VLOG

VLOG
Episode 9


__ADS_3

            Aleta merintih.


            Biyan terdiam. Menatap Aleta yang kini memejamkan kedua mata, mencoba menahan rasa sakit di kepalanya tepat di luka yang kini tidak lagi mengeluarkan darah. Kain basah yang masih digenggam Biyanlah yang berhasil menghentikannya. Kembali menyentuh luka Aleta dengan dipandu tangan Biyan setelah memastikan Aleta sudah baik-baik saja.


            Aleta sendiri sebenarnya sempat menolak saat Biyan berniat mengobatinya. Dia hanya ingin Biyan mengantarnya ke rumah. Rasa pusing yang menghantamnya, tak mampu bagi Aleta berjalan sendiri menaiki tangga. Sebenarnya bisa saja dia meminta pertolongan Bimo tadi, bahkan cowok berkulit kuning langsat itu sudah menawarkan diri. Namun sayangnya, rasa kesal dan benci yang teramat sangat di diri Aleta akibat sikapnya, membuat Aleta menolak mentah-mentah. Dia tidak ingin terus dikuasai kemarahan hanya karena melihat Bimo di hadapannya.


            Biyan menyudahi pembersihan luka di kepala Aleta, meraih obat merah, dan mengolesnya dengan bantuan korek kuping. Biyan meniupnya pelan, lantas meraih plester dan menutupnya. Aleta membuka kedua mata, menatap Biyan yang masih sibuk bercengkrama dengan lukanya hingga tidak menyadari, kedua matanya mengamati wajahnya yang tampan.


            Aleta menjauh saat Biyan menyudahi pengobatannya. Duduk diam di atas kasur sambil memperhatikan Biyan berjalan menuju dapur. Tangannya membawa baskom berisikan air dan kain yang membantunya mengobati luka Aleta. Hanya beberapa detik, dia kembali mendekati Aleta, memerika plester agar tidak terlepas yang membuat hawa panas menyerbu wajah Aleta.


            “Kenapa loe tiba-tiba datang?” tanya Aleta. Berharap jawaban Biyan sama dengan harapannya kalau kedatangannya, karena ingin bertemu dengannya. Aleta ingat jelas ucapan Salsa tentang jatuh cinta.


            “Kalau orang jatuh cinta, biasanya bisa ngerasain apa yang dirasakan orang yang dicintainya. Rasa takut, cemas, khawatir, seakan tau orang yang dicintainya kenapa-kenapa”


            Kalimat itu terngiang di telinga Aleta. Sahabatnya yang satu itu, memang cukup makan asam garam jika berbicara tentang cinta. Dengan rekor lima kali pacaran sejak SMA, Salsa berhasil membuat Aleta geleng-geleng kepala. Entah kapan dia pacaran, yang Aleta tahu Salsa hanya dekat dengan Aldo—mantan ketua OSIS, Zein—teman sekelas keduanya namun kini malah sudah pindah karena mengikuti orang tuanya yang berpindah kerjaan dan Bryan—cowok keturunan German yang kini kuliah di Jogja. Kota yang ingin Salsa datangi untuk sekedar bertemu Bryan. Entah apa hubungan keduanya saat ini, yang pasti Aleta sering mendapatinya masih menghubungi Bryan lewat telepon.


            Biyan memperhatikan wajah Aleta. Dia masih saja menanti jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan. Ada harapan di wajahnya yang berhasil melukiskan senyuman di bibir Biyan, mengalihkan pandangan ke tv di dekat kasur Aleta sembari merogoh handphone dalam saku jaketnya.


            “Gue mau mastikan, Reta sudah pulang apa belum.”


            Kecewa, pasti. Itulah yang kini Aleta rasakan. Sesaat dia mengalihkan pandangan ke arah lain saat sorot mata Biyan, kembali mengarahnya walau hanya sebentar. Dia kembali sibuk berkutat di dunia handphonenya yang membuat Aleta kesal bukan main.


            Biyan tidak pernah hadir untuknya. Itulah yang selama ini Aleta rasakan. Biar gimana pun, Biyan bukan miliknya, tapi milik Reta. Wajah saja jika dia hadir hanya untuk Reta. Reta?? Ya, Aleta baru ingat tentang cewek menyebalkan itu. Aleta menarik pandangan kembali ke Biyan yang kini hanya bisa melihatnya dari samping.


            “Aleta kemana? Loe pasti tau dia kemana, kan?”


            “Sikap loe itu, karena peduli atau sekedar ingin tau?” Biyan bertanya tanpa membalas pandangannya.

__ADS_1


            “Dia tetangga gue, wajar aja kalau gue penasaran kenapa dia gak pulang!”


            “Kenapa Cuma Reta, tetangga yang lain kenapa gak dikhawatirin?”


            “Apaan sih!” gerutu Aleta, menuruni kedua kakinya dari kasur kayu itu dan berniat bangkit menuju dapur. Namun sialnya, rasa pusing di kepalanya masih saja menghantamnya. Aleta kembali terduduk sembari memegang kepala tepat di samping kiri Biyan yang tampak khawatir. Namun dengan cepat, dia menyembunyikan ekspresi khawatirnya dengan helaan napas.


            “Kepala loe masih pusing, lebih baik tiduran dulu!”


            “Gue harus ke rumah sakit!”


            Biyan menoleh, “Tadi diajak berobat gak mau, sekarang malah mau ke rumah sakit!” Biyan salah paham, itulah kini yang membuat Aleta tertawa lucu.


            “Buat apa buang-buang duit kalau udah ada dokter di sini,” ucap Aleta beralih menatap Biyan yang masih menatapnya. “Gue mau lihat nyokap, kata Mbok Minah yang ngejagain dia, Mama udah sadar.”


            Biyan terdiam. Suasana hening seketika. Tidak ada suara apa pun kini selain kipas angin yang sengaja


            “Gue antar!” ucap Biyan tiba-tiba.


            “Gak usah, gue gak mau buat Reta marah. Gue naik taksi aja.”


            “Reta gak bakalan marah, bahkan dia gak bakalan tau.”


            “Maksudnya?”


            Biyan kembali mengarahkan pandangan ke Aleta. Ada keseriusan di kedua matanya yang berhasil ditangkap Aleta. Aleta tahu jelas, Biyan mengetahui di mana keberadaan Reta semalaman. Apa pun, selalu Reta ceritakan padanya, meskipun terkadang sikapnya menyakiti Biyan baik fisik maupun mental, namun cowok itu selalu ada untuknya. Entah untuk alasan apa.


***

__ADS_1


            Aleta terdiam. Pemandangan menyakitkan dilihat langsung oleh Aleta. Ada reta di sana, terbaring tidak sadarkan diri dengan selang infus masuk ke dalam tubuhnya melalui pergelangan tangan. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak lemah dan tidak ada siapapun di sana. Dia sendiri, meratapi nasibnya sendiri dalam ketidaksadaran.


            Biyan hadir, selembar kertas dari pembayaran rumah sakit, tampak dia genggam erat. Perlahan mendekati Aleta yang sesaat mengalihkan pandangan ke arahnya, lantas kembali melihat Reta dari pintu kaca. Biyan mengajaknya masuk, namun Aleta lagi-lagi menolaknya. Hubungan Reta dengannya yang tidak terlalu baik, membuatnya enggan masuk sekedar menyapa. Aleta takut Reta bangun saat dia berada di dalam.


            “Dia kenapa?” Aleta bertanya setelah beberapa saat mengisi dengan kebungkaman.


            “Dia pingsan saat melihat Ibunya di penjara.” Biyan mengalihkan pandangannya ke Reta. “Kebetulan, aku menemaninya sepulang sekolah kemarin.”


            “Ayahnya?” tanya Aleta. “Apa dia tidak datang untuk melihat istrinya?”


            “Untuk apa?” tanya Biyan datar. “Bukankah mereka sudah bercerai cukup lama. Dan mungkin dia tidak mau melihat istrinya lagi. Mantan istri lebih tepatnya.”


            Aleta tersenyum sinis, berbalik lantas memilih duduk di kursi kayu putih di depan kamar inap Reta. Biyan mengikuti Aleta melalui kedua matanya. Tetap berdiri sembari melipat kedua tangan di dada.


            “Perselingkuhan mereka benar-benar membuat dunia politik gempar.” Aleta menatap nanar di dinding di hadapannya. “Hingga efeknya sampai sekarang.”


            “Loe masih dendam?”


            Aleta menarik pandangannya ke Biyan yang kini berdiri sedikit miring dengan bahu kanan bersandar di dinding. Tepat di samping pintu kamar Reta.


            “Kalau loe jadi gue, apa loe bakalan semudah itu memaafkan semuanya?” Ada kemarahan di kedua mata Aleta yang mampu ditangkap Biyan. “Gue tau, loe berdiri di pihak Reta, tapi bukan berarti loe nutup mata sama kejadian yang sebenarnya, kan?”


            Biyan bungkam. Suara Aleta kini berubah getir. Ada luka yang belum sembuh sepenuhnya yang terdengar dari suaranya. Getaran di nadanya pun membuat Biyan yakin, bahwa dendam masih bermukim di sana. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, namun tetap saja baik Aleta maupun Reta, tidak akan bisa berdamai.


            Aleta beranjak, berdiri menghadap Biyan yang kini sudah berdiri tegak. Tatapannya masih saja melekat dalam mengarah ke kedua mata Biyan. Suasana lorong rumah sakit yang tampak ramai dengan beberapa pengunjung, pasien dan juga para suster lalu lalang, seakan tidak dipedulikan Aleta. Bahkan saat seorang pasien berjalan sembari memegang tiang infusnya dan berusaha memanggil suster yang lewat pun, tidak membuat Aleta gentar mengarahkan pandangannya ke Biyan yang kini, juga mengabaikan situasi yang ada.


            “Mungkin mata loe ketutup, tapi hati loe enggak, kan?” tanya Aleta datar. “Gue harus pergi, nyokap gue juga dirawat di sini. Dia lebih membutuhkan gue dari pada pacar loe yang lebih memilih menghancurkan hidup orang lain, dari pada membantu.”

__ADS_1


            Aleta melangkah melewati Biyan, meninggalkan cowok itu yang kini berbalik mengikuti arah langkah kaki Aleta dengan kedua matanya. Tidak ada senyuman di bibrnya. Tatapan matanya seakan datar tanpa makna, membiarkan Aleta pergi dan tidak berniat menghalanginya seperti biasa.


__ADS_2