukan apapun. Aku terus menerus memikirkannya. Apapun itu saat aku melihat hal ini. Aku merasa aku jatuh cinta padamu.
Dahulu aku tak tahu namun saat ini aku membutuhkanmu. Tiba-tiba saat ini aku melihat wajahmu menempati bagian terbesar
di dalam hatiku.
Kita tidaklah cocok dan bagusnya hanya sebagai teman. Apakah dari satu hingga sepuluh tak ada satupun yang sesuai sama sekali?
Annyeong Jagiya-nya aku ❤️
__ADS_1
Gak bosen 'kan baca kisah ini?
Yuk komen biar aku semangat lanjut.