VLOG

VLOG
Episode 11


__ADS_3

            “Makanya buat, dari dulu gue bilang buat, gak mau! Kalau gak kan udah dapat duit kayak gue!” Suara Salsa kembali terngiang. Kata demi kata yang dia ucapkan, begitu membekas diingatan Aleta yan kini memilih menginap di rumah sakit menemani Arini. Mbok Minah yang sama sekali tidak memberikan kabar, membuatnya mau tidak mau harus menginap mala mini di rumah sakit, dan mungkin merelakan sekolahnya libur sehari demi menemani Arini. Mustahil jika Aleta meninggalkannya sendirian. Bahkan sangkin tidak inginnya Aleta pergi, Arini memintanya untuk berbaring di sampingnya di atas tempat tidur rumah sakit, memeluknya manja dan tertidur pulas.


            Aleta memperhatikan channel youtube milik Salsa. Ada foto Salsa di sana, di profilnya. Dan jika dihitung, ratusan video sudah ditayangkan Salsa. Entah sejak kapan dia memulainya, yang pasti sejak awal masuk SMA, Salsa sudah hobby merekam dirinya sendiri.


            Tidak ingin mengusik tidur pulas Arini, Aleta memasang earphone-nya. Mulai memilih video milik Salsa, namun sialnya malah tertekan tombol beranda yang membuat Aleta keluar dari channel youtube milik Salsa. Berniat kembali masuk, namun sesuatu membuatnya urung kembali ke channel Salsa.


            Ada video terbaru Reta di sana. Reta tampak terbaring di gambar depan vidionya. Sesaat Aleta ragu membukanya, takut jika Reta menyadarinya dan malah menghinanya tanpa ampun di hadapan semua orang. Namun saat mengingat bahwa Reta tidak akan mengetahuinya kecuali Aleta meninggalkan komentar di sana, membuat Aleta nekat membukanya.


            Video terputar. Sapaan khas Reta dengan suara manjanya, membuat Aleta muak bukan main. Namun menyadari suara Reta yang tidak seperti biasa, terdengar lemah dan wajahnya yang masih pucat, membuat rasa iba hadir di diri Aleta. Sayangnya, rasa iba itu kembali menghilang, saat Reta mengarahkan kameranya ke seseorang yang duduk di sofa sembari memusatkan pandangan ke handpone di genggaman. Ya, ada Biyan di sana. Yang tampak tak peduli saat Reta memanggilnya untuk melihat kea rah kamera. Biyan tampak cuek yang membuat Reta kesal bukan main.


            “Di vidio kali ini, gue cuma pengen curhat aja tentang masalah yang kini gue hadapi. Kalian semua pasti tau itu,” ucap Reta sesaat menunduk dari kamera. Dia tampak sedih yang membuat Aleta semakin penasaran dibuatnya.


            “Diandra Ayusytha Ashari, kalian pasti tau dia, kan? Ya… dia nyokap gue.” Reta tersenyum tipis. Senyuman yang terkesan dipaksakan di kedua mata Aleta. “Gue gak berniat menjelaskan apa yang terjadi, karena gue sendiri juga gak tau apa yang sebenarnya terjadi. Yang gue tau, nyokap gue… korupsi.”


            Aleta menutup mulutnya yang semula terbuka sedikit. Kalimat Reta jelas membuatnya tidak percaya. Seorang Reta yang paling anti menceritakan keburukan keluarganya di media sosial, kini malah dengan gambling menceritakan segalanya. Yang Aleta tahu, Reta selalu saja memamerkan kekayaannya, hidupnya yang serba berkecukupan dengan barang-barang mewah di setiap sudut rumahnya. Apalagi kolam renang miliknya yan terletak di belakang rumah, menyatu dengan taman luas milik Diandra, yang selalu membuat Aleta kangen rumahnya. Ya… rumahnya yang kini diambil alih oleh Diandra beberapa tahun lalu.


            “Perusahaan itu memang bukan milik nyokap gue sendiri, bersama sahabatnya… dia mendirikannya juga dengan bantuan seseorang yang tidak lain adalah bokap tiri gue.” Reta mengarahkan pandangan matanya ke kamera, membuat Aleta menelan ludah.


            Sejujurnya dia tidak mengharapkan Reta akan mengatakan yang sesungguhnya. Meskipun dalam hal ini, bukan dia yang dipermalukan melainkan diri Reta sendiri, namun Aleta tidak ingin ada gossip di sekolah yang membuatnya sulit bergerak bebas. Hanya beberapa bulan lagi Aleta berada di sekolah itu, setelah itu, terserah. Aleta tidak peduli lagi jika rahasianya, bocor tentang kehidupkannya yang hancur.


            “Gue gak berniat bercerita di vlog ini tentang siapa bokap tiri gue dan di mana bokap kandung gue, di sini… gue hanya ingin bilang kalau tolong, berhenti membully gue tentang masalah yang dihadapin nyokap gue. Yang salah dia, bukan gue. Tolong, jangan sudutkan gue. Lagian semuanya juga masih dicari tahu kebenarannya, dan bisa jadi kalau nyokap gue sama sekali gak bersalah.”


            Cih! Aleta benar-benar muak dengan ucapan Reta. Andai saja Aleta bisa mengatakan yang sebenarnya, mungkin saat ini Aleta sudah mengatakan kepada semua orang, kalau wanita yag diagung-agungkan sebagai wanita dengan karir gemilangnya itu, adalah perusak hubungan pernikahan orang lain. Ya… di pelakor. Pelakor di kehidupan Arini dan juga Ferdy. Aleta benci mengingatnya.

__ADS_1


            “Tapi gue gak sedih-sedih banget juga sih, karena…,” Reta mengarahkan kameranya kembali ke Biyan yang masih saja asyik bermain game di sofa. “Ada dia. Cowok gue. Biyan, lihat kemari dong!”


            Sesaat Biyan mengarahkan pandangan ke kamera. Tatapan tajam Biyan, entah mengapa berhasil membuat darah Aleta berdesir. Seolah-olah Biyan bukan mengarahkan pandangannya ke kamera, tapi ke arah dirinya yang sialnya malah tersipu malu. Aleta kembali melihat ke layar handphone, namun sebuah pesan singkat mengusiknya. Aleta keluar dari akun youtube dan membuka pesan singkat yang terjadi dari Biyan. Spontan Aleta duduk, membacanya dengan seksama lantas menatap lurus ke pintu kamar.


            Pintu kamar terbuka, Aleta tampak keluar dari dalam dan mengarahkan pandangan lurus ke sosok cowok yang kini berdiri bersandar dinding dengan tapak sepatunya menempel di dinding. Kedua tangannya dia masukkan ke saku jaket cokelatnya. Tidak seperti biasa, Biyan yang biasanya selalu tanpa ekspresi, kali ini malah tersenyum saat Aleta mendekat,  menegakkan tubuhnya menyambut Aleta yang berhenti tepat di hadapannya dengan ekspresi datar.


            “Mau apa datang kemari malam-malam?” tanya Aleta ketus yang malah disambut Biyan dengan senyuman yang semakin lebar. Aleta memundurkan kepalanya sesaat saat senyuman itu, tertangkap kedua matanya.


            “Cuma ingin mastikan, cewek aneh ini bisa tidur gak di rumah sakit!”


            Sial, dia tahu! Entah dari mana Biyan tahu tentang dirinya yang selalu kesulitan tidur saat berada di rumah sakit. Aroma obat-obatan ditambah dengan, suasana rumah sakit yang saat malam terasa hening, membuat Aleta sering berhalusinasi yang tidak-tidak. Tidak ingin kedua mata Biyan terus menelanjanginya, Aleta berbalik, mendekati kursi panjang berwarna putih lantas duduk di sana dengan kepala tertunduk. Biyan mendekat dan duduk di sampingnya.


            “Tante Arini gimana?”


            “Nih!” Biyan mengeluarkan cokelat SilverQueen dari dalam saku jaketnya, memberikannya pada Aleta yang spontan membuat menatap bingung ke Biyan. “Loe suka ini cokelat, kan? Makan gih!”


            “Loe mau ngeracunin gue?”


            “Racun?” Biyan menunjukkan cokelat yang dia pegang di depan mata Aleta. “Masih terbungkus rapi gini gimana cara ngeracuninnya?” Biyan menggelengkan kepala dengan tawa renyahnya yang sedikit tertahan. Takut pasien yang lain mendengar. “Tadi gue ke minimarket dekat sini, nemu ini, ya udah gue beli.”


            Biyan kembali memaksa Aleta untuk mengambilnya, menyodorkannya ke depan Aleta yang\ berhasil membuat Aleta menyerah, mengambilnya sembari mengucapkan terima kasih. Biyan kembali tersenyum disusul anggukan kepala.


            “Bimo tau nyokap loe masuk rumah sakit?”

__ADS_1


            “Tau!”


            “Udah datang?”


            Aleta menggeleng, “Mana mungkin datang. Dia sibuk buat vidio baru untuk channel youtube-nya.”


            Biyan tertawa, “Loe kalah saing sama kepopulerannya, ya?” Aleta akhirnya tertawa kecil yang langsung ditangkap kedua mata Biyan. “Loe lucu kalau lagi ketawa. Tapi sayangnya, gue lebih suka lihat loe senyum, kelihatan manis.”


            Aleta terdiam, menundukkan kepala enggan menunjukkan kedua pipinya memerah. Hawa panas di sekitar pipinyalah yang membuat Aleta menyadari rona merah hadir di pipinya. Biyan sendiri tersenyum lebar sembari menarik pandangannya ke arah lain, tepat ke pintu keluar lorong menuju pintu lift berada.


            Senyumannya seketika menghilang berganti ekspresi datar, saat menyadari seseorang di sana. Berdiri memperhatikan dengan tatapan marah yang bukannya membuatnya takut, malah dengan sengaja, memegang tangan Aleta yang berada di tepat di samping pantatnya yang masih duduk di kursi, walaupun sebenarnya orang tersebut tidak dapat melihatnya. Aleta spontan mengalihkan tatapannya ke Biyan yang kini mengarahkan pandangan lurus ke depannya, tidak lagi mengarahkannya ke sisi kiri tepat pintu lorong berada.


            “Jangan lihat ke pintu, ada Bimo di sana. Tetap tenang dan jangan melakukan apa-apa, berpura-puralah tidak menyadarinya. Dia tidak akan berani mendekat karena jam besuk sudah habis!”


            Aleta menelan ludahnya. Dia memang tahu peraturan di sini, semua pengunjung tidak ada yang boleh masuk ke dalam lorong rumah sakit tempat kamar inap berada, jika jam rumah sakit menunjukkan pukul sepuluh malam ke atas. Kecuali pihak keluarga yang memang menginap di rumah sakit.


            Aleta tampak ketakutan yang, menundukkan kepala. Sikap kasar Bimo pasti dia terima besok ataupun lusa. Sikap kasar yang bisa hadir kapan saja dan di mana saja tanpa peduli tempat. Biyan yang menyadari ketakutan Aleta, mengusap punggung tangan Aleta dengan ibu jari tangannya yang membuat Aleta kembali mengarahkan pandang kepadanya.


            “Jangan takut, gue yang akan bereskan semuanya besok. Gue janji, loe gak akan di apa-apainnya.”


            Meskipun ragu, namun kalimat Biyan berhasil membuatnya sedikit lebih tenang. Ingin rasanya dia melihat Bimo di sana, namun sosok Biyan yang sengaja menghalangi arah pandangannya, membuat Aleta kembali menundukkan kepala, membiarkan Bimo tetap berdiri di sana, dan Biyan yang masih menemaninya tanpa rasa takut.


            “Jangan pergi dulu, gue takut,” bisik Aleta yang langsung dijawab Biyan dengan anggukan dan senyuman, saat arah pandang Aleta, kembali kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2