VLOG

VLOG
Episode 12


__ADS_3

            Tebakan Aleta tepat sasaran. Bimo yang tidak mendapati sosok Aleta hadir di sekolah, memutuskan untuk datang ke rumah sakit. Tatapan ketakutan terpancar dari kedua mata Aleta, mengarah ke Bimo yang kini berdiri di hadapannya dengan emosi yang jelas terlihat dari kilatan di kedua matanya.


            Tanpa masuk ke dalam, Bimo menggedor kamar inap Arini saat wanita itu, masih tertidur pulas. Aleta yang tidak ingin Arini terbangun hanya karena gedoran tidak sopan itu, langsung keluar dan kaget mendapati Bimo berdiri di sana. Tanpa berkata apa-apa, Bimo menarik tangan Aleta untuk mengikutinya. Keluar dari koridor rumah sakit menuju pintu lift dan menekan tombol menanti pintu terbuka.


            Aleta berusaha melepaskan diri, namun genggaman tangan Bimo yang cukup kuat, membuatnya kesulitan melepaskan diri. Aleta pasrah dan tidak lagi melawan saat menyadari, beberapa pengunjung kini berdiri di belakangnya menanti pintu lift terbuka. Dia tidak ingin jadi tontonan menarik hingga membuatnya malu bukan main. Aleta melirik ke Bimo di hadapannya, yang kembali menariknya masuk ke dalam lift dan mendorongnya untuk berdiri di bagian paling belakang. Dinding lift yang terbuat dari kaca tembus pandang ke luar, membuatnya berharap ada Biyan di sana, melihatnya dan segera menolongnya dari amukan Bimo yang selalu kalap saat emosi membendungnya.


            “Sudah berapa kali aku bilang, jangan dekatin anak miskin itu!!” bentak Bimo saat keduanya cukup lama terdiam di taman rumah sakit. Aleta memegangi bekas pegangan tangan Bimo di pergelangan tangannya, menunduk tak berniat membalas tatapan Bimo. Aleta benar-benar takut setiap kali emosi menguasai Bimo. Dia tidak ingin mati sia-sia di tangannya.


            “Kenapa masih aja dekatin dia. Hah! Jawab!!” bentak Bimo sembari mendekat dan mencengkram dagu Aleta. “Udah berani ngelawan, iya?!”


            “Lepasin!” bentak Aleta dengan suara tertahan sembari menarik tangan Bimo hingga terlepas. “Aku gak suka kalau kamu ngelarang-larang aku buat dekat siapa aja. Kamu hanya pacarku, bukan suamiku atau seseorang yang berkas atas hidupku seutuhnya!”


            “Berani kamu, sudah berani ngelawan aku, iya?!”


            “Kenapa?” tanya Aleta yang kali ini benar-benar muak dengan semua sikap Bimo. “Kamu mau ngancam aku? Mau usir aku dari kontrakan itu? Atau mau mukulin aku seperti dulu? Iya?!”


            Bimo terdiam. Sikap Aleta kali ini benar-benar tidak pernah terjadi. Bagi Bimo, semenjak Aleta dekat dengan Biyan, dia lebih berani melawannya dari sebelumnya. Yang Bimo tahu, Aleta adalah cewek penurut. Apalagi semenjak hidupnya seutuhnya ditanggung Bimo, Aleta benar-benar tidak punya jalan lain selain selalu menuruti apa pun yang Bimo inginkan. Namun kali ini, Bimo berhasil dibuat geram bukan main dengan sikapnya.


            “Udah merasa hebat kamu sekarang, mentang-mentang udah ada yang bela?” tanya Bimo dengan gaya meremehkan. “Apa dia udah bisa nanggung hidupmu seperti yang kulakukan?”


            “Bukan karena Biyan, tapi karena Mama!” bentak Aleta yang sesaat, membuat Bimo mundur selangkah. “Kamu mengingkari janjimu, Bim. Kamu ingat atau perlu aku ingatkan?”


            Bimo tidak menjawab, dia tampak bingung bukan main. Berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak beradu pandang dengan Aleta. Ekspresi menjijikkan yang selalu membuat Aleta muak bukan main. Aleta mendekat dan berhenti tepat sejengkal dengan Bimo yang masih belum mau melihatnya.

__ADS_1


            “Kamu berjanji akan melindungi Mama dari perbuatan pria bejat itu, asal aku mau jadi pacar kamu, kamu ingat itu, kan?” Bimo kembali mengarahkan pandangannya ke Aleta. “Tapi mana buktinya! Wanita itu dipukuli, dan hampir dibunuh!!”


            “Al....”


            “Mau ngomong apa lagi, hah?!” potong Aleta sembari mendorong tubuh Bimo. “Kamu bilang apa kemarin... aku seharusnya berterima kasih karena berkat kamu, aku jadi dianggap ada di sekolah. Kamu sadar gak sih, alasan kamu menjadikan aku pacar itu apa? Demi apa dan karena apa? Apa perlu aku ingatkan lagi?”


            “Al, aku tau aku salah!”


            “Cukup, Bim, aku muak!” potong Aleta lagi. “Aku ingin kita putus!”


            “Aku gak mau!” bentak Bimo. “Sayang, aku minta maaf, tolong kasih aku kesempatan kali ini aja. Aku mau nepatin janjiku sama kamu untuk ngejaga mama kamu, Al.” Bimo berusaha menyentuh pipi kanan Aleta, namun dengan cepat Aleta menepisnya.


            “Aku udah gak butuh bantuanmu! Mama bakalan ikut denganku, dia gak akan tinggal di rumah itu lagi, rumah yang pria itu tau dan sesuka hati datang lalu melampiaskan segalanya sama wanita yang begitu mencintainya. Sama sepertimu, dan jika aku memilihmu sama aja aku mengulang cerita yang sama.”


            “Terserah!” ucap Aleta sembari berbalik, melangkah menjauh namun kembali terhenti saat Bimo memanggilnya.


            “Sampai kapan pun, kamu tetap pacarku. Aku gak akan rela siapa pun mendekatimu. Ingat itu, Al!”


            Aleta menarik napas panjang, mengembuskannya kasar dan melangkah pergi meninggalkan Bimo yang terus memanggilnya. Bimo menepis udara, menghela napas kasar, lantas pergi menuju tempat parkir. Sikap Aleta membuatnya tidak ingin memaksanya kali ini. Bimo membuka mobilnya, dan masuk ke dalam, menghidupkan mesin mobil dan pergi keluar dari area rumah sakit.


            “Bukannya lega kok malah nangis?” Suara seseorang menghentikan langkah Aleta saat baru saja berbelok ke koridor yang membawany menuju lift berada. Aleta berbalik dan melihat Biyan di sana, melangkah mendekatinya dan berhenti tepat di hadapan Aleta yang masih meneteskan air mata.


            Aleta menghapus air matanya kasar dengan tangannya sendriri, memalingkan pandangannya berusaha tidak beradu pandang dengan Biyan. Biyan yang tidak tega melihat air mata Aleta yang kembali jatuh, langsung mengeluarkan sapu tangan milknya dari saku jaketnya, memberikannya ke Aleta yang langsung menarik arah pandangnya kembali ke Biyan.

__ADS_1


            “Bersih kok, baru aku beli kemarin karena gak sempat pulang ngambil sapu tangan baru.”


            Aleta tahu benar kebiasaan Biyan. Dia selalu membawa sapu tangan kemana pun dia pergi. Masih teringat jelas kejadian setahun lalu saat Biyan hadir ke tengah lapangan dan memberikan sapu tangan miliknya saat melihat Aleta, berhenti berlari keliling lapangan akibat dihukum tidak mengerjakan tugas sekolah. Walaupun setelah kejadian itu, Aleta harus nerima sikap kasar Bimo yang terus menghajarnya tanpa ampun hingga kembali dirawat di rumah sakit. Dan Biyan, diam-diam hadir menemaninya saat Aleta tertidur. Dan semua itu dia ketahui dari salah satu suster yang berjaga malam itu.


            Aleta mengambilnya, menghapus air matanya sembari mengalihkan pandangan saat menyadari tatapan Biyan masih saja terjurus padanya. Biyan tersenyum, lantas tanpa permisi mengusap rambut Aleta asal yang membuat Aleta menatapnya kesal.


            “Bisa gak sih jangan suka banget ngacak-ngacak rambut gue!”


            “Aku suka, lihat loe ngambek.” Biyan tertawa kecil tapi di sisi lain, Aleta malah tersipu malu. Pipinya merona yang membuat Aleta menunduk, takut Biyan meledekinya. “Tumben berani ngelawan dia? Aku perhatikan kamu lebih berani sekarang?”


            “Sejujurnya aku sekarang takut,” ucap Aleta yang jelas membuat Biyan bingung. “Imbasnya gak sekarang, tapi nanti. Aku yakin, dia akan ngelakuin sesuatu.”


            “Pernah?” Aleta mengangguk. “Kalau begitu, kamu harus menghindar.”


            “Sampai kapan? Sementara kita satu sekolah, dia bisa kapan aja ngelakuin apa pun yang dia suka.”


            Biyan tak tega melihat Aleta yang kini kembali menundukkan kepala. Ketakutan jelas terlihat di wajahnya. Biyan menghela napas, tersenyum sembari memanggil Aleta dengan suara lirih. Aleta mengangkat kepalanya, kembali menatap Biyan yang masih saja tersenyum padanya.


            “Aku akan melindungimu. Kamu jangan takut.”


            Ada ketenangan yang hadir tiba-tiba dalam hatinya saat Biyan mengucapkan kalimat itu. Tanpa membalas senyuman, Aleta terus menatap kedua mata Biyan yang masih terarah padanya. Biyan sangat berbeda dengan Bimo. Sikapnya yang lembut dan selalu melindunginya walau secara tidak langsung, membuatnya selalu merasa nyaman saat berada di dekatnya. Tidak seperti saat bersama Bimo, hanya ketakutan yang selalu dia rasakan.


            Tanpa keduanya sadari, Reta melihat segalanya. Berdiri tidak jauh dari tempat keduanya berdiri dengan tatapan tajam penuh emosi. Ini sudah kesekian kalinya dia memergoki Biyan bersama Aleta. Dan dia benci hal itu.

__ADS_1


__ADS_2