VLOG

VLOG
Episode 22


__ADS_3

            Aleta keluar dari rumah. Kondisinya yang sudah mulai membaik, memutuskan untuk kembali bersekolah yang sudah tiga hari dia tinggalkan dengan surat sakit yang sengaja dibuat Salsa untuknya. Selain karena merasa sudah lebih baik, Aleta juga merindukanBiyan yang tiga hari ini, dilarangnya hadir ke rumah. Bukan tidak ingin melihatnya, tapi Aleta hanya tidak ingin ada masalah baru di saat-saat genting seperti ini. Dia ingin tenang, mencoba menyembuhkan lukanya sendiri walau sesekali malah diabaikan Biyan. Dia memang tidak datang langsung, namun melalui Salsa yang hampir setiap hari sepulang sekolah datang berkunjung, Biyan menitipkan makanan yang langsung dimasakan Yuna untuknya. Dan semua itu semakin menguatkan ledekan Salsa padanya.


            Aketa kaget, saat cengkraman seseorang berada di tangan kanannya. Baru saja dia mengunci pintu, Aleta harus dihadapkan Bimo yang hadir dan malah menariknya tanpa basa-basi. Keduanya yang melewati rumah Tyaz, mengusik ketenangan Tyaz yang asyik menonton tv di dalam. Dengan cepat Tyaz keluar dan melihat semuanya dari atas saat Bimo dan Aleta, sudah berada di bawah. Tampak Bimo memaksa Aleta untuk masuk ke dalam mobil, dan langsung berlari menuju pintu kemudi, membawa mobilnya beserta Aleta di dalam pergi meninggalkan pekarangan kontrakan.


            Tyaz meraih handphonenya di dalam saku celana, menekan beberapa tombol dan menempelkan handphone ke telinga kanannya. Suara nada sambung terdengar sampai akhirnya seseorang menjawab dari seberang.


            “Aleta dibawa paksa lelaki itu!” ucapnya singkat.


***


            Bimo melepaskan cengkramannya sesampainya dia di rumahnya. Rumah dengan kemegahan bertingkat dua, dengan barang-barang hampir memenuhi setiap sudut rumah, memang bukan kali pertama Aleta lihat. Dulu Aleta pernah datang, walau sebenarnya dipaksa Bimo untuk masuk menemaninya makan siang di rumahnya. Rumah megah yang sayangnya hanya ada Bimo sendiri di dalam itu berhasil dia dapatkan secara licik dari sang ayah. Dengan sedikit ancaman akan bocornya pembunuhan yang dilakukan sang ayah terhadap isterinya sendiri, membuat pria bernama Hendrik itu menyerahkan apa yang diminta Bimo padanya.


            Aleta memegang pergelangan tangannya, bekas cengkraman Bimo. Tatapannya tertuju ke Bimo yang kini, berdiri berkacak pinggang membelakanginya. Ada rasa takut di dada Aleta mendapati semua ini secara tiba-tiba. Ingin rasanya pergi, namun Aleta mengurungkannya saat menyadari bahwa kini Bimo berbalik dan menatapnya dengan tatapan berbeda. Tak ada emosi di sana, yang ada hanyalah ekspresi memelas dengan kedua mata penyesalan yang selalu ditemukan Aleta, setiap kali Bimo melakukan kesalahan.


            “Tolong maafkan aku, Al!” Bimo mendekat yang membuat Aleta mundur beberapa langkah. “Aku tau aku salah, aku khilaf. Aku....”


            “Emosi?” tanya Aleta yang langsung dijawab Bimo dengan anggukan kepala. Aleta menatap Bimo dengan tanpa ekspresi. Sosok di hadapannya memang benar-benar sangat mengerikan. Salah sedikit saja Aleta melangkah, semuanya akan habis begitu saja. Apalagi saat ini, hanya ada dirinya dan Bimo di rumahnya. Ditambah dengan beberapa bodyguardnya yang kapan saja siap datang, jika Bimo memanggilnya.


            “Aku tau, bahkan aku hapal sikapmu setiap kali emosi datang.” Aleta melanjutkan kalimatnya dengan nada yang tetap saja tenang. “Tapi saat ini, gak ada gunanya kamu meminta maaf, Bim, semua juga udah berakhir.”


            “Enggak, kita belum berakhir, Al.”


            “Kita udah putus!” ucap Aleta cepat tanpa memberi jeda setelah kalimat Bimo. Kedua mata Bimo terbelalak. Dia tampak benar-benar tidak percaya Aleta yang biasanya jarang melakukan ucapannya yang sering mengancamnya dengan kata putus, kini malah begitu kuat mempertahankan pernyataannya kemarin.


            “Kamu becanda, kan? Kemarin itu kamu hanya ingin mengancamku?” Bimoa tersenyum, seakan tidak terjadi apa-apa. Senyuman yang membuat Aleta semakin kasihan melihatnya. Namun sayangnya, tidak berniat memberikannya kesempatan kembali. Dia benar-benar lelah dengan sikap Bimo yang tidak pernah berubah.

__ADS_1


            “Aku serius, aku dan kamu udah putus, Bim.”


            “Enggak!” Bimo kembali emosi, Aleta kaget bukan main. tanpa perasaan, Bimo mendekat, mencengkram kedua lengan Aleta yang sesaat membuat cewek di hadapannya merintih kesakitan. “Kamu mengancamku, sama seperti selama ini, kamu hanya mengancamku!”


            “Aku gak mengancammu kali ini, Bimo. Lepasin!” rintih Aleta namun sialnya, Bimo sama sekali tidak peduli. Dia semakin mempertegas rahangnya ditambah cengkramannya yang semakin kuat.


            “Apa karena dia?” tanya Bimo dengan nada merendah. “Apa semua ini karena Biyan!” Nada suara Bimo kembali meninggi yang membuat Aleta semakin ketakutan. Berulang kali dia menghentak-hentakkan tubuhnya, berusaha terlepas dari cengkraman Bimo. Sialnya, bukannya terlepas, Bimo malah semakin kuat mencengkramnya. “Jawab!!”


            “Bukan!” jawab Aleta dengan sorot mata tajam. “Ini semua karena sikap loe yang gak pernah berubah!”


            “Loe?” tanya Bimo semakin marah mendengar Aleta memanggilnya loe dan bukan kamu seperti biasa.


            “Iya, elo, Bimo Anggara!” bentak Aleta yang mulai memberanikan diri. “Loe yang udah ngehancurin hidup gue, loe yang udah bersikap seenaknya sama gue. Dan loe juga yang udah nyia-nyiain waktu gue yang udah berjuang buat kesembuhan loe!”


            “Aleta!!” bentak Bimo.


            Bimo melepaskan cengkramannya, mundur beberapa langkah menyaksikan Aleta yang kini menangis. Sikap Aleta yang selalu terjadi setiap kali emosinya masuk pada level tertinggi. Dia pasti menangis, menumpah emosi yang tidak bisa dia luapkan melalui tangan, akan keluar melalui air mata. Titik terendah seorang Aleta yang sangat Bimo ketahui.


             “Al,” panggil Bimo melunak.


             “Gue mohon, Bim, tolong lepasin gue,” mohon Aleta sembari menyatukan kedua telapak tangannya. “Gue benar-benar gak bisa sama loe, gue udah gak sanggup.”


            “Enggak, Al.” Bimo kembali mendekat, memegang kedua pipi Aleta yang sesaat mundur ketakutan. “Aku butuh kamu, Al. Aku cinta sama kamu, aku-aku sayang sama kamu.”


            “Lepasin gue, Bim.” Aleta menurunkan kedua tangan Bimo dan mundur beberapa langkah. Bersiap-siap lari saat menyadari sikap Bimo mulai melunak. “Loe gak benar-benar cinta sama gue, loe hanya terobsesi, bukan cinta.”

__ADS_1


            “Enggak, Al. Aku cinta sama Kamu, Al.”


            “Kalau loe cinta sama gue, loe gak akan nyakitin gue, Bim.”


            “Kamu sendiri tau kalau aku....”


            “Iya, gue tau. Tapi dari mulai kita pacaran, loe janji mau berubah, kan! Tapi setiap kali gue aja ke psikiater, loe gak mau!”


            “Al, tolong kasih aku satu kesempatan lagi, Al.” Bimo berusaha kembali menyentuh Alita, namun dengan cepat Alita mundur dengan kedua tangan, terbuka ke arah Bimo, melarangnya untuk kembali mendekat yang membuat Bimo berhenti.


            “Jangan sentuh gue lagi, Bim. Loe udah gak berhak melakukan apa pun ke gue.” Alita mulai kembali panik. Alita berlari menuju pintu rumah, namun sialnya gerakan tubuh Bimo lebih cepat dari gerakan kedua kakinya berlari. Bimo menangkap tangan Alita dan kembali menariknya yang membuat Alita menjerit ketakutan.


            “Kamu gak boleh pergi, Al. Aku butuh kamu!” ucap Bimo sembari terus menarik tangan Alita untuk mengikutinya.


            “Lepasin gue, Bim. Lepasin!”


            Pikiran Alita bercabang. Sikap Bimo yang terus menariknya menuju ke salah satu kamar yang terletak di dekat tangga, membuatnya mulai panik. Sesaat kedua matanya terarah ke seorang wanita setengah baya yang bekerja di rumah Bimo. Dia kenal betul siapa wanita itu. Satu-satunya manusia normal yang membelanya yang masih saja tinggal bersama Bimo, hanya demi uang untuk membiayai anaknya di kampung. Dia menatap Aleta dengan tatapan sedih. Berlari mendekat dan berhasil menghentikan langkah Bimo dengan menghadangnya.


            “Jangan, Tuan. Kalau tuan benar-benar mencintainya, tuan gak akan melakukan hal ini pada Non Aleta.”


            Bimo terdiam, genggamannya terlepas yang membuat Aleta mundur beberapa langkah. Tatapannya terarah ke Bimo yang masih terdiam belum berbalik. Aleta menarik pandangannya ke Ria yang menatapnya sembari menangis.


            “Pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan kembali memaksamu untuk melakukan sesuatu yang diinginkan pikiranku, Al.”


            Mendengar hal itu, Alita mengambil langkah seribu. Dia berlari menuju pintu rumah dan membukanya. Aleta kaget bukan main saat melihat Biyan di sana. Berusaha menerobos dua pengawal Bimo yang sekuat tenaga, menahan tubuh Biyan yang terus saja memberontak. Tatapan Biyan yang tertuju pada Aleta, membuatnya memanggilnya lirih. Salah satu pengawal berlari menghadang Aleta, mengira Aleta berniat melarikan diri dari Bimo.

__ADS_1


            “Biarkan dia pergi!” jerit Bimo tanpa keluar dari dalam. Pengawal itu menyingkir, memberikan jalan untuk Aleta melewatinya. Aleta berlari menghampiri Biyan yang baru saja terlepas dari cengkraman pengawal bertubuh kekar dengan jengot hitam dan wajahnya yang sangar. Aleta menarik tangan Biyan, berlari menghampiri motor Biyan yang terparkir di luar gerbang, memakai helm dan langsung naik ke belakang tubuh Biyan yang sudah lebih dulu duduk di atas motor. Biyan melajukan motornya bersama Aleta di belakangnya saat Bimo keluar melihat keluar gerbang dengan ekspresi emosi.


__ADS_2