VLOG

VLOG
Episode 5


__ADS_3

            Aleta berlarian di lorong rumah sakit. Wajahnya pucat pasi. Kabar tengah malam yang melayang ke handphonenya jelas membuatnya panik. Selama ini Aleta mengira semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Namun, dugaan Aleta salah besar. Wanita itu kini menyerah dengan keadaan dan mau tidak mau diantarkan ke gedung putih yang seharusnya sudah sejak sebulan lalu menjadi tempat tinggal sementara untuknya.


            “Kamar 204, Non!”


            Suara itu kembali terngiang. Suara Mbok Minah yang berhasil mengusik tidur lelapnya akibat masalah demi masalah yang terus saja mengganggunya seharian. Semula, wanita itu dimasukkan ke ruang ICU akibat kondisinya yang drop drastis. Namun kemajuan pesat dialaminya secara tiba-tiba, yang membuatnya tadi sore dipindahkan ke ruang biasa.


             “Dia terus mengingau memanggil Non Aleta. Datang ya, Non.”


             Suara itu kembali berlanjut yang membuat Aleta menghentikan langkahnya. Tatapannya terjurus ke wanita yang baru saja keluar dari kamar inap bernomorkan 204. Raut kesedihan terpancar di wajahnya yang membuat darah di tubuh Aleta berdesir menyakitkan. Sesaat dia tertunduk, namun beberapa detik kemudian, dia menyapu pandangan ke kanan dan kiri lorong rumah sakit. Tatapannya terhenti saat melihat Aleta berdiri tidak jauh darinya.


             “Non!” serunya yang disusul langkah cepat berlari mendekat dan memeluknya erat. “Ibu sudah menunggu dari tadi.” Mbok Minah melepaskan pelukan, membiarkan Aleta melangkah melewatinya dan berhenti tepat di depan pintu tempat wanita itu dirawat.


             Ada keenganan yang hadir tiba-tiba. Aleta masih belum siap untuk melihat wanita yang lebih memilih dunia menyakitkan dari pada ikut dengannya melukis dunia baru. Wanita yang masih saja meyakini bahwa semua akan baik-baik saja dengan tetap bertahan di rumah yang kini seperti neraka dengan dihantui bayang-bayang masa indah namun menusuk hati jika terus mengingatnya paksa.


             Aleta menarik napas panjang, mengangkat tangan kanannya yang kini bergetar untuk meraih gagang pintu. Air matanya menetes. Kerinduan hadir di hatinya walau otak tetap saja meminta untuk pergi. Aleta menelan ludahnya sendiri, dan mulai menarik gagang pintu ke bawah agar terbuka. Pintu pun terbuka, Mbok Minah tersenyum  melihatnya yang kini masuk tidak seperti biasanya, melihat dari jauh dan pergi tanpa berkata sepatah kata pun. Mbok Minah yang ingin Aleta lebih leluasa di dalam, memilih duduk di kursi luar membiarkan Aleta sendirian masuk menikmati detik demi detik pertemuan kembali dengan wanita yang sangat dia cintai.

__ADS_1


             Dia di sana. Berbaring dengan kedua mata tertutup dan vwajah pucat. Tubuhnya lebih kurus dari sebelum dia tinggalkan. Rambutnya yang dulu sebahu, tampak tidak terawat. Rambut indah yang selalu berhasil membuat Aleta tetrtidur pulas dengan memelintirkannya di jemarinya sendiri. Aleta mendekat, memperhatikan jarum infus yang terpasang menuju tangan kanannya. Begitu memilukan hingga Aleta sendiri tidak mampu menahan air mata untuk jatuh melewati kedua pipi. Berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap lekuk wajah wanita berusia lima puluh tahun itu dan sesekali memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menahan air mata yang semakin deras jatuh melemahkannya.


             “Ma ... Aleta datang,” ucapnya lirih, memberanikan diri menggenggam tangan kiri wanita yang masih saja menutup kedua matanya rapat-rapat.


             “Kalau saja Mama mau dengarin Aleta, Mama gak akan seperti ini.” Aleta menghapus air matanya, menarik lendir dalam hidung lantas kembali menatap wanita yang masih saja enggan membuka kedua matanya.


             “Bangun, Ma. Kita mulai semuanya dari awal.” Aleta mengusap punggung sang mama lembut. “Aleta janji, gak bakalan ninggalin Mama lagi.”


             Aleta menjatuhkan kepalanya di atas dada wanita yang begitu dia cintai itu, menangis pilu memecah kesunyian yang semula hadir menghiasi ruangan VIP tempat wanita beralis tebal itu berbaring. Tangan kanannya memeluk tubuh sang mama erat, seakan tidak ingin melepaskannya untuk kedua kalinya.


            Biyan menatap heran saat mendapati kursi Aleta kosong. Hampir semua murid di kelas Aleta hadir, tapi sosok cewek berponi itu malah tidak tampak batang hidungnya. Biyan yang tanpa sengaja melewati kelas Aleta saat pelajaran kedua baru dimulai, membuatnya berhenti sesaat. Kembali memperhatikan setiap sudut ruang kelas berharap ada Aleta di sana yang sengaja berpindah tempat duduk. Namun sialnya, malah tatapan sinis Bimo yang tertangkap kedua matanya.


            Enggan mencari masalah, Biyan memutuskan untuk melangkah pergi. Namun sayangnya, Bimo yang terpancing emosi, langsung meminta izin untuk keluar dan mengejar Biyan yang hampir mencapai kamar mandi cowok. Biyan terhenti, dan berbalik. Membalas tatapan Bimo yang melangkah mendekatinya.


            “Maksud loe apa lihat-lihat ke dalam, nyari Aleta, iya?!” bentak Bimo sembari menolak bahu kanan Biyan.

__ADS_1


            “Santai aja, gue cuma ada perlu sama dia aja kok. Gak lebih.”


            “Sejak kapan loe ada urusan sama Aleta!”


            Biyan menarik napas panjang, mencoba menetralkan dirinya sendiri sembari mencari ide agar bisa terhindar dari adu mulut dengan cowok yang terkenal preman itu. Ingatannya melayang ke Ibu Diana—guru Matematika Aleta—tadi pagi. Biyan tersenyum dan dengan santai kembali menatap Bimo yang kini berkacak pinggang.


            “Gue cuma mau nyampaikan aja pesan dari Ibu Diana, kalau Aleta dipanggil ke ruangannya sepulang sekolah.”


            Bimo tertawa menyeleneh, “Keren banget alasan loe.”


            “Ya … terserah. Kalau loe gak percaya, silakan tanya sendiri sama Bu Diana.” Biyan mengangkat salah satu alisnya. “Sorry, gue mau ke kamar mandi. Kalau masih mau bicara dan gak sabar nunggu, ikut gue aja ke dalam.”


            Tatapan Bimo berubah jijik. Pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa yang membuat Biyan sesaat tertawa melihat ekspresi wajahnya. Biyan menghela napas panjang, tawanya menghilang berubah ekspresi datar seperti biasa. Tatapannya kembali terarah ke Bimo yang kian mengecil dari kedua matanya. Meraih handphone dalam saku celana, dan mencoba mencari satu nama di dalam kontak. Ada nama Aleta di sana yang membuat Biyan kembali menghela napas panjang.


            Ibu jari Biyan mengarah ke tombol pemanggil. Berniat menekannya, namun rasa takut kembali menghantui. Dia takut Aleta saat ini tidak ingin diganggu. Atau dia takut, Aleta marah besar dan mengomel seperti biasa. Meskipun sejujurnya Biyan menyukai ekspresi Aleta saat mengomel tidak jelas.

__ADS_1


            Biyan mengembalikan tampilan layar handphone-nya ke tampilan awal. Menyimpan kembali ke dalam saku celana, lantas melangkah masuk  ke dalam kamar mandi dengan perasaan bingung luar biasa. Sesaat berdiri di depan cermin berbentuk persegi panjang memenuhi hampir seluruh sisi kanan kamar mandi. Tatapannya kosong mengarah pada pantulannya, menghela napas panjang mengingat sikap polos Aleta saat kejadian helm di parkiran sekolah. Biyan sempat menyaksikan wajah kesal Aleta saat memulangkan helm ke tangannya lantas berbalik pergi. Biyan tersenyum tipis, menggeleng pelan lantas masuk ke salah satu pintu WC dan menutupnya dari dalam.


__ADS_2