
Rebecca mulai mengerakkan anggota tubuhnya kala seberkas cahaya mencium kedua indera penglihatannya. Selain mulai menggeliat, Rebecca refleks mengusap motif yang terbentuk dari air liur yang menganak sungai di pipinya.
"Hoam ... " Rebecca menguap seperti kebiasaannya di rumah. Dokter wanita itu tak sedikitpun menyadari jika di dalam ruangan Alicia ada penghuni lain selain dirinya dan juga anak perempuan yang masih terbaring di ranjangnya.
Setelah ia mulai mendapatkan kesadarannya, barulah Rebecca membelalakkan kedua matanya karena menangkap sosok tinggi besar yang duduk dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Astaga, aku kaget sekali!" Tak salah memang jika James berada di kamar rawat anaknya. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Rebecca hingga tertidur di ruangan Alicia?
Guna membuang jauh-jauh rasa jengah di depan James, Rebecca berniat angkat kaki dengan segera dan berkata, "Tenang saja, aku akan pergi!" Sebelum pria itu mengeluarkan kata-kata jahat dari mulutnya, Rebecca terlebih dahulu tahu diri dengan segera enyah dari ruangan Alicia.
"Papa?" Alicia keberatan atas sikap Rebecca dan meminta dukungan dari sang papa. Namun, pikiran James tak sejalan dengan sang putri. Jika saja Tuhan mampu mengabulkan keinginan Alicia, gadis kecil itu hanya ingin memiliki keluarga yang utuh seperti teman-temannya di sekolah.
"Apa? Papa tidak melakukan apapun, Loh!"
Alicia mengacuhkan papanya, ia membuang pandangan matanya ke arah yang lain hingga membuat James serba salah dibuatnya. "Di mana letak salah papa, Cia? Papa tidak melakukan apapun padanya,"
Tetapi, Alicia tak mau mendengarkan ucapan sang papa dengan tidak melihat ke arah James sama sekali. Atas hal tersebut, James merasa bertanggungjawab terhadap Alicia hingga membuat pilot senior tersebut beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan. Siapa tahu dengan begini, Alicia akan merasa jika papanya memperhatikan Rebecca.
James keluar dari kamar Alicia dan mendapati Rebecca tengah berjalan gontai khas orang bangun tidur. Tangan Rebecca bergerak meraba ke kantong jas putihnya guna mencari smartphone miliknya.
"La, aku bisa minta tolong?" ucap Rebecca di telepon.
"Bawakan aku baju ganti, dong! nggak sempat pulang aku." tambah Rebecca. Rupanya dokter wanita itu sedang menelepon Nila serta meminta tolong agar dibawakan pakaian ganti untuknya.
Sepertinya Rebecca mendengar berita baik untuknya, karena wajah cantik itu kini bersemi sebuah senyum menawan. "Aku masih ada waktu hingga poli bedah dibuka," gumamnya lalu meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku.
Niatnya untuk bersantai sejenak harus pupus lantaran sebuah panggilan masuk ke ponsel yang baru diletakkan ke dalam saku jasnya.
Rebecca harus mengubur waktu santainya karena penanggung jawab koas bagi dokter muda yang bertugas di rumah sakit ini memintanya untuk mendampingi adik-adik junior Rebecca.
"Hufft," Rebecca menghela napasnya dengan kasar seusai menerima panggilan tersebut dan bergegas ke tempat kerjanya hari ini.
Dari jauh, James yang sempat melihat wanita serampangan itu, kini kembali lagi masuk ke kamar sang putri dan berkilah jika, "Dokter itu telah pergi, Cia."
James lalu duduk di kursi yang dipakai oleh Rebecca tadi. Kursi busa tersebut tampak tidak membuat James nyaman. Sehingga sekelebat menyadarkan James dengan tidur Becca semalaman.
Alicia tampak merengut karena papanya gagal membawa kembali mama impiannya. Namun, ada hal yang menggelitik hati gadis berusia lima tahun tersebut. Yakni?
Seorang perawat permisi masuk untuk melakukan pengecekan rutin pagi hari. Tetapi ada yang membangongkan, selain membawa kelengkapan pengecekan, perawatan tersebut juga membawa satu paper bag kedai kopi.
Begitu perawat tersebut keluar seusai melakukan tugasnya, James buru-buru menyingkirkan sesuatu dan nahas, Alicia mengurungkan niat papanya.
__ADS_1
"Kenapa papa beli dua cup kopi? 'Kan Cia nggak minum kopi, Pa?"
James tersentak atas pertanyaan sang putri. Ia tak menyangka jika anaknya sangat kritis untuk anak seusianya.
"Oh, ini? Papa sengaja beli dua,"
"Untuk calon mama?"
James buru-buru menepis anggapan anaknya dengan berkilah jika kopi itu bukan untuk wanita yang Cia sebut calon mamanya.
"Papa sedang mengantuk, jadi perlu banyak kafein, Nak!"
Duh papa pinter banget ngelesnya sih? Cia kan jadi semakin curiga dong. "Bukannya papa semalaman bisa tidur, kenapa masih mengantuk?"
Cia bisa menyadari kebohongan yang dilukis oleh James. Bahkan Cia menegur jika semalam James tidur cukup nyenyak hingga Cia sempat mendengarkan papanya mendengkur.
Hancur sudah alibi James di depan sang putri. "Untung saja wanita serampangan yang menguap sembarangan tadi tak sempat melihat hal memalukan ini." batin James.
Sembari menemani Alicia sarapan, James menyantap kopi sekaligus sepotong kue untuk menu sarapan pria itu. Karena setelah ini, James akan kembali mengambil flight domestik dan meminta Thomas menemani mama dan Alicia.
"Kamu kira aku ini pengasuh Cia, ha? Makanya cari istri lagi dong?" keluh Thomas ketika James memintanya untuk menggantikannya dirinya menjaga Alicia.
"Alah, kau suka juga kan di sini? Bisa dekat banyak dokter cantik," goda James pada adiknya. Karena James sangat paham seperti apa perangai Thomas.
"Cuaca hari ini sangat cerah, Capt!" kata co-pilot yang menemani James melakukan flight domestik pagi menjelang ini.
"Iya," sahut James dingin.
"Sepertinya, Capt memiliki kualitas tidur yang baik semalam. Sehingga Anda tampak segar hari ini."
"Jangan ngaco, mana mungkin seperti itu. Dia tidak mengubah kualitas tidurku."
Co-pilot serta salah seorang pramugari yang kebetulan menawarkan minuman sempat tercengang mendengar James membahas sosok dia yang mempengaruhi kualitas tidur kapten mereka.
"Dia siapa, Capt?" Pramugari tersebut cukup ingin tahu, karena selama ini ia tidak pernah mendengar jika duda satu anak itu menggandeng wanita.
"Tidak ada," jawab James singkat. Sepertinya ia menyadari jika telah kelepasan bicara di depan awak kabin.
"Aku ini James, James Mochtar. Hidupku hanya mencakup Alicia dan terbang saja. Tidak ada yang lain."
Kehidupan adalah sesuatu yang misterius dan kita tak bisa menebak apa yang terjadi di masa depan. Berkat kehidupan pula kita bisa belajar bahwa tak ada gunanya menyesali perbuatan di masa lalu. Kita hanya bisa menjadikannya pelajaran agar hidup menjadi lebih baik.
__ADS_1
...****...
Di dalam ruang yang telah usang
Dengan kebahagiaan yang mulai hilang
Betapa hidupku kini menjadi malang
Mereka butuh makanan
Mereka butuh cadangan
Sebentar, itulah yang selalu aku katakan
Adakalanya aku sering merasa lelah untuk mencari
Namun bagaimana dengan keluarga?
Aku harus kuat
Berjuang sebagai kepala rumah tangga
Adalah tugas ku untuk mereka
Meskipun kaki ku sering kesakitan dalam mencapainya
Namun inilah kehidupan, semoga mereka selalu bahagia
Aku harus kuat
Akulah penopang hidup untuk keluarga
Sebagai bapak, aku berjanji untuk membuat mereka bangga
Aku akan berjuang demi hidup yang lebih tertata
Hingga aku menutup usia
(James Mochtar)
__ADS_1
Sebenarnya papa bukan jahat, kok! Hanya belum baik aja.