
Aleta menghentikan langkahnya. Baru saja dia sampai di lantain dua tempat tinggalnya, Aleta harus mendapati Bimo di sana. Duduk bersandar pintu rumahnya sembari mengalihkan pandangan ke Aleta saat menyadari kehadirannya. Bimo bangkit, dan berdiri menanti Aleta yang mulai kembali melangkah mendekatinya. Senyuman yang dilemparkan Bimo, hanya dibalas ekspresi datar dari Aleta sembari menggenggam kunci rumah di tangannya.
“Reta tidak ada di rumah hari ini, dia kembali ke rumahnya untuk mengambil beberapa barang. Yang aku tau, malam ini dia tidur di rumahnya.” Ucapan Biyan bebrapa menit yang lalu di depan gerbang rumah, kembali terngiang di telinga Aleta saat melewati rumah Reta. Melirik sesaat, sembari terus melangkah melewatinya dan berhenti tepat di depan Bimo.
“Mau apa?” tanya Aleta datar, seakan ingin menunjukkan bahwa kehadiran Bimo, benar-benar tidak dia inginkan.
“Kamu pulang sama Biyan?” tanya Bimo yang enggan dijawab Aleta. Jelas saja Bimo mengetahuinya, dari tempatnya kini berdiri, Bimo bisa melihat segalanya hingga ke jalan yang ada di depan tempat tinggal Aleta. Biyan yang memang sengaja mengantarkannya karena tidak ingin membiarkan Aleta pulang sendirian, lagi-lagi nantinya akan berurusan dengan Bimo yang terkenal tidak menyukainya.
Helaan napas Bimo, kembali membuat Aleta menatapnya. Tatapan tajam yang sengaja diumbar Aleta agar Bimo menyadari, bahwa kali ini dia benar-benar tidak ingin Bimo ada d hadapannya.
“Aku minta maaf, kemarin sikapku kelewatan di vidio itu.”
“Kurang puas pelayananku sampai kamu kemari lagi?” sindir Aleta yang kembali teringat pada fitnahan di vidio itu. “Atau kamu mau mencobanya malam ini, agar kebohongan itu berubah jadi kenyataan?”
“Al, kamu tau kan aku gimana. Aku....”
“Jadi menjadikan alasan kondisimu hanya untuk kata maaf dariku, Bim!” potong Aleta yang tampak benar-benar muak dengan alasan Bimo yang itu-itu saja. “Kalau aku tidak bisa menerima kondisimu,sudah dari dulu aku tinggalkan! Tapi kamu yang gak mau berubah, Bim!”
“Aku janji kali ini akan berubah, tolong kasih aku kesempatan.”
“Kesempatan itu udah habis untukmu, Bim!” Aleta mundur beberapa langkah saat Bimo berusaha memegang kedua tangannya. Aleta melipat kedua tangannya di dada, yang membuat Bimo menghela napas.
“Apa karena dia?” Nada suara Bimo secara tiba-tiba meninggi. Aleta yang semula mengarahkan pandangan ke jalanan di sisi kirinya, kembali mengarahkan pandangan ke Bimo yang kini menjuruskan pandangan ke belakang tubuh Aleta. Perlahan, Aleta berbalik dan kaget saat mendapati Biyan hadir di belakangnya.
Aleta menarik pandangannya ke tangan kanan Biyan. Ada jaket miliknya di sana. Jaket berbahan denim dengan warna putih bersih dengan hoddienya. Aleta kembali menatap Biyan yang kini membalas tatapan Bimo. Sesaat mengubah arah pandangnya ke Aleta, namun kembali menatap Bimo yang masih menatapnya tidak senang.
“Bukan!” jawab Aleta cepat. “Bukan karena Biyan!” Aleta berusaha melindungi Biyan, mendekati Bimo dan mencoba menahannya dengan memegang kedua lengan Bimo. “Bukan karena dia, Bim!”
“Sampai segitunya kamu membelanya?” tanya Bimo yang kini mengalihkan pandangannya ke Aleta. “Sikapmu ini semakin buatku yakin, kalau semua ini karena dia!”
__ADS_1
Aleta menggeleng cepat, berusaha menahan Bimo yang berniat mendekati Biyan. Namun sialnya, Bimo yang mulai gelap mata malah mendorong tubuh Aleta hingga terjatuh ke lantai. Sesaat Biyan tergerak ingin menolongnya, namun menyadari Bimo semakin mendekat, Biyan kembali berdiri di tempat semula dan dengan tenang, menanti kehadiran Bimo.
Bimo berhenti tepat sejengkal dengan Biyan, menatapnya penuh emosi seakan ingin menelan Biyan hidup-hidup tanpa belas kasihan. Aleta yang menyadari hal itu, langsung berdiri dan berlari mendekati keduanya. Berusaha menghalangi Bimo dengan berdiri di tengah-tengah keduanya sembari terus meminta Bimo untuk tidak berbuat kasar pada Biyan.
“Dia masih milikku!” bentak Bimo ketus.
Biyan menarik senyuman sinisnya, sesaat mengalihkan pandangan ke Aleta di sampingnya yang tampak ketakutan sembari menggelengkan kepala. Seakan ingin meminta Biyan untuk tidak melawannya.
“Sejak kemarin, bukannya kalian sudah putus?” tanya Biyan dengan nada sindiran. Kejadian di taman rumah sakit kembali berputar sesaat di kepala Biyan, melihat dan mendengar secara langsung ucapan Aleta yang dengan tegas, mengakhiri segalanya.
“Gue gak pernah bilang putus! Jangan sekali-sekali ngedekatin cewek gue!”
“Jangan egois, loe gak lihat dia tersiksa dekat sama loe?”
Bimo mengalihkan pandangnnya ke Aleta yang kini masih tampak ketakutan. Ada air mata yang jatuh membasahi pipinya. Biyan pun mengalihkan pandangannya ke Aleta yang kali ini, merapatkan kedua tangan memohon pada Bimo untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat siapapun terluka.
“Apa loe gak sadar, ucapanmu di vidio itu udah ngerusah kehormatannya!” bentak Biyan. Dia tampak tak terima dengan apa yang dilakukan Bimo dan Reta di vidio yang tayang di channel Bimo. Sudah sejak awal dia melihat vidio itu, Biyan ingin menemui Bimo secara langsung. Sekedar memberinya pelajaran agar segera sadar dengan perbuatannya. Namun baru kali ini dia memiliki kesempatan itu. Bertemu secara langsung dengannya yang juga ada Aleta sebagai korban pembullyan Reta dan juga Bimo, hingga membuat sekolah geger seketika.
“Jelas ini urusan gue, karena gue gak mau siapapun nyakitin dia!”
Aleta menarik pandangannya ke Biyan. Ucapan Biyan barusan, membuatnya berada di antara dilema yang luar biasa. Satu sisi dia merasa terharu dengan ucapannya yang begitu meyakinkan. Di satu sisi lainnya, ucapan Biyan menambah ketakutannya akan emosi Bimo yang bisa saja semakin memuncak dan di luar kendali. Aleta kembali mengarahkan pandangan ke Bimo yang kini menarik turunkan napasnya kasar. Seakan kerbau yang sedang dihadapkan dengan mangsa terempuk yang siap dihajarnya tanpa ampun.
“Siapa loe?! Loe gak bakalan bisa ngebahagiaan dia. Loe gak punya apa-apa!!” bentak Bimo sembari menolak tubuh Biyan hingga membuatnya mundur beberapa langkah.
“Gak harus punya apa-apa untuk ngebahagiaan dia.” Biyan menjawab santai. “Bukankah diri loe sendiri sebagai jawaban, bahwa orang yang punya segalanya juga gak bisa membuat satu cewek saja bahagia?”
“Brengsek loe!” Sebuah pukulan keras melayang ke pipi kanan Biyan, membuat Aleta menjerit kaget karenanya. Biyan terjatuh ke lantai, Aleta yang berniat menolongnya, malah langsung ditarik Bimo kasar. Aleta berusaha melepaskan diri, namun Bimo terus saja menariknya masuk ke dalam rumah. Bimo mendorong pintu rumah Aleta yang sudah dia buka sebelumnya dengan kunci duplicate miliknya, dan melempar Aleta masuk ke dalam.
Biyan yang takut terjadi apa-apa, langsung bangkit dan berlari mengejar Aleta. Namun sialnya, Bimo menutup pintu dari dalam dan menguncinya. Biyan berusaha meminta Bimo untuk membukanya, namun bukannya dibuka dari dalam, Bimo malah tertawa penuh kemenangan dan menarik rambut Aleta tanpa perasaan. Jeritan Aleta membuat Biyan semakin panik di luar.
__ADS_1
Reta yang ternyata tidak jadi menginap di rumahnya, tampak kaget melihat Biyan berdiri di depan rumah Aleta. Gedoran-gedoran yang dia lakukan, membuat Reta geram bukan main, melangkah mendekatinya dan menarik tangan Biyan untuk menjauh dari rumah Aleta.
“Lepasin, Reta!” bentak Biyansembari menghentakkan tangannya yang terus saja ditarik Reta. Genggaman Reta terlepas, namun tatapannya semakin tajam terarah ke Biyan yang masih berdiri di hadapannya dengan ekspresi marah bukan main.
“Maksud loe apa, hah!” bentak Reta yang tidak terima dengan sikap Biyan. “Benar-benar nyari mati loe ya!”
“Lebih bagus loe bunuh aja gue dari pada terus maksa gue jadi babu loe!” bentak Biyan tidak tahan lagi dengan sikap Reta yang terus memaksanya.
Suara jeritan Aleta disusul suara sesuatu benda pecah belah jatuh ke lantai, membuat Biyan kaget bukan main. Berlari mendekati pintu rumah Aleta tanpa peduli Reta yang memanggilnya kesal bukan main. Biyan menggedor pintu rumah Aleta, namun lagi-lagi suara sesuatu terjatuh disusul jeritan Aleta yang membuat Biyan semakin panik bukan main. Berniat mendobrak pintu, namun sialnya Reta kembali menariknya masuk ke dalam rumah Reta. Biyan berusaha melepaskan diri saat Reta sibuk memasukkan kunci pintu dan memutarnya agar pintu terbuka. Namun lagi-lagi, Reta menariknya masuk ke dalam.
“Loe gila ya, Reta! Aleta bisa mati di dalam!”
“Gue lebih baik lihat dia mati dari pada lihat loe kena masalah sama Bimo!” bentak Reta yang membuat Biyan menggeleng tak percaya. Ucapannya jelas membuat Biyan geram. Seakan Reta sama sekali tidak menunjukkan simpatinya pada Aleta yang tengah berjuang di dalam menghadapi kebuasan Bimo.
Biyan berniat kembali keluar dari rumah Reta, tapi sayangnya kalah cepat dengan gerakan Reta yang kembali menariknya untuk tetap diam di rumahnya.
“Aleta butuh gue, Ret!”
“Dia gak butuh loe! Dia gak butuhsiapa-siapa!” bentak Reta. “Gue ini pacar loe, bukan dia!”
“Reta!!!” bentak Biyan dengan tangan kanan melayang di udara. Hampir saja dia menampar Reta yang saat itu, tampak kaget dan langsung menutup wajahnya. Biyan tersadar, menuruni tangannya dan berniat keluar dari rumah.
“Kalau loe keluar sekarang, loe sama aja buat Aleta semakin parah karena disiksa Bimo, Yan!”
Biyan terdiam, tangannya yang saat itu memegang pegangan pintu, dia cengkram kuat. Ucapan Reta kali ini, dia benarkan dalam hati. Jika saat ini dia terus memaksa untuk keluar menolong Aleta, itu sama saja membuat Aleta semakin terjebak di dalam dan harus terus menerus menerima sikap kasar Bimo yang sulit mereda. Biyan menjatuhkan tubuhnya, berlutut di depan pintu sembari mendengarkan suara jeritan Aleta di sebelah yang masih saja terdengar disusul suara-suara lainnya yang mampu Biyan tebak, bahwa saat ini Bimo masih meluapkan emosinya.
Reta terdiam, menatap Biyan yang tampak hancur hanya karena Aleta. Perlahan Reta mendekat dan berhenti di samping Biyan, menatapnya geram bercampur sedih karena menyadari lagi-lagi, Aleta berhasil mengalahkannya tanpa usaha sekalipun. Seperti usaha yang selama ini dia lakukan untuk merebut segalanya dari tangan Aleta.
“Hanya demi Aleta, loe berhenti memaksakan diri untuk keluar, Yan?” ucap Reta dengan air mata jatuh membasahi pipinya. Air mata kekecewaan yang kini, melukai hatinya melihat sikap Biyan yang lebih tenang, hanya karena Aleta.
__ADS_1
“Dia beruntung, semua orang sayang sama dia tanpa paksaan. Sementara gue....” Reta menghentikan kalimatnya. Bersandar di dinding di saming pintu lantas menarik tubuhnya merosot hingga pantatnya menyentuh lantai. Reta menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya, kedua tangannya melingkar di kakinya yang ditekuk sengaja.
Biyan mendengarnya. Suara isak tangis Reta yang kini ikut menggema bersama suara jeritan Aleta yang memilukan hatinya. Biyan terus menundukkan kepala. Kali ini bukan Reta yang sebenarnya menjadi ousat kepalanya berpikir, melainkan nasib Aleta di sana yang seorang diri menghadapi sikap buas Bimo.