
Suara jam weker, berdering keras tepat di samping tempat tidur Aleta. Dengan gerakan malas, Aleta memanjangkan tangan kanannya ke atas laci kecil tempat jam weker doraemonnya bertengger, dan memukulnya tepat di tombol pemati alarm. Suara keras itu berhenti seketika. Aleta menurunkan selimut yang menutupi wajahnya, memicingkan mata saat sinar matahari menembus jendela.
Hari libur yang cukup tenang. Sudah beberapa hari ini, Bimo tidak hadir di rumahnya. Ditambah lagi Aleta yang belum juga masuk sekolah, membuatnya bisa memiliki waktu tenang barang sebentar saja. Aleta memperlebar matanya perlahan, meraih handphone di samping jam weker, dan memeriksa ada pesan masuk atau tidak. Aleta tersenyum, ada pesan masuk dari Salsa di sana yang seperti biasa, memanggilnya sembari berteriak melalui voice note. Kebiasaan Salsa yang selalu saja diterima Aleta, hampir di setiap minggu pagi.
“Apa sih, Sa?” tanya Aleta yang langsung menghubungi Salsa via telepon. Perlahan bangkit lantas merenggangkan otot-otonya yang kaku.
“Baru bangun?!” Terdengar suara kesal Salsa dari seberang yang hanya dijawab Aleta dengan anggukan. Seolah-olah Salsa mampu melihatnya. “Kan loe udah janji kalau hari ini mau coba bikin vlog!”
“Masih malas, agh. Entar aja tunggu mood gue balik.”
“Gimana bisa dapat uang dari youtube, kalau loenya malas-malasa kayak gitu, Al!” Salsa mendengus kesal yang membuat Aleta tertawa tanpa suara, melangkah masuk ke dapur dan meraih gelas bening dari lemari piring. Aleta meletakkannya di atas pancuran dispenser, dan menekan tombolnya hingga air keluar.
“Ada kabar dari Bimo?”
Aleta yang baru saja berniat meminum air dalam gelasnya, urung. Seolah sejalan dengan pikirannya, Salsa pun memikirkan Bimo pagi ini. Entah di mana cowok itu. Tidak seperti biasanya dia menghilang saat pertengkaran terjadi. Biasanya Bimo malah terus-terusan datang dan meminta maaf. Bahkan mendobrak pintu saat Aleta tidak juga membukanya.
Aleta menggeleng, “Belum,” jawab Aleta singkat yang sesaat tidak ada balasan dari Salsa di seberang. “Kenapa, loe kangen?”
“Gila loe!” bentak Salsa seolah tidak terima dengan sindiran Aleta. “Gue cuma heran aja, tuh anak biasanya ribut setiap hari di depan rumah loe setiap kali kalian bertengkar, ini kok kayaknya adem ayem. Udah hampir seminggu, kan?”
Aleta mengangguk. Salsa benar, ini aneh bukan main. Entah apa yang terjadi pada Bimo. Bahkan sekedar menghubunginya atau mengiriminya pesta pesan singkat pun tidak. Biasanya, Bimo juga bakalan terus menghubunginya. Pesan singkat darinya bertubi-tubi selalu masuk seakan tanpa jeda. Baru saja masuk yang satu, pesan lain dari Bimo kembali masuk padahal terkadang, Aleta belum membaca pesan sebelumnya.
“Loe gak khawatir?” tanya Salsa hati-hati, takut jika sahabatnya itu malah sensi da marah padanya.
“Sedikit,” jawab Aleta singkat. Kembali melangkah ke tempat tidur, dan menyalakan tv dari remote yang sedari tadi malam, berada di bawah bantalnya. “Di sekolah?”
__ADS_1
“Dia gak datang, mungkin semenjak kejadian itu!”
Benar, ini semua benar-benar aneh. Aleta menjauhkan handphonenya dari telinga, mencoba mengecek pesan masuk siapa tahu salah satunya dari Bimo. Namun nihil, hanya pesan singkat dari Salsa, Mbok Minah dan juga operator yang hadir di kotak masuk pesannya. Selebihnya, tidak ada. Aleta kembali menempelkan handphone ke telinga dengan raut wajah kebingungan. Salsa sendiri belum juga mengeluarkan suara. Entah apa yang sedang dia lakukan sekarang.
“Gue dengar dari Biyan, tadi malam Reta mabuk?” Salsa kembali bertanya yang anehnya, selalu saja mendapatkan informasi dari Biyan. Entah sejak kapan keduanya saling bertukar nomor handphone. Yang Aleta tahu, keduanya hanya sekedar bertegur sapa dan sesekali berbicara, namun tidak ada terlihat kedekatan yang intens antara keduanya.
“Loe sama Biyan, sejak kapan tukaran nomor handphone?”
Terdengar tawa cengengesan Salsa di seberang. Tawa yang sesaat membuat Aleta ragu sekaligus takut bukan main. Takut jika keduanya ternyata saling memendam rasa hingga diam-diam bermain di belakangnya.
“Biyan yang minta nomor gue,” jawab Salsa. “Katanya biar bisa ngabarin gue kalau loe butuh bantuan yang tidak bisa dia bantu.”
Pikiran buruk itu, lenyap seketika. Senyuman tergaris di bibirnya sembari menatap lurus ke tv yang masih belum menyala, namun seolah-olah menarik untuk dilihat. Lebih menarik dari semua acara tv yang terus tayang hampir setiap waktu. Dua puluh empat jam penuh dengan berbagai acara menarik.
“Loe belum jawab pertanyaan gue!” seru Salsa mengagetkan Aleta yang asyik melamunkan Biyan ada di layar tv. “Benar Reta pulang dalam keadaan mabuk?”
“Dan loe percaya?” Lagi-lagi, Salsa lebih duluan tahu sebelum Aleta memberitahukannya. Ada rasa kesal dalam hatinya karena kini, sudah tidak lagi menjadi pusat informasi untuk Salsa yang terlalu sibuk mengurusin channelnya, hingga membuatnya kurang update pada sekitar. Biyan kini sudah mengambil alih tugasnya, membuat Aleta bingung harus membahas apa lagi dengan Salsa.
“Entahlah, gue gak tau!”
“Orang kayak Reta, jangan dipercaya!” Salsa memulai akasinya. Seakan seperti kompor menyala yang siapa kapan pun melahap mangsa yang ada di dekatnya. “Loe tau sendiri, kan, selama ini yang ada Reta dan keluarganya terus aja nyusahin hidup loe!” Salsa kembali menambahkan kalimat godaannya. “Dia gak bakalan berubah, Al. Palingan, dia juga cuma mau buat loe luluh, terus balik lagi ngehina loe di depan semua orang. Loe gak ada lihat kamera gitu yang ngarah ke elo?”
Aleta berusaha mengingat situasi saat itu. Rasanya, tidak ada yang patut dia curigai. Reta sedang tidak memegang apa pun, dia hanya memegang tas yang tergantung di tangannya sembari berjalan gontai karena dikuasai alkohol yang cukup kuat menguasai dirinya. Entah berapa gelas dia minum, yang pasti Reta memang selalu melakukan minimal sebulan sekali.
“Gak ada yang aneh. Gue cuma lihat dia, Tyaz dan Biyan!”
__ADS_1
“Tyaz? Tetangga loe yang aneh itu?” Aleta mengangguk. “Kok bisa dia di sana?”
“Yang gue dengar dari pembicaraan mereka sebelumnya, Tyaz sepertinya lebih dulu di sana. Ada kantung plastik sampah di tangannya. Sepertinya sih, Tyaz mau buang sampah terus gak sengaja jumpa sama Reta.”
“Teringatnya, suaminya ke mana?”
“Ya mana aku tau, Sa!” ucap Aleta kesal, seolah-olah dia biang gosip yang selalu tahu segalanya. “Yang pasti udah beberapa bulan ini gak kelihatan!”
Salsa terdiam. Tidak ada suara lagi darinya yang biasanya selalu bertanya banyak hal yang membuatnya penasaran. Dan dengan santai bercampur kesal kadang-kadang, Aleta menjawab semua pertanyaan Salsa. Cukup lama Salsa terdiam, sampai akhirnya terdengar helaan napas beratnya yang membuat Aleta bingung.
“Bimo...,” Salsa menggantung kalimatnya yang kini berhasil membuat Aleta penasaran. “Dia tidur dengan Aleta di malam loe dihajar olehnya, Al?”
Pertanyaan Salsa, seakan membuka kembali luka perih di hatinya akibat kejadian kasar Bimo yang sebenarnya, menjadi alasan untuknya tidur di rumah Reta. Walau pun adegan kasar itu sudah terlalu sering terjadi, namun ada rasa berbeda yang Aleta rasakan. Kehadiran Biyan di luar yang menantinya dengan sabar dan hati teriris, membuatnya sakit bukan main. Andai saja tidak ada Biyan di sana, mungkin Aleta tidak akan merasakan kesedihan yang teramat besar hingga berhasil mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Tatapan Biyan yang memilukan saat masuk ke dalam menemuinya sehabis adegan kasar itu terjadi, membuatnya lemah hingga akhirnya tak kuasa menangis di hadapannya.
Aleta kembali mengingat kejadian pagi itu, saat mendapati Bimo keluar dengan wajah ketakutan akibat perbuatannya ketahuan Aleta, yang dia pikir belum akan pulang subuh itu. Dan sosok Reta, yang dengan santainya keluar dengan baju terusan menerawang hingga menampakkan bra merah yang menutupi keindahan payudaranya ditambah celana dalam yang senada dengan warna branya. Sungguh menjijikkan, tapi itulah yang berhasil dilihat Aleta saat itu.
“Loe gak perlu sedih,” ucap Salsa dengan nada suara lirih. “Loe dan dia udah gak ada hubungan apa-apa lagi, jadi loe gak perlu mikirin hal itu lagi. Oke?”
Aleta tersenyum tipis, menundukkan kepala dan mencoba menenangkan perasaannya sendiri. Sebenarnya dia tidak memikirkan Bimo saat ini. Sejak awal, Aleta sudah tahu dia cowok hidung belang yang suka menggoda banyak perempuan. Namun yang Aleta tahu, Bimo tidak akan berbuat nekat semolek apa pun tubuh wanita di hadapanya. Namun malam itu, pertahanan Bimo luluh latak di hadapan Reta yang memang cantik bukan main.
Aleta juga memikirkan Reta. Entah mengapa semenjak kejadian Reta mabuk dan mengatakan kata-kata yang sempat membuatnya luluh, Aleta selalu saja mencemaskannya. Sekedar mengingat kejadian Bimo keluar dari rumah Reta saja, sudah membuat Aleta berpikir terlalu jauh. Usia Reta masih terlalu muda jika sampai hamil di luar nikah.
“Atau loe jadikan vidio buat channel loe aja, Al!” Suara Salsa yang melengking tajam, membuat Aleta tersentak kaget sampai menjauhi handphone dari telinganya. Kesal, itulah yang selalu Aleta rasakan setiap kali Salsa mengeluarkan kekuatan suaranya tanpa kenal waktu. Aleta kembali menempelkan handphonenya di telinga, saat suara Salsa terus memanggilnya.
“M-A-L-E-S! MALES!!!” ucap Aleta lantas langsung mengakhiri pembicaraan dengan menekan tombol merah, melempar handphonenya ke tempat tidur sembari menekuk wajahnya. Benar-benar tidak habis pikir mengetahui jalan pikiran Salsa yang selalu saja mengutamakan konten dibandingkan hal lainnya. Mustahil rasanya Aleta menjadikan hal itu sebagai vidio hingga menarik semua orang, untuk tertawa meledek Reta mau pun Bimo. Biar gimana pun sikap Reta padanya, Reta sudah membangun imagenya dengan baik di depan semua penikmat konten youtubenya. Dan rasanya tidak adil dan terlalu jahat bagi Aleta jika harus merusaknya begitu saja.
__ADS_1
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphonenya. Aleta mendengus kesal, dia tahu benar siapa pengirim pesan singkat itu. Pasti Salsa yang akan meminta maaf atau sekedar memakinya karena sudah menutup telepon secara tiba-tiba.
Namun kedua mata Aleta terbelalak. Sebuah pesan yang masuk, ternyata bukan dari Salsa, melainkan dari Bimo. Aleta menelan ludahnya, mencoba memikirkan sesuatu dengan ekspresi takut. Takut jika Bimo kembali buas seperti sebelumnya.