
Aleta kaget bukan main. Baru saja dia sampai di rumah sekedar mengganti pakaian dan mengambil seragam sekolah untuk besok, Aleta malah mendapati pintu rumahnya rusak parah dan barang-barang di dalam berantakan persis seperti kapal pecah. Aleta meraih sepreinya yang robet seperti baru saja digunting dengan sengaja. Kasusnya pun robek di beberapa bagian dan beberapa alat dapurnya, berantakan di lantai.
Aleta membuka lemari pakaiannya. Semua pakaian masih tergantung di dalam. Namun ada yang berbeda, pakaian-pakaian itu tidak lagi berbentuk. Semua sudah robek, termasuk seragam sekolahnya. Aleta terduduk lemas, menyapu pandangannya ke segala arah, lantas menarik kedua kakinya untuk ditekuk.
“Al, kok gak bilang sih kalau...,” Kalimat Salsa terhenti saat melihat kondisi rumah Aleta. Berdiri di dekat pintu yang sudah hancur seperti habis didobrak dengan sengaja, dan menatap nanar ke arah Aleta yang masih tampak kaget dengan semuanya. “Ada apa, Al, rumah loe kenapa?”
Aleta menggeleng. Aleta tampak benar-benar shock dengan semua yang dia lihat. Semua baik-baik saja, tidak ada satu rumah pun yang terlihat berantakan seperti yang kini terjadi pada semua barang-barangnya. Aleta menghela napas panjang, beranjak dari tempatnya duduk, lantas mencari sesuatu hal yang mungkin saja sengaja ditinggal oleh si pelaku. Aleta menyisir beberapa sudut, lemari, dapur, kamar mandi hingga di kolong tempat tidur, tapi tidak ada satu pun hal yang bisa membuatnya mengetahui siapa pelakunya. Aleta kembali duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan satu demi satu barang di hadapannya.
“Loe ada bertengkar sama siapa aja baru-baru ini?” tanya Salsa sembari meraih beberapa barang, dan meletakkannya di tempat semula. “Bimo?”
Aleta teringat. Pertengakaran dengan Bimo di taman rumah sakit, bisa menjadi alasan kuat untuknya melakukan semua ini. Bukan tidak mungkin Bimo melakukannya mengingat cowok itu punya kunci duplikat rumah Aleta. Berulang kali Aleta menggantinya, namun Bimo tetap sama diam-diam menggandakannya ke tukang kunci dengan alasan ingin menjaga Aleta, jika terjadi apa-apa. Bukannya menjaga, Bimo malah terlalu sering masuk menghancurkan segalanya setiap kali dia emosi.
Aleta meraih handphonenya di dalam tas. Namun belum sempat Aleta menekan beberapa nomor milik Bimo, sebuah tepuk tangan dari seseorang berhasil memalingkan kedua pasang mata itu ke arah pintu. Ada Reta di sana, berdiri sendirian dengan senyuman sinisnya seperti biasa.
“Gimana, suka sama design yang gue buat?” tanya Reta, membuat Aleta yakin bahwa dialah pelakunya. “Untung aja Bimo mau memberikan kuncinya, jadi bisa gue pakai buat ngerubah susunan barang-barang loe jadi lebih apik. Lihat, pas buat loe, kan? Berantakan! Sama kayak hidup loe!” ucap Reta sembari tertawa. "Ternyata, Bimo kayaknya juga suka deh sama gue, buktinya apa pun yang gue minta, selalu dikasih. Sepertinya dia bakalan jadi korban perampasan gue selanjutnya deh."
Aleta geram bukan main dibuat Reta, melangkah cepat mendekatinya, dan langsung menyelipkan tangan kanannya ke leher Reta. Dorongan Aleta, membuat Reta mundur beberapa langkah dan terhenti saat tubuhnya menabrak pembatas dinding setengah dada orang dewasa di belakangnya. Aleta menatapnya tajam, sementara Reta berusaha melepaskan cengkraman Aleta di lehernya yang mulai menyakitinya. Biyan yang baru saja selesia menaiki anak tangga terakhir, terhenti dengan mimik wajah kaget saat mendapati pemandangan mengerikan itu. Biyan tampak belum mau mendekat, membiarkan Aleta memuaskan emosinya yang pastinya, karena sesuatu hal kurang ajar yang telah dibuat Reta padanya.
“Hidup gue berantakan, semua karena loe!” bentak Aleta dengan penekanan di setiap kata.
__ADS_1
Salsa keluar dari rumah, berniat memisahkan keduanya, namun langkahnya terhenti saat mendapati Biyan berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Tatapannya tajam ke kedua orang yang kini masih bergulat penuh emosi. Seakan paham maksud dari sikap Biyan, Salsa pun mengurungkan niatnya dan hanya menjadi penonton keduanya saat itu.
“Semua yang gue miliki, loe dan nyokap loe rebut tanpa perasaan!” bentak Aleta lagi. “Seharusnya bukan hanya nyokap loe yang mendekam dalam penjara, tapi loe!”
“Lepasin gue!” bentak Reta yang masih saja berusaha melepaskan cengkraman tangan Aleta yang semakin kuat. “Loe bisa ngebunuh gue, lepasin gue!”
“Kenapa tidak?” tanya Aleta dengan senyuman sinis. “Sekarang juga gue bisa ngebunuh loe kalau gue mau, buat apa loe hidup kalau semuanya harus loe rebut dari hidup orang lain. Bokap gue, rumah gue, sahabat-sahabat gue, kepercayaan guru ke gue, kewarasan nyokap gue, dan juga... Biyan!”
Mendengar namanya disebut Aleta, Biyan tampak kaget bukan main. Dia benar-benar tidak percaya bahwa selama ini, dugaannya tepat sasaran. Aleta mencintainya. Sikap cuek Aleta yang terkadang diselimuti kekasarannya, memang selalu membuat Biyan ragu akan rasa di hati cewek yang sejak awal, sudah mencuri hatinya. Kekecewaan hadir dalam hatinya, saat mengetahui Aleta menerima Bimo. Cowok brandal di sekolah yang juga menjadi pesaing berat Biyan di team basket. Permusuhan keduanya terjalin semenjak Biyan diangkat sebagai ketua team dan Bimo, harus dikeluarkan dari team karena pemukulan yang dia lakukan pada Biyan.
“Biyan?” Reta tertawa. “Akhirnya loe mengakui juga kalau loe mencintainya. Tapi itu sih yang gue harapkan. Gue juga ingin seperti nyokap gue yang mengambil semua kebahagiaan loe. Gue gak suka loe memiliki segalanya. Gue gak suka! Bahkan, pria bejat itu yang mengaku mencintai nyokap gue, masih saja diam-diam membelikan loe hadiah saat loe ulang tahun! Gue benci itu,” ucap Reta yang berhasil membuat cengkraman tangan Aleta melemah dan terlepas.
Kesempatan itu, tidak dibiarkan Reta begitu saja. Tanpa perasaan, Reta memukul wajah Aleta hingga perempuan itu tersungkur di dekat kaki Salsa. Salsa sempat menjerit dan langsung menolongnya, mencoba menahan serangan Reta yang kembali hampir memukul Aleta dengan berdiri di hadapan Reta. Namun sialnya, Reta malah mendorong tubuhnya ke sisi berbeda hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Reta mengambil gerakannya kembali dan bersiap menghajar Aleta yang masih terbaring lemah di lantai, namun kepalan tangannya yang sudah berada di udara, berhasil tertahan oleh tangan Biyan. Reta geram bukan main dan berniat melepaskan diri, namun dengan cepat, Biyan menariknya menjauh dari Aleta, membawanya masuk ke dalam rumah dan melemparnya ke tempat tidur.
“Udah berani loe sama gue, lupa kalau loe punya utang?” tanya Reta yang sudah kembali berdiri menantang Biyan. “Keluarga loe sampai mati pun gak bakalan bisa ngelunasin utang-utang itu, jangan sok berani loe ngelawan gue!”
“Gue cuma gak mau loe dan Aleta bertengkar, itu aja.” Biyan tampak tenang walau cewek di hadapannya, menatapnya dengan kilatan emosi.
“Gak usah bohong loe, loe mau ngebelain tuh anak, iya kan?!”
__ADS_1
“Loe baru keluar dari rumah sakit, nyokap loe juga masih di penjara, kalau loe terus ngehajar dia... loe bisa
berakhir di penjara juga, Reta!” Nada suara Biyan meninggi walau wajahnya tetap tenang seperti sebelumnya.
Ucapan Biyan, berhasil membungkam mulut Reta. Seperti kerupuk yang kena air, dia melempem, mundur beberapa langkah dan duduk di pinggir tempat tidur. Biyan yang melihatnya, langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Reta menarik pandangannya ke Biyan, menatap cowok itu yang kini mengarahkan pandangan ke bingkai foto Reta dan Diandra yang tergantung di dinding tepat di samping tv kecil milik Reta, yang sengaja dibeli untuk sekedar menemaninya saat malam. Reta menghela napas pelan, dan kembali menunduk.
“Loe... peduli?”
“Jelas gue peduli,” jawab Biyan cepat.
“Sama gue, apa Aleta?”
Biyan terdiam. Pertanyaan kedua Reta ternyata adalah sambungan dari pertanyaannya yang pertama. Biyan menundukkan kepala, menghela napas, lantas kembali menatap Reta yang masih menatapnya penuh tanda tanya.
“Kalian saudara, tolong jangan bertengkar. Kalau bukan kalian, siapa lagi yang bisa memperbaiki semuanya?”
Reta terdiam, melempar pandangannya ke arah lain dengan ekspresi kesal bukan main. Biyan tahu benar Reta benci kata ‘Saudara’ yang dia ucapkan. Sejak dulu, Reta memang tidak menyukainya. Baginya, dirinya dan Aleta adalah musuh, tidak lebih dari itu.
Sementara itu di luar, Aleta duduk menekuk kedua kakinya di depan pintu. Salsa tampak telaten mengobati luka memar di pipinya akibat pukulan Reta. Sembari menangis, Salsa menekan memar itu dengan kain basah yang dia ambil dari dalam. Aleta menahan tangannya, menggelengkan kepala yang semakin membuat Salsa menangis terisak. Aleta yang tidak ingin Salsa terus menangis, langsung memeluknya erat, bukannya berhasil menghentikannya, Aleta malah ikut menangis. Tatapannya terarah ke Biyan yang baru saja keluar dari rumah Reta, mempererat pelukannya saat mendapati gelengankepala Biyan seolah-olah memintanya untuk tidak lagi menangis.
__ADS_1