
Aleta melempar tasnya ke atas meja belajarnya, menghempaskan tubuhnya di atas kasur, dan menatap langit-langit kamar yang masih terang akibat cahaya matahari siang yang masuk melalui jendela kamar. Ingatan tentang sikap Bimo kembali berputar di kepala. Sikap kasar yang memang selalu ada di dalam dirinya, membuat Aleta terkadang merasa takut luar biasa. Tidak ada kenyamanan yang hadir setiap kali berada di dekatnya. Bahkan, untuk menghabiskan waktu satu jam saja berdua, rasanya hampir seharian berlalu. Dan itu membuat Aleta muak.
Aleta menarik napas panjang, lantas mengembuskannya kasar. Bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersandarkan dinding. Ingatannya kini berubah haluan terarah pada Biyan. Sikapnya yang terkesan dingin bahkan tidak banyak bicara, jelas membuat siapa pun tidak betah berlama-lama bersamanya. Namun, ada kenyamanan yang hadir begitu nyata. Bahkan Aleta yang biasanya selalu takut menaiki motor, kini malah berani dan cukup tenang saat Biyan memboncengnya.
Aleta tersenyum membayangkan sikap unik Biyan tadi pagi. Bahkan ucapan Biyan tentang helm pun, berhasil melebarkan senyuman di bibir Aleta. Masih teringat jelas awal mula dia berkenalan dengan Biyan. Masa ospek yang cukup menyulitkan Aleta yang mau tidak mau dikerjain habis-habisan oleh kakak senior, berhasil
terlewati Aleta hanya karena sikap Biyan yang rela menyerahkan topinya ke kepala Aleta secara diam-diam, tanpa sepengetahuan para senior saat pemeriksaan topi diadakan. Dan dengan langkah tegap, Biyan melangkah ke depan dan mengaku bahwa dia lupa membawa topinya. Aleta tertawa mengingatnya. Apalagi saat melihat wajah lelah Biyan yang harus lari keliling lapangan basket sebanyak sepuluh kali. Hukuman yang seharusnya terjadi padanya, malah harus ditanggung Biyan seorang diri. Aleta yang tidak tega, memberikannya botol mineralnya saat istirahat kegiatan ospek tiba, yang bertepatan dengan selesainya hukuman Biyan.
Lamunan Aleta buyar seketika saat pintu kamarnya digedor dari luar. Aleta mendengus kesal, lantas bangkit mendekati pintu. Ada Reta di sana. Berdiri di balik pintu dengan pakaian tidur dan wajah penuh kemarahan yang membuat Aleta bingung bukan main.
“Gue tau loe gak suka sama gue, tapi apa harus banget ya loe nyebarin ke semua orang di sekolah kalau sekarang, gue tinggal di sini!”
Aleta mengerutkan keningnya. Sejujurnya dia memang sangat membenci Reta. namun untuk sekedar berbuat jahat dengan membeberkan kondisi keuangan Reta hingga tempatnya menetap kini, rasanya tidak mungkin dia lakukan.
“Ngaku loe!” bentak Reta saat menyadari Aleta tak kunjung menjawab.
“Gue gak ada cerita apa pun ke teman-teman di sekolah kalau loe di sini!” Aleta mencoba membela diri. “Bisa aja orang lain, atau teman-teman loe!”
“Mereka gak ada yang tau selain loe dan Biyan!”
“Biyan, mungkin aja dia!” Aleta menggigit bibirnya. Sebenarnya dia tidak ingin menuduh Biyan yang bukan-bukan. Namun melihat sikap Reta yang dipenuhi emosi, membuatnya enggan jika harus disalahkan akan perbuatan yang tidak dia lakukan. Aleta sama sekali tidak menceritakan apa pun tentang Reta di sekolah. Bahkan seharian ini Aleta melupakannya. Pikirannya dipenuhi dengan apa yang ingin disampaikan Biyan dan juga akan sikap Bimo yang tidak pernah berubah.
__ADS_1
“Biyan itu suka sama gue, gak mungkin dia yang beberkan semua ini!”
Kalimat Reta sukses memberikan efek petir di kedua telinga Aleta. Ada rasa sakit di hatinya yang entah karena apa. Kalimat Reta terus berdengung di telinganya yang sesaat membuat Aleta memegang pintu dan berniat menutupnya. Namun Reta lebih cepat dengan menahan pintu hingga kembali terbuka.
“Bukan gue!” bentak Aleta yang mulai terpancing emosi.
“Gak usah bohong loe!” Reta membesarkan kedua matanya. “Loe memang dari dulu gak pernah suka sama gue. Loe dari dulu selalu ingin ngehancurin gue, kan?!”
Aleta membuang pandangannya ke arah lain, menarik napas panjang dan membuangnya kasar. Sikap Reta yang hampir sama dengan Bimo itu, benar-benar membuatnya muak bukan main. Seharusnya Bimo berpacaran dengan Reta, bukan dengannya. Seharusnya Bimo menembak Reta, bukan malah bersikap manis dengan berlutut di hadapan semua orang dengan setangkai bunga mawar saat pelajaran olahraga tiba. Dan dengan sungguh-sungguh mengungkapkan cintanya. Dan seharusnya saat ini bukan Bimo pacarnya, tapi ….
“Reta!” Sebuah suara berhasil menarik khayalan Aleta. Keduanya kompak mengarahkan pandangan ke sosok cowok yang entah kapan datangnya dan kini sudah berdiri di belakang Reta. Aleta kembali mengarahkan pandangan ke arah lain, enggan membalas tatapan cowok berahang tegas itu. Kejadian tadi pagi masih membekas di hatinya. Entah karena malu, atau kesal bukan main. Yang pasti saat ini, Aleta benar-benar tidak ingin melihatnya.
“Bukan Aleta yang nyebarin.”
“Jadi siapa kalau bukan dia, Bi!”
Biyan menggeleng, “Yang pasti bukan dia. Dari tadi pagi dia ada masalah dengan cowoknya. Jadi seharian dia cuma menghabiskan waktu di kelas dan sama sekali tidak keluar dari kelas.”
Aleta merapatkan gigi-giginya. Ucapan Biyan jelas kembali berhasil menarik emosi dalam dada. Biyan sama saja secara tidak langsung melemparkan bahan ejekan di hadapan Reta tentangnya. Dan benar saja, Reta kembali menatap Aleta yang kali ini dengan tatapan meremehkan. Tersenyum sinis dengan kedua tangan terlipat di
dada.
__ADS_1
“Lagi?” Nada suara Reta menyeleneh. “Sepertinya loe gak pantas punya pacar. Apalagi cowok seperti Bimo. Loe tuh pantasnya sama cowok kutu buku dengan kaca mata besar dan seragam rapi yang dimasukkan ke dalam celana. Cupu, sama kayak loe!”
Cupu? Ledekan yang sama sejak kelas satu SMA. Ledekan yang hadir hanya karena Aleta lebih menyukai membaca buku di perpustakaan dari pada di ruang komputer untuk bermain media sosial. Dan semakin menjadi jadi saat Reta mengetahui bahwa Aleta tidak memiliki beberapa akun sosial seperti halnya murid-murid yang lain.
“Lagian seharusnya loe itu sadar diri, loe itu gak pantas punya seseorang di hidup loe. Lihat sendirikan, semua orang pergi dari loe,” lanjut Reta tanpa ampun. “Gue sendiri heran, loe itu anak kandung, apa pungut sih sampai gak ada yang peduli sama loe ....”
“Cukup, Reta!” potong Biyan yang berhasil membuat Reta terperanjat kaget. Menatap Biyan dengan tatapan tidak percaya sekaligus geram karena berani membentaknya.
“Berani banget loe ngebentak gue, ingat … keluarga loe itu masih punya utang sama keluarga gue. Kalau gue mau, sekarang juga bisa gue tagih!”
“Sayangnya saat ini loe juga berhutang hidup sama gue,” ucap Biyan yang berhasil membungkam mulut Reta.
“Bisa diam gak?!” bentak Aleta sembari menutup kedua telinganya. “Loe bawa sekarang juga cewek loe, sebelum gue gelap mata karena tingkahnya!” ancam Aleta sembari menunduk.
Reta tertawa mendengarnya sedangkan Biyan tampak mengerti dengan sikap Aleta yang seperti itu. Enggan menatap lawan bicaranya adalah ciri-cirinya saat menahan emosi atau sedang berbohong. Dan kali ini, tidak ada hal yang harus dia ucapkan dengan kebohongan. Aleta benar-benar emosi. Dan semua itu didukung kedua telapak tangannya yang terkepal.
“Reta, ayo!” ajak Biyan sembari mencengkram lengan Reta lantas menariknya pergi.
Aleta membanting pintu hingga tertutup sempurna. Menyeret tubuhnya sendiri di pintu dengan ekspresi wajah pilu. Kalimat Reta berhasil menambah deretan panjang kesialan di hari ini. Belum juga selesai tentang Bimo, kini Reta kembali berulah.
Aleta menyembunyikan wajahnya di antara lutut. Kepalan tangannya melunak berganti isak tangis yang terdengar menyayat hati. Seharusnya di sini, dia bisa lebih tenang. Tapi semenjak Reta hadir, semua berubah. Semua emosi yang dia benci, kini kembali hadir tanpa bisa dia tepis seperti biasa.
__ADS_1
“Gue bukan anak pungut … gue bukan anak pungut,” ucapnya di sela tangis.