Turbulensi Cinta

Turbulensi Cinta
No Reason Needed


__ADS_3

Lagi dan lagi, Rebecca telah jatuh ke tangan yang tidak tepat menurutnya, bagaimana mungkin dalam kurun waktu kurang dari seminggu, dokter wanita itu bisa dikerjai oleh James dengan sesuka hati.


Meski sumpah serapah serta makian ia lontarkan pada pria yang sudah menidurinya, James nyatanya tidak kapok serta takut untuk terus mengulangi perbuatannya.


"Apa yang membuatmu seperti ini? Aku yakin ada alasannya, bukan?" cerca Rebecca pada malam panas ketika keduanya baru saja terkapar dari olahraga malam itu.


"Aku tak perlu memiliki cukup alasan untuk menjadikanmu seperti ini," jawab James tanpa memikirkan perasaan Rebecca sama sekali.


"Aku tahu, dia hanya ingin memanfaatkan aku saja. Mana mungkin dia mencintaiku, sadarlah pria itu tetap sama."


**


Begitu pagi menjelang, ketika Becca membuka mata, James sudah tidak berada pada tempatnya. Jadwal kerja sang suami yang tak diketahui oleh Rebecca, menjadikannya tiba-tiba harus kehilangan sepagi ini.


Meksi berjalan dengan terseok, Rebecca tidak lupa melaksanakan tugasnya sebagai mama bagi Alicia. Wanita cantik itu telah terbiasa hidup seperti ini, untung saja ia tidak ada jam kerja pada pagi hingga sore ini, karena jadwal kerja Rebecca mulai malam hingga besok pagi lagi.


Buru-buru Rebecca menyiapkan keperluan sekolah putri sambungnya. Tak ingin Cia terlambat ke sekolah, membuat wanita itu bergegas membangunkan Cia di kamarnya.


"Sepertinya, aku harus mengunci pintu ketika tidur di kamar Cia."


Rebecca menyialakan gorden yang melindungi jendela kaca di kamar Cia, hanya dengan memandang wajah mungil itu saja bisa menyenangkan hati Rebecca.


"Wake up, Girl!"


Alicia mengucek-ucek kedua matanya dengan pelan lalu menatap Rebecca yang telah membangunkan dirinya.


"Semalam mama ke mana? Cia terbangun dan mencari mama,"


"Hm ... mama ada urusan mendadak," Rebecca tidak mungkin akan mengatakan hal yang sesungguhnya kepada Alicia. Hal seperti ini, tidak layak untuk diketahui oleh anak seusianya.

__ADS_1


"Tapi, bukankah mama gak ada jadwal malam?"


"Udah, yuk! kamu mandi dulu, mama tunggu di sini dan siapin baju kamu." Tak ingin melihat putrinya terlambat, Rebecca bergegas menyuruh sang putri mandi pagi ini. Sejak kecil gadis manis itu telah terbiasa mandi sendiri. Hanya sesekali Becca menyiapkan air mandi dengan mengisi penuh bak mandi mungil di kamar mandi Cia.


**


Kembali menjalani hubungan jarak jauh, seperti itulah rutinitas keluarga James. Bahkan kini, Rebecca telah terbiasa dengan kehidupan keluarga kecil ini dengan baik. Jika James tidak ada seperti hari ini, Rebecca malah lebih bersyukur lagi karena tidak perlu menghadapi arogansi bapak satu anak itu.


Karena kecurigaan pada hubungannya dengan James inilah, Becca melupakan firasatnya terhadap Fabian kakaknya. Rebecca melupakan apa yang sempat ia lihat di kapal malam itu dan menanggap jika berhalusinasi karena kelelahan bekerja.


Dan sudah hampir dua hari ini, suami Rebecca tidak pulang. Mungkin gaya hubungan seperti ini sangat lah cocok untuk mereka. Karena jika setiap hari, mungkin James akan pusing menghadapi kebawelan sang istri, dan Rebecca juga tidak perlu menghadapi permintaan James yang aneh-aneh.


Berhubung hampir dua hari ini tidak merasa direpotkan oleh James, sedikit membuat Rebecca merasa ada yang kurang. Entah perasaan seperti itu kapan mulai terasa, tetapi gaungnya semakin menggema dalam kurun waktu terdekat ini.


"Jika 2x24 jam dia masih mendiamkan aku seperti ini, maka lihat saja!" Rebecca mencampakkan ponselnya di atas meja begitu saja.


Dalam shift malam hari ini, Rebecca kurang fokus hingga sering tidak nyambung jika diajak berbicara baik itu dengan pasien atau bahkan dengan rekan kerjanya.


**


Menjelang berakhirnya jaga malam, Rebecca tidak menemukan tanda-tanda jika James telah menghubungkan dirinya. "Harusnya aku mengakhiri hubungan ini lebih awal, bukankah skandalku telah berlalu? Lalu untuk apa kita masih bertahan seperti ini?"


Dokter wanita itu kemudian mengganti pakaian kerjanya dengan baju sami formal yang ia bawa. Rebecca sedikit terlambat pagi ini, sehingga ia telah menelepon rumah dan meminta bibi menyiapkan perlengkapan sekolah Alicia.


Sehingga begitu ia sampai, Becca tidak perlu menunggu lama dan langsung mengantarkan anaknya ke sekolah TK.


Becca sempat melihat pantulan wajah kurang tidurnya dari sepion. Tak ingin terlihat pucat di mata Alicia, membuat wanita cantik itu menutupi lingkaran yang berada di bawah matanya dengan kaca mata hitam jika telah sampai di rumah.


"Apa aku terlihat begitu kacau, ah sial! ini semua gara-gara pria tak berhati itu," Rebecca marah, ia marah bukan karena pria itu mengabaikan dirinya. Melainkan marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga hatinya dengan baik.

__ADS_1


Tak berselang lama, Becca tiba di rumah James. Tanpa harus mengebut atau terburu-buru, Rebecca menunggu Alicia selesai bersiap. Sesaat wanita itu sempat melihat mobil James yang telah terparkir rapi di tempat parkir.


Tidak bisa dipungkiri lagi, hati Becca sedikit lega melihat kepulangan pilot senior itu. Dan hati Rebecca tidak bisa dibohongi lagi, wanita itu sempat mengulas senyum kilat sebelum masuk ke dalam rumah.


Namun, agaknya James sedang sibuk hingga ia tidak melihat pria itu sama sekali. Karena pada jam segini, papa Alicia akan duduk manis di ruang makan ataupun bersantai di dekat kolam renang.


"Rupanya ada tamu," gumam Rebecca begitu ia berjalan melewati ruang keluarga dan mendengar suara James sedang berbicara serius bersama Thomas.


Hendak meninggalkan kakak beradik itu dan segera mengajak Alicia segera berangkat sekolah. Namun, langkah Rebecca terhenti ketika dua kakak beradik itu sempat menyebut namanya.


"Pokoknya jangan sampai Rebecca tahu, aku tidak ingin itu." Rebecca mendengar suara berat sang suami dalam pembicaraan serius itu.


"Sampai kapan, Kak? Cepat atau lambat kakak ipar akan tahu jika Fabian masih hidup!"


Rebecca tercengang, ia segera membungkam mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak bersuara. Rebecca merasa lututnya lemas tak bertenaga, hingga ia sampai hampir terduduk seusai mendengar kenyataan itu.


"Aku ingin semua orang menerima hukumannya, kalau perlu aku sendiri yang akan mengabulkan kematiannya," James masih keras kepala menolak memaafkan dua orang yang telah menyakiti dirinya serta Alicia.


"Kasihan kakak ipar, Kak!"


James tahu jika pilihannya ini bisa menyakiti hati Rebecca. Risiko terberatnya bahkan wanita itu tidak bisa memaafkan James hingga nanti.


Kedua mata Rebecca mulai sembab dibasahi oleh air mata. Ia tidak menyangka jika selama ini James menyimpan rahasia besar darinya. Alasan apapun itu, Rebecca tidak bisa menerima.


Tak ingin terlalu larut dalam perbincangan yang serius itu, membuat Rebecca segera meninggalkan tempatnya mendengar percakapan dua anak lelaki Mochtar. Dan bergegas mengajak Alicia pergi ke sekolah. Selanjutnya? Rebecca sendiri juga tidak tahu akan ke mana.


...****...


__ADS_1


__ADS_2