
Dugaan Aleta, tepat sasaran. Cuaca cerah yang pagi itu menguasai bumi, tidak secerah suasana di sekolah yang kini, dirundung tatapan sinis dari semua orang yang Aleta lewati. Sejak kedua kakinya melangkah masuk ke gerbang sekolah, hingga duduk di kursi di kelasnya, semua orang seakan menganggapnya kotoran hingga menyingkir sembari mencibir. Aleta menghela napas panjang dan semakin dibuat geram saat mendapati tulisan menyakitkan di papan tulis.
‘Pelacur dilarang masuk!’
‘Dasar piala bergilir’
‘Gak tau malu’
‘Bukan hanya ibunya saja yang gila, tapi anaknya juga’
‘Gak tau diuntung, udah dapat Bimo yang kaya, malah disia-siakan!’
‘Sekali sampah tetap sampah!’
Kata-kata itu memenuhi papan tulis di depan kelas. Aleta menunduk sesaat, mengepal kedua tangannya lantas berdiri dan melangkah cepat mendekati papan tulis saat Salsa baru saja tiba di kelas. Beberapa siswa lainnya, malah sibuk mengabadikan sikap Aleta yang menghapus papan tulis dengan gerakan kasar melalui kamera masing-masing. Aleta tampak tak peduli, dia terus menghapus tulisa-tulisan itu dengan penghapus papan tulis dan melempar penghapus plastik itu ke lantai sembari menatap geram, ke semua orang yang ada di kelas.
“Siapa orang sok suci yang nulis semua ini!” bentak Aleta yang bukannya mendapatkan jawaban, malah sorakan tiada henti. “Jawab gue!!”
Menyadari kemarahan Aleta, semua orang seketika bungkam. Saling berpandangan bahkan sebagian tertunduk takut. Aleta benar-benar dibuat geram bukan main. Bahkan saat Salsa mencoba menenanginya dengan cara mengusap punggungnya, Aleta malah menepisnya kasar sembari memukul papan tulis dengan tangan kanannya.
“Kalau kalian semua gak tau kebenarannya, jangan sok suci dengan memaki orang lain!!!” bentak Aleta lagi.
“Kebenaran apa yang loe maksud?” Sebuah suara mengalihkan pandangan Aleta yang semula tertuju ke semua orang di kelas, menuju ke depan pintu. Ada Reta di sana, melangkah masuk dengan kipas di tangannya, diikuti dua dayang yang selalu setia bersamanya. Mungkin dua dayang itu masih menganggap Reta bah ratu yang kaya raya. Padahal, kebalikannya. Mungkin saja mereka akan menjauh jika tahu, Reta kini sama miskinnya seperti Aleta. Tidak, bahkan lebih miskin dari itu.
__ADS_1
“Kebenaran kalau loe udah gak suci lagi? Kalau loe piala bergilir? Atau kalau nyokap loe... gila?”
“Jaga mulut loe!” bentak Aleta berniat maju menyerang Reta, namun dengan cepat Salsa menahannya.
“Tenang, Al, loe bisa dikeluarin dari sekolah,” bisik Salsa yang spontan meredam emosinya. Sayang rasanya jika dia harus dikeluarkan dari sekolah hanya karena fitnah yang tidak beralasan. Lagi pula, Aleta saat ini sudah kelas tiga dan sebentar lagi sudah mau ujian nasional, sulit baginya jika harus pindah sekolah di tingkat kelas sepertinya.
“Ngomong-ngomong,” lanjut Aleta sembari tersenyum. Dia tampak tenang dari sebelumnya. “mereka sudah tau belum. Ratu mereka ini, udah jadi babu sekarang?”
Ekspresi sinis Reta, berubah drastis. Dia tampak malu. Persis seperti pencuri yang berhasil ditangkap polisi di depan semua orang. Reta gugup, melirik ke kiri dan kanan seakan ingin melihat semua ekspresi teman-temannya yang kini malah berbalik mennyerangnya dengan bisikan-bisikan curiga.
“Ada yang udah datang ke rumah baru sang ratu belum?” tanya Aleta sedikit meninggikan suaranya. “Kalau belum, datang aja ke salah satu rumah kontrakan yang disebut-sebut dalam vlog terbaru Bimo. Kalian bakalan ketemu sang ratu di sana dengan keadaan yang mengenaskan.” Aleta menekan kata-kata terakhirnya dengan kedua mata tajam terarah ke Reta.
“Di-diam loe, Al!” Reta tampak gugup.
“Cukup, Al!” Reta semakin panik, berniat kabur namun dengan cepat Aleta menarik tangannya untuk tetap di hadapannya.
“Asal kalian semua tau, ratu yang kalian sanjung ini adalah... saudara tiri gue!” ucap Aleta tanpa ragu sedikit pun. Ucapan Aleta jelas membuat semua orang kaget bukan main. Reta sendiri tertunduk malu mendengarnya.
“Nyokapnya yang terhormat itu, yang sekarang mendekam di balik jeruji besilah yang memulai cerita kami. Dia berselingkuh dengan pengusaha kaya pemilik perusahaan besar bernamakan RIALETA FURNITURE, yang tidak lain adalah... bokap gue sendiri!” lanjut Aleta yang tampak geram karena harus mengingat semua kejadian pahit itu. “Bertahun-tahun gue dibohongi, bertahun-tahun nyokap gue tersiksa hingga kehilangan kewarasan karena terus dipukuli, bertahun-tahun gue menderita karena sikap kasar bokap gue, sementara dia... enak-enakan hidup nyaman di rumah besar yang masih atas nama Riani Mandasari Utari, nyokap gue!”
Semua orang semakin kaget mendengar cerita dari Aleta. Beberapa orang menatap sinis ke Reta yang kian terpuruk. Beberapa lainnya, tampak mencibir Reta yang ternyata palsu. Aleta cukup puas dengan apa yang dia lakukan, Salsa pun tampak tersenyum sinis mendapati sahabatnya akhirnya berani melawan. Di sisi lain, tampak Biyan berdiri di dekat pintu mendengarkan semuanya dengan ekspresi datar.
“Jadi sebenarnya, Reta ini anak bokap kandungnya atau bokap loe, Al?” Sebuah suara bertanya yang membuat Aleta semakin diambang kemenangan. Sesaat Aleta mengalihkan pandangannya ke cewek berambut sebahu yang sejak tadi sibuk memegang handphonenya, merekam tanpa henti. Pertanyaanya membuat Aleta tersenyum, lantas kembali menatap Reta yang semakin menundukkan kepala.
__ADS_1
“Hasil dari perzinahan nyokapnya dan bokap gue.”
“Bohong!” bentak Reta. “Dia bohong, gue anak bokap gue!”
“Bokap loe mandul, mustahil bisa punya anak!” lawan Aleta yang semakin membuat Reta terpuruk semakin dalam. “Dia sendiri yang mengakui hal itu di depan media massa. Loe bukan anaknya. Loe lahir setahun setelah gue lahir! Dan dari hasil pemeriksaan DNA yang pernah dilakukan nyokap gue, loe adalah anak sah dari bokap gue!!”
Biyan mengalihkan pandangannya ke sisi kanannya saat seseorang hadir dengan napas ngos-ngosan. Ada Bimo di sana, yang seakan tidak melihatnya, lantas melangkah masuk mendekati kerumunan di dalam kelas. Kehadiran Bimo, berhasil menarik pandangan Aleta terarah padanya.
Aleta yang sejak tadi mencengkram pergelangan tangan Reta, langsung menariknya dan menolak tubuhnya ke arah Bimo. Hingga membuat Bimo spontan menahan tubuh Reta yang hampir terjatuh.
“Loe pernah bilang mau ngerampas Bimo dari gue, seperti yang nyokap loe lakukan yang udah ngerampas bokap gue, kan?” tanya Aleta tetap dengan nada tenang. “Dan loe.” Aleta mengarahkan telunjuknya ke wajah Bimo. “Loe pernah bilang gue kampungan hanya karena gak memiliki channel youtube, gak update di media sosial, gak keren dan gak gaul kayak Reta, kan? Kalian pacaran aja, cocok kok. Lagian, gue juga terpaksa nerima loe hanya karena loe ngancam pengen bunuh diri. Dan janji loe untuk ngelindungi nyokap gue, juga... karena permainan kotor loe sama bokap gue.”
Aleta berniat pergi, namun urung saat tangannya digenggam Bimo. Aleta berbalik, menatap Bimo yang kini menatapnya dengan ekspresi memelas. Ada penyesalan di wajahnya dan kedua matanya yang membuat Aleta bukannya kasihan, malah muak bukan main. Kali ini, kepribadian baiknya yang bermain. Dan Aleta sudah hapal betul tentang itu.
“Aku minta maaf, Al?”
“Aku?” tanya Aleta sembari tertawa sinis. “Kita udah putus, jadi loe gak perlu pakai kata ‘Aku’ atau ‘Kamu’ lagi. Gak guna!”
Aleta menghentakkan tangannya, melangkah keluar dari kerumunan dan sesaat berhenti saat berpapasan dengan Biyan, menatap Biyan miris yang kini menatapnya datar. Rasanya, Aleta ingin bilang ‘tolong bantu gue’ pada Biyan, namun rasanya waktunya tidak tepat. Ada banyak pasang mata yang masih terjurus padanya. Aleta hanya tidak ingin ada masalah lagi yang membuatnya, kesulitan bernapas. Aleta memutuskan untuk kembali melangkah, keluar dari kelas diikuti Salsa dan juga tatapan Biyan yang seolah-olah, ingin ikut mengejarnya.
Biyan mengalihkan pandangannya ke Reta yang kini terduduk di lantai kelas. Tangisannya memecah kerumunan orang-orang yang masih saja menghujatnya. Bimo sendiri tampak kacau, duduk di salah satu kursi sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Biyan melangkah masuk, mendekati Reta dan membantunya berdiri. Tatapan Reta padanya, sesaat membuat Biyan terhanyut. Dia begitu kacau. Untuk pertama kalinya Reta menangis sejadi-jadinya. Dia malu, dan Biyan tahu itu.
“Aku antar kamu pulang sekarang, istirahat di rumah,” ucap Biyan yang langsung dibalas anggukan oleh Reta. Bersama Biyan, Reta melangkah keluar kelas dengan kepala tertunduk. Suara sorakan menyakitkan dari semua orang, mengiringi kedua kakinya melangkah. Hari ini benar-benar menjadi hari terburuk untuknya. Reta kehilangan teman. Bukan, tapi saat ini dia kehilangan kedudukan sebagai ratu yang selalu dipuja puji hampir semua orang karena kecantikan dan kekayaannya yang ternyata, palsu belaka.
__ADS_1