
Aleta melangkah dengan kepala menunduk. Wajahnya lesu dengan kantung mata di kedua matanya. Sesaat dia merogoh saku celana, mengeluarkan kunci kamar dan memainkannya di jemari. Langkahnya yang hampir sampai, terhenti saat kedua kaki seseorang menghadangnya. Aleta mengangkat kepala, dan mendapati Biyan di sana, berdiri dengan ekspresi datar namun kedua mata tajam yang tertuju padanya.
“Dari mana?” Suara Biyan berbeda. Ada kekhawatiran di nada suaranya yang membuat hati Aleta bergetar. Ingin berlari memeluknya dan menumpahkan segala sesak di dada yang sedari tadi memenuhi dada. Menangis sekuat tenaga, namun kesadaran menghampirinya. Biyan bukanlah siapa-siapa dan tidak akan pernah berubah.
“Bukan urusanmu, urus saja pacarmu yang sok cantik itu!” ucap Aleta sembari memutar bola matanya sekali. Kembali melangkah melewati Biyan yang diam tanpa berbalik menatap Aleta yang sudah berada di depan pintu kamar.
“Aku turut sedih dengar ibumu masuk rumah sakit,” ucap Biyan tiba-tiba yang kembali berhasil membuat Aleta, menghentikan putaran kunci di lubang pintu. Mengarahkan kedua mata ke punggung Biyan yang masih enggan berbalik.
“Dari mana loe tau?”
Biyan bungkam dan malah melangkah pergi meninggalkan Aleta yang tampak kaget dengan sikap Biyan. Aleta yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, langsung mengejar Biyan dan menarik bahunya saat berada di tangga. Biyan terhenti dan menatap Aleta yang terus saja mengatur napas di hadapannya. Deru napas yang membuat Biyan sadar, bahwa saat itu Aleta bukan hanya dibalut emosi, tapi juga rasa lelah yang juga terpancar dari kedua matanya.
“Loe tau dari mana?!”
“Bukannya tadi loe bilang, ini bukan urusan gue?”
“Loe cukup jawab tau dari mana?!” Aleta mulai hilang kesabaran, mencengkram kerah baju Biyan yang langsung membuatnya, menatap Aleta tajam.
__ADS_1
Tatapan tajam itu berubah seketika. Hanya hitungan detik, Biyan terdengr menghela napas panjang, lantas mengangkat tangannya ke kepala Aleta. Mengusapnya pelan rambut Aleta yang saat itu terikat asal, lantas menarik stick yang menjadi alat penggulung rambut hingga membuat rambut ikal itu jatuh terurai.
“Lepaskan, dia lebih baik terurai. Dan jangan sedih, loe tidak sendirian.”
Biyan kembali mengusap rambut Aleta dan tersenyum penuh ketulusan, melangkah kembali menuruni tangga meninggalkan Aleta yang terdiam kaku. Sikap Biyan, jelas membuatnya tidak mampu melakukan apa-apa. Lidahnya kelu, kedua kaki seakan tertimpa batu besar yang membuatnya tidak mampu lagi mengejar Biyan. Kedua matanya berkedip beberapa kali seakan ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi, dan seperti biasa mulutnya menganga kaget.
Tanpa sepengetahuan Aleta, Reta melihat semuanya dari atas. Ada kekesalan di hatinya yang membuatnya merekam semua yang terjadi dari handphone pintarnya. Mematikan rekaman lantas pergi dengan langkah tegap dan penuh emosi. Kembali masuk ke kamar dengan setengah membanting pintu, membuat Aleta yang mendengarnya, kaget bukan main. Berlari menaiki tangga, memastikan pintu siapa yang tertutup kasar. Namun nihil, dia tidak melihat siapa-siapa di sana. Bahkan tidak ada pintu yang terbuka saat itu.
***
Betapa kagetnya Aleta saat mendapati sebuah vlog baru milik Reta, keesokan harinya di sekolah. Vlog yang isinya tentang kejadian di tangga kemarin bersama Biyan, membuatnya malu bukan main. Awalnya, Aleta tidak menyadari saat setiap pasang mata terarah padanya sejak kedua kakinya melangkah masuk ke gerbang sekolah, hingga duduk di dalam kelas. Hampir semua murid di tempatnya sekolah terus menatapnya sinis bahkan ada yang sampai melemparkan gulungan kertas padanya. berseru memakinya perebut pacar orang yang membuat Aleta bingung bukan main.
“Seharusnya loe gak usah masuk, Al,” saran Salsa tampak khawatir. Ditambah lagi saat Aleta tanpa sengaja, menemukan kertas ancaman di dalam lacinya. Kalimat ancaman yang intinya bahwa Aleta harus menjauhi Biyan, membuat emosi Aleta tak lagi bisa terbendung. Tanpa mempedulikan Salsa, Aleta keluar dari kelas. Setengah berlari saat menyadari Salsa mengejarnya untuk mencoba menghentikan apa yang ingin dia lakukan. Berulang kali Salsa berteriak, namun Aleta tetap saja terus berlari keluar dan berhenti saat mendapati Reta di sana. Duduk di pinggir lapangan basket menyaksikan permain Biyan yang sempat mengarahkan pandangan ke arahnya.
“Sialan loe!” bentak Aleta sembari menarik tangan Reta hingga membuatnya berdiri. “Maksud loe apa nyebarin fitnah lewat vlog loe?”
“Fitnah? Letak fitnahnya di mana ya?”
__ADS_1
“Maksud loe apa bilang gue ngerebut pacar loe!”
Sadar dengan keributan itu, dari tengah lapanga Biyan langsung berlari mendekat dan berhenti tepat di antara keduanya. Berusaha melerai dengan bantuan Salsa yang terus saja menarik tangan Aleta. Namun tengaha Aleta yang cukup kuat, membuat usahanya gagal total.
“Minggir loe!!” bentak Aleta sembari menolak tubuh Biyan.
“Berani banget loe nolak-nolak pacar gue!” bentak Reta tak mau kalah.
“Loe urus pacar loe, jangan suka nguntit orang orang, gue gak suka!” bentak Aleta yang spontan membuat Reta terdiam. Ada kekagetan di wajahnya yang jelas tertangkap kedua mata Aleta.
Aleta tersenyum sinis, menarik pandangannya ke Biyan yang masih melihatnya, lantas pergi meninggalkan lokasi pertengkaran. Salsa yang tidak ingin ditinggal, langsung mengejar da berteriak memanggil Aleta. Sementara Reta, mengarahkan pandangannya ke Biyan dengan tatapan tidak percaya.
“Maksud loe apa ngikutin Aleta, loe suka sama dia, iya?!” bentak Reta yang membuat Biyan mundur beberapa langkah. “Udah bosan hidup loe?!”
Biyan menggepal tangannya tanpa sepengetahuan Reta yang masih terus memakinya. Ingin rasanya dia membungkam mulut Reta dengan melayangkan tamparan, membuatnya diam selamanya hingga tidak perlu lagi memakinya di depan umum. Sudah terlalu sering Biyan dipermalukan olehnya. Sudah cukup sabar Biyan memilih tetap diam setiap kali Reta memakinya, menginjak-injak harga dirinya dengan mencantumkan hubungan pacaran sebagai wajah dari kedekatan keduanya.
Biyan sendiri sadar, bahwa Reta tidak pernah mencintainya. Kecemburuannya pada Aleta saat mengetahui Biyan yang seorang ketua team basket ternyata menyukai Aleta, ditambah lagi, keberhasilan Aleta menggaet Bimo sebagai pacarnya, membuatnya tidak bisa menerima kenyataan. Dia tidak ingin Aleta mendapatkan segalanya. Segalanya, termasuk keluarganya.
__ADS_1
Biyan membuka kepalan tangannya, menghela napas panjang mencoba menetralkan emosi dan memilih pergi tanpa berkata apa-apa. Reta yang mendapati sikap tidak peduli Biyan, terus saja berteriak memanggilnya. Ancaman demi ancaman yang dia keluarkan agar Biyan kembali, sama sekali tidak mempan seperi biasa. Biyan malah terus melangkah semakin jauh dari Reta, keluar dari lapangan basket. Sesaat Biyan terhenti saat berselisihan dengan Bimo yang ternyata sejak tadi melihat segalanya dari luar lapangan. Tatapan tajam Bimo, membuat Biyan tersenyum sini, lantas kembali melangkah. Bimo mendengus kesal dan kembali mengarahkan pandangan ke Reta yang tampak melihatnya dengan kilatan emosi di kedua matanya.