
"Bukankah kita menang sudah menikah? Lalu di mana letak salahnya?" Kalimat tersebut selalu terngiang-ngiang di benak Rebecca. untung saja dokter wanita itu sedang tidak menjalankan tugasnya.
Pada akhir pekan seperti ini, Becca selalu menemani putri kecilnya bermain. Namun, ketika menemani Alicia berenang sore ini, Becca selalu saja murung hingga Cia memercikkan air kolam ke wajah sang ibu karena sejak tadi ia dokter cantik itu tidak memperhatikan sang putri.
"Mama ... apa mama sedang tidak sehat?" tanya Alicia begitu Rebecca menyadari protes dari putri kecilnya tersebut.
Buru-buru Becca menepis anggapan salah yang dilontarkan Alicia, "Tidak ... mama sehat, Sayang. Apa yang membuatmu beranggapan seperti itu?"
"Sejak papa pergi bekerja tadi, Cia lihat mama sering murung," Anak kecil itu menyadari kegundahan di hati Rebecca.
Untuk melanjutkan pembicaraan dengan James pun Becca tidak bisa, menjadi istri seorang pilot membuatnya harus menjalani hubungan yang berbeda dengan suami istri pada umumnya. Waktu untuk bertatap muka dengan James menjadi momen yang jarang ia temui. Karena kesibukan Becca serta waktu kerja James yang jauh berbeda dengannya.
Seperti hari ini, James meninggalkan Becca dengan tatapan penuh tanda tanya mengenai masa depan hubungan mereka berdua.
Hanya Cia lah yang menjadi sandaran Becca sekarang ini, semenjak bertemu dengan gadis kecil itu, hidup Becca menjadi lebih berwarna bahkan pertemuan dengan Cia membawanya harus berurusan dengan James, papa Cia.
**
Dua hari ini James belum pulang, dalam pekerjaannya sebagai seorang pilot membuat pria itu harus menahan rindu dengan keluarga barunya.
Kadang-kadang, ia pulang dalam keadaan istri dan anaknya tengah tertidur pulas. Seperti hari ini, James pulang pagi dan Becca sudah berangkat bekerja. Hanya ada asisten rumah tangganya saja yang menyambut kedatangan James.
Berkali-kali James memeriksa ponsel miliknya. Tetapi dalam dua hari ini Becca tidak pernah menghubungi James sama sekali.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk bersama? Lagipula kita sudah tidur bersama, apa wanita itu masih belum bisa menerimaku?" James berjalan mondar-mandir di depan lemari kaca di dalam kamarnya demi menunggu pesan ataupun panggilan dari Rebecca.
Lama James berpikir, akhirnya pria dewasa itu menghubungi Rebecca melalui pesan singkat pada handphonenya.
Tidak seperti yang James pikirkan, jika James menganggap Rebecca akan segera membalas pesannya maka itu salah. Becca bahkan mengabaikan pesan James meskipun telah membacanya.
Dan hal tersebut membuat pria satu anak itu kehilangan rasa sabarnya.
Segera saja James mengubur wanita yang menjadi ibu sambung Alicia itu.
__ADS_1
"Rebecca, apa kau sibuk sekali?"
"Iya, aku banyak pasien di poli. Jika kamu sudah pulang, bisakah kamu menjemput Alicia?"
"Tak masalah? Lalu bisakah kita makan siang bersama? Aku dan Alicia akan mengunjungimu,"
"Aku tak salah dengar, kan? Apa dia masih Jamss yang kukenal?" pikir Rebecca di dalam hatinya. Pasalnya selama ini ia mengenal karakter James yang benci berurusan dengannya.
"Rebecca, apa kau masih di sana?" James memastikan jika Rebecca masih menahan panggilannya karena wanita itu tiba-tiba terdiam.
"Tidak masalah, kita bertemu di kantin rumah sakit saja jika kamu memiliki waktu," balas Rebecca yang tidak enak jika harus menolak permintaan James.
**
Sebelum pergi menjemput sang putri di sekolahnya, James sempat mengganti gaya rambutnya agar terlihat lebih segar dan muda lagi. Pria itu tidak ingin Rebecca mengecapnya sebagai pria tua yang tidak bisa mempertahankan aura tampannya.
Selain pergi merubah penampilannya yang sering terkesan kaku, James juga pergi menemui pesuruhnya yang selama ini membuntuti Fabian.
Dari orang suruhannya itulah, James mendapatkan kabar mengejutkan. Beberapa potret berada di depan James, foto-foto itu berisikan kegiatan Fabian sehari-hari. Dan yang membuat James harus menaikan sebagian alisnya adalah sebuah foto yang menggambarkan seseorang tengah terbaring lemah di sebuah kamar rumah sakit.
James tidak menyangka dengan apa yang telah anak buahnya temukan. Pasalnya sudah sejak lima tahun lalu, ia tidak pernah sama sekali membahas wanita itu. Wanita yang namanya telah terukir di nisan yang setiap tahunnya James kunjungi.
"Ini tidak masuk akal!" gumam James melihat wanita dengan tubuh kurus tak sadarkan diri itu.
"Anda mengenalnya, Tuan?" tanya anak buah James yang diutus untuk merekam seluruh gerak-gerik Fabian.
"Iya," James buru-buru mengambil lembar demi lembar foto yang berhasil dijepret oleh anak buahnya. Hatinya kembali mengingat peristiwa beberapa tahun silam.
Peristiwa yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya. Jika bukan karena Fabian lah, Raisa dan Cia tidak harus terpisah.
James meremas salah satu foto yang ia simpan di kantong bajunya. Ia tidak menyangka jika dua orang di dalam kecelakaan itu masih hidup. Bahkan salah satunya masih bisa bernapas sehat wal Afiat.
"Kalian harus menebus semua yang kalian lakukan pada kami. Padaku, Cia serta Becca dan juga keluarganya. Kalian pantas mati!" James begitu tersulut setelah melihat hasil penyelidikan yang didapatkan.
__ADS_1
Bahkan ketika mengemudi menuju sekolah TK sang putri, James hampir menabrak sebuah pengendara motor saking tidak fokus mengemudi.
"Sial, kalian semua kepa rat!"
James menyembunyikan perasan marahnya begitu sampai di depan sekolah sang anak. James tidka ingin Cia melihat keganasan sang papa.
"Selamat siang, Pa! kapan papa pulang?"
"Papa pulang pagi tadi, ayo kita temui mama dan makan siang bersama!"
Sebelum pergi, James sempat berpamitan dengan Arum, guru TK Cia sekaligus teman James. "Kami pergi dulu, terimakasih sudah mengajar Cia."
"Jangan sungkan, psikologi Cia kini semakin membaik, James. Semenjak ia memiliki mama baru. Cia sudah tidak pernah terlihat murung lagi."
"Syukurlah, dia banyak melakukan perubahan besar pada rumah kami."
James dan Cia berpamitan dengan Arum. Cia sudah tidak sabar lagi untuk menemui mamanya. Bukan hanya ingin berkeluh kesah saja, tetapi Cia sangat bahagia bisa melihat papa dan mamanya bersama.
**
Tepat pada jam makan siang, ketiganya bertemu fi kantin rumah sakit. James tak lupa membawa sebuah buah tangan untuk istrinya.
Jika beberapa hari yang lalu, Rebecca mendapatkan kiriman buket bunga. Maka hari ini James tidak mau kalah dengan memberikan Becca buket bunga mawar yang super besar.
Tidak hanya bunga saja, sebuah kecupan dari Cia juga menjadi mood booster bagi Rebecca siang ini.
"Terimakasih, mama sangat menyukainya!"
"Jika kamu mau, aku bisa mengirimkan bunga setiap hari untukmu,"
"Plis deh, jangan modus. Umur udah gak pantes modusin cewek,"
Cia pun terkekeh mendengar celotehan mamanya.
__ADS_1
...****...