
Aleta dibuat jengah. Sikap Salsa yang terus saja berbicara sendiri di depan handphone-nya, membuatnya muak luar biasa. Dunia vlog yang sudah digelutinya hampir setengah tahun, membuatnya kemana-mana harus membawa handphone khusus yang di dalamnya hanya ada vidio rekamannya, atau sekedar membawa handycam kecil yang dia beli dari hasil uang jajannya sendiri. Sudah beberapa kali handycam itu disita pihak sekolah, namun Salsa tetap tidak jera dan diam-diam kembali membawanya. Entah saat istirahat, atau saat jam pelajaran di mulai, Salsaselalu memainkannya. Bahkan pernah satu hari Salsa hampir terkena lemparan pulpen dari Pak Ringgo yang kesal melihatnya, namun bukannya jera, Salsa malah semakin menggila hingga membuat Aleta benar-benar hampir gila melihatnya.
“Bisa berhenti gak sih!” gerutu Aleta yang bukannya membuat Salsa berhenti, malah mengarahkan handycam-nya ke wajah Aleta. Seolah-olah memperkenalkannya dengan para penikmat kontenn yang setia
menanti vidio terbaru. Aleta berusaha menghindar, menutupi lensa dengan tissue yang membuat Salsa kesal bukan
main.
“Sekali-kali masuk kenapa sih, Al, kudet banget sih!” Salsa mendengus kesal, memutuskan untuk mengakhiri kontennya dan kembali melahap bakso yang sudah lima belas menit lalu, hadir di depannya.
Kantin tampak ramai. Jam istirahat kedua yang bertepatan dengan waktu makan siang, membuat semua siswa siswi mulai sibuk mengisi perut. Termasuk Aleta dan Salsa yang siang itu, lebih memilih bakso dari pada memesan nasi.
“Pergunakan channel youtube loe buat bikin konten, Al, jangan mainnya buku mulu.”
Aleta memanyunkan bibirnya. Semakin manyun saat melihat Salsa kembali menghidupkan handycam dan mulai membuat konten. Kali ini, bakso yang dia pesanlah yang menjadi korban berikutnya. Sengaja menambah cabai ulek buatan Mbak Sum si pemilik warung bakso yang menjadi andalannya di kantin.
Aleta tahu benar, Salsa bukan pencinta pedas. Namun vlog dari salah satu pesaingnya, Reta, berhasil menantang diri sendiri untuk menyantap makanan pedas tanpa minum, membuat Salsa berniat melakukan hal yang sama. Salsa membencinya. Gaya Reta yang kecentilan ditambah lagi hidupnya yang serba glamor, membuat Salsa murka luar biasa. Dan kebenciannya semakin bertambah saat Reta mengusik kehidupan Aleta yang sejak dulu, enggan ikut campur.
Hampir sepuluh sendok teh Salsa memasukkan cabai ke dalam mangkuknya. Aleta menggeleng pelan, dan malah enggan melahap makanannya sendiri. Rasa lapar yang sejak pelajaran Fisika tadi mengusik perutnya,
seketika hilang. Berganti rasa ingin muntah melihat Salsa yang selalu melakukan hal bodoh demi sebuah konten. Yang terkadang tak masuk akal untuk Aleta terima.
Aleta meletakkan sebotol mineral di samping mangkuk baksonya. Kembali melirik ke ke kuah bakso Salsa yang kini berubah warna merah persis seperti bibirnya saat ini. Hanya demi viewers, Salsa rela membakar bibir dan kerongkongannya sendiri. Terus menyantap bakso dengan napas memburu hebat karena kepedasan.
“Berhenti kalau udah gak kuat!” ucap Aleta di sela rekaman.
__ADS_1
Salsa meminta Aleta diam dengan bahasa isyarat melalui kedua matanya yang membesar. Berulang kali napasnya menggepul keluar dengan disusul butiran air dari wajahnya. Dia benar-benar kepedasan. Bakso yang hampir setengah dia lahap, hampir membuatnya menyerah. Namun Salsa tetap saja memakannya seakan tidak peduli dengan nasib indera perasanya yang mungkin saja, mulai mati rasa.
“Yak, ini … sendokan terakhir!” ucapnya dengan napas tersenggal-senggal. “Tolong jangan lupa like and subscribe ya.”
Masih saja, bukannya menyudahi tantangannya, Salsa malah masih saja memikirkan like dan subscribe dari para viewers. Aleta mendengus kesal, mengalihkan pandangan ke arah berbeda sekedar menetralkan perasaannya sendiri. Kantin tampak ramai saat itu. Beberapa murid asyik melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang berkumpul sekedar mengobrol, ada yang duduk sendiri menikmati makan siangnya, ada yang malah memilih duduk di salah satu meja untuk sekedar berkaca, membenarkan make up yang mulai luntur. Pemandangan yang bukannya membuat Aleta lebih tenang dari sebelumnya, malah semakin risih.
Aleta kembali memperhatikan Salsa yang memasukkan satu sendok terakhir bakso dan mengangkat sendoknya tinggi-tinggi saat dia berhasil melakukannya. Salsa melambaikan tangan ke arah kamera dan menyudahi rekamannya. Berniat meraih air mineral yang berada di dekat mangkuk Aleta, tapi dengan cepat Aleta merampasnya yang membuat Salsa mendelik kaget.
“Minuman gue, Al!” ucapnya dengan napas ngos-ngosan.
“Kagak, bukannya loe yang mau ngejalani tantangan Reta, kalau loe minum sekarang sama aja loe kalah!”
“Kok kalah, kan di vlog udah terbukti kalau gue berhasil, sini minuman gue, Al!”
“Loe tahu gak kalau Reta mulai minum setengah jam setelah dia menghabiskan baksonya?” Salsa mengangguk cepat. “Berarti loe juga harus minum setengah jam setelah loe makan. Bukannya sekarang. Itu sama aja loe bohong!”
perpustakaan, dari pada harus ngomong sendiri di depan layar, mengeditnya dan menyebarkannya agar bisa dinikmati orang lain.
Belum hilang rasa pedas yang dirasakan Salsa, terlihat Reta masuk dan langsung menghampirinya dengan senyuman sinis dan kipas di tangannya, membuat Salsa berusaha bersikap tenang, walau bibirnya yang memerah tidak bisa menutupi kepedasan yang masih terasa.
“Hebat juga loe, berani nerima tantangan gue!” ucap Reta disusul senyuman sinis dari dua dayang-dayangnya yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi. “Yakin, belum minum?” tanya Reta yang dengan sengaja membungkukkan tubuhnya di hadapan Salsa.
Salsa mengangguk cepat, enggan membuka mulut. Ketakutan saat napas yang belum stabil terdengar
Reta, membuatnya enggan melawan kalimatnya. Aleta yang melihat semua itu, dibuat gemas dan berniat membalas. Namun urung saat melihat Biyan yang masuk ke kantin dan langsung mendekati Reta. Kembali duduk sembari meraih minumannya. Perlahan memainkan sedotan, lantas menyeruputnya tanpa melihat kembali ke arah Biyan yang kini sudah di sampingnya.
__ADS_1
“Eh, Biyan udah datang. Jadi kan ngajarin gue basket?” tanya Reta dengan nada dibuat-dibuat agar emosi Aleta terpancing. “bisa sekarang kita mulai gak? Soalnya habis ini jam olahraga, jadi gue bisa latihan dulu sebelum Pak Budi yang ngajarin.”
Biyan mengangguk. Membalas lirikan Aleta yang sesaat terarah padanya. Aleta yang menyadari sorot matanya beradu dengan Biyan, langsung menarik pandangan ke arah lain. Berpura-pura menyeruput minumannya kembali dan menarik napas panjang lantas membuangnya perlahan.
“Sebaiknya kita pergi sekarang, Reta.” Suara Biyan terdengar yang membuat Aleta semakin menundukkan kepala.
Persis seperti kerbau yang sudah diikat, Reta menurut. Tarikan Biyan, membuatnya sesaat melirik ke Aleta, lantas melambaikan tangan. Sikap sengaja Reta, memang selalu berhasil memancing emosi Aleta. Sedangkan Biyan, rasanya Aleta ingin menariknya pergi menjauh dari Reta, membawanya pergi sejauh mungkin agar manusia seperti Reta, tidak dapat menemuinya. Entahlah, Aleta benar-benar dibuat jengah dengan keduanya. Terutama Biyan yang berhasil membuatnya patah hati tingkat tinggi.
Aleta kembali menyeruput minumannya dan mengalihkan pandangan ke Salsa yang masih berusaha mengurangi hawa pedas di mulutnya, dengan menarik napas panjang dan mengembuskannya kasar. Tidak tega melihatnya, Aleta mengulurkan tangan memberikan botol minuman ke Salsa. Namun bukannya membalas niat baik Aleta, Salsa malah menolaknya dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Berusaha menetralkan napasnya sendiri, walau jelas terlihat bahwa Salsa tidak juga mampu menghilangkan rasa pedas yang kini semakin menyakitinya. Bahkan kini sampai ke bagian perutnya yang mulai terasa mulas bukan main.
***
Aleta menghentikan langkahnya tepat di pekarangan rumah besar bercat dinding putih. Kedua matanya berembun. Menyapu pandangan ke sekeliling dan berhenti saat taman depan rumah menjadi pusat kedua matanya. Belum sempat Aleta menarik ingatannya tentang kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu, seseorang memanggilnya lembut. Aleta mengembalikan pandangannya ke depan pintu. Ada seorang wanita di sana. Berpakaian daster semata kaki dengan rambut di cepol ke belakang. Tubuhnya sedikit bongsor dan tidak terlalu tinggi.
Dia mendekat perlahan dan tanpa permisi memeluk Aleta. Tampak kerinduan di kedua matanya, sesaat sebelum kedua tangnnnya melingkar di tubuh Aleta yang masih enggan membalas pelukan.
“Mbok Minah kangen sama, Non,” isaknya yang membuat air mata jatuh. Dengan cepat dihapus Aleta sebelum Mbok Minah melihat.
“Sudah lama sekali Non Leta tidak pulang, Mbok kangen!” Mbok Minah melepaskan pelukan, menghapus air matanya dan mengelap ke bajunya sendiri. “Non nginap, kan?”
Aleta menggeleng, meraih tas ranselnya yang semula di belakang punggung, dan membuka kancingnya. Aleta mengeluarkan sebuah kotak persegi berbungkus kertas kado berwarna merah muda dan memberikannya kepada Mbok Minah.
“Tolong kasihkan ya, Mbok, tapi jangan bilang Aleta datang kesini.”
“Non gak masuk? Sebentar … aja, Non.”
__ADS_1
Aleta menggeleng pelan, “Aleta harus pergi, Mbok.” Aleta tersenyum, mengusap lengan kanan Mbok Minah pelan, lantas berbalik pergi. Seruan Mbok Minah yang memanggilnya dengan nada lirih, tidak dia gubris. Aleta malah menutup pintu gerbang dari luar dan langsung masuk ke dalam taksi yang masih menantinya.
Sesaat Aleta mengalihkan pandangan kembali ke rumah besar dengan sejuta kenangan. Air matanya kembali jatuh. Berulang kali dia tepis, namun sialnya air bening dari kedua matanya itu terus saja berjatuhan. Aleta menarik napas panjang, membuangnya kasar, lantas menghapus air matanya kembali dengan gerakan yang juga kasar. Aleta meminta supir taksi untuk jalan. Dia sadar, terlalu lama di sini, akan membuatnya semakin lemah dan menyerah. Aleta menarik pandangannya ke arah lain saat roda mobil mulai berputar menjauh dari rumah yang kini bukan lagi untuknya.